
Aku belum melihat adanya Sandekala di sekitarku. Aku dan Iza menyusuri tepian sungai.
"Fanze! Fanze!" teriak Iza memanggilnya.
Dia begitu khawatir.
"Walaupun aku sering memarahi dan membuat Fanze menangis, tapi aku sangat menyayanginya. Bagaimana pun juga dia tetaplah keponakanku."
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah membanjiri pipinya.
"Kita pasti akan menemukan Fanze! Kau jangan berpikiran negatif! Dia pasti akan baik-baik saja. Ayo kita cari dia lagi!"
Kami semakin bergerak ke hulu. Tiba-tiba, dari arah hulu sungai, kami mendengar sesuatu.
Suara tetabuhan gendang.
Makin lama makin jelas.
Di kejauhan, sesuatu terlihat di sungai.
Segerombolan anak remaja di atas rakit.
Tabuhan gendang bertalu-talu makin kentara.
Mereka bergerak menuju ke arah kami.
"Iza! Cepat kita sembunyi!" kataku menarik lengannya.
Kami berdua sembunyi di balik batu.
Gendang itu membuatku merinding. Suaranya seperti pertunjukan musik tradisional yang kental akan aura mistis.
Aku mendekap Iza. Menutup mulutnya dengan tanganku agar dia tidak bersuara.
Perlahan kami intip mereka dari balik batu. Rakit yang mereka tumpangi bergerak mengikuti arus.
Aku lihat baik-baik wajah mereka semua.
Autis.
Mata hitam legam serupa iblis.
Ada sesuatu di tengah-tengah enam orang anak-anak sungai itu. Tiga orang anak kecil dan salah satunya adalah Fanze.
"Fanze!" pekik Iza.
Dia berontak dari dekapanku, berdiri, berlari, dan menceburkan diri ke sungai untuk menyelamatkan Fanze.
"Za! Jangan!" teriakku.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Rasa takut ini masih membelengguku. Aku lihat Iza seperti kesulitan untuk berenang seakan-akan sungai itu sangatlah dalam. Padahal setahuku, dalamnya tak lebih dari sebatas lutut.
Di saat rasa takutku sulit untuk aku singkirkan, Iza di sana berjuang menyelamatkan keponakannya sendiri. Dia tak peduli dengan segala ketakutannya. Dia berhasil meraih rakit itu. Tapi, seorang anak menceburkan diri ke sungai dan menarik kaki Iza. Berusaha menenggelamkannya.
"Arggghhh! Tolong!" teriaknya berusaha naik ke permukaan sungai. "Dane!"
Aku mengejar mereka. Dalam ketakutanku, tanpa berpikir lagi, aku langsung melompat ke sungai.
Sebuah keanehan yang tak dapat aku percaya.
Sungai ini tidaklah dangkal.
Aku tak bisa melihat dasarnya.
Semuanya gelap gulita.
Seakan-akan tak memiliki dasar sama sekali.
Untuk sesaat aku benar-benar terkesima melihatnya.
Kulihat dari dalam sungai, anak itu terus menarik kaki Iza ke kedalaman. Segera saja aku berenang dan berusaha menolongnya. Menarik Iza dari cengkeramannya.
Aku berusaha melepaskan tangan yang menggenggam erat kaki Iza. Berkali-kali aku meninju wajah anak itu dan akhirnya dia mau melepaskannya.
Anak itu tenggelam ke dasar sungai yang tak terlihat.
Kami segera naik ke permukaan. Berenang menuju rakit itu untuk menyelamatkan Fanze.
Ada keanehan lain di sana.
Fanze dan dua anak yang lainnya seolah terhipnotis. Sedari tadi mereka tak bergerak. Berdiri seperti patung di tengah-tengah rakit sambil diiringi tetabuhan gendang mengerikan. Dalam otakku mungkin suara itulah yang membuat Fanze jadi tak sadarkan diri.
Kami sudah kelelahan berenang mengejar rakit yang semakin jauh.
"Kita naik ke darat! Kita kejar mereka dari darat!" kataku.
Kami berenang ke tepian.
Tepat di hadapan hutan hitam.
Aku tak peduli.
Mungkin ketakutanku sudah mulai berkurang karena sekarang yang aku pikirkan adalah menyelamatkan Fanze dari kepungan anak-anak misterius itu. Kalau pikiranku jernih pasti aku tidak akan berdiri di hadapan hutan hitam yang terbuka ini. Karena sesungguhnya bahaya nyata yang mengancamku berada di sini.
Aku dan Iza berlari mengejar mereka.
Arus sungai cukup deras. Rakit itu melaju semakin kencang.
"Fanze! Fanze!" teriak Iza terus menerus memanggilnya.
Kami sudah berlari ratusan meter berusaha terus mengejar mereka. Desa Nekala telah terlewati oleh kami. Kami semakin bergerak ke hilir.
