
Pernah sekali aku mengajak Shanty jalan-jalan ke mall, ke toko kue dan membeli sebuah Black Forest untuk dimakan kami berdua. Boleh dibilang itu kencan pertama kami. Tapi sebenarnya kami belum pernah mengungkapkan isi hati masing-masing.
Semenjak Ian menjadi manajer, dia hampir setiap hari memberikan aku dan Shanty uang saku.
Entah apa yang ada di pikirannya, tapi kelihatannya Ian sangat mendukung kalau aku pacaran dengan Shanty. Meski aku tahu kalau dia juga punya rasa terhadapku-atau memang mungkin itu cuma rasa antara kakak dan adik saja.
Ian selalu menyuruhku untuk belajar mengendarai motor. Walau aku selalu enggan tapi sekarang aku sudah dapat mengendarai motor besarnya itu. Dan selalu aku gunakan untuk sekolah. Karena sekarang, setiap pagi, Ian selalu dijemput oleh sopir pribadi dari perusahaannya.
31 Maret.
Hari itu semakin dekat. Dari bulan ke bulan latihan kami semakin baik saja. Semuanya pun masih semangat menjalani latihan.
Sepulang sekolah aku langsung pulang ke rumah. Tidak sabar mengetahui apa yang sedang dilakukan Shanty siang ini.
"Shanty!" panggilku.
Dia tidak menyahut.
Aku mengintip ke kamarnya, dia tidak ada.
Aku mencarinya ke mana-mana, dia tidak aku temukan.
Tanpa sempat aku mengganti seragam, aku segera mengendarai motor dan pergi mencarinya ke minimarket tempat dia biasa belanja bahan makanan.
Aku bertanya pada wanita penjaga toko tersebut.
"Tadi dia memang ke sini membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Tapi sekarang saya tidak tahu dia pergi ke mana," kata penjaga toko.
Sebelum kembali ke rumah aku juga sempat mencarinya ke tempat biasa kami makan kue tapi dia juga tidak ada di sana. Mungkin karena aku terlalu panik dan khawatir atau mungkin terlalu bodoh sehingga aku tak sempat menanyakan pada Ian ke mana Shanty pergi.
Setelah memasukkan motor ke garasi aku segera masuk ke rumah lagi untuk menelepon Ian.
"Halo ... Kak. Kau tahu ke mana Shanty pergi?" tanyaku.
"Tidak. Memangnya dia tidak ada di rumah?"
"Saat aku pulang sekolah, dia sudah tidak ada. Aku tidak tahu dia pergi ke mana"
"Mungkin sedang belanja."
"Aku sudah tanya ke penjaga tokonya. Katanya dia sudah pulang."
"Benarkah?" herannya.
"Kenapa suaramu terdengar begitu tenang? Apa kau tidak khawatir?" tanyaku.
Dia tak menjawabnya dan malah memutuskan teleponnya.
"Untuk apa aku khawatir? Dia kan ada di sini!" sahutnya.
Aku membalik badan dan melihatnya berdiri di depan pintu. Dengan rambut spiky, memakai kacamata hitam, jas hitam, Ian sudah terlihat seperti mata-mata atau bodyguard artis.
"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ...," suara seorang gadis yang kemudian masuk ke dalam rumah sambil membawa Black Forest yang cukup besar.
Sesaat aku hampir tak mengenalinya.
Wajahnya putih dan cerah.
Bibir merah merona.
Memakai anting-anting.
Rambutnya hitam panjang bergelombang dan berkilau.
Dia memakai baju hangat yang terbuat dari woll serta rok yang sangat mini.
Aku tak percaya itu adalah Shanty.
"Selamat ulang tahun, Danny!" katanya tersenyum manis padaku. "Hei, Dane! Kau lihat apa? Cepat tiup lilinnya!" sergahnya mengejutkanku.
"Ya! Ya! Baik!"
Aku pun meniup lilin dengan angka 17 itu.
"Kami punya sesuatu untukmu!" kata Shanty setelah menaruh cake itu di atas meja. "Ini dariku dan yang ini dari Kak Ian!"
