
"Aku sudah melihat perkembangan kalian sejauh ini. Kalian semakin baik saja. Minggu ini, kalian akan menggabungkan semua latihan kalian. Kecepatan, ketahanan, dan ketepatan. Dan untuk mendukung latihan itu, kalian membutuhkan objek yang bergerak. Maksudku kali ini makhluk yang bergerak," ujar Sindia.
"Hari ini pasti akan sangat melelahkan!" bisik Siman padaku seperti biasanya.
Dia selalu saja mengeluh tapi selalu menjalaninya sebaik mungkin.
"Kalian semua akan berlatih dengan ini!" sahut Sindia membuka kain yang menutupi sebuah kurungan.
"Apa? Ayam?" heran Siman.
"Di dalam kurungan ini ada 12 ekor ayam jantan hitam. Dan kalian harus menangkap satu dari mereka!" kata Sindia.
"Menangkap ayam? Apa tidak salah, Nek?" cibir Siman meremehkan.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Bagiku itu mudah sekali!" jawab Siman dengan lantang sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Man, apa kau tidak tahu ayam-ayam di desa ini punya kelebihan? Setahun yang lalu Nenek menghukumku karena lupa memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Dan kau tahu apa hukumannya? Nenek menyuruhku menangkap semua ayam peliharaannya yang sebelumnya telah sengaja dilepaskan. Butuh waktu satu minggu bagiku untuk dapat menangkap ayam-ayam itu. Itu pun dalam keadaan mati," ujar Shanty pada Siman.
Siman menelan ludah. "Kau pasti bercanda?"
"Kalian dengar apa yang dikatakan Shanty? Sangat sulit untuk menangkap ayam-ayam ini dalam keadaan hidup. Jadi aku akan memberi kalian keringanan. Gunakanlah senjata kalian untuk membunuh ayam-ayam ini. Dan anggaplah ayam-ayam ini sebagai Sandekala!" sahut Sindia.
"Apa kami harus benar-benar membunuh ayam itu? Kan kasihan," Iza tampak murung.
Kami semua terdiam.
Sindia mendekatinya.
"Dengar, Nak! Bila kau tak bisa melakukannya pada ayam-ayam itu, kau tidak akan bisa melakukannya pada para Sandekala," katanya. "Kau mengerti, kan?"
Iza hanya mengangguk.
"Aku beri kalian sedikit waktu untuk memperhatikan ayam-ayam ini. Pilih satu ayam sebagai target buruanmu!" sahut Sindia pada kami.
"Aku akan memilih yang besar itu!" kata Shanty terus memperhatikan ayamnya.
"Aku yang mana, ya?" tanya Winny bingung.
"Hei ada yang paling kecil! Aku yang itu saja, pasti mudah menangkapnya!" kata Siman menunjuk ayam terkecil dari semuanya.
"Baiklah! Kalian sudah memilih buruan kalian? Aku akan melepaskan kurungan ayam ini!" Sindia dengan cepat membuka kurungan ayam itu. "SEKARANG! Jangan sampai buruan kalian lolos!"
Suaranya seketika membuat ayam-ayam kaget dan kabur sebelum sempat kami memperhatikan ayam yang kami pilih.
"Pergi ke mana ayam-ayam itu?" tanya Rhinna keheranan.
"Itu di sana!" sahut Khyun.
"Hah! Itu ayamku! Biar aku yang menangkapnya!" sahut Winny mengejar ayamnya.
Kami berpencar.
Perlahan mengendap-endap di antara belukar.
Aku melihat sesuatu di balik rumput liar itu.
Aku ingat betul ayam yang aku pilih sebagai buruanku.
Si jambul putih.
Perlahan aku mendekatinya.
CLAS sudah aku pegang erat-erat dan siap aku empaskan pada ayam itu.
Tapi ... dia langsung kabur ketika aku hampir menebas kepala kecilnya.
Kami berlarian ke sana kemari mengejar ayam-ayam itu.
Aku sempat melihat Shanty kewalahan dengan buruannya. Ayamnya naik ke atas pohon.
" Turun kau setan kecil! Akan aku bunuh kau!" gusarnya tak bisa membuat ayam itu turun dari pohon.
Karena kesal dia langsung menebas pohon jambu tersebut dengan EDOE-nya.
