
Dalam ruangan itu dia menyekapku.
Tubuhku diikat pada kursi.
Diriku didudukkan di bawah lampu pijar yang amat terang cahayanya.
Tapi, terangnya cahaya itu tak mampu menembus bayang-bayang hitam yang berdiri di sekeliling ruangan.
Aku tak mampu bergerak.
Bahkan untuk bicara pun aku tak sanggup.
Aku hanya bisa memandang kosong ke depan.
Aku tak bisa menolehkan kepala ataupun mengedipkan mata.
Semua tubuhku lumpuh, kaku tak berdaya.
Di saat itu dia mendekatiku.
Memperlihatkan sabitnya jelas-jelas.
Embusan napas berwarna kebiruan menyeruak dari balik tudungnya menerpa wajahku.
Dalam situasi ini aku tak merasakan takut lagi. Seluruh ketakutanku telah terkuras habis selama beberapa minggu terakhir hanya olehnya. Kini, aku merasa marah pada makhluk yang haus akan jiwaku itu.
Kenapa dia menginginkan aku?
Padahal banyak anak-anak lain yang lebih mudah diambil jiwanya olehnya. Tapi kenapa dia tetap menginginkanku?
Menunggu selama 16 tahun demi mengambil jiwaku.
"Danny, bangun!" panggil Ibu. "Hari ini kan masuk sekolah. Nanti kau terlambat, lagi!"
"Baik, Bu!" kataku.
Sepertinya seluruh badanku remuk. Tubuhku sakit dan pegal-pegal. Aku tak sanggup untuk beranjak dari tempat tidurku sendiri.
"Danny, kau kenapa?"
"Badanku sakit, Bu!" kataku lemas.
"Memangnya apa yang kau lakukan di sana kemarin?"
Aku tak mungkin memberitahu Ibu yang sebenarnya. Aku takut dia khawatir walaupun sudah sangat terlihat jelas ekspresi itu terpampang di wajahnya.
Aku tetap diam.
"Kalau kau sakit, sebaiknya kau istirahat saja," katanya keluar dari kamarku tanpa menginterogasiku lebih jauh.
Aku tak sadar telah tidur selama 10 jam sejak aku bangun tadi pagi. Yang membuatku terkejut, Ian, telah berada di kamarku saat aku membuka mata.
"Wah! Wah! Wah! Kau ini bagaimana, Dane!" sindirnya. "Kalau dalam sebuah film, kau ini adalah tokoh utama. Tapi, masa sudah kalah sebelum perang?"
Aku tersenyum malu..
Aku yang meminta mereka melakukan ini tapi kenapa aku ...
"Kau sudah baikan?" tanya Ian.
Aku hanya mengangguk.
"Apa yang lain baik-baik saja?"
"Mereka sehat-sehat saja," jawabnya. "Apa latihan kemarin terlalu berat untukmu?"
Aku tak bisa berkata apa-apa.
Mendadak Ronny masuk ke kamar.
"Kak, masih cuti setengah hari?" tanyaku.
"Iya, Dane. Sampai minggu depan," jawabnya. "Minggu depan kami akan pindah ke Vereyon," imbuhnya seraya berjalan menghampiri dan duduk di samping kami.
Aku tak terkejut sebab beberapa hari lalu aku mendengar percakapan mereka dengan Ibu soal pembelian rumah baru itu.
"Dane, mungkin ... sebaiknya kau tinggal dengan Ian," kata Ronny menyarankan.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa selalu berada di dekatmu sebagai kakak," katanya. "Aku sudah tahu sejak dulu kau lebih nyaman kan berada dekat Ian. Aku tak mau kau kesepian di sini."
Aku lihat wajah Ian. Hanya tersenyum acuh tak acuh tanpa berkata-kata seperti biasanya.
"Tapi, apa Ibu mengijinkanku?" tanyaku.
"Aku sudah bicara dengan Ibu tadi pagi. Dia mengijinkanmu. Lagi pula sekolahmu jauh. Di sini tidak ada yang akan mengantarmu."
__ADS_1
"Bagaimana, Dane?" tanya Ian.
Aku hanya mengangguk
***
Sebuah koper besar telah penuh oleh pakaianku. Semua barang-barangku aku bawa dan kumasukkan pada ransel besar yang sedang aku gendong.
"Benar, Ibu tidak apa-apa?" tanyaku sedikit bimbang untuk meninggalkannya.
"Tidak apa-apa Dane. Pergilah. Ibu akan baik-baik saja di sini," katanya.
Dia hanya seorang ibu. Seorang ibu yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Yang ingin memperbolehkan segala hal yang diinginkan anaknya. Tapi, bisa kulihat raut wajahnya bertolakbelakang dengan apa yang telah diucapkannya.
"Ian, jaga dia sebaik mungkin. Kau tahu, ini adalah masa-masa terberat untuknya," bisik Ronny pada Ian yang sebenarnya bisa kudengar.
"Ayo, Dane," ajak Ian.
