
Aku bermimpi lagi.
Semua saudaraku berada di hutan itu. Termasuk Iza, Rhinna, Shanty, Teny, dan tentu saja aku sendiri.
Kami semua berada di sana. Dengan satu tujuan yang belum aku ketahui.
Pagi ini aku terbangun di atas ranjang usang. Tempat tidur yang berada di pojok ruang tamu rumah Shanty.
"Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Ian.
"Aku tidak tahu," jawabku bangkit dari tidur seraya mengembuskan napas berat.
"Ada yang ingin kau ceritakan?"
Tatapan matanya seolah tak sabar menanti ingin mendengar apa yang telah aku alami.
Aku bergeming.
Terlalu lelah untuk mengingat kejadian tadi malam.
"Mungkin nanti ...," kataku akhirnya. "Mana yang lain?"
"Di balai desa. Warga desa sedang menjelaskan pada mereka apa yang telah terjadi tadi malam," katanya.
"Oh! Kau sudah bangun, Danny?" Shanty muncul dari balik pintu. "Tunggu sebentar. Akan aku buatkan minum untuk kalian."
"Dane, aku akan susul orangtuamu dulu. Aku sudah janji akan beritahu mereka kalau kau sudah bangun," kata Ian.
Aku mengangguk.
Dia pun pergi menyusul mereka.
"Mana orang yang di sampingmu tadi?" tanya Shanty sambil membawa dua cangkir bambu berisikan air teh.
"Ian? Dia sedang menyusul keluarga kami."
"Dia kakakmu?" tanyanya.
"Bukan. Dia sepupuku. Kakaknya Siman."
"Tapi kalian kelihatannya seperti kakak adik."
"Ian memang selalu perhatian padaku melebihi kakakku sendiri. Aku sendiri pun tidak tahu kenapa dia begitu," ujarku.
Mungkin tahu. Tapi kuharap aku salah. Aku butuh Ian di sampingku sebagai kakak. Sebagai pelindung. Sebagai penasihat. Sebagai orang yang bisa kupercaya. Bukan yang lain.
"Minumlah tehnya, Dane."
"Trims, Shan."
"Sebenarnya ...," ucapnya.
Aku yakin tahu apa yang akan dia katakan. Buru-buru aku langsung menyela, "Sebelum kau bicara, ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
Shanty mengatupkan bibir. Menyimak perkataanku baik-baik.
"Apa yang terjadi tadi malam saat aku dan Sandekala saling berpegang tangan? Karena aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu."
"Kau seperti pingsan. Dia menggendongmu dan membawamu pergi ke hutan hitam. Aku lihat kau dibawa ke atas Tablestone. Dan aku lihat kau meronta-ronta saat dia memeluk dan mengisap sesuatu dari mulutmu. Untunglah aku dan nenek berhasil mengejar dan memusnahkannya. Lalu tiba-tiba kau tak sadarkan diri. Sepupumu itu kemudian menggendongmu kembali ke sini," tuturnya.
"Shanty ... aku ingin tanya sesuatu yang pribadi. Boleh?"
Sebenarnya aku tak ingin menanyakan hal ini. Aku tak ingin membuatnya sedih dan teringat akan masa lalunya. Tapi aku harus! Sebab ini berkaitan dengan kehidupanku.
__ADS_1
Jati diriku.
"Apa? Coba saja?" tantangnya tersenyum.
"Seberapa besar kau mengenal kedua orangtuamu? Apa kau bersedia membicarakan semua hal tentang orangtuamu padaku?" tanyaku dengan raut muka serius.
"Kau benar. Pertanyaan itu terlalu pribadi," balas Shanty. "Tapi, akan aku ceritakan padamu."
Dia mengembuskan napas dan mulai bercerita. "Kedua orangtuaku adalah warga Indo asli. Dulu ayahku adalah kepala desa Nekala ini. Sedangkan ibuku adalah seorang karyawan yang bekerja di KIE LIGHT CORPORATION. Ayah dan ibuku bercita-cita ingin memajukan desa ini agar tidak tertinggal. Mereka mengenalkan dunia luar pada warga desa. Menjelaskan bahwa di luar sana, kehidupan telah maju. Dan desa ini telah tertinggal jauh dari peradaban dunia. Tapi kau tahu, sejak insiden kebakaran itu, para warga desa menolak dengan yang namanya kemodernisasian."
"Apa yang biasa orangtuamu lakukan saat musim panas tiba?"
"Apa maksudmu?"
"Apa mereka selalu bertarung melawan para Sandekala?"
"Aku juga baru tahu itu dari nenekku. Dia mengatakannya pada kita kemarin, bukan? Saat dia memberitahuku siapa pemilik Evilis Naifu itu."
"Jadi, kau tidak tahu hubungan mereka dengan para Sandekala?" tanyaku memastikan.
Shanty hanya menggeleng.
"Memangnya ada apa kau menanyakan hal itu?" heran Shanty.
Terdengar suara riuh rendah orang-orang dari luar rumah.
"Sepertinya mereka sudah datang," kata Shanty. "Ayo kita temui mereka!"
