
Cahaya mentari pagi menyinari desa.
Burung-burung kecil saling bercuit.
Serangga musim panas berdengung dari dahan pohon.
Rasanya begitu hangat.
Begitu mendamaikan jiwa.
"Shanty, aku mau pulang," kataku.
"Kapan kau kembali, Dane?" tanyanya.
"Aku harap secepatnya."
Kami saling bertatapan. Tampak canggung dan ragu untuk berpelukan. Tidak seperti pada yang lain.
"Kalau begitu, sampai jumpa, Shan," kataku sebelum kami salah tingkah.
Sebelum aku dan kedua orangtuaku pergi dari desa Nekala, sempat kulirik dirinya dari kejauhan. Dia melambaikan tangan padaku.
Aku dan kedua orangtuaku duduk di ruang makan. Tanpa banyak kata, kami menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
"Danny ...," ucap Ibu pelan berusaha mencairkan suasana.
Aku menatapnya. Kulihat Ibu menatap Ayah dan Ayah mengangguk padanya.
"Ini," katanya memberikan sebuah kotak kayu berwarna coklat yang berukir.
"Apa ini?" tanyaku.
"Buka saja. Itu adalah barang yang diberikan pada kami saat kami mengadopsimu dari panti asuhan. Itu peninggalan orangtua kandungmu," kata Ibu.
Aku mengelus bagian atas kotak itu. Terdapat sebuah tulisan "Bo I Hora" di tengah-tengah kotak itu. Di sudut kanan atas terdapat sebuah ukiran yang kalau dilihat baik-baik seperti huruf JN.
Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamar. Aku duduk di meja belajarku dan membuka kotak kayu itu. Ada sebuah arloji, kalung, dua lembar kartu identitas, dan selembar kertas. Sepertinya surat.
Aku amati surat tersebut. Terdapat tulisan tapi aku tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya. Bahasa yang tertulis di sana bukanlah bahasa negara mana pun yang kutahu dan setiap hurufnya aneh. Meliuk-liuk. Kemudian aku lihat kartu identitas tersebut.
Kartu identitas pria dan wanita. Yang wanita bernama Joanna Van Dehr Bosche dan yang pria bernama Nikkiemura Maseru Zenko. Jelas nama itu adalah nama orang Belanda dan Jepang. Sekarang aku tak heran kenapa wajahku blasteran Jepang-Belanda.
Aku perhatikan baik-baik sebuah kalung dan arloji yang terdapat dalam kotak.
Sekilas, liontin yang tergantung pada rantai kalung emas tersebut berbentuk seperti pedang, tapi jika diperhatikan lebih mendetail lagi, itu terlihat seperti huruf JN.
Arloji itu sendiri terbuat dari emas dan platinum yang di sekelilingnya dipenuhi permata. Di bagian bawah jamnya, terdapat lokasi dan tahun pembuatannya. Swiss, 1969. Di bagian dalam kaca jarum jamnya terukir huruf JN yang begitu indah.
JN, inisial ayah dan ibu kandungku. Joanna-Nikkiemura.
***.
"Danny ...," suara itu berbisik di telingaku.
Suara seorang gadis.
"Apa? Siapa kau?" tanyaku.
Aku tak bisa melihatnya. Tempat ini remang-remang.
"Sudah saatnya, Danny! Ayo kita berangkat!"
"Berangkat? Berangkat ke mana? Untuk apa?"
"Tentu saja melawan mereka, pahlawanku!"
"Hah? Pahlawan?"
Sebelum dia sempat menjawabnya, aku keburu terbangun dari mimpi.
Pagi ini Ian mengajakku jalan-jalan.
Dari jalan yang kami lalui, sepertinya dia akan ke Albian. Jalan inilah yang biasa dilewati bila aku sekolah dan Ian berangkat kerja.
SMA Cerenity Albian telah terlewati. Tak lama kemudian dia membelokkan motornya ke arah perumahan.
KIE VILLAGE.
Papan nama itu tergantung di pintu gerbang depan masuk perumahan tersebut.
Ian memarkirkan motornya di halaman salah satu rumah.
"Ini rumah siapa?" tanyaku.
"Kontrakanku. Ayo masuk," katanya saat dia memutar kunci dan membuka pintu.
Rumah ini tak terlalu besar. Hanya ada ruang depab, dua kamar tidur, dapur yang menyatu dengan ruang makan, dan kamar mandi.
"Duduklah," katanya.
Aku tak mengerti kenapa Ian membawaku ke sini.
"Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sekolah lagi, Dane. Kemarin bosku memarahiku karena telat masuk kerja. Dia menyuruhku tinggal di rumah ini agar aku tidak telat lagi."
"Pasti karena aku. Maaf," kataku menyesal.
