Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Pahlawan Masa Lalu


__ADS_3

Dalam generasi sebelumnya terdapat 20 orang pahlawan. Di antaranya adalah Shalvoen, Shentya, Joanna, Nikkiemura, Sindia, dan 15 orang lainnya.


Pada generasi sebelum mereka terdapat 50 orang. Sindia dan Parmoun termasuk dua di antaranya.


Dari yang aku baca di buku itu, mereka semua berhasil memusnahkan setengah dari jumlah Sandekala yang terdapat di hutan hitam.


"Danny, kau tahu kan di dunia ini terdapat Tuhan, malaikat, iblis, dan makhluk hidup seperti kita. Iblis dan manusia itu sama. Mereka dapat berkembangbiak. Menciptakan iblis-iblis baru dalam lingkungan mereka dengan begitu mudah karena mereka tidak selalu memerlukan pasangan agar iblis baru lahir. Arwah penasaran, jiwa polos anak-anak, dan sisi jahat manusia yang membuat iblis itu tercipta. Jika kita hidup di dunia mereka, maka sebenarnya kita ini telah punah. Hanya dengan satu perbuataan jahat manusia, maka satu iblis telah tercipta. Iblis diciptakan untuk mengganggu manusia. Membuat manusia melakukan kejahatan. Dan dari sana, ratusan iblis dengan jenis dan fungsi yang berbeda tercipta," ujar Sindia padaku beberapa hari yang lalu seusai latihan.


"Sebenarnya apa yang ingin Nenek katakan padaku?" tanyaku.


"Jika kalian tidak memusnahkan mereka semua saat itu. Mereka akan terus berkembangbiak. Semakin dan semakin banyak sampai tak ada lagi celah untuk mereka tinggal di hutan hitam. Bila itu terjadi, mereka akan semakin bergerak ke hilir. Memenuhi setiap sudut tempat yang masih bisa mereka huni," jawabnya.


"Jadi, maksudnya?"


"Kita harus memusnahkan mereka semua saat itu juga!" tegasnya pada kami. "Dulu, banyak orang-orang yang mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi anak-anak. Mereka membuat senjata dan selalu berada di barisan depan bila perang pecah. Tapi tahun demi tahun mereka semua mulai kelelahan, putus asa. Para Sandekala itu tak ada habisnya. Akibatnya, banyak orang-orang yang pergi dari desa dan merantau ke kota demi menyelamatkan anak-anak mereka.


"Waktu masa perang generasi kedua kami, ada seseorang yang memiliki tekad dan semangat kuat ketika berusaha memusnahkan mereka semua. Wanita itu begitu cantik dan sangat tangguh. Dan dia adalah salah satu di antara lima orang dari kami yang selamat," kata Sindia.


"Siapa dia?" tanyaku.


"Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi senjata yang dia gunakan adalah senjata yang kau pilih itu," jawabnya.


"Nek, saat Nenek dan yang lainnya berperang masa itu, apa penyebab kekalahan kalian?" tanya Shanty.


"Persiapan yang kurang matang. Kami berperang melawan mereka tanpa latihan terlebih dahulu. Untuk itulah kalian harus latihan sebaik mungkin agar tak ada lagi korban. Walaupun hal itu pasti akan terjadi, tapi setidaknya kalian telah siap melawan mereka. Telah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti."


***


"Hai Shanty! Boleh aku masuk?" pintaku menengok dari balik pintu kamarnya.


"Tentu! Ada apa, Dane?" tanyanya terlihat sibuk dengan lemari pakaiannya.


"Kau sedang apa Shan?" tanyaku. "Itu kan ..."


Aku melihat Evilis Naifu di tangannya.


"Ya. Ini senjata ibuku. Aku membawanya kemari," katanya. "Sebenarnya Nenek menyuruhku menyimpan ini di rumah dan tidak menggunakannya lagi karena aku sudah punya senjata sendiri. Tapi ... bila aku melihat senjata ini rasa rindu pada ibuku bisa terobati. Ini satu-satunya peninggalan terakhir darinya."