Seperti domino yang disusun kemudian dijatuhkan, pohon jambu itu roboh menimpa pohon rambutan, pohon rambutan tumbang menimpa pohon cemara, dan pohon cemara runtuh menimpa ayam buruanku hingga mati.
Aku hanya bisa tercengang melihat itu semua.
Aku lihat Shanty belum berhasil mendapatkan ayamnya. Ayamnya terus kabur menghindari tebasan pedang yang mengarah padanya.
Terdengar suara ayam-ayam berkoar ketakutan.
"Jangan lari kau!" teriak Shanty.
"Waduh! Susah amat!" keluh Teny mengusap keringatnya karena kelelahan.
Aku lihat Rhinna sedang fokus dengan ayamnya. Dia menebas rerumputan yang menghalangi jalannya. Matanya hanya tertuju pada ayamnya itu hingga dia tak menyadari ada dahan pohon rendah di hadapannya dan membentur kepalanya.
Di sisi lain, Ian dipermainkan ayamnya sendiri. Ayamnya bersembunyi di sebuah lubang pohon yang tumbang. Kepala ayam itu masuk ke dalam lubang saat Ian hendak memenggalnya tapi keluar lagi ketika pedang itu diangkatnya. Berulang-ulang hingga membuatnya kesal.
Khyun dan Ricky beradu cepat memperebutkan satu ayam yang menurut mereka itu adalah ayamnya.
Ronny dan Sudra terlihat sangat kelelahan. Apalagi Sudra, baginya apa bedanya memakai dengan tidak memakai senjata. Dia tetap harus menangkap ayam itu dengan tangannya.
"Danny, awas!" teriak Siman.
Dia melemparkan MEG-nya pada ayam kecilnya itu.
Senjatanya hampir menancap di kakiku.
"Gila! Aku tak menyangka si kecil itu lebih cepat dari yang lainnya!" katanya terengah-engah.
Waktu telah berlalu selama berjam-jam dan baru aku yang berhasil mendapatkan ayam itu. Mungkin tidak adil karena ayamku mati bukan karena usahaku sendiri. Tapi, bukankah inti dari latihan ini mendapatkan ayam-ayam itu dalam keadaan hidup ataupun mati bagaimana pun caranya?
Aku duduk diam di samping Sindia. Menunggu yang lainnya entah sejauh mana mereka berlari mengejar ayam-ayam itu.
Seseorang terlihat dari balik pepohonan.
Dia mendekati kami.
Tangan kanannya menggendong ayam hitam yang masih hidup sementara tangan kirinya membawa Sharp Golden Gun.
"Iza?" heranku.
"Aku berhasil, Nek!" sahutnya riang. "Dan tanpa membunuh ayam ini!"
"Kau berhasil! Kau hebat, Za!"
"Makasih!"
"Bagaimana kau menangkapnya hidup-hidup?" tanyaku heran.
"Ra-ha-si-a," katanya sembari menyungging senyum.
***
Pukul 15.00.
"Nek, aku nyerah, Nek! Menangkap ayam itu susahnya minta ampun!" sahut Siman.
__ADS_1
"Aduh, Nek! Kenapa latihannya sulit begini?" keluh Shanty membaringkan tubuhnya di atas rerumputan.
Dan pada akhirnya tak ada yang berhasil menangkap ayam itu kecuali aku dan Iza.
Pukul 19.00.
"Danny, kau sedang apa?" tanya Shanty mengintip dari balik pintu.
"Aku sedang belajar. Kau tahu kan besok ada ulangan akhir semester," jawabku sambil membaca buku pelajaran Matematika yang akan diujikan esok hari.
"Apa aku mengganggumu? Boleh aku masuk? Aku kesepian di kamar," katanya.
"Tentu. Masuk saja!" kataku. Aku meliriknya, dia sedang duduk di kasurku memperhatikan sekeliling kamar yang tampak sama sejak terakhir dia masuk ke kamar ini.
"Dane, aku pinjam komputer, ya?"
Aku mengangguk.
Lembar demi lembar buku Matematika aku baca dan aku hafalkan rumus-rumusnya. Tapi aku tak bisa konsentrasi. Suara berisik tuts-tuts keyboard itu membuatku penasaran.
Diam-diam aku lirik layar komputer yang tertutupi tubuh Shanty.
