Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Tanpa Apa Pun


__ADS_3

Nyawaku telah berada di ujung leher. Mungkin akan terlepas bila tak ada yang menolongku.


Tiba-tiba kurasakan sesuatu di leherku.


Basah.


Tajam.


Ada yang menggigit leherku.


Bukan makhluk itu.


Rasanya sakit sekali.


Aku tercekik.


Leherku panas.


Bila begini aku bisa benar-benar mati.


"Berisik sekali! Ada apa-hei, Kak, apa yang sedang kau lakukan?!" terdengar suara Siman.


Ian tidak menjawabnya.


Ini seperti tempo lalu.


Aku terapung di antara dua dunia.


Dunia mimpiku tak mau melepaskanku tapi dunia nyata bisa aku rasakan dengan jelas.


Aku merasakan Ian menggenggam erat kedua lenganku, dadanya bertumpu di dadaku, sebelah kakinya menahan kakiku yang meronta-ronta, dan mulutnya menempel di leherku. Menggigitku seperti drakula. Sesaat aliran darah yang menuju ke kepalaku terhenti. Tapi tak berapa lama kemudian aku tersadar. Mataku terbelalak karena syok. Aku langsung bangkit dengan napas yang terengah-engah.


"Siman! Ambilkan handuk dan air minum!" perintah Ian.


Keringat membasahi tubuh kami.


"Danny! Lihat aku! Lihat aku! Apa kau tidak apa-apa?"


Aku menelan ludah masih dengan napas tersengal.


Aku pandang kedua bola matanya.


Berusaha fokus.


Semuanya tampak buram.


Berbayang.


Kabur.


"Ini!" kata Siman memberikan handuk dan segelas air.


Ian mengelap wajah dan tubuhku yang basah oleh keringat.


"Minumlah ini, Dane!"


Ian memberikan segelas air itu padaku.


Aku rasakan seluruh tubuhku sakit. Aku raba leherku. Ada bekas gigitan di situ.


"Maafkan aku, Danny! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tadi kau kejang-kejang. Aku sudah coba membangunkanmu tapi kau tidak terbangun juga. Aku lihat kau mencakar dan mencekik lehermu sendiri. Tidak tahu kenapa dengan spontan aku ingin menggigit lehermu dan berharap kau sadar. Sekali lagi aku minta maaf, Dane!" ujar Ian.


"Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih. Kalau tadi aku tidak bangun, aku bisa mati," kataku.


"Mati?" heran Ian.


Aku mengangguk. "Aku mimpi Sandekala itu mencekikku. Rasanya begitu nyata. Aku tidak bisa bernapas. Aku dengar suaramu dan Siman tapi aku tidak bisa bangun."


"Mati dalam mimpi?" tanya Siman keheranan yang sedari tadi berdiri di sampingku.


Aku tidak meresponnya. Hanya menatapnya sebentar lalu pandanganku teralih pada kedua telapak tanganku. Memandang kosong garis-garis tangan.


"Apa kau sakit?" tanya Ian. "Sebaiknya kita ke rumah sakit saja."


"Aku baik-baik saja. Aku sudah sering bermimpi buruk. Tapi, baru kali ini mimpi burukku terasa senyata ini."


Aku menggigil dan tanganku gemetaran.


"Apa kau mau pulang?" tanya Ian. "Biar aku antar kau pulang."


"Jam berapa sekarang?" tanyaku pada Siman.

__ADS_1


"Sudah jam setengah enam pagi."


"Tidak usah. Kau kan harus kerja," kataku pada Ian.


"Kau yakin?" tanyanya begitu khawatir.


Aku menelan ludah. Menggelengkan kepala. Berusaha untuk santai. "Aku akan baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu. Kau memang seperti ini."


Ian pun segera pergi ke kamar mandi dan mengganti bajunya.


"Ini kemejaku. Pakailah," sahut Ian. "Apa benar kau tidak apa-apa?" tanyanya untuk memastikan terakhir kali.


"Sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit ... tertekan," kataku. "Tapi nanti juga hilang," buru-buru aku tambahkan.


"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu. Hari ini memang aku ada kerjaan yang benar-benar tidak bisa kutinggalkan."


Ian keluar dari kamarnya.


Aku pakai kemeja itu dan bersama Siman mengikutinya keluar.


"Man, kalau nanti Danny mau pulang tolong kau antar, ya," pinta Ian.


"Iya iya," balas Siman enggan.


Suara deruan motornya perlahan menjauh.


Cukup lama aku dan Siman terdiam. Menonton TV dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang ke mana-mana. Hatiku semakin tidak tenang saja. Aku takut. Rasa takut yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Tadi kau mengatakan Sandekala. Apa itu?" tanya Siman yang sedari tadi tampak ingin bertanya.