"Bu, aku berangkat," kataku memeluk tubuhnya sebelum akhirnya pergi.
"Sekarang, ini adalah kamarmu," kata Ian menunjukkan kamar di sebelah kamarnya saat kami tiba di rumah itu. "Setelah kau bereskan pakaianmu kita makan malam. Aku yang masak."
Malam itu berlalu seperti malam sebelumnya.
Dia mengusik mimpiku lagi ...
***
"Dane, sudah siap?" tanya Ian dari luar pintu kamar.
"Tunggu sebentar," kataku merapikan seragam.
Aku masukkan beberapa buku mata pelajaran hari ini.
"Aku sudah siap. Kita berangkat!"
Dia mengantarku ke sekolah yang jaraknya 1 kilometer dari rumah itu.
"Kalau kau lelah, nanti siang tidak usah jemput aku. Aku bisa pulang sendiri."
"Lihat saja nanti," balasnya.
Ketika aku hendak menyusuri lorong yang menuju ke ruang kelas, Nora memanggilku.
"Hei, Dane!"
"Hai Nora, Flo!"
"Sudahlah, lupakan saja. Ada berita penting yang harus kau tahu, Dane," desak Nora memotong Flo.
"Berita penting?"
"Ikut aku," ajaknya menarik lenganku.
Dia membawaku ke mading sekolah di depan perpustakaan.
"Lihat ini," tunjuknya pada lembaran-lembaran gambar yang tertempel di majalah dinding.
"Apa ini?" tanyaku melihat gambar-gambar penampakan makhluk itu di sekolah yang tertangkap kamera. Dari semua gambar itu ada satu gambar yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Dua bola mata biru menatap kosong ke arah kamera.
"Siapa yang memotret ini semua?" tanyaku.
"Kami tidak tahu. Tapi kudengar katanya gambar-gambar ini sudah terpasang di mading sejak liburan musim panas," jawab Nora.
"Kenapa pihak sekolah tidak melenyapkan gambar-gambar ini? Apa mereka ingin reputasi sekolah merosot?"
"Pihak luar telah terlanjur mengetahui. Lagi pula penampakan itu terlihat di mana-mana. Kemarin saja beberapa orang teman kita melihat makhluk itu di perpustakaan. Katanya hari ini pihak sekolah akan mendatangkan seorang paranormal ke sini," ujar Flo.
Lagu Mozart telah terdengar ke setiap sudut sekolah. Waktunya kami masuk kelas. Sebelum aku beranjak dari sana. Sekali lagi aku sempatkan menatap lekat-lekat gambar makhluk itu.
Riuh rendah suara mereka membuatku pusing. Aku mulai tak biasa dengan keramaian ini.
Mereka saling bercanda bersama teman-teman mereka dan Shen ... kali ini, aku tak melihatnya mengacau. Dia duduk diam di bangkunya. Tak seperti biasanya.
Tak lama kemudian Bu Reini masuk ke dalam kelas. "Silakan masuk," pintanya pada seseorang yang berada di luar.
Seorang wanita melangkah masuk. Rambutnya dikepang puluhan kecil-kecil. Leher dan kedua lengannya penuh dengan aksesoris. Dan dia memakai gaun hitam. Itu Kurynia!
"Aku akan menerawang ruangan ini," katanya.
Dia berdiri di depan kelas, menyatukan kedua tangannya di dada, dan memejamkan kedua matanya.
"Aku melihat satu di sini. Makhluk itu berada tepat di hadapanku," katanya tiba-tiba membuka mata.
Dia menatapku terkejut. Semua orang terheran-heran.
__ADS_1
"Oh! Ternyata aku salah. Di kelas ini tidak ada apa-apa. Kalian tak usah khawatir," katanya buru-buru. "Bu Reini, sebaiknya kita ke ruangan lain," usulnya.
Sebelum dia keluar dari kelas dia sempat menyuruhku menunggunya nanti.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Aku ada janji dengan Kurynia untuk bertemu di samping pos jaga gerbang sepulang sekolah. Setelah semua siswa mulai bubar, dia berbincang-bincang denganku.
"Bagaimana? Kau menemukannya?" tanyanya.
"Maksudmu desa itu? Ya, aku menemukannya. Tapi, aku tidak bertemu gadis berambut merah . Dia telah mati sebelas tahun yang lalu," kataku.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Seperti yang pernah kau katakan padaku. Makhluk itu sedang mengujiku. Mereka ingin aku melawan mereka. Aku terima itu. Aku akan berperang melawan mereka agar tubuhku kembali normal," ujarku. "Tapi kenapa mereka datang ke sekolah ini dan mengganggu anak-anak lain?"
"Ada hal-hal yang membuat mereka tertarik dengan sekolah ini. Terutama dengan orang-orang yang dipilihnya untuk bisa melihat mereka," jawabnya.
"Kau berhasil mengusir mereka?"
"Untuk saat ini mereka tidak akan menampakkan diri mereka lagi di sekolah ini," katanya.
