
Rumah warga berada di dataran yang lebih tinggi dari hutan yang menghampar hijau di depannya. Sehingga dari desa tersebut, terlihat jelas betapa luasnya hutan yang datar dengan dihiasi bermacam-macam pepohonan rimbun.
Warga desa tampak ramah. Setiap penghuni rumah saling menyapa kami. Kami melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain permainan tradisional. Seorang anak kecil seumuran Fanze mendekatinya.
"Hei! Main, yuk!" ajak anak itu riang.
"Boleh tidak, kak Iza?" tanya Fanze berkata dengan hati-hati karena takut diomelinya lagi.
Iza menatapku seakan meminta pendapatku dengan menggunakan bahasa isyarat.
"Tidak apa-apa, Dane, Za. Semua anak-anak di sini baik," kata Shanty meyakinkan.
"Tapi jangan jauh-jauh, ya! Nanti ibumu marahi aku lagi!" kata Iza pada keponakannya.
Fanze mengangguk dan pergi bermain bersama anak-anak desa lainnya.
Kami tiba di rumah Shanty.
"Shanty, mana orangtuamu?" tanyaku spontan saat kami masuk ke dalam rumahnya.
Dia terdiam sejenak sebelum berkata, "Mereka sudah meninggal."
"Oh! Maafkan aku Shan. Aku tidak bermaksud ...," kataku menyesal.
"Tidak apa-apa. Kedua orangtuaku sudah lama meninggal. Saat aku berumur lima tahun," katanya tersenyum.
"Kau di sini tinggal dengan siapa?" tanya Siman.
"Nenekku," jawabnya. "Duduklah. Aku akan memanggil Nenek dulu!" sahutnya.
Kami bertiga duduk di kursi kayu panjang yang berada dalam rumah panggung sederhana itu.
Rumahnya tidak besar. Hanya memiliki sebuah kamar, di sudut sebelah sana terdapat ranjang tempat tidur yang menyatu dengan ruang tamu, dan terdapat sebuah pintu yang menuju ke belakang rumah. Kelihatannya ada sebuah dapur di sana.
"Sepertinya nenekku sedang keluar. Kalian tunggu dulu di sini. Aku akan mencarinya."
Shanty keluar dari rumah dan mencari neneknya ke arah rumpunan bambu di belakang rumah yang sempat kulihat tadi.
Tak lama kemudian, seorang nenek masuk ke dalam rumah. Nenek itu membawa sebuah tongkat kayu dengan ukiran yang sangat indah. Pegangannya berbentuk aneh, berwarna emas-dan sepertinya itu memang emas-dengan dihiasi permata merah, ungu, dan hijau. Pakaian yang dikenakannya tampak aneh, berlapis-lapis. Dari gaun hitam, selendang putih, sorban kotak-kotak, kain batik. Semuanya dibelitkan di tubuh dan lehernya sehingga nenek dengan tubuh pendek itu terlihat sangat gemuk. Rambutnya yang putih tergelung rapi.
"Siapa kalian?" tanyanya terkejut melihat kami.
"Kami teman-teman Shanty," jawab Siman.
"Sekarang di mana dia?"
"Tadi aku lihat Shanty ke belakang rumah. Katanya mau cari Nenek," kataku.
Nenek itu langsung berjalan menuju dapur. Dia berteriak-teriak memanggil Shanty dari sana.
"Nek, biar aku panggil Shanty," kataku padanya.
"Oh ya, tolong ya."
"Kalian tunggu di sini," perintahku pada Siman dan Iza.
Aku berjalan ke belakang rumah. Kulihat di sana banyak sekali batang-batang pohon pisang yang ditancapkan pada bambu runcing yang terpancang di tanah.
"Shanty!"
Aku berjalan ke dalam rumpunan bambu. Tiba-tiba terdengar suara kersakan dari balik pepohonan itu. Suara itu semakin terdengar dari berbagai arah. Membuatku merinding.
"Hei!"
Dua telapak tangan langsung menampar bahuku dari belakang saat suara itu mengejutkanku setengah mati. Aku berbalik dan melihat gadis itu tertawa puas melihat ekspresiku yang ketakutan.
