
"Nek, memangnya di mana rumah Kakek?" tanya Shanty.
"Kau selalu menemuinya. Parmoun, sebenarnya dia bukanlah pamanmu. Dia adalah kakekmu."
"Paman adalah Kakek? Itu tidak mungkin!"
"Sebaiknya kau tanyakan sendiri padanya. Dia akan menjelaskan semuanya padamu."
Waktu menunjukkan pukul 15.00.
"Shan, sebaiknya besok saja kita ke rumah kakekmu itu. Hari sudah sore, kami takut pulang kemalaman," kataku.
"Ya, baiklah."
"Ian, besok biar aku saja yang pergi sendirian," kataku di perjalanan pulang.
"Kenapa?" heran Ian.
"Besok kan kau harus kerja. Bolak-balik ke Vereyon ini pasti bakalan melelahkan," jawabku.
"Dane, sudah aku bilang, kau jangan merasa-"
"Itulah sebabnya! Kau terlalu baik padaku. Kenapa kau selalu ingin membantuku?"
Dia menghentikan motornya. Terdiam sejenak seolah hendak merespon pertanyaanku. Tapi sepertinya dia mengurungkan niat dan malah berkata,"Sebaiknya kau pegang erat pinggangku. Aku akan menambah kecepatan."
Kami tiba di depan pintu rumahku.
"Baiklah, Dane. Aku mungkin tak akan bisa membantumu besok. Tapi kau harus memberitahuku bila terjadi sesuatu," kata Ian.
Aku mengangguk. "Tentu saja."
Dan dia pun melaju pergi.
Di halaman tampak motor Ronny terparkir. Di ruang keluarga aku lihat dia dan istrinya sedang mengobrol dengan Ibu.
"Eh! Dane, kau dari mana?" tanya Ronny.
Aku hanya tersenyum. Tak menanggapinya dan langsung naik ke kamarku.
Aku duduk di depan meja belajar. Aku lepas arlojiku dan menaruhnya kembali ke dalam kotak, sementara kalungnya tetap aku kenakan.
Berulang kali aku amati tulisan dalam surat itu tapi aku tetap tidak tahu apa maksudnya.
Seseorang mengetuk pintu kamarku sekali sebelum dibukanya tanpa permisi.
"Boleh aku masuk?" tanya Ronny dari balik pintu.
Aku mengangguk.
"Kau sedang apa?" tanyanya melihatku memegangi kotak kayu itu.
Aku tersenyum tipis. Tidak tahu harus berkata apa. Kehadiran kakakku yang tak biasa ini membuatku grogi.
Dia menjatuhkan tubuhnya di kasurku seraya mengembuskan napas lega.
"Sudah lama ya, kita tidak berduaan seperti ini."
Aneh sekali. Apa maksudnya dia berkata begitu?
__ADS_1
"Dulu, ini adalah kamar kita. Ibu selalu menyuruhku menemanimu saat tidur karena kau kerap ketakutan waktu malam tiba," katanya. "Walaupun sebenarnya aku tidak mau," imbuhnya terkekeh.
"Sejak kau diadopsi saat aku berumur empat tahun, aku sangat benci padamu. Bisa-bisanya Ibu mengadopsi anak asing. Ibu selalu perhatian padamu lebih dari apa pun juga. Dia bahkan meninggalkan karirnya sebagai seorang komposer hanya untuk mengurusmu. Kau membuatku iri. Kau selalu dimanja oleh Ibu. Dilebih-lebihkan dalam segala hal," ujarnya.
Matanya tak menatapku. Malah mengamati noda di langit-langit kamarku yang bercat biru.
"Tapi aku menyadari sesuatu. Aku sudah menjadi seorang kakak. Walaupun kau bukanlah adik kandungku, tetap saja kau adalah adikku yang selama ini aku kenal. Dan aku adalah kakakmu. Seiring dengan berjalannya waktu aku mulai menerima kehadiranmu. Meski terkadang kau masih membuatku cemburu dan kesal," katanya seraya melirikku. "Ingat tidak, dulu kita sering bertengkar?"
"Tentu. Dan selalu aku yang menang," jawabku pongah.
"Tentu saja. Kau kan selalu dibela Ibu!" balasnya.
Kami tertawa bersama.
"Dane, apa kau ingat kapan terakhir kali kita bicara seperti ini?" tanyanya.
Aku tak ingat. Kami tinggal bersama tapi sangat jarang berkomunikasi sejak dia kerja di Vereyon dan lebih sering bersama kekasihnya. Itu setahun lalu tapi rasanya sudah begitu lama.
"Kita tidak bisa seperti dulu. Kita tidak bisa bermain bersama lagi, berebut mainan, makan es krim saat musim panas dengan saudara-sudara kita .... Sepertinya, waktu berjalan terlalu cepat saat kita masih anak-anak. Iya, kan?"
Aku beranjak dari kursi. Kudekati Ronny. Membaringkan tubuhku di sisinya.
"Rasanya baru kemarin aku melihatmu masih kecil. Dan sekarang kau sudah sebesar ini," katanya tertawa kecil. "Sekarang kita semua sudah dewasa. Sibuk dengan segala urusan masing-masing. Dan aku tidak punya waktu untuk menjadi anak-anak lagi."
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyaku.
Aku tahu, pasti ada hal yang ingin diutarakannya.