"Man ...," ucapku setelah beberapa detik tak menggubrisnya.


Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan. "Bila suatu saat nanti aku membutuhkan bantuanmu, apa kau mau membantuku?"


"Memangnya bantuan apa?"


"Kekuatanmu."


"Hah? Maksudmu?" tanyanya bingung.


"Kau semakin ngawur saja. Memangnya akan terjadi perang apa? Di mana? Kapan? Dari mana kau tahu akan terjadi perang?" tanyanya bertubi-tubi.


"Aku tidak tahu dari mana aku tahu. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Nanti kau akan tahu sendiri," jawabku. "Maukah kau berjanji untuk membantuku bila hal itu benar-benar terjadi?"


"Oke. Walaupun aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


Aku pun tak mengerti dengan semua ini tapi firasatku dan kata-kata dari Nia terus terngiang-ngiang. Bahwa aku harus melawan mereka, entah kapan dan di mana. Satu-satunya kunci untuk menemukan petunjuk lainnya adalah dengan mencari lokasi desa tersebut-desa di mana seorang gadis berambut merah tinggal.


Siman kemudian mengajakku untuk jalan-jalan di sekitar komplek perumahan dengan menggunakan motornya. Mungkin dia berusaha untuk membuatku melupakan kejadian tadi. Karena sedari tadi yang kulakukan hanyalah melamun saja.


"Kita ke rumah Iza saja. Sudah lama kita tidak main ke sana," usulku.


Kami tiba di sebuah rumah yang bisa dibilang megah. Rumah itu ditinggali lima orang. Kakak perempuan Iza yang pertama bernama Dhinie dan suaminya, Agies, terus kakak keduanya Rhinna Angeran, Iza sendiri, dan satu lagi adalah keponakannya, Fanze, yang berumur 8 tahun. Sedangkan kedua orangtua mereka tinggal di luar negeri dan baru pulang setahun sekali.


Siman memarkirkan motornya di garasi.


"Hei, Dane! Tumben mau datang kemari," heran Iza yang sedang menyiram tanaman.


"Mumpung pada libur, dia jadi bisa main ke sini," kata Siman.


"Za, Rhinna mana?" tanyaku.


"Ada di dalam. Ayo masuk!"


"Sepi, ya."


"Iya, monster kecil itu sedang jalan-jalan dengan orangtuanya. Jadi tak ada yang bikin ulah di rumah ini," balas Iza.


Dia dan Fanze memang selalu ribut.


"Silakan duduk. Kalian tunggu di sini, aku akan ambilkan minum dulu."


Dari lantai atas terdengar suara langkah seseorang menuruni tangga.


"Hei, Dane! Siman! Apa kabar?" sapa Rhinna langsung duduk di sofa, di hadapan kami.


"Baik," jawab Siman.


"Ini! Silakan diminum!" tawar Iza langsung duduk di samping kakaknya.

__ADS_1


Hari itu kami berbincang-bincang dengan Iza dan kakaknya. Tapi aku belum berani menyinggung soal masalahku, mimpiku. Aku tahu mungkin mereka tak akan percaya semudah itu dengan ceritaku. Aku ingin mereka mengetahuinya dan melihat langsung sosok yang selama ini mengawasiku dan membuatku bermimpi buruk. Aku yakin mereka semua akan terlibat dalam masalahku karena pada mimpiku tempo lalu mereka semua hadir dengan membawa masing-masing sebuah senjata dan siap untuk bertempur.


Pukul 12.00.


Kami memutuskan untuk pulang. Siman mengantarku hingga ke depan rumah tapi enggan untuk mampir. Begitu aku masuk ke dalam rumah, Ibu sudah menunggu di ruang keluarga.


"Danny, kau dari mana saja baru pulang?!" tanyanya marah. "Kau buat Ibu khawatir saja!"


"Maafkan aku, Bu. Kemarin aku pulang malam. Aku menginap di rumah Ian."


Aku langsung menuju kamarku sebelum diinerogasi lebih lanjut. Aku ganti pakaianku. Kalau hari ini jadi, aku dan Ian akan pergi mencari desa Nekala itu lagi. Tapi hari ini kami akan mencari satu desa saja karena waktunya tidak akan cukup.


Di atas meja terlihat setoples kue yang belum aku sentuh sekali pun sejak hari di mana Iza memberikannya. Aku makan beberapa kue itu dan turun ke bawah menuju dapur.


Di atas meja makan sudah tersedia makanan enak. Aku melahapnya karena lapar.


Pukul 13.00.


Harusnya Ian sudah pulang. Aku tunggu dia di kamarku. Dari kejauhan seseorang yang mengendarai motor sedang bicara dengan seorang gadis.


"Itu sepertinya Ian," kataku sendiri.