"Lucu? Hah!"
__ADS_1
Aku menyilangkan kedua lenganku di dada.
"Maaf! Maaf! Habisnya kau bengong. Awas nanti kesurupan," katanya tergelak.
"Sudahlah!" kesalku. "Nenekmu sudah pulang."
"Oh, ya! Kalau begitu kita ke rumah," ajaknya menarik lenganku.
"Shan, tunggu dulu! Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Untuk apa batang-batang pohon pisang ini?"
"Untuk latihanku," jawabnya.
"Latihan?"
"Aku selalu berlatih tinju pada batang-batang pohon pisang itu."
"Kau suka kekerasan, ya?" heranku.
"Tidak. Itu aku lakukan untuk membela diri."
"Membela diri dari apa? Memangnya di sini ada orang jahat? Atau ada pemuda yang selalu nakal padamu?" tanyaku penasaran.
"Bukan orang jahat. Tapi sesuatu yang jahat."
"Hah? Apa?"
"Ah, sudahlah! Lupakan saja! Ayo kita kembali ke rumah!"
"Nek, dari mana saja? Tadi aku cari-cari," ucap Shanty.
"Jangan banyak basa basi! Mana pesananku?" tagih neneknya tegas.
Shanty memberikan sebuah kantong kecil berwarna coklat kepada neneknya. Entah apa isinya.
"Sekarang kau ambilkan minum buat mereka! Apa kau mau menelantarkan teman-temanmu?!" ucap neneknya begitu keras.
Dia langsung duduk di sebuah kursi goyang di hadapan kami.
"Iya! Iya! Sebentar!"
Shanty pergi ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa beberapa gelas bambu berisikan air.
"Ini dia! Maaf ya, kami tidak punya apa-apa." Shanty menaruh gelas itu di meja di depan kami. "Silakan minum! Ini adalah air terenak di sini. Kalian pasti suka."
Kami meminumnya. Ada rasa manis yang alami pada air itu.
"Apa ini?" tanya Siman.
"Air tebu."
Siman dan Shanty sedang asyik mengobrol berduaan, Iza sedang main game di ponselnya, sedangkan aku hanya melamun sambil sesekali meminum air tebu itu. Aku sadar sedari tadi nenek itu terus menatapku aneh. Aku sudah biasa bila semua orang menatapku begitu karena fisikku. Tapi tatapan nenek ini beda. Seperti tatapan Kurynia saat melihat wajahku tempo lalu. Berkali-kali aku tak menghiraukan tatapannya tapi mataku selalu dapat melirik matanya.
"Katanya kalian ingin melihat desa ini. Akan aku tunjukkan tempat-tempat yang indah di desa ini," ajak Shanty.
Kami menuruti apa katanya.
Kami pergi melihat desa secara keseluruhan.
"Mau ke mana kita?" tanyaku.
"Hutan hitam," jawabnya. "Bukankah kau ingin melihat hutan itu."
Kami berjalan menuruni undakan tanah menuju sebuah sungai lebar. Aku lihat Fanze dan anak-anak desa lain sedang bermain di antara bebatuan besar di pinggiran sungai.
__ADS_1
Di seberang sungai, hutan yang sangat indah itu berada. Pohon pinus tampak menjulang tinggi menggores langit.
"Bagaimana caranya kita ke sana?" tanyaku.
"Di sini tidak ada jembatan, jadi kita seberangi saja sungai ini," jawab Shanty.
"Apa tidak dalam?" tanya Iza yang akhirnya mau bicara pada Shanty. Sedari tadi wajahnya selalu tampak iri dan cemburu.
"Tidak. Hanya selutut," jawab Shanty setelah beberapa saat terdiam. Dia melepas sepatunya dan mulai memasuki sungai tersebut. "Ayo!"
Kami semua melepas sepatu dan berjalan melewatinya.
"Indah sekali di sini," kataku berdecak kagum.
Aku amati hutan yang seindah ini. Yang seterang dan sehijau ini. Cahaya matahari masuk dengan leluasa ke dalam hutan melalui celah-celah pepohonan. Terlihat bagaikan sebuah tirai yang bersinar.