"Dane, aku hanya ingin bilang bahwa aku masihlah kakakmu. Dan akan tetap seperti itu selamanya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku juga peduli padamu. Bukan hanya Ian atau yang lainnya. Walau apa pun yang terjadi, aku akan selalu menganggapmu sebagai adikku," katanya. "Aku memang tidak bisa siap siaga saat kau membutuhkanku seperti saat kau bersama Ian. Aku sudah memiliki tanggung jawab yang harus aku jalani. Aku harap kau mengerti itu."
"Aku mengerti, Kak."
Hening sejenak.
Mengembuskan napas.
Mata kami sama-sama terpancang ke langit-langit kamar. Seolah ada pantulan diri kami di sana. Atau cuma dijadikan alasan agar kami tidak saling menatap langsung dengan intens. Sebab rasanya begitu ganjil.
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu dan yang lainnya. Apa kau akan membantuku saat aku meminta bantuan?" tanyaku.
"Tentu, Dane. Aku akan bantu sebisaku," jawabnya.
Lalu aku ceritakan apa yang kualami selama ini.
Dia mendengarkan dengan saksama.
Dia mencoba memahami dengan cepat.
Dia berusaha merasakan apa yang aku rasakan.
Dan tanpa pertanyaan, dia mengangguk-angguk. Mencoba memberi sedikit nasihat dan solusi.
Aku berkata bahwa selama ini, Ian sudah berusaha membantuku sepenuh hati. Dia selalu menghiburku. Dan aku pun merasa baik-baik saja. Aku tidak ingin membuat Ronny merasa khawatir dan bersalah karena tidak ada di sisiku ketika aku memang sedang butuh seseorang yang bisa kujadikan tempat berkeluh kesah dan mencurahkan segala unek-unek dalam hati dan pikiranku.
Setelah kuceritakan semua, keheningan kembali menyelimuti kami. Tak ada yang bisa kukatakan lagi.
Kulirik Ronny, matanya terpejam. Dia menghembuskan napas sembari senyum-senyum sendiri.
"Aku rindu jadi anak-anak," katanya.
__ADS_1
"Kau belum tua. Kau bisa menunda waktu sebelum menjadi orangtua. Atau kau memang ingin cepat-cepat punya anak dan jadi ayah. Itukah sebabnya kau nikah muda?"
Dia membuka mata, menoleh padaku.
"Aku mencintai Teny. Aku tidak ingin kehilangannya," jawabnya.
"Ah, ya. Itu memang alasan paling logis."
Dulu Ronny pernah punya seorang pacar. Sama-sama seorang gadis desa seperti Teny. Hanya saja mereka putus, sebab Ronny belum siap menikah. Sedangkan kedua pacarnya ingin anak gadisnya segera dinikahkan.
Takhayul orang desa lainnya, mereka percaya jika seorang gadis belum menikah setelah umur 15, keperawannya bakalan direnggut siluman.
Pada akhirnya, gadis itu menikah dengan seorang petani, sedangkan Ronny mencoba untuk melupakannya.
Dan kalau tak salah ingat, Ronny mengenal Teny dari kerabat ayahnya yang memang bekerja di perusahaan otomotif yang sama di Vereyon.
Meski tinggal di pedesaan setidaknya, keluarga Teny tak terlalu memercayai takhayul-takhayul itu. Hanya saja sepertinya Ronny tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Dia melepaskan masa mudanya demi masa depan atau mungkin demi melupakan masa lalu yang menyakitkan sepenuhnya. Meskipun aku yakin, dalam hati kecilnya, jika diberi pilihan, dia mungkin memilih tinggal dalam di masa kanak-kanak. Menjadi anak-anak yang terbebas dari segala persoalan.
Ronny bangkit dari posisi tidurnya. Senyum-senyum padaku.
"Apa apa?" tanyaku curiga.
"Dane, mungkin ... kita bisa jadi anak-anak lagi hanya untuk malam ini," katanya.
Alisku terangkat satu.
"Maksudmu?"
Sekonyong-konyong dia memelukku erat. Sembari terpingkal-pingkal dia menggelitiki seluruh tubuhku.
Mau tak mau aku ikut tertawa lepas.
"Sudah! Hentikan! Geli! Apa yang kau lakukan?!"
"Kau ingat, siapa yang selalu menang bila kita melakukan permainan ini?" tanyanya dengan tangan yang masih menggerayangi pinggang dan dadaku.
"Kau. Tapi kali ini aku yang bakal menang!" sergahku membalas menggelitiki tubuhnya.
Aku sudah bisa mengimbanginya. Kini, kami tidak terlihat seperti kakak adik melainkan dua orang sahabat yang seumuran dan sepantaran.
"Kalian sedang apa?" tanya Teny mengejutkan kami di ambang pintu.
"Ehm ...."
Ronny gelagapan. "Tidak sedang apa-apa."
"Oh, ya kau dipanggil Ibu. Ada yang ingin dibicarakan katanya," kata Teny.
"Ayo, Dane kita ke bawah," ajak Ronny.
Aku menggeleng. "Aku ingin di sini."
"Hmmm ... ya, sudah."
Dia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarku bersama istrinya.
Malam ini aku mendapat sebuah pelajaran. Tentang pentingnya arti persaudaraan. Mungkin aku tak perlu merasa takut lagi menghadapi semua masalahku ini sebab aku memang benar-benar tidak sendirian.
__ADS_1