"Apa ini?" tanyaku.
"Buka saja!"
Aku membuka bungkusan kado itu.
Shanty memberikanku sebuah pakaian seperti jaket jeans hitam abu-abu lengan pendek dengan bentuk yang sangat modis dan panjangnya hanya sedada. Sementara Ian memberikanku sebuah sabuk dan ponsel. Di kepala sabuk itu terdapat tulisan Kie.
"Hah! Ponsel?" kejut Shanty.
"Tenang saja, Shan. Saat ulang tahunmu tiba aku juga akan memberikan ponsel yang sama," kata Ian sambil melepas kacamata hitamnya. "Dane, Shan, aku pergi dulu, ya. Waktu istirahatku sudah habis. Aku harus kembali ke kantor!"
"Iya. Makasih, Kak!" kataku.
"Dane, ayo kita makan kuenya!" ajak Shanty.
"Shan, kau begitu ..."
__ADS_1
"Cantik!" katanya menyela. "Tentu saja! Aku kan perempuan. Tapi, aku tidak nyaman berdandan dan memakai rok begini. Ian yang menyuruhku. Katanya supaya kau terpesona."
Shanty langsung menatapku malu.
"Aku memang terpesona melihatmu!" kataku tak bisa kumungkiri itu.
Kami saling menatap.
Tidak. Tidak. Kami tidak berciuman seperti dalam film-film.
"Sudahlah! Jangan banyak bicara! Makan saja ini!" katanya tiba-tiba mengambil segenggam kue dan mendaratkannya ke mukaku.
Seperti biasa dia tertawa riang melihatku seperti ini.
Pukul 16.00.
Aku diam di kamarku. Membuka kembali kotak kayu itu. Memperhatikan kartu identitas milik ayah dan ibu kandungku.
Aku melihat foto mereka yang tertempel di sudut kanannya. Walaupun aku sedikit benci tapi aku merindukan mereka.
"Ayah ... Ibu ... aku ingin bertemu kalian ...."
Tak terasa air mata membasahi pipiku.
"Dane, kau sedang apa?" tanya Shanty dari balik pintu mengejutkanku.
"Oh, Shan! Tidak ada. Masuk saja," kataku mengusap air mataku sambil memasukkan kembali kartu itu ke dalam kotaknya.
"Kau kenapa, Dane?" tanyanya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa."
Shanty mengembuskan napas berat. "Kau memang begitu! Ya sudah kalau kau tidak mau cerita."
Hening sejenak.
"Eh! Dane, apa komputer itu terhubung dengan internet?" tanyanya.
"Tentu. Silahkan saja kalau kau mau main!" kataku.
Tanpa bertanya lagi, dia langsung duduk di kursi dan membuka Facebook.
"Hei, Dane kemari! Lihat ini! Facebook Ian!" serunya.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku heran.
"Dia mudah sekali ditebak. Masa untuk passwordnya pakai namamu!" katanya.
Dia mulai memmbuka galeri foto.
Foto saat aku dan Shanty tidur di pangkuan Ian ketika di pantai WHISPER. Lalu ada foto-foto saat kami sedang latihan di hutan hitam.
"Siapa dia Shan?" tanyaku melihat foto seorang pria Eropa berjas rapi pada kumpulan foto-foto itu.
"Apa kau tidak tahu? Dia kan direktur perusahaan Kie Light. Kudengar dia seorang gay," katanya.
Jadi, dia bos Ian? Atau ...
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat saat kami bersama.
"Apa?! Jam enam? Aku harus siapkan makanan sebelum Ian pulang," katanya panik ketika melihat waktu di layar komputer.
Shanty segera menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam.
Ketika aku hendak mematikan komputer itu aku terpikir sesuatu.
"Mungkinkah ada?" tanyaku sendiri.
Segera aku ketik nama Joanna Van Dehr Bosche di kotak pencari Google.
Ada!
Aku klik situs itu. Diperlukan kata sandi untuk masuk ke dalamnya.
Aku ketik Joanna. Ditolak.
Nikkiemura. Tetap ditolak.
JN.
Nekala.
