
Sudah beberapa terakhir ini mimpiku janggal.
Mimpi sama yang kerap muncul.
Tentang gadis merah yang tak kuketahui identitasnya.
Tentang makhluk hitam yang membelenguku dalam dekapannya.
Makhluk yang selalu terbayang dan pada akhirnya membuatku berhalusinasi. Jika itu memang halusinasi.
Aku merasa seperti mendapat pertanda mengenai sesuatu. Mungkin aku harus melupakannya sehingga makhluk yang kadang muncul memperhatikanku itu lenyap.
Minggu ini adalah hari terpenting bagi kakakku. Ronny akan melamar kekasihnya. Tapi bagiku, hari ini pastilah akan sangat membosankan.
Setelah beres mandi pagi, aku turun ke lantai bawah dengan bertelanjang dada. Hanya mengenakan sehelai boxer tipis. Aku langsung sarapan semangkuk sereal sembari menonton televisi.
"Astaga, Danny, cepat siap-siap! Kau belum ganti baju? Cepat ganti sana!" perintah Ibu selagi menyisir rambutnya di cermin ruang depan.
"Iya, Bu, sebentar dulu," balasku malas.
Aku habiskan sarapanku lebih cepat dan menaruh mangkuk yang telah kosong di bak cuci piring.
Suara bel di depan pintu terdengar berbunyi saat aku hendak naik tangga. Segera, aku buka pintunya.
"Hai, Dane!" sapa Iza Zulistyav, anak dari teman ibuku.
Aku tak menyangka bukan hanya Iza dan kakak-kakaknya saja yang datang ke rumahku. Tetapi seluruh sepupuku bersama orangtua mereka datang. Keluargaku memang besar. Aku masih punya empat orang sepupu lain selain Ian dan adiknya—Siman. Mereka semua adalah anak dari adik maupun kakak ibuku.
"Siapa, Dane?" tanya Ibu. "Oh, kalian. Ayo masuk!"ajaknya. "Danny, cepatlah ganti baju! Lihatlah saudara-saudaramu! Mereka semua sudah siap berangkat!"
Aku heran, Ronny yang akan melamar kenapa mereka semua yang heboh?
"Ayo Dane, ganti bajumu. Kakakmu akan melamar seharusnya kau ikut meramaikannya," kata Siman mengalungkan sebelah lengannya di pundakku. Bersama, berjalan ke kamarku.
"Memangnya hari libur ini kau tidak ada acara? Bukankah biasanya kau selalu pergi dengan gengmu?" tanyaku sambil membuka lemari pakaian.
Siman sedang tiduran di kasurku. Memegang-megang hiasan perak yang dia ambil dari atas meja belajar.
"Tidak. Hari ini bukannya Ronny—"
"Yayaya aku tahu!"
Aku tidak tahu harus memakai baju apa. Di lemariku tidak ada kemeja. Seragam sekolah belum kering. Aku merasa tidak enak bila harus memakai kaus.
"Bagaimana sekolahmu? Kau masih ranking pertama?" tanyanya.
"Tentu," jawabku. "Aku heran kenapa kau tidak seperti kakakmu? Ketika dia sekolah di sekolahmu, dia adalah murid terpintar."
"Lalu, kenapa kau tidak sama seperti kakakmu?" dia balik tanya.
Aku bergeming.
Aku tahu dia tidak membandingkanku dengan Ronny dari segi kepintaran. Tapi, dia menyindir fisikku. Hal itu sedikit membuatku risih. Aku juga tidak begitu suka dengan fisikku yang sungguh 'bule' ini.
Aku menemukan kaus berwarna putih. Aku pakai saja itu ketimbang tak ada sama sekali. Aku lapisi kaus itu dengan baju hangat biru mudaku yang terbuat dari wol. Untuk bawahannya aku pakai jins hitam seperti Siman.
Aku sisir rapi rambutku di depan cermin. Tahun demi tahun warna rambutku semakin cerah. Dulu hitam, coklat tua, dan sekarang rambutku berwarna coklat terang seperti rambut jagung. Perubahan-perubahan yang mencolok pada tubuhku ini semakin membuatku tak nyaman. Aku benar-benar seperti orang asing yang dipungut oleh keluarga ini.
"Danny, cepatlah! Kita mau segera berangkat!" panggil Ibu.