"Sebenarnya bukan itu masalahnya. Aku merasa oke bila harus dipindahkan ke sini. Tapi kau bagaimana? Aku punya ide. Bagaimana kalau kau tinggal di sini saja bersamaku? Lagi pula jarak sekolah dan tempat kerjaku sangat dekat. Jadi aku bisa mengantarmu sekolah sebelum berangkat kerja," usulnya. "Bagaimana menurutmu?"
"Aku ... aku tidak tahu. Akan aku pikirkan nanti. Saat ini banyak hal yang mengganggu pikiranku," kataku.
Ian duduk lebih dekat. Siap mendengarkan curahan hatiku seperti biasanya.
__ADS_1
"Ini ... adalah barang yang ditinggalkan orangtua kandungku," kataku menunjukkan arloji yang sedang kupakai.
"Selama ini aku hanyalah anak adopsi."
Aku menatap wajahnya. Rasa heran terpancar jelas di sana. Tapi dia tidak bertanya. Mungkin tak ingin menambah beban pikiranku. Untuk beberapa detik kami tak bereaksi.
"Kau tidak berangkat kerja?" tanyaku mencairkan keheningan.
"Bosku memberikan waktu satu hari untuk memindahkan barang-barangku ke rumah ini."
"Aku lihat kau tak membawa apa pun," heranku.
"Nanti sajalah. Mumpung aku dikasih libur, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku sudah bilang padamu, 'kan? Sekarang kau ingin ke mana? Kita berangkat," ajaknya dengan semangat.
"Sebenarnya ... kalau kau tidak keberatan aku ingin kembali ke desa itu. Aku masih gelisah. Aku ... merasa semua ini belum beres."
"Kalau begitu, ayo!"
Wajahnya yang begitu ceria, berhasil membuatku sedikit santai. Selalu begitu. Mencoba menghiburku yang tampak sedih. Mau tak mau aku tersenyum.
Kami tiba di desa Nekala. Setelah memarkirkan motornya di depan kantor desa, kami langsung berjalan ke rumah Shanty. Aku lihat orang-orang menatapku dengan intens.
Ada apa dengan mereka?
Aku mengetuk pintu rumah Shanty.
Seseorang membuka pintu. "Oh! Kau! Ada apa?" tanya nenek Shanty.
"Aku masih belum paham, Nek."
"Aku sudah tahu kau pasti akan datang kemari. Coba katakan apa yang masih mengganggu pikiranmu."
"Aku meminta jawaban. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku tanyakan. Kepalaku penuh dengan segala macam persoalan. Aku belum mencapai tujuan seperti yang aku inginkan. Aku berharap makhluk itu tidak menggangguku lagi, tapi, walaupun dia tidak menampakkan dirinya lagi padaku, dia tetap mengganggu pikiranku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar hidupku tenang."
Nenek itu terdiam cukup lama sampai akhirnya dia berkata, "Sandekala. Apa kau tahu apa mereka?"
"Setahuku, mereka adalah iblis penculik anak-anak setiap senja bila musim panas tiba."
"Apa kau tahu bagamana mereka bisa keluar dari dunia mereka dan masuk ke dunia kita?" tanyanya lagi.
Aku hanya menggeleng.
"Ratusan tahun yang lalu, seorang warga Cina datang ke pulau ini. Ke desa ini. Dia bersekutu dengan iblis itu dan berhasil membuat sebuah portal yang dapat menghubungkan dunia kita. Dunia manusia dengan dunia lain tempat tinggal para arwah yang disebut Keikai.
"Tujuan awalnya, dia lakukan dengan niat baik. Dia hanya ingin bertemu keluarganya yang telah mati. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak warga berdatangan dari luar untuk memasuki portal dan pergi menemui sanak keluarga mereka yang telah mati. Tapi, tanpa mereka sadari, mereka pulang dengan membawa pendatang baru dari Keikai. Sandekala.
"Dari tahun ke tahun jumlah mereka semakin banyak dan tinggal di hulu sungai. Menunggu musim panas tiba untuk menculik anak-anak desa. Bahkan pernah satu waktu di mana tidak ada anak-anak sama sekali di desa ini.
"Untuk menghentikan jumlah mereka yang semakin membludak, aku bersama seseorang yang pernah menjadi suamiku pergi menutup portal itu 60 tahun yang lalu. Dan dari tahun ke tahun berikutnya, aku bersama teman-temanku berjuang memusnahkan para Sandekala yang menempati hulu sungai. Banyak pertumpahan darah di hutan hitam. Semua teman-temanku mati. Dan sebenarnya aku pun telah mati. Tapi, suamiku mengadakan transaksi. Membuat sebuah perjanjian dengan mereka. Kami yang telah dihidupkan kembali. Tapi sebagai bayarannya, mereka ingin suamiku memuja mereka, bersekutu dengan iblis menyebarluaskan eksistensi mereka ke seantero Java Island dan ... mereka menginginkan jiwa anak pertama kami," ujarnya.