Tiba-tiba suara deruan motor terdengar di depan pintu gerbang. Ian sudah menjemputku padahal aku sudah mengatakan tak perlu.
Minggu awal sekolahku hari ini berjalan dengan biasa-biasa saja. Semuanya tetap sama dan tidak berubah kecuali Shen. Dia telah berubah. Dia menjadi baik padaku dan tidak pernah mengejekku lagi. Dan sekarang dia mencoba akrab denganku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya jadi begitu.
Di minggu pagi, kami semua pergi ke desa untuk berlatih.
"Baiklah, kali ini kalian harus berlatih kecepatan. Selain ketahanan stamina, kalian juga harus cepat!" sahut Sindia. "Kalian lihat pohon itu?!" tanyanya menunjuk beberapa pohon beringin raksasa yang jaraknya ratusan meter dari tempat kami berdiri.
"Untuk latihan kali ini, pergilah menuju pohon beringin itu. Berlarilah ke sana dengan tetap membawa senjata kalian!"
"Bagus! Ini pasti akan sangat melelahkan!" keluh Siman.
Aku lihat wajah Shanty. Tampak sangat riang dan bersemangat melebihi kami semua.
Jauh di hadapan kami ada 5 batang pohon beringin yang diameternya lebih dari 5 meter. Kami semua mengambil jalur masing-masing seperti hendak balap lari.
"Hei, Dane! Jangan sampai kalah dariku!" sahut Shanty.
"Ingat! Pegang dengan benar senjata kalian seakan-akan kalian akan berperang melawan para Sandekala. Tetap angkat senjata kalian. Sebisa mungkin jangan sampai menyentuh tanah," ucap Sindia.
Latihan dimulai.
Kami bergerak.
Jarak satu pohon beringin dengan beringin lainnya cukup jauh.
Kami dibagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok secepat mungkin harus menuju pohon beringin tersebut.
Aku bersama Iza dan Siman berlari menuju pohon beringin yang tepat berada di tengah-tengah.
"Iza apa kau lelah?!" tanyaku sedikit berteriak padanya yang tertinggal cukup jauh di belakang.
"A-aku masih kuat! Jangan pedulikan aku!" balasnya.
Dia terlihat kelelahan. Apalagi lengannya, dia sudah tak mampu lagi menggenggam pedang itu dengan sebelah tangannya.
Kami baru setengah perjalanan. Kami terus berlari di antara belukar dan pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang. Tiba-tiba Iza berteriak saat dirinya tersandung akar pohon.
"Za, apa kau tidak apa-apa?" tanyaku hendak kembali menghampirinya tapi Siman meraih lenganku dan menggenggamnya kuat-kuat.
"Dane, apa kau lupa tujuan kita melakukan ini?" tanya Siman. "Dirimu dan anak-anak. Itu yang harus kita selamatkan," katanya. "Saat hari itu tiba kita tidak akan punya kesempatan untuk menolong yang lain. Anggaplah ini sebagai perang sesungguhnya!"
Kulihat Iza tersungkur di tanah. Lututnya memar dan SHAG-nya hampir saja memutuskan lehernya sendiri.
Saat hari itu tiba dan Iza mengalami cedera, dengan dikelilingi makhluk-makhluk yang siap membunuh kami, aku tak akan mungkin bisa menolongnya.
Siman memang benar.
Aku harus kuat. Mungkin saja nanti bisa jadi lebih buruk daripada ini. Lagi pula sejak awal aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri dan memperhitungkan risiko-risiko yang akan dialami saudara-saudaraku nanti.
"Dane!" sergahnya mengagetkanku.
Tanpa berkata apa pun pada Iza, kami langsung melanjutkan latihan. Meninggalkan Iza di sana sendirian.
Iza pasti sedih kenapa aku tidak peduli. Dari jauh aku teriakan sesuatu padanya. "Jangan menyerah, Za!"
Di belahan kiri, aku lihat dari kejauhan baju merah yang dipakai Shanty. Dia berlari secepat kilat bersama Ian dan Rhinna yang setahuku adalah juara pertama lomba lari putra-putri se-Vanjava City yang diadakan beberapa tahun yang lalu di Aleogama.
Sementara di belahan kanan aku lihat Teny dan kakakku. Teny bergerak di depan Ronny. Tentu saja karena dia adalah perempuan desa. Hal ini bukanlah apa-apa baginya. Dia biasa berjalan cepat menempuh jarak berkilo-kilometer untuk membeli kebutuhan pokok keluarganya.
Kami terus berlari. Dengan cekatan melompati akar-akar pohon yang menyembul ke permukaan tanah.
Akhirnya kami sampai juga. Sempat kudengar riangnya suara Shanty saat dia berhasil mendahuluiku.
Dengan napas terengah-engah kami menyandarkan tubuh kami pada pohon beringin tersebut.
__ADS_1
Latihan ini akan terus kami lakukan.
Awal yang baru harus aku jalani sebagai seorang pejuang yang berjuang melepaskan kutukan ini dari dalam tubuhku dan menyelamatkan anak-anak.