"Iya. Baik, Bu!" sahutku. "Baiklah. Ayo, Man!"
Aku terpaksa menumpang mobil keluarga Iza karena mobil ayahku sudah dipenuhi teman-teman Ibu. Dan terpaksa aku harus berdesak-desakkan dengan saudara-saudara perempuanku di mobil itu. Sementara Siman mengendarai motor bersama kakaknya. Begitu pula dengan orangtua yang lainnya.
Aku tak berkata apa-apa dalam mobil. Rasanya pening mendengar mereka membicarakan pacar masing-masing.
Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar jendela. Menatap ujung jalan dan berharap menemukan sesuatu yang menarik di luar sana.
***
Gadis yang akan dilamar kakakku tinggal di daerah pegunungan di Vereyon. Cukup sulit menggapai rumahnya. Kendaraan roda empat tak dapat masuk lebih dalam lagi dan kami harus berjalan kaki sejauh puluhan meter menuju rumahnya.
Rumah pacar Ronny adalah rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu dan susunan bilik bambu. Sama seperti puluhan rumah lainnya.
"Silakan masuk! Kami sudah menunggu kalian," sapa seorang wanita paruh baya dari dalam rumah itu.
Kami duduk di lantai kayu beralas tikar rumahnya.
"Seperti yang pernah kita bicarakan beberapa hari yang lalu, kedatangan kami kemari adalah untuk melamar putri anda ...," Ibu bicara panjang lebar. Membicarakan ini dan itu tentang segala hal yang berhubungan dengan pernikahan.
Aku tak memperhatikan mereka. Mataku menoleh keluar jendela. Tertuju pada hamparan luas hutan di kaki gunung.
"Ron, cantik juga ya pacarmu," bisik Ian di sampingku ke telinga Ronny.
"Tentu saja. Harusnya kau juga punya pacar."
"Siapa namanya?"
__ADS_1
"Teny Cartica."
"Oh ...."
Setelah beberapa jam berlalu akhirnya perbincangan mereka selesai. Ronny memasukkan sebuah cincin berlian ke dalam jari manis pacarnya. Pertanda bahwa mereka sudah saling terikat.
Acara lamaran itu diakhiri dengan makan-makan. Aku tak tertarik walaupun berbagai macam makanan telah dihidangkan. Aku tolak dengan sopan dan memilih keluar untuk jalan-jalan di sekitar rumah.
Aku berjalan ke halaman depan. Memandang hutan yang terhampar hijau bagai permadani di bawah sana sejauh mata memandang.
Jauh di tengah hutan itu, berdiri sebuah gunung. Sungai mengalir dari gunung itu dan mencabang menjadi tujuh bagian.
Aku berjalan menuruni lereng-lereng ladang di tepian tebing landai pegunungan tersebut secara tak sadar. Entah kenapa kakiku terasa ingin melangkah ke arah hutan. Sampai seorang penduduk desa berteriak dari atas memanggilku. Saat sadar, aku sudah berjalan terlalu jauh.
Yang membuatku terkejut adalah aku berhenti tepat di depan sebatang pohon beringin raksasa.
"Hei! Apa yang kau lakukan di sana?! Cepat kemari! Di sana berbahaya!" teriak seorang pria tua.
Aku lihat seluruh keluargaku memandangku dengan terheran-heran.
"Danny, cepat ke sini! Kita mau pulang!" panggil Iza.
Aku hendak kembali menyusuri jalan setapak menanjak yang aku lewati barusan. Tapi, sewaktu aku melangkahkan kaki, rasanya seperti ada yang menahanku dan memeluk tubuhku erat sampai-sampai aku tak bisa bergerak dari area pohon beringin itu. Ketika aku hendak berteriak, tak ada sepatah kata pun yang bisa aku keluarkan dari mulutku.
Ada apa ini?
Aku mulai panik.
Takut.
Penduduk itu bilang tempat ini berbahaya. Tapi apa yang berbahaya?
Apa ini? Aku tak bisa bergerak pergi dari sini!
"Danny ...," seembus suara pria berbisik ke telingaku bagai angin.
Aku menoleh ke belakang.
Kembali melihat sosok itu.
Sosok hitam legam tengah berdiri di atas pohon beringin tersebut.
Itu bukanlah sebuah bayangan.
Dan jelas itu bukanlah halusinasi.
Itu adalah wujud yang nyata.
