
"Apa kau tahu apa yang ada jauh di balik gunung itu?" tanya Shanty.
"Pegunungan lain," kataku memastikan.
"Ya. Kau bisa dengan jelas melihatnya. Hutan ini dikelilingi oleh pegunungan. Tepat di tengah hutan berdiri tegak sebuah gunung. Gunung Transfranssischo."
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan?"
"Tunggu sebentar. Aku ingin bertanya sekali lagi pada kalian sebelum aku menceritakan sejarah gunung itu agar kalian mengerti," katanya. "Apa kalian tahu apa yang ada di balik pegunungan di belakang gunung Transfranssischo itu?"
"Itu lagi yang kau ditanyakan. Mana aku tahu," lontar Siman.
Shanty menatapku. Menanyakan hal itu padaku dengan isyarat matanya.
Sekali lagi aku hanya menggeleng.
"Jauh di balik pegunungan itu adalah lautan," ucap Shanty. "Pada tahun 1900, bangsa-bangsa dari Eropa berdatangan ke pulau ini. Mereka datang menggunakan kapal-kapal. Sebuah kapal berlabuh di balik pegunungan tersebut. Kapal itu mengangkut sejumlah orang-orang Perancis. Mereka datang ke pulau ini untuk mencari sebuah tempat indah yang belum pernah terjamah manusia. Selain penjelajah, beberapa orang dari mereka adalah seniman terkenal. Dan yang paling dikenal saat itu adalah seseorang bernama Khyatie Transfranssischo."
Nama itu terdengar tak asing di telingaku.
"Dia adalah seorang musisi pria berkulit hitam berambut gimbal keturunan Afrika asal Perancis yang selalu menjelajah ke berbagai belahan dunia hanya untuk mencari inspirasi bagi musik-musiknya, " tutur Shanty.
"Jadi, nama gunung itu berasal dari namanya?" tanya Siman memastikan.
"Tapi kenapa gunung itu dinamai namanya?" heranku.
"Setelah mereka semua berlabuh, mereka mendaki pegunungan itu dan sampailah mereka di hutan ini. Bagi mereka, hutan ini bagaikan sebuah surga yang tersembunyi. Keindahan hutan ini membuat mereka terpesona. Mereka semua pun mendirikan rumah-rumah sederhana di dalam hutan untuk waktu yang cukup lama. Musisi itu setiap hari terus menerus mengamati pelosok hutan. Mencari inspirasi sambil membawa ke mana-mana alat musik biolanya.
"Beberapa bulan kemudian ketika senja tiba, terdengar jeritan. Jeritan Khyatie Transfranssischo, sang musisi tersebut. Teriakan itu berasal dari gunung itu. Semua orang pergi ke gunung untuk mencarinya, tapi yang mereka temukan di sana adalah sesosok mayat yang telah tergantung akar beringin dengan sebuah biola yang masih tergenggam erat di tangan kanannya. Khyatie mati tanpa sebab yang jelas. Entah dia bunuh diri atau ada sesuatu yang lain. Sesaat sebelum kematiannya, mereka mendengarnya sedang memainkan biola itu.
"Semenjak kejadian itu, setiap senja tiba, selalu terdengar suara musik biola dan suara Khyatie yang sedang tertawa. Dan terkadang mereka melihat bayangan wajah yang sangat besar di gunung itu. Wajah Khyatie dengan rambut gimbalnya. Hal itu membuat mereka ketakutan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sini dan kembali ke negara asalnya," ujar Shanty.
"Apa kau pernah mendengar suara-suara itu?" tanyaku.
"Kadang-kadang suara gaib dari suara biola dan suara tawanya terdengar. Semua warga desa percaya bahwa arwah musisi itu tidak tenang atas kematiannya karena dirinya mati saat dia berhasil menciptakan sebuah lagu. Tapi menurut info yang aku dengar, bahwa kulit-kulit kayu pada pohon di gunung itu dapat merekam suara. Suara itu akan terdengar saat menjelang malam tiba. Makanya desaku selalu melarang orang-orang bicara, bercanda, bernyanyi, dan bermain saat senja atau malam tiba."
"Kenapa kau tahu tentang sejarah gunung itu? Perancis ...? Eropa ...?" tanya Siman dengan nada menyindir.
"Bukan berarti karena aku tinggal di desa dan desaku tidak terpasang aliran listrik aku tidak tahu teknologi masa kini. Aku tahu yang namanya Radio, TV, VCD, DVD, komputer, Internet, dan peralatan elektronik lainnya. Dulu ... di desa ini sudah terpasang listrik tapi insiden beberapa tahun yang lalu membuat warga desa trauma dan memutuskan untuk melepaskan listrik dari desa dan kehidupan mereka.