Dia mengelus-elus batu-batu permata yang terdapat di pegangannya.


"Ibuku adalah orang baik. Aku tahu itu! Nenek pernah cerita padaku bahwa ibuku pernah menolong seorang anak kecil yang tenggelam di sungai Kalem. Ibuku terpaksa melawan anak-anak sungai untuk menyelamatkan anak kecil tersebut karena mereka berusaha menenggelamkannya ke dalam sungai yang tak berdasar itu," ujar Shanty. "Dane, aku rindu ibuku."


"Kau sama sepertiku Shan. Sama-sama kehilangan orangtua kandung kita."


"Orangtuaku sudah meninggal. Aku kehilangan mereka selamanya. Tapi kau, belum tentu kan orang tuamu meninggal. Mungkin saja saat ini mereka sedang menunggumu kembali pada pelukan mereka di suatu tempat," katanya murung.


Aku hanya diam.


Aku sentuh pundaknya.


"Aku tidak apa-apa, kau boleh pergi sekarang. Aku sedang ingin sendiri."


Dari depan terdengar suara seseorang membuka pintu.


"Kak," sapaku pada Ian.


"Mana Shanty?" tanyanya seraya melepas sepatu.


"Dia di kamarnya. Dia sedang ingin sendirian. Biar aku saja yang siapkan makan malam," kataku.


"Aku di sini!"


Shanty berjalan mendekati kami.


Aku memandangnya heran. Wajahnya sudah tampak ceria lagi.


"Aku tidak apa-apa, Dane. Biar aku saja yang siapkan makan malamnya," katanya tersenyum kecil langsung pergi ke dapur dan menaruh semua makanannya di meja makan.


Aku senang dia tidak apa-apa. Ternyata aku tak perlu mengkhawatirkannya.


Shanty dan Ian terus bercanda saat makan malam itu.


Aku selalu tertawa melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.


"Memangnya tadi Shanty kenapa?" tanya Ian saat mengenakan boxer dan membiarkan dadanya telanjang.


"Dia merindukan orangtuanya," jawabku sambil berbaring di kasur.


"Tapi, wajahnya tampak seperti tidak terjadi sesuatu," heran Ian berbaring di sampingku.


"Itulah Shanty. Tidak pernah larut dalam kesedihan terlalu lama," kataku.


"Kau juga harus seperti dia. Apa kau bisa?"


"Aku tidak tahu. Bagiku itu sulit."


"Dane."


"Ya?"


"Kau benar-benar menyukainya?"


"Shanty? Dia unik. Dia menarik. Dia berbeda. Siapa yang tidak menyukainya?"


"Aku tahu. Dia memang cocok untukmu. Dia ditakdirkan untukmu. Kalian bisa saling melengkapi," kata Ian menatap wajahku dari samping.


Aku hanya tersenyum tipis.


"Ian, apa kau menyukaiku?" akhirnya, setelah sekian lama aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu padanya.


"Kau seperti adikku sendiri. Kalau aku tidak menyukaimu, aku tidak mungkin membantumu."


Aku menoleh.


Memberanikan diriku menatap matanya.


Kulenyapkan segala kecanggungan.


Aku ingin kepastian.


"Apa kau menyukaiku sebagai yang lain?" tanyaku. "Apa kau mencintaiku?"


Ian terdiam sejenak. Hanya menatap ke dalam mata biruku dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Ya."


Ian meraba pipiku.


Mengelusnya.


Menyibakan helaian rambut yang menggantung di alisku.


"Tapi, aku tak akan pernah bisa memilikimu sebagai kekasihku. Aku tahu itu. Kau tahu itu."


Ian menarik kembali lengannya. Berpaling menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Jangan takut padaku, Dane. Jangan jijik padaku. Aku tak akan melebihi batasanku. Aku bisa menganggapmu adik selamanya. Aku akan mendukung segala keputusanmu. Aku senang jika kau menyukai Shanty. Aku mendukung itu sepenuh hatiku. Aku bahagia jika kau bahagia."