Aku lihat sungai semakin mendangkal. Itu tampak dari bebatuan di dasar air sungai yang jernih.
Rakit itu berhenti.
Kami berlari di sungai yang sekarang dalamnya hanya sebatas mata kaki. Mendadak, mereka menghentikan tabuhan gendang. Dan perlahan rakit itu mulai tenggelam ke dasar sungai yang sangat dangkal tersebut.
Kami berdua lekas berlari secepat mungkin sebelum terlambat.
__ADS_1
Anak-anak sungai itu akan membawa Fanze dan yang lainnya tenggelam bersamanya.
"Kalian anak-anak setan, lepaskan Fanze!" teriak Iza menarik tubuh Fanze yang sudah tenggelam setengah ke dasar pasir dan kerikil dalam sungai.
Anak-anak sungai itu enggan melepaskan Fanze. Mereka berusaha memeluk erat tubuhnya. Dua anak yang lainnya telah tenggelam.
Kami berdua berusaha menarik tubuh Fanze keluar.
"Fanze! Fanze! Sadarlah!" teriakku di telinganya.
Aku meninju wajah-wajah anak-anak sungai yang idiot itu.
"Kak Iza!" teriak Fanze.
"Akhirnya kau sadar juga!"
"Kak, di mana aku? Aku takut! Keluarkan aku dari sini!"
Fanze menangis histeris.
Kami terus berusaha menariknya. Tak lama kemudian akhirnya Fanze berhasil keluar.
"Cepat kita pergi dari sini!" kataku.
Kami berlari meninggalkan beberapa tangan anak-anak lainnya yang perlahan mulai tenggelam ke dasar sungai.
Aku tidak tahu berada di mana sekarang.
Semuanya tampak asing bagiku.
Semuanya gelap.
Sungai yang kami injak pun berubah warna menjadi pekat.
Kami menyusuri tepian sungai untuk kembali ke desa Nekala. Aku merasa desa itu begitu jauh dari kami. Padahal aku yakin kami berjarak sektar 300 meter dari desa.
"Sudah Fanze. Jangan menangis lagi," kata Iza menenangkannya.
Di langit, burung-burung gagak melayang. Menggaok berputar-putar seolah mengisyaratkan sesuatu. Sehelai bulu burung jatuh di hadapanku dan mendarat tepat di depan kakiku.
Aku akhirnya menemukan jejak burung yang menuntunku selama ini.
"Dane, lihatlah!" sahut Iza menunjuk ke depan.
Aku tak bisa menghitung dengan pasti jumlah mereka. Tapi aku lihat dari kejauhan mereka bergerak menyeberangi sungai lewat batang-batang bambu yang tumbang dan terbentang membentuk semacam jembatan menuju desa Nekala.
Satu-satunya jalan menuju desa telah diselimuti para Sandekala. Harusnya aku berani berhadapan dengan mereka. Tapi, di titik ini aku benar-benar tak punya nyali.
Aku terjerat dalam ketakutanku yang teramat sangat.
Semakin lama, gerombolan itu semakin membludak. Mereka semua tidak melihat kami. Hanya berjalan lurus ke depan. Sebuah sabit panjang yang tampak berkarat digenggam erat mereka. Sehelai kain hitam yang membungkus mereka terurai dan melambai-lambai saat angin berembus.
Aku terpatung kaku mengamati mereka yang berjumlah puluhan.
"Dane! Dane!" panggil Iza berulang kali.
"Ya ya Apa?" tanyaku linglung. Tanpa sadar mataku sudah berair. "Kalian jangan panik! Ayo kita sembunyi sebelum mereka melihat kita!"
Kami bersembunyi di ceruk tebing.
Aku benamkan wajahku pada kedua lututku.
Memikirkan segala ketakutanku.
Ponsel Iza berdering. Aku meliriknya. Dia mengelap air yang membasahi ponselnya.
"Halo, Kak? Hah? Ian? Mau bicara dengan Danny?"
Iza memberikan ponselnya padaku.
"Ian?"
"Danny, kalian di mana? Kami mengkawatirkan kalian!" sahut Ian dari ujung sana.
"Kami ada di sungai! Sekarang kau ada di mana?" tanyaku balik.
"Kami semua sedang menuju desa!"
"Sebaiknya jangan! Para Sandekala itu telah berdatangan ke desa," ucapanku panik. Membikin Iza dan Fanze ikut-ikutan panik.
"Tenanglah, Danny! Jangan takut! Tetaplah di sana! Aku akan menolongmu!" kata Ian berusaha menenangkanku. "Aku janji, Dane!"
Perbincangan kami terputus. Ponsel Iza mulai rusak dimasuki air.
"Dane? Kau Baik-baik saja, kan?" tanya Iza khawatir melihatku yang sedari tadi terus menyembunyikan wajahku di kedua tangan.