"Sebenarnya bukan hanya listrik, tapi mereka tidak menerima tembok untuk bangunan mereka sampai peralatan rumah tangga pun mereka tidak menerimanya dengan mudah. Warga desa ini tidak ingin dan tidak mau adanya perubahan-perubahan yang signifikan. Terutama para orang tua. Jadi di desa ini hanya kantor desa saja yang bangunannya terbuat dari tembok berlantai keramik. Dan hanya kantor desa yang memiliki aliran listrik. Di sana disediakan berbagai macam peralatan elektronik bagi anak-anak yang ingin mengenal dunia maya, dunia yang telah modern. Kami selalu belajar di sana. Mendapatkan informasi yang luas dari sana agar kami tidak bisa dibodohi oleh orang-orang kota yang semakin maju."
"Memangnya terjadi insiden apa di desa ini?" tanyaku penasaran.
"Beberapa minggu setelah semua rumah warga dipasangi aliran listrik, terjadi bencana ketika senja terakhir di musim panas tiba. Semua rumah terbakar. Dan ... belasan anak menghilang secara tiba-tiba. Sampai saat ini mereka belum pernah ditemukan. Hanya aku satu-satunya anak yang tidak hilang saat peristiwa itu terjadi."
"Hilang?"
"Ya. Ada yang mengatakan mereka kabur dari desa ini karena ketakutan melihat api yang berkobar hebat. Tapi ada juga yang mengatakan mereka diculik sesuatu. Ada seorang anak kecil desa ini yang mengatakan pernah melihat anak-anak seusiaku sekarang. Anak itu mengatakan mereka datang dari hulu sungai dengan menggunakan sebuah rakit sambil membawa gendang dan menabuhnya. Tapi anehnya, wajah mereka tampak kosong, idiot. Dan anak itu mengatakan bahwa anak-anak dari sungai itu yang menculik anak-anak desa selama ini. Karena pada saat anak itu di sungai, dia melihat temannya sendiri dibawa oleh mereka dan ditenggelamkan ke sungai sampai mereka semua hilang tak berbekas.
"Tapi aku sendiri belum pernah melihat anak-anak sungai penculik anak kecil tersebut karena para orang tua tidak pernah mengijinkanku dan anak-anaknya keluar rumah saat senja di musim panas tiba," ujar Shanty. "Terutama yang terakhir."
Aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Kurynia pernah mengatakan padaku bahwa desa yang aku cari itu berada di samping kepalaku. Tapi aku belum mengerti apa maksudnya?
__ADS_1
"Dane ...," panggil Iza pelan yang sedang duduk di sampingku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Coba lihat foto-foto hutan ini di ponselku," katanya memberikan ponselnya padaku.
Aku pun melihat foto-foto itu. Tapi tak ada gambar hutan satu pun. Yang ada hanya gambar layar berwarna hitam tanpa objek.
"Apa ini?"
"Tadinya aku pikir gambarnya gagal atau kamera ponselnya yang rusak. Setelah aku coba memotret diriku sendiri ternyata baik-baik saja. Tapi ketika aku coba memotret hutan ini beberapa kali hasilnya tetap sama. Berwarna hitam. Padahal ini siang hari. Dengan pencahayaan sebagus ini seharusnya hutan ini dapat terlihat dengan jelas bila aku potret. Tapi kenapa bisa jadi begitu?" heran Iza.
Kemudian aku coba memotret hutan itu. Ternyata benar, tak terlihat gambar sedikit pun di layar selain hitam.
Aku coba mode video.
Mengejutkan.
Semuanya hitam.
"Ini aneh sekali," kataku.
"Mungkin itu alasannya kenapa hutan ini disebut hutan hitam," ucap Shanty.
Aku hanya menatapnya heran. Meminta jawaban tanpa memberikan pertanyaan.
"Kata orang-orang tua, setiap senja di musim panas, hutan ini akan berwarna hitam. Seolah-olah diselimuti kegelapan. Kegelapan dari dunia lain. Mereka mengatakan di hutan ini banyak sekali iblis, setan, jin dan makhluk gaib lain yang bersemayam. Dan dari sekian banyak jenis itu, ada satu jenis yang mereka khawatirkan. Sandekala. Mereka datang dari hulu sungai dan bergerak turun ke desa-desa yang berada di bawahnya. Setiap rumah mereka lewati untuk menemukan anak-anak desa yang masih bermain di luar rumah. Itu bukanlah mitos atau legenda karena aku sendiri pernah melihat makhluk itu. Ketika aku mengintip dari balik jendela rumahku, aku melihat sosok itu."