"Kak, aku tak pernah merasa jijik padamu. Kau adalah pahlawanku yang membantuku hingga detik ini. Aku bahagia karena kau selalu ada di sisiku. Membantuku."


Hening sejenak.


Ian tidak bergerak, mungkin sudah tidur.


Aku bangkit setengah badan. Memandang wajahnya yang terpejam.


Kucium dahinya. Untuk yang pertama dan yang terakhir.


"Terima kasih sudah mencintaiku. Tapi maaf aku tidak bisa membalas cintamu. Aku mencintai Shanty. Dan terima kasih kau telah mendukung segala keputusanku. Selamat tidur, Kak."


***


Seorang lelaki dan seorang perempuan sedang duduk di batu meja.


Mereka terlihat kelelahan.


Lelaki itu bukanlah aku karena rambutnya berwarna biru. Dia bertelanjang dada dan memakai celana pensil coklat tua. Sedangkan yang perempuan memiliki rambut panjang berwarna merah dan mungkin itu adalah Shentya. Dia mengenakan T-shirt hijau muda dengan jaket yang panjangnya hanya sedada dan dia mengenakan rok mini berwarna merah.


Mereka duduk saling membelakangi. Memandang hutan hitam. Memandang langit malam yang penuh dengan milyaran bintang dan Helix Nebula yang tampak seperti mata Tuhan sedang memperhatikan mereka berdua.


Kulihat dari kejauhan mereka tersenyum, tertawa bersama tapi kemudian menangis, saling berpelukan.


Tiba-tiba saja makhluk itu muncul di hadapan mereka. Memeluk erat lelaki itu.


Si perempuan tidak terima.


Dia menyerang makhluk itu. Sekuat tenaga dia mati-matian menyelamatkan lelaki itu dari genggamannya.


Dia berhasil.


Mereka selamat.


Kejadian berubah begitu saja.


Sebuah pemandangan yang mirip terlihat olehku. Sandekala memeluk erat tubuhku dan wanita berambut pendek merah berusaha menyelamatkanku.


Dia tidak berhasil. Dia masuk ke jurang dan aku dibawa oleh makhluk itu.


Sekilas kejadian yang lain terlihat olehku seperti sebuah film yang diputar ulang berkali-kali dengan latar dan karakter yang berbeda.


Kali ini si perempuan lah yang dibawa oleh makhluk itu. Dia dipeluknya erat sedangkan si lelaki berusaha menyelamatkannya.


Rambut berwarna merah itu, sebenarnya siapakah dia?


Dari tiga kejadian yang aku lihat, mereka sangat berbeda. Walau wajah mereka semua terlihat samar, tapi aku bisa membedakannya.


Perempuan pertama, aku tidak tahu siapa dia. Aku sendiri pun tidak mengenal lelaki yang bersamanya itu. Tapi, aku seperti mengenal mereka.


Perempuan kedua, apa benar itu Shentya?


Tapi, bagaimana bisa dia dan aku ... aku tidak mengerti hal ini.


Perempuan ketiga, aku yakin dia adalah Shentya. Sebab dia sepertiku. Makhluk itu menginginkannya bukan menginginkan si lelaki.


Dari ketiga gambaran kejadian yang aku lihat itu, semuanya memiliki rentang waktu yang berbeda.


Semakin lama aku melihat semakin mundur waktunya.


Hutan hitam, senjata, dan pakaian yang mereka pakai, semuanya berbeda sesuai dengan tahun yang mereka jalani.


Gambaran lain terlihat olehku. Kali ini si perempuan tidak berambut merah. Dan aku kenal senjata yang dia bawa.


Senjata Sindia.


Sandekala membunuhnya. Perempuan muda itu terbujur kaku dan si lelaki berlutut di hadapan makhluk itu. Memohon-mohon, meminta belas kasihan.


Tiba-tiba perempuan itu pun terbangun kembali bersama 48 orang lainnya yang telah dibunuh makhluk-makhluk penghuni hutan hitam.


Cahaya putih menutupi segalanya.