"Menurutmu begitu?" tanya Shanty.
"Tentu saja. Apa menurutmu ini tidak indah?"
"Kalau saja tidak pernah ada 'mereka' pasti tempat ini akan lebih indah lagi," kata Shanty pelan menatap kosong ke dalam hutan.
"Mereka?"
Shanty menatapku tajam. Melihat keseriusan dalam wajahku.
"Lupakan saja!" sergahnya tertawa kecil. "Akan aku tunjukkan tempat yang lebih indah pada kalian."
Kami mengikutinya.
Dia menuju sebuah gundukan batu-batu besar. Hampir membentuk sebuah bukit kecil. Di atas gundukan batu-batu tersebut ada sebuah batu lebar yang datar seperti sebuah meja.
Kami berempat berjalan menaiki batu-batu kecil yang membentuk sebuah undakan menuju batu meja di atasnya.
"Ini adalah tempatku biasa bersantai dan tiduran setiap pagi sambil mendengar kicauan burung dan riakan air sungai. Itu selalu membuat tubuhku segar. Dari sini kita bisa melihat seluruh hutan dengan cukup jelas!" seru Shanty memandangi lautan hijau pepohonan.
"Di sini memang indah. Tapi kalau tiduran di atas batu siang bolong begini bukannya segar malah nanti matang kulitku!" celetuk Siman.
Kami berempat duduk beralaskan dedaunan karena batu itu terasa membakar kulit. Suasana cukup teduh siang ini.
Aku menikmati keindahan seantero hutan.
Siman dan Shanty tetap mengobrol berduaan. Membicarakan hal-hal yang mereka sukai. Awal pendekatan suatu hubungan.
Iza sibuk memotret hutan dengan kamera ponselnya.
"Shan," panggilku pelan menghentikan pembicaraan mereka. "Gunung apa itu?" tanyaku menunjuk sebuah gunung yang berdiri jauh di hadapan kami.
"Itu adalah gunung Transfranssischo," jawab Shanty.
"Trans ... Trans ...," ucap Siman bingung.
"Transfranssischo," kata Shanty menegaskan.
"Terserahlah. Tapi sepertinya nama itu terlalu keren untuk nama sebuah gunung."
"Atau mungkin terlalu aneh," Shanty menambahkan. "Tapi, sejak desa kami dibangun, nama gunung itu sudah begitu. Dan ...," Shanty tampak berat untuk mengatakannya. Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Orangtuaku menghilang secara misterius sebelas tahun yang lalu saat mereka mendaki gunung itu. Saat warga desa mencari mereka, yang ditemukan hanya beberapa helai pakaian yang mereka kenakan saat pergi dan peralatan kemah yang dipenuhi cairan hitam berbau darah di tepian tebing. Semua orang beranggapan mereka berdua telah mati. Entah jatuh ke jurang, diterkam binatang buas, atau sesuatu lain yang lebih jahat."
Dug!
Bagai sebuah benda tumpul membentur tulang punggungku dan membuatnya retak. Ada dua hal yang membuat hatiku tidak tenang.
Pertama, aku sangat menyesal. Kenapa setiap kali aku bertanya hal lain, ada saja hubungannya dengan hal lain lagi yang menjurus ke perasaan orang lain. Pertanyaanku seperti Puzzle yang bila kita memulai dari mana saja, hasil akhirnya tetap sama menjurus pada satu tujuan. Dari luar memang Shanty tak tampak kelihatan sedih. Tapi dari dalam, aku tahu bahwa dia sedang menangis.
Kedua, Siman pasti tak menyadari beberapa perkataan Shanty yang terdengar ganjil tapi terasa familiar di telingaku. 'Cairan hitam berbau darah' dan 'sesuatu lain yang lebih jahat' bagiku dua kalimat itu seperti menggiringku lebih dekat.
Sesuatu yang aku cari mungkin benar berada di samping kepala. Tapi aku belum bisa mengurainya dengan jelas meskipun jejak burung itu sudah semakin terlihat.
__ADS_1