Aku langsung keluar dari rumah mendekati mereka.


"Maaf Kila, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerjaku saja. Tidak lebih dari itu," kata Ian pada gadis di hadapannya yang sedang menangis.


"Tapi selama ini aku pikir kau mencintaiku!" sergah gadis itu.


"Tunggu. Kau salah paham Kil, aku tidak mencintaimu. Kita hanya teman biasa saja. Kebaikan hatiku selama ini padamu hanya sebatas persahabatan saja. Aku tidak punya perasaan istimewa terhadapmu. Kau tahu sendiri kan sifatku bagaimana? Aku selalu baik pada semua orang. Jangan kau anggap kebaikanku sebagai rasa cintaku padamu. Aku tidak mencintaimu, Kil!" ujar Ian dengan nada ditekankan.


"Baik. Aku mengerti. Aku memang salah tanggap. Maafkan aku, Ian," katanya selagi sesenggukan.


"Ya, sudah. Sekarang kau mau aku antarkan pulang atau tidak? Aku ada janji dengan adikku."


"Tidak! Aku bisa pulang sendiri!" jawab gadis itu dengan nada kecewa dan gusar.


"Kalau begitu hati-hati di jalan Kil. Maaf kalau aku mengecewakanmu. Tapi ... aku ingin kita berteman saja. Dengan adanya kejadian ini aku harap sifat dan sikapmu tidak berubah terhadapku."


Gadis itu pun pergi meninggalkan Ian. Ian sendiri mengendarai motornya menuju diriku yang tengah menunggunya.


"Dane, sudah siap? Ayo kita pergi!"


"Kalau kau merasa tidak nyaman sebaiknya kita batalkan saja. Kita bisa cari desa Nekala itu besok," usulku.


"Tidak, Dane. Aku sudah janji akan membantumu. Ayo naik!"


Nada suaranya normal seperti biasa. Dia memang bijak. Dapat mengendalikan emosinya dengan baik.


Pencarian desa itu pun kami lakukan.


Desa Nekala ketiga terletak cukup jauh. Berada di Vereyon Utara.


Hal serupa kami tanyakan ke kepala desa. Tapi lagi-lagi jawabannya tetap sama. Mereka tidak tahu gadis yang kumaksud dan tak ada rumah tabung di sana.


Malam telah tiba saat kami dalam perjalanan pulang.


"Dane, kita istiahat dulu di sini!" Ian memarkirkan motornya di depan halte bus. "Huh! Lelah sekali hari ini!" sahutnya sembari meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Kau tidak perlu merasa terpaksa membantuku. Aku tidak ingin merepotkanmu. Karena aku, kau jadi kelelahan begitu," kataku.


"Sudah kukatakan berulang kali padamu aku ikhlas membantumu, Dane. Aku menyukaimu-maksudku-aku ingin sekali menolongmu. Aku ingin sekali menemanimu. Selama ini kau selalu menyendiri," ujar Ian-yang sepertinya keceplosan. Dia tampak salah tingkah. "Jadi, lain kali jangan katakan hal itu lagi ya, itu malah membuatku sedih."


Aku hanya menggangguk.


"Sekarang kau mau pulang atau menginap di rumahku lagi?" tanyanya.


"Aku mau pulang saja. Ibu selalu khawatir."


"Baik kalau begitu. Ayo kita pergi!"


Saat aku tiba di rumahku tengah malam, kedua orangtuaku telah menantiku di ruang keluarga. Bersiap menginterogasiku. Aku buat alasan-alasan palsu pada mereka karena tak mungkin aku mengatakan hal yang sebenarnya. Bukannya aku takut mereka tidak percaya. Tapi aku takut mereka semakin mengkhawatirkanku.


Hari demi hari aku lakukan hal yang sama. Sepulang Ian kerja, kami langsung pergi mencari satu per satu desa Nekala. Berharap menemukan gadis itu. Hal yang sama selalu aku tanyakan pada ketua RT, RW, kepala desa, warga desa, dan para tetua-tetua desa di sana. Tapi jawaban yang kuharapkan tak kudapatkan. Gadis misterius itu masih belum kutemukan.


***


Dua hari sebelum musim panas berakhir.


Rencananya, hari ini aku dan Ian akan mencari tiga desa Nekala yang lainnya. Dan bila dari ketiga desa ini kami tidak menemukan gadis itu juga, besok siang setelah acara pernikahan Ronny berakhir, kami akan cari desa Nekala yang terakhir.


Ternyata benar, pencarian gadis itu di ketiga desa hanya sia-sia. Tak ada petunjuk satu pun mengenainya. Aku hanya punya satu kesempatan lagi. Desa Nekala yang terakhir terletak di kaki pegunungan Andekhala. Kedengarannya nama itu tak asing di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2