Dan seembus suara berbisik di telingaku.


"Danny, apa kau tahu?"


"Hah? Apa? Tahu apa?"


"Siapa mereka?"


"Mana mungkin? Aku tidak mengenal mereka."


"Generasi terdahulu. Mereka pahlawan masa lalu."


"Pahlawan masa lalu? Jadi mereka? Kenapa aku bisa melihat mereka semua?"


"Kau tidak perlu tahu. Ini semua adalah takdir. Dia ingin menunjukkan semua ini padamu," jawabnya.


"Untuk apa?"


"Agar kau tahu satu hal."


"Apa itu?"


"Bersiap-siaplah! Nasibmu mungkin akan sama seperti pahlawan-pahlawan itu."


"Kenapa dia memberitahukan ini padaku?" tanyaku terheran.


"Dia menginginkan lebih darimu. Bukan hanya jiwamu, tapi juga kekuatanmu. Dia tidak ingin kau kalah darinya semudah itu," jawabnya.


"Sebenarnya siapa kau? Apa kau Ibuku?"


"Aku hanyalah masa lalu, yang datang untuk mengatakan hal ini padamu."


"Tapi, siapa namamu?" tanyaku penasaran


Dia tidak menjawabnya.


Cahaya putih perlahan mulai lenyap dan mengantarku pada sebuah ruangan. Ruangan yang kukenal. Dengan lampu pijar menggantung di atas kepalaku.


Hanya menerangiku.


Dua batang lengan yang terbungkus kain hitam melingkar di perut dan leherku.


"Jika kau menginginkanku, janganlah sekarang. Kau pernah bilang bahwa kau ingin aku melawanmu. Kenapa kau mengingkari ucapanmu sendiri?"


Pelukannya semakin erat.


Aku mendongak.


Mataku tertuju pada satu titik. Ke mata birunya yang begitu terang.

__ADS_1


"Aku tidak akan membunuhmu di sini. Aku bukanlah makhluk rendah yang mencabut nyawa manusia ketika mereka sedang tidur. Lagi pula, aku bukanlah malaikat. Bukan tugasku untuk mencabut nyawamu," katanya.


"Lalu, kenapa kau mencekikku? Aku tidak bisa bernapas!"


Dia tidak bersuara.


"Bagi kami, kau seperti obat kuat yang memberikan kami kekuatan yang lebih. Aku tak sanggup lagi menahan diriku. Aku haus akan dirimu. Aromamu begitu lezat," bisiknya dengan suara napas yang begitu kencang.


"Jangan! Kau sudah berjanji padaku!" kataku merasa sesak.


"Janji? Aku tak pernah berjanji padamu. Lagi pula bukan aku yang memberikan kutukan ini padamu sehingga kau memiliki roh yang sekuat ini."


"Apa?! Apa maksudmu?" pekikku.


"Sang Raja memang hebat! Anak ini begitu kuat," katanya pelan. "Bila aku mengisap arwahmu, aku akan semakin kuat."


Rasanya ada sesuatu yang keluar dari mulutku.


Putih kebiruan.


Transparan.


Bercahaya.


"Ian! Bangunkan aku!" teriakku sebisaku.


"Danny! Danny!"


Itu suara Ian tapi aku tidak bisa melihatnya.


Aku terjebak di dunia mimpiku lagi.


Leherku sakit.


Ada yang menggigit leherku.


Aku mulai tak sadarkan diri.


***


"Danny ...," bisik Shanty membangunkanku.


Perlahan kubuka kedua mataku.


"Di mana aku?" tanyaku.


"Di kamarmu," jawabnya.


"Kamarku?"


Aku memandang sekeliling. Ini memang kamarku.


"Kenapa aku ada di sini?"


"Sudah 3 hari kau tidak sadarkan diri. Kami sangat khawatir, makanya kami bawa kau pulang."


Aku raba leherku. Ada perban yang melilitnya.


"Lehermu berdarah. Itu karena ..."


Dia ragu mengatakannya.


"Aku tahu," kataku menyela dan bangkit dari tidur.