Sesaat waktu terasa terhenti lalu melambat. Aku memperhatikan bibir Shanty yang bergerak lambat. "Tinggi ... hitam ... dan membawa sebuah sabit ...."
Serentetan peluru baru saja menembus otakku. Menghancurkan semua bagian otak yang lain dan hanya menyisakan sebuah memori yang tersembunyi di antara memori-memori lain yang menumpuk dalam otakku. Tapi akhirnya memori itu dapat aku baca. Dapat aku terjemahkan.
Sandekala ...
Khyatie Transfranssischo ...
Anak-anak sungai penculik anak ...
Itu semua adalah nama-nama mitos Java Island yang pernah aku lihat di Internet. Hutan hitam, dalam mimpiku hutan itu berwarna hitam.
Aku ingat perkataan Kurynia saat itu.
"Sebenarnya petunjuk-petunjuk itu sudah memunculkan dirinya padamu. Kau harus lebih mencermati sekelilingmu. Mengingat kembali kejadian-kejadian yang tak biasa dalam setiap kehidupanmu. Karena selama ini petunjuk-petunjuk itu berada di dekatmu. Jangan berpikir terlalu jauh. Desa itu berada di samping kepalamu."
Kejadian yang tak biasa? Aku ingat! Kejadian itu. Kejadian di mana pertama kali aku melihat sosok nyata Sandekala di atas pohon beringin. Di mana ketika aku berada di sana, makhluk itu benar-benar menjeratku. Dan benar apa yang dikatakan Kurynia, ada satu tempat yang membuat para Sandekala keluar dari dunianya dan masuk ke dunia kita. Sebenarnya petunjuk itu telah menampakkan dirinya. Jejak burung itu semakin terlihat jelas.
Desa itu berada di samping kepalamu, kata Kurynia yang satu itu, mungkinkah ...?
Di samping kepalaku.
Di samping desa yang pertama kali terlintas dalam otakku.
Di samping desa yang pertama kali aku datangi.
__ADS_1
Di samping hutan yang pernah aku kagumi.
Di samping desanya Teny.
Di samping hutan hitam.
Di kaki pegunungan ANDEKHALA ....
Sebuah memori lain terbaca olehku. Teny pernah berkata padaku,
"... ada rumor tentang keberadaan Sandekala di hutan di kaki pegunungan ANDEKHALA ini. Tapi ...."
Jantungku seakan terkoyak. Ternyata benar. Selama ini petunjuk-petunjuk itu berada dekat denganku. Sesuatu yang aku cari itu berada di samping kepalaku. Dan ternyata selama ini jejak burung yang aku cari berada di bawah kakiku sendiri.
Akhirnya semuanya jelas. Puzzle itu telah tersusun sempurna. Jejak burung itu sudah sangat terlihat di sepanjang jalan.
"Shanty, apa nama pegunungan itu?" tanyaku memastikan bahwa ini bukanlah mimpi atau spekulasi semata.
"Pegunungan Andekhala."
Dug!
Jantungku hampir tak bisa bertahan lagi. Seakan serangan yang bertubi-tubi harus aku terima dengan lapang dada tanpa sempat aku membela diri.
"Dan ...," aku menghela napas sejenak.
Aku lihat tiga wajah yang keheranan sedang menatapku.
"Apa nama desamu?" tanyaku terakhir kali untuk benar-benar memastikan bahwa semua ini nyata.
"Desa Nekala."
Bila saat ini sedang hujan pastilah kilat akan saling menyambar. Memecah belah angkasa yang gelap.
Hening sejenak.
Aku berdiri untuk mengatur napasku kembali. Berusaha menghilangkan wajah tegangku.
Matahari menyinari kami dengan terang. Awan yang sempat menghalanginya kini telah sirna.
Mereka bertiga ikut bangkit dari duduk.
"Danny? Kau tidak apa-apa?" tanya Shanty.
"Dane, apa kau baik-baik saja?" tanya Siman melihatku aneh.
"Danny, kau kenapa?" tanya Iza khawatir.
"Shanty, apa kau tahu siapa tetua desa di sini?" tanyaku.
"Tentu. Tetua desa di sini adalah nenekku sendiri," jawabnya.
"Kalau begitu kita temui nenekmu! Aku ingin bicara dengannya!"
__ADS_1
Raut mukaku yang mendadak serius dan dingin ini membuat mereka bertanya-tanya. Aku harap semua pertanyaanku selama ini akan terjawab di sini.
Di desa Nekala ini.