Aku takut bukan main. Lututku tak mampu lagi menopang tubuhku yang mulai terasa memberat sampai akhirnya aku tersungkur. Tubuhku berlumuran lumpur.
Sekonyong-konyong jalan setapak itu terasa licin dan membuat tubuhku tergelincir lebih dekat ke pohon beringin tersebut.
"Ibu!" teriakku sekencang mungkin.
Suaraku menggema ke seluruh pelosok pegunungan dan hutan yang berada di kaki gunung. Hanya ibuku orang yang aku ingat saat ini.
Akhirnya aku bisa bergerak. Jeratan aneh yang membelenggu tubuhku akhirnya terlepas. Aku langsung bangkit dan dengan cepat berlari tunggang langgang menaiki jalan setapak menuju keluargaku.
Aku langsung ditolong oleh warga desa itu di saat tak mampu lagi untuk berjalan sebelum akhirnya aku jatuh pingsan.
***
"Danny ... Danny ...," panggil Ibu.
Aku terbangun di atas sofa rumah tunangan Ronny.
Aku melirik ke jendela. Hari sudah mulai gelap. Di ruangan ini yang aku lihat hanya Ayah, Ibu, kakakku, dan keluarga tunangannya.
"Mana yang lain?" tanyaku pada Ibu.
Aku berusaha untuk duduk.
"Berbaringlah, Dane."
"Tidak apa-apa, Bu. Aku baik-baik saja," kataku sedikit pusing.
"Yang lain sudah pulang duluan. Kalau kau sakit, kita menginap saja di sini," usul Ayah.
"Tidak, Yah. Aku ingin pulang," pintaku.
"Danny, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ronny.
"Aku tidak tahu kenapa aku berada di sana. Aku tidak sadar. Seperti ada yang menyuruhku ke tempat itu. Aku baru sadar ketika penduduk desa meneriakiku. Aku dengar tempat itu berbahaya. Apa yang berbahaya?"
Aku menatap keluarga tunangan Ronny yang sedari tadi memandangku.
Mereka terdiam.
__ADS_1
Ragu.
Tapi, mencoba untuk bercerita.
"Di dekat pohon beringin itu terdapat retakan tanah. Itu seperti jurang tanpa dasar. Bila kau tergelincir ke sana kau tak akan selamat," kata Teny—calon kakak iparku.
"Apa?! Untung saja kau selamat, Danny," kejut Ibu memelukku.
"Sudah, Bu, aku tidak apa-apa," kataku meyakinkan. "Tapi, sepertinya bukan hanya itu yang berbahaya."
"Apa maksudmu?" tanya ibu Teny heran.
"Sesaat, aku tidak bisa bergerak. Seperti ada yang mengikatku di tempat itu. Dan ... aku melihat ..."
Aku ragu untuk mengatakannya.
"Melihat apa?"
"Mungkin orang-orang desa seperti kalian akan percaya. Aku melihat sesosok makhluk hitam di atas pohon beringin tersebut. Dan bukan kali ini aku melihatnya. Kemarin-kemarin aku pun melihatnya. Aku kira itu cuma halusinasiku saja. Tapi, kejadian tadi membuatku yakin akan sesuatu," ujarku pada mereka.
"Sandekala," tegas Teny.
"Sandekala?" heran Ronny.
"Mungkin yang kau lihat itu adalah Sandekala. Iblis penculik anak-anak. Ada rumor tentang keberadaan Sandekala di hutan di kaki pegunungan Andekhala ini. Tapi, belum pernah ada orang yang melihatnya secara pasti. Karena sesungguhnya Sandekala itu hanyalah legenda orangtua dulu untuk menakuti anak-anaknya agar berhenti bermain dan masuk ke dalam rumah bila senja tiba. Sandekala itu sendiri berarti pergantian waktu antara sore dan malam hari. Yaitu senja kala," ujar Teny.
Kulihat ayah dan ibuku tampak tidak percaya. Tapi, mereka mencoba mendengarkan penjelasannya.
"Para orangtua menggunakan cerita itu agar anak-anak patuh pada mereka. Karena orangtua dulu punya cara tersendiri untuk mengajari anak-anaknya agar tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh mereka. Dengan takhayul. Larangan tidak boleh duduk di ambang pintu, tidak boleh memakan dua pisang yang menyatu, atau tidak boleh bermain setelah senja tiba karena itu adalah waktu Sandekala menculik anak-anak. Sebenarnya itu semua dimaksudkan agar anak-anak tidak melakukan sesuatu dengan sekehendaknya.