Kie? Kenapa setiap kali dia selalu membuka situs itu?
"Shanty?"
"Oh! Dane, kau mengejutkanku saja!"
"Kenapa kau tertarik dengan perusahaan itu?" tanyaku.
"Apa kau tahu apa cita-citaku?" tanyanya. "Aku ingin bekerja di perusahaan besar itu. Kau tahu kan orang tuaku dulu bekerja di sana. Rasanya pasti membanggakan bila aku bisa bekerja di sana juga. Tapi ..."
Dia terlihat kecewa.
"Tapi apa, Shan?"
"Salah satu syaratnya harus lulusan SMA."
Dia memperhatikan foto-foto kegiatan pekerja di perusahaan itu.
Keesokan harinya.
"Nora! Flo!" panggilku saat aku tiba di sekolah.
"Hei, Dane! Apa kau sudah belajar untuk ulangan hari ini?" tanya Flo.
"Kau itu bodoh, ya? Sudah pasti Danny belajar!" sergah Nora. "Dane, kau ruang 2 ya?" tanyanya.
"Iya! Danny kan seruangan denganku. Masa kau tidak tahu itu?!" sergah Flo membalasnya.
Nora hanya menggeram padanya.
Bel masuk berbunyi.
"Ayo, Dane! Kita masuk!" ajak Nora.
Aku dan Flo masuk ke ruangan 2. Sementara Nora di ruangan sebelahku.
"Baik anak-anak! Sekarang kerjakan soal-soal itu dan isi di lembar jawaban kalian!" sahut Bu Reini setelah sebelumnya memberikan lembaran soal ulangan Matematika pada kami.
Ketika aku melihat deretan angka-angka itu entah kenapa aku merasa mengantuk. Rentetan angka-angka seakan-akan menghunjam kepalaku dan mengirimkan obat tidur ke otakku.
Di tempat itu hanya ada aku seorang diri.
Sekujur tubuh penuh cairan hitam berbau darah.
Aku memegang erat pedangku.
"Dia telah menunggumu."
"Siapa?"
"Sang Raja."
Muncul setitik cahaya senja di ujung ruangan. Jauh di ujung lorong ini.
Aku berjalan menuju cahaya tersebut.
Tempat ini remang-remang.
Empat buah obor terpasang di keempat sudut ruangan. Ada tungku pembakaran, kolam berisikan cairan berwarna emas, dan banyak sekali logam-logam berkarat yang berserakan di mana-mana.
Seluruh permukaan ruangan ini hitam seperti ruangan bawah tanah.
Di ujung ruangan ada sebuah singgasana. Ukiran memenuhinya secara detail. Gorden berwarna merah menjadi latarnya.
Ada sesuatu yang menyuruhku untuk mendekat. Selangkah demi selangkah aku berjalan mendekatinya.
Mendadak gumpalan asap kehitaman berembus ke arah kursi dan membentuk sesosok objek di sana.
Aku tak gentar melihatnya.
Kugenggam erat CLAS-ku yang retak.
Dia menunjukku.
Semakin aku berjalan mendekatinya, ada hal aneh yang aku lihat. Ukuran makhluk itu tidak sama seperti yang sering aku jumpai sebelumnya.
Dia empat kali lebih besar dari Sandekala biasanya. Dan juga aku baru sadar kalau kursi kayu yang sedang didudukinya itu sangatlah besar.
Aku hanya berjarak tiga meter darinya.
"Siapa kau?" tanyaku memandang tajam mata birunya yang terlihat jelas itu meskipun kepalanya tertutupi tudung hitam.
Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia malah bangkit dari duduknya dan bergerak mendekatiku.
"Jangan mendekat!" teriakku.
Kuarahkan mata pedangku ke hadapannya.
Kata-kataku tak digubrisnya.
Dia terus mendekatiku.
Mau tak mau aku harus menyerangnya duluan sebelum dia menyerangku. Dengan kedua tanganku, aku tebaskan pedangku pada tubuhnya. Tapi, pedangku hancur berkeping-keping seolah itu adalah pedang kaca yang membentur logam padat.
"Danny! Danny!" panggil Flo dari belakang menyadarkanku.
"Iya, ada apa Flo?" tanyaku.
"Kau kenapa?" tanyanya berbisik.
"Ehm ... aku tidak apa-apa," kataku.