Sandekala. Ditolak juga.
Tanpa sengaja aku melihat tulisan yang terukir di tutup kotak kayu itu.
Aku ketik 'Bo I Hora' dan akhirnya situs itu terbuka. Yang terlihat di layar hanyalah kumpulan kata-kata dengan huruf aneh yang sama seperti yang terdapat dalam surat peninggalan ibuku.
Lalu aku ketik nama ayahku di kotak pencari Google itu. Ternyata ayahku adalah pendiri awal KIE LIGHT CORPORATION yang berpusat di Jepang.
Dari ruang depan aku dengar suara Shanty sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin Ian sudah pulang.
Aku matikan komputernya lalu pergi menuju mereka.
__ADS_1
Minggu ke 25 latihan kami.
Seperti biasa kami dikumpulkan di atas Tablestone. Mendengar pengarahan Sindia sebelum kami mulai latihan.
"Selama ini kalian sudah menjalankan latihan dengan baik. Kemarin adalah latihan-latihan dasar. Kalian latihan kecepatan dan ketahanan tubuh terus menerus karena dua hal itu sangatlah penting. Aku sudah mengetahui kemampuan masing-masing dari kalian. Dan mulai hari ini kita akan latihan sesungguhnya. Berlatih dengan benda-benda yang bergerak," ujar Sindia.
"Nek, sudah siap! Mereka bisa latihan sekarang!" sahut seorang bapak dari bawah.
"Baiklah, kita mulai latihannya!" seru Sindia.
Dia membawa kami terus ke pedalaman hutan hitam.
"Di sinilah kalian akan latihan!" katanya.
Sebuah lapang kecil dengan ditumbuhi rumput-rumput liar dan gundukan tanah yang tidak rata.
Dari ujung ke ujung, lapang itu ditancapi tiang-tiang bambu. Tali-temali direntangkan dan diikat pada kedua ujung bambu-bambu tersebut. Belasan kantong berisi sesuatu digantungkan di atas talinya.
Lima bapak-bapak berdiri di samping kiri, kanan, depan, dan belakang lapang kecil tersebut dengan ratusan kantong kain berisi sesuatu yang sama di samping mereka.
"Kita akan berlatih apa, Nek?" tanya Shanty.
"Kecekatan. Reflek saat musuh menyerang tiba-tiba ketika kalian sedang sibuk melawan yang lain," jawab Sindia. "Dalam latihan ini kalian harus menghancurkan kantong-kantong berisi pasir itu dengan senjata kalian. Tapi kalian jangan sampai lengah sebab setiap 2 detik sekali salah satu dari mereka akan melemparkan satu kantong pasir ke tubuh kalian dan kalian harus siap saat hal itu terjadi. Hancurkan terlebih dahulu musuh yang menyerang tiba-tiba. Apa kalian mengerti?"
Kami mengangguk.
Kelihatannya memang mudah. Tapi jumlah kantong itulah yang akan menyulitkan kami. Ini adalah simulasi saat kami melawan para Sandekala nanti.
"Aku yang akan menentukan siapa giliran pertama dari kalian. Dan ingat, ada peraturan yang tidak boleh kalian langgar. Jangan menolong orang yang kesulitan dalam latihan ini. Sebab kantong itu tidak akan berhenti dilemparkan sebelum kalian berhasil menghancurkan seluruh kantong pasir yang tergantung di tali-tali itu!" ujar Sindia tegas. "Baiklah! Giliran pertama adalah ... kau Winny!"
Winny berjalan ke tengah lapang dengan membawa kedua CREMK-nya.
"Mulai!"
Kalian perhatikan apa kelebihan dan kekurangan saudara kalian. Pelajari kesalahan yang mereka lakukan dalam latihan ini," kata Sindia sambil mondar-mandir agar suaranya terdengar oleh kami semua.
Dengan gerak tangannya yang cepat, Winny menyayat satu per satu kantong pasir yang tergantung.
Serangan kantong pertama dari kanan menuju ke arahnya. Tapi dengan cekatan dia berhasil menangkisnya. Membuat kantong itu hancur lebur.