Aku melepaskan jaketku. Menyisakan sehelai kemeja tipis yang menempel di tubuhku. Kami berjalan keluar.
"Danny!" ucap Ibu seraya memelukku.
Ibu selalu berlebihan seperti ini.
"Bu, aku mohon!"
Siapakah diriku sebenarnya?
"Bu, Yah, aku ingin bicara pada kalian berdua," kataku.
Mereka berdua saling menatap heran.
"Amy, Septy, kalau begitu kami pulang duluan," ujar orangtua saudara-saudaraku.
Ibu mengangguk. "Maaf karena kami sudah merepotkan kalian."
"Ya. Sama-sama."
"Teman-teman, maafkan aku karena telah merepotkan kalian sekali lagi," imbuhku.
Rhinna, Iza, Siman, Ian, Sudra, Winny, Khyun, dan Ricky mendekatiku.
Siman menjabat tanganku, menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
"Kapan pun kau butuh bantuan kami, kami akan selalu membantumu," bisiknya.
Satu per satu saudara-saudaraku yang lainnya memelukku.
"Kami sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sungkan untuk meminta bantuan, oke!" kata Rhinna.
Aku mengangguk.
"Danny, jaga dirimu," kata Ian pelan.
__ADS_1
Dia memelukku.
Hangat.
Kehangatannya begitu berbeda.
Aku balas memeluknya erat.
Kupejamkan mata.
Kurasakan kehangatan itu lebih dalam.
Kehangatan kasih sayang.
Yang kubutuhkan sekarang adalah pelukan.
"Danny, Danny. Sudah," bisiknya.
Aku melepaskan pelukanku.
"Aku pulang dulu," katanya berjalan pergi bersama saudara-saudaraku yang lainnya.
Aku menyuruh kedua orangtuaku masuk ke dalam bersama Shanty dan neneknya sendiri agar mendengarkan percakapan kami.
"Bu, mana Kakak?" tanyaku.
"Dia sudah pulang ke rumah Teny," jawabnya.
"Begini, kemarin senja, saat makhluk itu membuatku tak sadar, aku bermimpi. Mimpi itu tampak nyata bagiku. Dan aku meyakininya. Dalam mimpi itu aku bertemu seorang wanita. Wajahnya mirip denganku dan dia mengaku bahwa dia adalah ibu kandungku. Aku juga melihat seorang pria Jepang di sana. Dan ... makhluk itu mengatakan padaku ... memang benar, mereka berdua adalah orangtua kandungku," ujarku.
Aku dapat melihat ekspresi itu dari wajah kedua orangtuaku. Bak maling yang tertangkap basah, mereka tampak terkejut mendengar kata-kataku.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada Ibu dan Ayah. Dan aku ingin kalian jawab sejujur-jujurnya pertanyaanku! Pertanyaan ini untuk yang kesekian kalinya," kataku.
Wajah mereka semakin waswas.
"Apa aku benar-benar anak kandung kalian atau bukan?!" tanyaku sedikit tegas kali ini.
"Da-Danny apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau adalah anak kandung kami," jawab Ibu gugup sambil berusaha tersenyum.
"Bukan!" sergah Ayah.
Semua terdiam menatapnya.
"Sudah saatnya kita memberitahu Danny yang sebenarnya," ucap Ayah pada Ibu.
"Tapi ...," terdengar nada suara kekhawatiran dan takut akan kehilangan diriku dari ucapan Ibu.
"Memang benar kau bukanlah anak kandung kami. Dan kami pun bukan orangtua kandungmu," ujar Ayah.
Aku terpatung kaku di sudut itu. Jawaban itu sudah aku perkirakan dan seharusnya aku tak akan seterkejut ini bila akhirnya jawab itu yang akan aku dengar. Tapi ... aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Semuanya kian buram walaupun kini justru semakin jelas bagiku.
Perlahan mataku memerah.
Ayah langsung memelukku sebelum akhirnya air mataku tumpah.
"Dane, maafkan Ayah dan ibumu ini karena selama ini telah merahasiakan ini semua darimu," ucapnya lirih.
Aku mengusap air mataku. "Ibu dan Ayah tenang saja. Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkan kalian. Walaupun kalian bukan orangtua kandungku, tapi kalian tetap orangtuaku. Karena selama ini, kalianlah yang telah membesarkanku. Aku ucapkan terima kasih karena kalian mau menganggapku sebagai anak kandung kalian selama ini."
Aku tak berniat ingin mencari kedua orangtua kandungku. Karena aku tahu apa yang telah mereka perbuat padaku.
Mereka hampir saja memberikan jiwaku pada iblis.
__ADS_1
Kini aku tahu siapa jati diriku.
Aku hanyalah seorang anak dengan jiwa setengah iblis yang telah ditakdirkan untuk mati di tangan makhluk itu. Aku tahu, mereka masih mengincarku. Mereka menginginkan jiwaku. Karena ini bukanlah akhir melainkan awal dari segalanya. Mimpi buruk ini bukan hanya akan sekadar jadi mimpi buruk. Melainkan kenyataan. Dan aku harus melawan kenyataan ini agar aku bisa kembali hidup dengan tenang.