Ibuku masuk ke kamar. Raut wajahnya tidak terlihat khawatir seperti biasanya. Ibu tampak tenang.


"Apa kau sudah sehat?" tanyanya sambil tersenyum.


"Aku sudah mendingan."


"Kalau begitu Ibu tunggu kalian di bawah ya, Ibu sudah siapkan makan malam untuk kalian," katanya berlalu pergi.


Aku baru sadar hari sudah senja.


"Apa yang kalian katakan pada Ibuku?" tanyaku.


"Memangnya kenapa?" tanya Shanty heran.


"Tak biasanya Ibu setenang ini melihat keadaanku."


"Aku tidak mengatakan apa pun pada ibumu. Ian yang mengatakannya. Dan aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Mungkin dia akan memberitahumu jika kau menanyakannya," katanya memberikan ponsel hadiah ulang tahunku itu padaku.


"Shanty, Ibu berterima kasih sekali karena kau mau tinggal di sini dan maaf bila Ibu selalu memintamu membantu Ibu dan mengurus Danny selama dia sakit," kata Ibu padanya saat kami makan malam.


"Oh! Tidak apa-apa, Bu. Aku juga senang dapat membantu Ibu," balas Shanty santai.


"Danny, sepertinya kau sudah sehat. Jadi, kapan kau akan pulang ke rumah Ian. Ibu harap kau tinggal di sini lebih lama lagi," pintanya.


"Besok kami akan pulang. Aku tidak mau merepotkan Ibu lagi di sini," kataku.


"Ya sudah, Ibu tidak akan memaksa. Kalau kau bahagia, Ibu juga bahagia."


Aku mengambil napas panjang dan mengeluarkannya dengan sangat berat.


Aku terbaring di kasurku setelah makan malam tadi.


Waktu menunjukkan pukul 22.00 dan aku tidak bisa tidur sekarang setelah 3 hari sebelumnya aku tidak bangun-bangun.


Karena bosan, aku keluar dari kamarku dan pergi menuju kamar Ronny yang ditempati Shanty.


Aku intip dari balik pintu ternyata dia sudah tidur. Perlahan aku tutup kembali pintunya agar dia tidak terbangun.


Aku turun ke bawah dan duduk di ambang pintu belakang. Memandang halaman belakang yang gelap dan dingin.


"Ini!" katanya mengejutkanku.


Dia memberiku secangkir teh hangat.


"Shanty, kau belum tidur?" tanyaku.


Dia duduk di sampingku.


Dia terdiam cukup lama sampai akhirnya berkata, "Danny, sebenarnya apa yang terjadi hingga kau seperti ini? Sebenarnya Ian melarangku menanyakan hal ini. Tapi aku sangat penasaran. Dan aku sangat terkejut sewaktu melihatnya menggigit lehermu malam itu. Sebenarnya ada apa, Dane?"


"Makhluk itu terus saja menggangguku. Bahkan dalam mimpi. Kalau aku tidak sadar dari mimpiku waktu itu, aku pasti akan mati," kataku.


Dia meminum kembali tehnya. "Hari itu sebentar lagi akan tiba. Jangan takut, Dane, kami akan membantumu!"


"Entah kenapa sekarang aku mulai ragu. Kau tahu kan pahlawan-pahlawan terdahulu? Bagaimana jika kita berakhir seperti mereka?" tanyaku.


"Pasti! Atau mungkin saja terjadi. Justru aneh kalau kita semua selamat dan berhasil memusnahkan mereka semua. Tujuan kita di sini hanyalah berusaha mengembalikan sesuatu yang jadi seharusnya."


Aku meminum tehku. "Kau benar, sejak awal aku sudah menekankan pada kalian risikonya. Harusnya aku tak perlu memusingkan hal ini lagi."

__ADS_1


"Yang perlu kita pikirkan sekarang hanyalah terus berlatih."


Malam itu bintang-bintang lebih terang dari biasanya. Aku belum pernah melihat langit malam secerah ini.


__ADS_2