
Ayah, Ibu, dan Ronny bergegas memasukkan barang-barang yang sudah dibeli beberapa hari yang lalu ke dalam mobil. Akad dan resepsi pernikahan kakakku dilaksanakan di hari yang sama sehingga hari ini begitu sibuk.
Akad nikahnya akan dilaksanakan pukul 07.00 sehingga dari jam 03.00 kami sudah harus bersiap-siap berangkat ke rumah Teny.
"Ya ampun, Danny. Cepat ganti bajumu! Kita akan segera berangkat!" sahut Ibu saat merapikan selendang batik yang dia kalungkan.
"Memang yang lain juga mau berangkat pagi buta begini?" tanyaku.
"Maksudmu tante Ecka? Kita sekalian menjemputnya. Siman juga ikut. Sementara yang lainnya nanti menyusul."
Aku memakai kemeja panjang kotak-kotak bermotif zebra dilapisi jaket hitam favoritku. Bila aku memakai jas formal seperti Ronny rasanya terlalu ribet.
"Danny! Cepatlah! Kita bisa terlambat!" sahut Ronny di ambang pintu seraya membetulkan dasi dan jas hitam yang dipakainya.
"Ya, aku siap! Aku siap! Tunggu!" segera aku berlari menuju mereka yang telah berdiri di luar rumah.
Kami langsung berangkat menuju rumah tante Ecka untuk menjemputnya.
"Ron, maafkan aku! Aku tidak bisa datang saat akad nikahmu! Bosku tidak kasih izin cuti. Nantilah sepulang kerja aku langsung ke sana, oke!" kata Ian sambil tersenyum ceria.
"Ya, tidak apa-apa. Tapi nanti kau datang!" pinta Ronny.
"Pasti!"
"Danny, mana alamat desa Nekala yang terakhir itu?" bisik Ian. "Berikan padaku, biar nanti aku cari sendiri dulu. Siapa tahu desa itu terletak di jalur yang menuju rumah Teny. Bila sudah pasti ada gadis itu di sana, aku akan langsung menjemputmu. Takutnya kita tidak akan punya cukup waktu untuk menemukannya sebelum senja musim panas terakhir ini berakhir."
Aku langsung memberikan secarik kertas padanya. Aku lihat Ronny mendengar pembicaraan kami dan dia kelihatannya terheran-heran.
"Ron! Dane! Cepat naik ke mobil!" panggil ibu kami.
***
Dari ujung jalan, sudah terlihat beberapa tenda biru yang didirikan di lapangan sepak bola. Kursi-kursi berderet rapi di bawahnya. Semua hidangan sudah tersaji di setiap tenda-tenda. Tepat di tengah-tengah, terdapat panggung yang cukup luas tapi tak terlalu tinggi. Panggung bagi pemain orkestra yang akan tampil nanti.
Suasananya begitu romantis karena resepsi pernikahan itu diadakan di alam terbuka dengan latar perkebunan teh dan hutan pinus.
Dari balik sebuah kamar yang dihiasi oleh bunga-bunga plastik indah berwarna-warni, muncul sesosok makhluk indah yang sangat dicintai kakakku. Rambutnya sengaja dibuat bergelombang dengan untaian bunga melati yang tergantung di samping kepalanya. Gaun putih yang dipakainya bertabur pernak-pernik manik-manik yang bersinar saat dia melangkah menuju Ronny.
"Kau cantik sekali, Teny," ucap Ronny sambil mencium lengannya.
Waktu menunjukkan pukul 06.15.
Karena bosan aku putuskan untuk melihat ke tenda-tenda itu.
"Danny, kau mau ke mana?" tanya Siman.
"Aku mau lihat-lihat," jawabku.
"Aku ikut."
Kami berdua berjalan-jalan di sekitar rumah Teny. Aku susuri jalan setapak menuju tenda-tenda yang sudah terpasang di lapangan. Bisa kulihat dari jalan, pohon beringin yang membuatku ketakutan setengah mati. Pohon itu masih menjulang tinggi di tengah-tengah ladang sayuran yang melandai. Dan di belakangnya, tampak jelas hamparan hutan hujan tropis.
Saat kami melihat gadis-gadis seusia Teny yang sedang merapikan tata letak hidangan di tenda-tenda, saudara-saudara kami yang lainnya datang. Iza, Rhinna, Khyun, Ricky, Winny, dan Sudra. Mereka datang bersama keluarganya masing-masing.
Seorang bapak ber-jas hitam keluar dari sedan perak. Dari penampilannya, dia seperti penghulu.
Kami semua segera masuk ke rumah Teny.
Di depan sebuah meja kecil, Ronny dan Teny duduk berdampingan sementara penghulu itu berada di hadapan mereka.