"Apa?!" heranku. "Nenek memberikannya pada mereka?"
"Tentu saja tidak! Tidak ada satu pun orangtua yang setega itu untuk memberikan anaknya pada iblis!" sergahnya.
"Kami mengingkari perjanjian soal anak kami dan akibatnya anak kami dikutuk. Sebagian jiwanya terikat dengan jiwa iblis. Rambut anakku berubah merah dan matanya berubah biru," katanya.
"Jadi, takdirku sama dengan anakmu? Tapi apa yang dilakukannya saat dia seusiaku?" tanyaku.
"Dia melawan takdir itu. Dia melawan para Sandekala. Berjuang memusnahkan mereka semua. Karena dia merasa itu bukanlah takdirnya. Dia bisa memilih. Memilih berjuang untuk hidup sebagai seorang pejuang atau mati sebagai seorang pecundang."
"Lalu apa yang terjadi? Apa dia melawan mereka seorang diri? Selama bertahun-tahun?"
"Tentu saja tidak. Melawan mereka seorang diri sama saja bunuh diri. Shentya mengumpulkan belasan orang yang berani untuk memusnahkan makhluk-makhluk itu. Selain tujuannya untuk melepaskan kutukannya, dia juga ingin menyelamatkan anak-anak desa dari tangan para Sandekala.
"Tahun demi tahun mereka berjuang memusnahkan makhluk itu. Melanjutkan generasi kami dari tahun ke tahun semenjak kedatangan mereka ke dunia kita. Di umurnya yang kedua puluh, akhirnya kutukannya terlepas. Rambut dan matanya kembali seperti semula. Tapi hal itu tak menghentikannya untuk tetap berjuang memusnahkan para Sandekala sampai mereka semua benar-benar lenyap dari muka bumi.
"Jadi maksud Nenek, Danny harus melawan mereka?" tanya Ian memastikan.
"Janganlah menyerah! Jangan biarkan mereka menang, Nak!"
Tiba-tiba Shanty datang dari luar.
"Eh! Dane, Ian, sudah lama di sini?" tanyanya menyapa kami.
"Ya, cukup lama. Kau dari mana, Shan?" tanyaku.
"Latihan di belakang rumah!"
Latihan?
Oh, aku baru ingat, dia selalu latihan tinju pada batang pohon pisang di belakang rumahnya.
"Shan, duduklah. Aku ingin bicara," perintah neneknya. "Saatnya sudah tiba."
"Tiba apa, Nek?" tanya Shanty polos.
"Saatnya kalian berusaha berjuang mengalahkan para Sandekala," jawabnya. "Danny, kematian dan kutukan dari mereka bukanlah takdir. Kau punya pilihan. Saatnya untuk melawan mereka semua!"
Kata-katanya memberikan semangat kuat padaku. Mengingatkanku bahwa aku bisa memilih. Tapi tetap saja aku belum punya cukup keberanian. Bayang-bayang wajah makhluk itu dalam pikiranku kerap menakutiku.
"Dan untukmu Shanty. Apa aku sudah pernah cerita bahwa dari generasi ke generasi keluarga kita selalu berjuang memusnahkan mereka?" tanya neneknya.
Shanty menggeleng.
"Ibuku, aku, kakekmu, ibumu, dan ayahmu telah berjuang mengalahkan makhluk itu. Tapi, perjuangan kami belumlah cukup. Jumlah mereka masihlah banyak.
"Aku tidak akan memaksamu. Jangan anggap kebiasaan keluargamu ini sebagai sebuah takdir. Karena kau masih bisa memilih, Shanty. Aku hanya memintamu, apa kau bersedia membantu Danny?"
Shanty menatapku.
Aku menatapnya.
__ADS_1
Kami saling menatap.
Ian duduk manis mematung diri.
Aku tak bisa berkomentar apa pun. Aku tak menyangka ini akan rumit. Melibatkan orang-orang di sekitarku.
"Tentu, Nek," jawab Shanty serius.
Aku tak pernah melihatnya seperti ini. Aku melihat keberanian yang teramat kental di matanya.
"Danny, aku ingatkan kepadamu. Orang-orang yang kau ajak haruslah orang-orang yang terpilih, berani, dan orang-orang yang pernah melihat makhluk itu. Kau tak bisa mengajak sembarang orang untuk membantumu," kata neneknya.
"Orang-orang terpilih? Siapa?" tanyaku.
"Saudara-saudaramu."
"Maksud Nenek semua saudaraku?" tanyaku memastikan.
Dia mengangguk.