Aku tidak bisa konsentrasi dengan ini. Akhirnya waktu pun habis dengan lembar jawaban yang kuisi secara asal. Sama dengan dua mata pelajaran yang lainnya.
"Shanty, aku pulang!" sahutku saat tiba di rumah.
Aku langsung masuk ke kamar dan membaringkan tubuhku di atas kasur.
"Danny ...," panggil Shanty pelan.
__ADS_1
"Ya?" tanyaku bangkit.
"Kita harus ke desa sekarang. Nenekku ingin bicara denganmu," katanya tampak serius.
"Memangnya ada apa Shan?" tanyaku di perjalanan ke sana.
"Aku juga tidak tahu. Kepala desa yang meneleponku dan menyuruhku menyampaikan hal ini padamu," jawabnya.
Aku lajukan motorku secepat yang kubisa.
"Ada apa, Nek?" tanyaku saat kami tiba.
"Hari itu sudah semakin dekat dan ada satu teknik lagi yang harus aku ajarkan pada kalian semua!" katanya tegas.
"Teknik apa?" tanya Shanty.
"Kinzoku Light," Jawabnya. "Ada hal yang sangat berat yang harus kalian lakukan agar bisa mengeluarkan Kinzoku Light dari dalam senjata saat latihan."
"Apa itu?" tanyaku.
"Kalian hanya bisa mengeluarkan cahaya itu ketika kalian berada di ujung kematian, marah, ataupun ketika semangat kalian meledak-ledak."
"Tanpa alasan yang jelas aku tidak mungkin bisa marah ataupun bersemangat seperti yang Nenek katakan itu," kata Shanty.
"Tentu. Aku juga sudah menduganya. Satu-satunya cara harus ada yang bisa membuat kalian marah, bersemangat, ataupun takut akan kematian. Maka dari itu, aku akan mengadakan pertarungan satu lawan satu diantara kalian."
"Maksud nenek?" tanyaku memastikan.
"Ya, kalian harus saling bertarung dengan menggunakan senjata kalian masing-masing!" katanya sambil menekankan kalimatnya itu.
"Tapi, itu berbahaya."
"Saat ini, janganlah kalian bicara soal bahaya. Karena cepat ataupun lambat kematian pasti akan datang menjemput kalian!" bentaknya.
"Nek, haruskah kami mempelajari teknik ini?" tanya Shanty.
"Walaupun kalian tidak mempelajarinya, saat kalian bertarung melawan para Sandekala nanti kalian pasti akan dapat mengeluarkan Kinzoku Light. Tapi ada risiko bila kalian tidak latihan terlebih dahulu. Kalian tidak akan dapat mengendalikannya."
"Berapa kali kami harus latihan teknik itu?" tanyaku.
"Sampai kalian bisa mengeluarkannya tanpa perlu memancingnya terlebih dahulu. Seperti ini!"
Sindia memukulkan ujung tongkatnya ke lantai. Tiba-tiba secercah cahaya mengalir di kepala tongkat itu. Mengalir seperti air menuju satu titik di atasnya. Berkumpul di sebuah batu permata. Kemudian cahaya itu meledak kecil berhamburan keluar dari batu seperti kembang api.
"Aku harap kalian secepatnya memutuskan kapan kalian akan mempelajari Kinzoku Light karena latihan ini tidak akan dilakukan di hutan hitam. Dan latihan ini membutuhkan waktu yang cukup lama," katanya pada kami. "Bawa saudara-saudaramu ke Cliffe dan beritahu mereka kita akan berlatih selama seminggu di sana."
"Seminggu?" heranku.
"Memangnya kenapa? Itu adalah waktu tersingkat bagi pemula seperti kalian mempelajari teknik ini. Apa kalian tidak bisa? Ingat Danny! Ini bukanlah main-main. Kau tahu itu, kan? Kalau kalian tidak mempelajari teknik ini, lebih baik tunda saja penyerangan itu sampai tahun depan! Dengan memiliki keahlian mengeluarkan Kinzoku Light ini pun belum tentu kalian bisa menang. Coba pikirkan itu baik-baik!" jelas Sindia dengan raut wajah yang amat serius.
"Shanty, kau tahu di mana tempat bernama Cliffe itu?" tanyaku di perjalanan pulang.