"Kalian akan baik-baik saja! Sebentar lagi akan ada yang datang menjemput kita!" kataku.
Dari desa terdengar teriakan.
Teriakan seorang gadis.
Aku kenal suara itu.
Shanty.
Perlahan, melongok keluar dari ceruk untuk melihat para Sandekala itu.
Mereka sudah tak berada di jalan setapak. Pasti semua telah memasuki desa.
Di angkasa, aku melihat segumpal cahaya yang meletus seperti kembang api.
Apa itu?
Cahaya pink, biru muda, hijau muda, dan keemasan jatuh menimpa desa Nekala disertai ledakan berdentam-dentam.
"Za, kita pergi dari sini!" panggilku pelan.
Kami mengendap-endap menaiki undakan tanah.
__ADS_1
Tak satu pun terlihat adanya Sandekala.
Kami segera menuju balai desa.
Ke kantor desa.
Satu-satunya tempat teraman yang terpikir olehku.
"Siman, awas!"
"Shanty, di belakangmu!"
Terdengar suara mereka. Tapi aku tidak tahu di mana mereka berada. Suara panik mereka bercampur dengan suara ledakan dan lengkingan dari sesosok makhluk.
Kami sampai di balai desa. Semua orang ada di sana. Keluarga kami.
"Mama!" teriak Fanze sambil menangis berlari menuju ibunya.
"Iza, kau tidak apa-apa?" tanya Dhinie.
Iza menggeleng.
"Oh! Syukurlah. Aku sangat mengkhawatirkan kalian."
"Danny!" Ibu memelukku.
Aku lihat ayahku berdiri di sampingku. Meraba pundakku.
Aku lihat pula Ronny dan Teny sengaja datang untuk menjemput kami dengan mengenakan busana yang terakhir aku lihat saat mereka berdua menyanyi.
Rhinna, Khyun, Winny, Sudra, Ricky, dan Ian tentu saja berada di sana bersama orangtua mereka masing-masing.
"Danny, apa kau baik-" tanya Ian.
Aku langsung menyela sebelum sempat dia melanjutkan, "Kali ini aku merasa tidak baik."
Langsung kutarik tubuhnya untuk kupeluk erat.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir," bisiknya mengelus punggungku.
Bagai sebuah roket, benda bersinar itu kembali melesat ke angkasa, meletus, dan menjatuhkan butiran-butiran cahaya. Menyisakan ledakan-ledakan yang sangat dahsyat di setiap sudut desa. Tapi, tak ada satu rumah pun yang rusak akibat ledakannya.
Apa itu sebenarnya?
Dari balik pintu kaca, kami melihat cahaya itu berulang-ulang. Ledakan demi ledakan memenuhi langit senja.
Dari arah depan, dua orang remaja tampak berlari ke arahku.
Shanty dan Siman.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyaku.
"Gila! Mereka semua banyak sekali!" sergah Siman terengah-engah.
"Untung saja nenekku berusaha memusnahkan mereka semua," ucap Shanty.
Kami bertiga kembali masuk ke dalam ruangan.
Pukul 18.15.
Cahaya dan suara ledakan itu masih terlihat dan terdengar hebat. Seakan-akan sedang terjadi perang atau hujan meteor di sini.
Tak lama berselang akhirnya suara itu berhenti.
Desa kembali hening.
Nenek Shanty datang. Tangan kanannya memegang tongkat dan tangan kirinya memegang senjata makhluk itu.
"Ada yang ingin bertemu denganmu," katanya.
Dari perkataannya aku sudah dapat menduganya.
Dia berdiri tegak seorang diri di sana.
Aku merasa ragu untuk mendekatinya.
"Jangan ragu! Jangan takut! Hadapi semua ketakutanmu! Kau ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu, bukan? Sekarang dia ingin bicara padamu. Tentang semua itu," bisik nenek Shanty.
"Tapi ...."
"Dia sudah membuat perjanjian denganku. Dia tidak akan melukaimu. Tapi dia menginginkan kau sendirian," katanya. "Dan ingat! Jangan sentuh makhluk itu!"
"Baiklah."
Aku melangkah ke depan.
Seseorang menarikku.
Aku berbalik.
Ian menggenggam erat lenganku.
Sorot matanya menandakan jangan. Sama dengan keluarga dan saudara-saudaraku yang lain.
"Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja," kataku pelan dan berat.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Aku berjalan mendekati makhluk itu.
Makhluk yang selama ini menjadi mimpi buruk yang nyata bagiku.
Dan sekarang aku berdiri di sini.
Berhadapan dengannya.
Berhadapan dengan semua ketakutanku selama ini.
Dia bukanlah bayangan semu.
__ADS_1
Melainkan sosok nyata.
Dan aku mengharapkan sebuah alasan darinya kenapa dia terus mengusik kehidupanku.