Serangan datang bertubi-tubi. Dia belum tampak kelelahan tapi keringat membasahi wajahnya. Beberapa lama kemudian dia pun berhasil menghancurkan 20 kantong pasir yang tergantung di tali.
Butuh waktu untuk mempersiapkan ulang sebelum giliran yang berikutnya tiba.
"Shanty! Kau selanjutnya!"
Dengan sekali tebasan dia berhasil menjatuhkan lima kantong pasir. Senjata-senjata besar seperti milik Shanty memang lebih cepat menghancurkan kantong pasir yang diam. Tapi ketika sebuah kantong pasir melayang ke wajahnya, dia kesulitan dan tak berhasil menghancurkannya.
Setelah hampir semua giliran saudaraku selesai akhirnya tibalah giliranku.
Aku sudah dapat menebak dari mana kantong pertama akan dilemparkan. Ketika sebuah kantong melayang ke arahku dengan cepat langsung aku tangkis dengan CLAS-ku. Dengan pedang yang panjang dan tidak lebih berat dari pedang Shanty ini aku bisa lebih cepat dari yang lainnya.
Yang terakhir adalah Iza. Dia tampak sedikit gugup walaupun itu tak mengurangi rasa percaya dirinya.
"Mulai!"
Iza mulai mengayunkan pedangnya. Dia berusaha keras untuk cepat menghancurkan kantong-kantong pasir itu.
Kantong pasir yang pertama dilemparkan oleh seorang bapak dari arah belakang dan Iza tak dapat menangkisnya. Akibatnya, kepalanya harus menerima mentah-mentah lemparan kantong tersebut.
Satu kantong tak dapat ditangkisnya. Dua detik kemudian kantong yang kedua dilemparkan dan Iza tetap tak bisa menangkisnya. Kantong yang ketiga mengenai wajahnya dan membuatnya terpental ke belakang.
"Iza!" teriak Rhinna hendak berlari menuju adiknya.
"Biarkan dia!" sergah Sindia. "Biarkan dia menolong dirinya sendiri. Jika dia tidak dapat bertahan dari ini semua, dia akan mati saat kalian melawan para Sandekala."
Aku juga tidak tega melihat Iza seperti itu. Dia terus terjatuh terkena lemparan kantong pasir. Dia bahkan tak sempat untuk bangun. Kantong-kantong itu terus menghunjamnya ketika dia hendak bangun.
Kami diam di tempat. Melihatnya menderita di hadapan kami.
"Iza! Ayo, Za! Bangun! Kau pasti bisa!" teriak Shanty menyemangatinya. "Jika kita tidak bisa menolongnya, kita masih bisa memberi dukungan padanya!"
Shanty benar.
Seharusnya kami tidak menganggapnya lemah jika dia tidak bisa melakukan apa yang bisa kami lakukan. Seharusnya aku memberinya semangat agar dia bisa bertahan hidup.
"Za! Bangun Za! Aku yakin kau pasti bisa!" teriakku.
"Iya, Za! bangunlah! Kalahkan musuhmu! Kalahkan mereka semua!" teriak Ian.
Dan kami semua berseru menyemangatinya.
Perlahan Iza mulai bangkit. Dia berteriak sekencang-kencangnya dan berkata. "Aku juga bisa seperti kalian!"
Dia mengayunkan SHAG-nya seperti cambuk. Satu per satu kantong-kantong pasir itu berjatuhan. Saat dia mengayunkan pedangnya, dia seperti menari. Pedangnya mengayun ke segala arah sehingga pedang itu tampak melindungi dirinya.
Kantong-kantong pasir yang terbang ke arahnya berhasil dia hancurkan. Untuk kesekian kalinya debu pasir menutupi lapang.
Seembus angin hutan menerobos kumpulan debu dan membawanya pergi. Memperlihatkan sosok Iza dengan amat jelas.
Dia tersenyum walau wajahnya terlihat memar, kotor, basah oleh keringat, dan kelelahan.
Aku berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Aku berhasil!" katanya dengan napas terengah-engah.
"Ya, kau hebat, Za!"