"Tentu. Tempat itu berada di bagian belakang gunung Transfranssischo."
"Kenapa nenekmu menyuruh kita berlatih di sana?" tanyaku.
"Aku sendiri pun tidak tahu, Dane. Yang kutahu tempat itu sangatlah jauh. Butuh waktu 2 hari untuk mencapainya dengan berjalan kaki."
Pagi ini begitu cerah. Sungguh disayangkan bila hari ini harus aku lalui dengan pikiran yang penuh dengan beban berat.
Ulangan akhir semester akhirnya selesai. Setidaknya satu hal yang membebani pikiranku baru saja berakhir.
Hari ini tepat hari pertama musim panas. Itu membuat hati dan pikiranku menjadi tidak tenang.
"Shanty!" panggilku mencarinya saat aku pulang sekolah.
"Kau di mana?" tanyaku meneleponnya.
"Aku dan Ian sedang berada di sekolahmu," jawabnya dari ujung sana.
"Sedang apa kalian di sana? Aku sudah pulang. Kenapa kau tidak memberitahuku kalian akan ke sekolah?"
"Nanti saja aku beritahu. Sekarang kami sedang berada di ruang guru," katanya langsung menutup teleponnya.
Sedang apa mereka di sekolahku?
Aku langsung masuk ke kamarku. Langsung membaringkan tubuhku di atas kasur karena rasa lelah ini membuatku mengantuk.
Rasanya aku mengenal tempat ini. Ini adalah ruangan bawah tanah. Aku tahu itu, karena sebelumnya aku pernah ke sini.
Di ujung ruangan ada sebuah kursi kayu yang besar dengan ukiran yang sangat artistik berlatarbelakangkan sehelai gorden merah yang menggantung.
Aku tahu apa yang akan muncul di atas kursi itu. Sosok yang mereka sebut 'Sang Raja.'
Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku akan melawannya dengan pedang retakku ini.
Dan aku tahu ini tidak akan berhasil.
Aku tahu aku akan kalah.
Perlahan aku mundur, berlari menjauh dari ruangan itu sebelum dia menampakkan dirinya.
Aku dengar suara dentingan logam dari dapur. Perlahan aku buka mataku dan bangkit dari tempat tidur.
Kulihat dia sedang memasak. Tanpa menyapanya, aku langsung pergi ke kamar mandi. Membasuh tubuhku yang lemas.
Aku perhatikan baik-baik wajahku di cermin. Sudah lama sejak terakhir aku berani melihat ke cermin.
Aku sentuh rambutku, alisku, hidungku, pipiku, bibirku, daguku, dan setiap lekukan wajahku. Aku memang mirip mereka, si pria Jepang dan wanita Belanda itu kecuali dua bola mata biruku ini.
"Danny, cepatlah keluar! Makan malamnya sudah siap!" sahutnya mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya, tunggu sebentar," setelah mengenakan pakaian aku langsung menuju meja makan.
"Ian belum pulang?" tanyaku.
"Hari ini dia akan pulang malam, ada hal yang harus dikerjakan di kantor, katanya," kata Shanty.
"Mm ... Shan?" tanyaku ragu.
"Apa?"
"Tadi ... apa yang kalian lakukan di sekolah?" tanyaku penasaran.
"Aku akan sekolah, Dane," jawabnya.
"Apa?!" tanyaku mengerutkan dahi.
"Kenapa tanggapanmu begitu? Kau tidak senang ya aku sekolah di sana?" tanyanya terlihat kecewa.
"Tidak! Tidak! Bukan itu maksudku. Aku hanya terkejut saja," jawabku lekas. "Pasti Ian yang mendaftarkanmu, kan?" tanyaku.
Dia hanya mengangguk sambil meneruskan memakan sepotong paha ayam goreng itu.
"Shan, menurutmu kapan aku harus memberitahu mereka tentang latihan itu?"
"Lebih baik secepatnya, Dane. Memangnya kenapa kau minta pendapatku? Apa latihan itu masalah buatmu?" tanyanya.
Bukan itu, Shan. Masalahnya bukan padaku tapi pada mereka. Ini mungkin akan mengganggu kehidupan mereka, pekerjaan mereka, kataku dalam hati.
"Apa perlu aku yang bicara pada mereka, Dane?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak usah, biar aku saja."