"Ehem! Kita mulai saja, ya!" penghulu itu menutup mulutnya yang berdehem. "Ikuti perkataan saya!"
"Saudara Ronny ...?" penghulu itu menatap tanya pada kakakku.
"Rockman. Ronny Rockman," kata kakakku.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Ronny Rockman bin Septy Rockman dengan saudari Teny Cartica binti Wally Sundante. Dengan mas kawin 99,9 gram emas, di bayar tunai ...," ujar penghulu itu.
Kakakku menirunya dengan lancar dan akhirnya mereka telah sah menjadi suami istri.
__ADS_1
Teny mencium lengan Ronny dan dia berbalas mencium keningnya. Mereka berdua tersenyum. Saling menatap satu sama lain. Kebahagiaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Pesta pun dimulai.
Para pemain orkestra itu mulai beraksi.
Mereka memainkan musik karya Nobuo Uematsu yang berjudul Vamo' Alla Flamenco & Lost of Me, dilanjutkan dengan musik Naoshi Mizuta yang berjudul Mhaura, musik dari Kumi Tanioka yang berjudul Rulude Gardens, dan beberapa musik klasik terkenal.
Waktu masih pagi tapi tamu undangan hampir 80% telah hadir. Mereka duduk di kursi sambil menyantap hidangan sembari ditemani alunan musik klasik yang merdu.
Kebanyakan tamu undangan adalah teman-teman orangtuaku yang semuanya adalah pengusaha, artis, dan seniman terkenal. Jadi dalam pemilihan hiburan pun kedua orangtuaku sangat memperhatikan. Musik-musik orkestra atau klasik adalah musik-musik yang sangat disukai oleh mereka semua.
Di tengah-tengah acara, mendadak Ronny dan Teny naik ke panggung dan menyanyi sebuah lagu berjudul Eyes On Me.
Mereka bernyanyi bersama sambil berdansa. Tak bisa kubayangkan bila aku yang menyanyi di sana. Memalukan. Terlihat kakakku tampak canggung, tapi suaranya merdu. Aku baru tahu sekarang kenapa Ronny selalu menyanyi sendiri saat dia di kamar mandi. Rupanya latihan untuk ini.
Bagi keluarga Teny dan warga desa sekitar, pernikahan seperti ini tampak tidak biasa. Atau aneh.
Pertunjukan itu sangat disukai tamu undangan. Semua tamu bertepuk tangan melihat keromantisan mereka berdua.
"Dane, ini, mau?" tanya Iza menawarkan segelas minuman.
"Makasih, Za."
Aku pun meminumnya.
"Za, tolong kau ajak main Fanze. Aku mau menemui Ronny dulu!" sahut kakak pertamanya, Dhinie.
"Kak Iza! Aku mau es krim tolong ambilkan, dong!" pinta Fanze.
"Ambil saja sendiri! Kau juga kan bisa!" gusar Iza.
"Sudahlah, Za. Ambilkan saja. Kasihan dia," kataku.
Dari jauh aku lihat Siman sedang berbicara dengan seorang gadis di sudut lapangan.
Dari tadi gadis itu selalu bersembunyi di balik pohon. Memperhatikan orang-orang yang berpakaian jas hitam.
"Shan, ayo jangan malu. Ke sini saja. Keluargamu pasti di undang, 'kan?" tanya Siman.
"Tidak. Aku bukan warga desa ini. Aku hanya lewat sini untuk pulang ke desaku," jawab gadis itu.
Aku memperhatikan wajahnya. Tampak biasa. Tidak lebih cantik dari para gadis yang sedang berdiri di belakang meja hidangan. Rambut hitamnya sangat panjang menutupi kedua telinganya. Tapi matanya menurutku sangat indah. Berwarna coklat keemasan.
"Siapa namamu?" tanyaku saat kami saling menatap. "Aku Danny Rhamdan."
"Shanty Andrean."
"Tadi, kudengar kau bukan warga sini. Jadi di mana desamu?"
"Di bawah sana," tunjuknya ke pepohonan yang lebat di bawah pohon beringin raksasa.
"Fanze, cepat pergi! Jangan ikuti aku! Kau ini menyusahkanku saja. Aku kan sudah mengambilkan es krimmu! Kau pergi sana kembali pada ibumu!" kesal Iza yang diekori terus oleh keponakannya
"Aku bakalan bilang ke Mama!" ancam Fanze.
"Bilang saja sana! Aku tidak peduli!" kemudian Iza mendekati kami dengan Fanze di belakangnya.
Iza meneliti seluruh tubuh gadis yang lebih tinggi di hadapannya itu. Memperhatikan setiap detail pakaiannya yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dipakainya. Iza sudah seperti putri raja atau boneka cantik dari Perancis. Rambutnya rapi bergelombang, pakaiannya berwarna-warni, dan rok berrendanya yang pas untuk tubuh Iza yang mungil. Sedangkan gadis itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengannya.