"Dari sekian banyak larangan-larangan itu, hanya tentang Sandekala yang tampak bukan hanya sekadar takhayul dan menjadi legenda yang nyata. Tapi, kebenaran tentang makhluk Sandekala itu pun masih diragukan karena belum pernah ada orang yang secara pasti melihatnya. Walau sering dalam setahun tak kurang dari lima anak-anak desa sebelah menghilang. Tapi, mereka berhasil ditemukan beberapa hari kemudian di atas pohon beringin atau pinggiran sungai dalam keadaan setengah cacat.
"Menurut pengakuan anak-anak tersebut, ada sekelompok 'orang' berpakaian serba hitam dan segerombolan anak kecil menaiki rakit dan membawa mereka ke hulu sungai. Kalaupun Sandekala itu memang ada, hanya anak-anak dan orang-orang tertentu saja yang dapat melihatnya."
"Kenapa harus aku? Ada hubungan apa denganku? Aku orang kota dan tak ada yang tahu mengenai makhluk itu. Kenapa makhluk itu menampakkan dirinya padaku seakan-akan aku telah dipilih olehnya sejak lama?" tanyaku. "Aku selalu dibayang-bayangi makhluk itu di mana pun aku berada."
"Kalaupun mereka nyata, mereka tidak akan bisa melukaimu. Mereka adalah makhluk gaib. Jadi, kau jangan takut, Danny."
Aku terdiam beberapa saat.
"Yah, Bu, aku ingin pulang," pintaku.
"Tentu. Tapi kita bersihkan dulu badanmu yang kotor itu," kata Ibu. "Ron, antar adikmu ke toilet dan berikan jaketmu padanya."
"Ayo, Dane!"
Aku melepaskan pakaianku yang penuh dengan lumpur kering. Membasuh tubuhku yang kotor.
"Teny, apa kau punya celana laki-laki?" tanya Ronny.
"Tunggu sebentar akan aku ambilkan!"
"Dane, pakai jaket ini."
"Ini celana trainingku," kata Teny memberikan celana itu pada Ronny.
"Dane, ganti juga celanamu yang kotor itu dengan ini!"
***
Dalam perjalanan pulang aku terus berpikir.
Kenapa Sandekala itu terus menampakkan dirinya padaku?
Aku terlalu tua untuk diculiknya.
Apakah ini semua ada hubungannya denganku?
Dengan masa laluku?
Dengan jati diriku sebenarnya?
Atau ... ada hal lain yang membuat makhluk itu tertarik padaku?
Dalam siraman air hangat yang membasahi seluruh tubuhku aku teringat mimpi-mimpiku sebelumnya. Tentang mereka; peneror. Dan tentang gadis itu. Mungkin dialah kunci jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.
Aku buka kembali memori tentang mimpiku itu.
Aku pejamkan mata.
Aku ingat!
Ada sebuah desa di sana. Desa yang belum pernah aku lihat tapi sepertinya aku mengenal baik desa itu. Aku merasa pernah ke sana. Aku lihat para orangtua meneriakkan nama makhluk itu. Sebuah nama yang membuat anak-anak ketakutan luar biasa.
Aku coba gali lebih dalam mimpiku. Aku melihat gadis itu. Seorang gadis berambut bob merah. Tapi aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Gadis itu membawa senjata. Sebuah pedang yang begitu aneh. Aku juga melihat seluruh saudaraku berada di sana dengan masing-masing membawa sebuah senjata yang terbuat dari logam emas, perak, maupun perunggu. Logam-logam yang tak biasa untuk dijadikan senjata perang.
__ADS_1
Aku terus menggali lebih dalam ingatanku akan mimpi itu. Aku melihat seluruh saudaraku mati. Satu per satu mereka mati di dalam hutan gelap dan hitam. Sampai aku ingat mimpiku yang terakhir. Sandekala membawaku dan gadis itu jatuh ke dalam jurang.
Aku membuka kembali mataku. Aku ambil handuk yang tergantung di samping. Setelah selesai berpakaian aku langsung menyembunyikan tubuhku yang kedinginan dalam selimut. Rasa lelah membuatku langsung terlelap.