"Tapi mereka ...," kata-kataku terhenti.
Ian menggenggam kuat tanganku.
Kulirik wajahnya.
Dia tak balas menoleh. Pandangannya tertuju pada nenek itu. Tapi dapat kulihat matanya berkaca-kaca seakan-akan dia memberi isyarat padaku. Dan aku tahu apa yang diisyaratkannya.
Percayalah padaku! Aku akan membantumu!
Mungkin itulah yang ingin dikatakannya.
"Baik," kataku akhirnya.
Ian melepaskan genggaman tangannya.
"Nek, kami harus memusnahkan mereka dengan apa? Kami tak punya senjata apa pun."
"Kakek Shanty akan memberikan kalian senjata," balasnya.
"Kakek? Nenek bilang Kakek sudah meninggal?!" heran Shanty.
"Tidak. Dia masih hidup."
Dari luar rumah terdengar kasak-kusuk warga sekitar. Kami yang penasaran langsung keluar dari rumah. Kami lihat ibu-ibu berkumpul di sana sambil menuntun tiga anak.
Tiba-tiba seorang ibu berlutut di kakiku.
"Tolong, Nak! Bantu kami! Selamatkan anak-anak kami! Lindungi anak-anak kami dari makhluk itu! Kami mohon, Nak!"
Warga lain ikut menimpali.
Mengatakan hal yang sama.
Memohon.
Memelas.
Mereka tampak resah.
Mereka membutuhkan bantuan.
Mereka butuh seorang pahlawan.
"Saya mohon, berdiri, Bu. Jangan seperti ini," kataku.
Wanita itu akhirnya berdiri.
"Kau bisa lihat kan ada berapa anak di desa ini?"
Ibu itu menunjuk tiga orang anak kecil di belakangnya.
Aku lihat wajah para warga yang lainnya. Mereka bercucuran air mata.
"Hanya mereka bertiga yang tersisa. Semua anak-anak kami yang lain telah diculik oleh para Sandekala," katanya. "Tolonglah bantu kami! Musnahkanlah mereka!"
"Kami mohon, Nak!" seru mereka.
Mereka begitu mengharapkan bantuanku. Kuamati tiga anak itu dengan rasa iba.
Mereka ketakutan.
Teman-teman mereka yang lain telah diculik oleh anak-anak sungai dan para Sandekala. Dan hanya tinggal menunggu waktu sampai giliran mereka tiba.
"Danny, apa kau tahu bagaimana Sandekala itu tercipta?" tanya nenek Shanty.
Aku tidak tahu. Aku tidak menjawabnya.
"Sandekala tidak seperti iblis-iblis yang lainnya. Mereka tidak tercipta dari api. Mereka tercipta dari sisi jahat manusia, kesedihan, ketakutan, dan penderitaan anak-anak. Semakin banyak anak-anak yang menderita, maka akan semakin banyak pula Sandekala yang tercipta untuk menculik dan mengubah anak-anak menjadi seperti mereka. Anak-anak membutuhkanmu. Mereka semua berharap padamu. Apa kau bisa menghilangkan ketakutan anak-anak ini?"
Aku melihat kembali wajah-wajah itu. Ketakutan, kekhawatiran, penderitaan ... aku dapat merasakan semuanya. Seolah semua itu berenang-renang di aliran darahku.
"Nenek bilang kakek Shanty punya senjata. Lalu di mana dia tinggal?" tanyaku.
Ini seperti sebuah tanggung jawab yang besar bagiku. Tapi, aku tak bisa membiarkan para Sandekala menculik anak-anak desa lagi.
Dalam hal ini, aku dihadapkan pada tiga persoalan;
Pertama, tentang diriku dengan mereka. Aku tak boleh menyerah. Aku harus berjuang untuk hidup. Menyelamatkan diriku sendiri dan melepaskan kutukan ini dari tubuhku.
Kedua, tentang anak-anak dengan mereka. Anak-anak itu layaknya sekumpulan benih jagung yang ditanam dan tumbuh. Terus dan terus tumbuh sampai akhirnya mati karena faktor usia, musim, dan keadaan alam. Mereka tak sepantasnya diculik oleh para Sandekala dan dijadikan sebagai anak sungai atau salah satu dari mereka. Aku tak bisa memikirkan tentang diriku sendiri. Aku harus melindungi mereka dan menghilangkan ketakutan mereka.
__ADS_1
Ketiga, tentang orangtua kandungku dengan mereka. Apa hubungan mereka berdua dengan para Sandekala itu? Dan apa alasan mereka hendak memberikan jiwaku? Jawaban itu hanya bisa aku dapatkan dari para Sandekala sendiri.
Dan kini tak ada cara lain bagiku untuk mencapai tujuan itu selain melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.