"Dane, kita ke sana, yuk!" ajak Iza menunjuk saudara-saudara lain yang sedang kumpul.
"Kau saja duluan, Za. Aku sedang mengobrol dengan Shanty," kataku.
Iza menatap kembali wajah Shanty. Tampak seraut cemburu di wajahnya.
"Tidak apa-apa, Dane. Kau pergi saja. Aku juga mau pulang," kata Shanty.
"Mau aku antar?" tawar Siman.
__ADS_1
Dia tersenyum. Sedikit tertawa. "Kau ini aneh, ya? Kau kan belum kenal siapa aku? Tapi seolah-olah telah mengenalku sejak lama. Aku tak perlu kau antar. Aku sudah biasa. Lagi pula kau kan sedang sibuk di pesta ini?"
"Yang sibuk itu kakak dan kedua orangtua Danny, bukan kami," ujar Siman. "Biar aku yang antar kau pulang," sambungnya dengan nada menggoda.
Siman sepertinya menyukai gadis itu.
Aku menatap kakakku di kerumunan orang-orang sedang bersalaman dengan mereka. Di sudut lain semua saudaraku sedang makan-makan.
"Dane, mau ikut, tidak? Kita jalan-jalan ke desa Shanty. Siapa tahu ada hal yang menarik," ajak Siman.
"Boleh. Desamu ada di samping hutan itu, 'kan? Sudah lama aku ingin melihatnya. Dari sini hutan itu kelihatan sangat indah," kataku.
"Memang saat ini hutan itu tampak indah. Tapi, aku sarankan kau jangan pergi ke sana sendirian. Apalagi kalau bukan warga desa kami," katanya. "Kalau kalian ingin melihat desaku, baiklah akan aku tunjukkan."
"Memangnya hutan itu berbahaya?" tanyaku.
"Kalau siang tidak. Tapi dari sore ke ...." Shanty terdiam. "Pokoknya jangan pergi ke sana."
Itu membuatku curiga. Jangan-jangan ... aku terdiam untuk beberapa detik.
"Hei? Halo! Kau kenapa?" tanya Shanty melambaikan telapak tangannya di hadapan wajahku.
"Oh! Tidak, tidak. Shan, aku baik," reflekku tersenyum gugup.
Aku masih memikirkannya.
"Aku heran padamu, Dane. Kau selalu membuatku penasaran. Memangnya kau punya masalah. Apa masalahmu?" tanya Siman heran.
"Sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri agar kau percaya," jawabku.
"Terserah sajalah. Aku juga tidak peduli-peduli amat!" sergahnya.
Aku menanggapinya dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu. Kita jalan-jalan saja ke desa Shanty!" ajaknya.
"Dane aku ikut, ya," pinta Iza.
"Tapi bukannya kakakmu menyuruhmu menjaga Fanze," kataku.
"Ah, biar sajalah! Dia selalu menyusahkanku!" sahut Iza sambil menatap tajam Fanze.
Aku lihat mata Fanze mulai berair.
"Jangan menangis, Fan. Iza tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Kau tidak menyusahkannya, kok," kataku mencoba menghiburnya agar tidak menangis.
"Sudahlah, Za. Kasihan Fanze," kata Siman pada Iza yang terlihat kesal. "Kau boleh ikut dengan kami tapi tolong baikan ya sama Fanze. Dan ajak dia."
Iza mengembuskan napas dengan raut muka yang enggan. "Baiklah! Sini Fan!"
Sedari tadi aku merasa Shanty memperhatikan wajahku. Dan aku yakin tadi dia tersenyum padaku.
"Wah! Sudah jam sembilan! Aku harus pulang! Kalian jadi tidak melihat desaku itu?" tanyanya.
"Tentu. Ayo!"
"Man, tunggu," kataku menarik lengannya. "Kita jangan lama-lama di sana."
"Memangnya kenapa?"
"Aku ada janji dengan kakakmu."
"Iya. Nanti siang kita juga balik ke sini lagi."
Sepanjang perjalanan, wajah Siman tampak ceria. Dia terus bertanya dan bertingkah konyol di hadapan Shanty. Gelak tawa pun menyeruak dari mulut kami setiap kali Siman melucu. Sebuah cara yang jitu untuk melunakkan hati seorang gadis.
Jalanan menuju desa itu cukup sulit. Dan ternyata letak desanya lebih jauh dari yang kukira.
Rumah-rumah di desa masih belum terjamah dinding tembok dan lantai keramik. Semuanya rumah panggung. Dindingnya terbuat dari bilik bambu dan berlantai kayu. Satu satunya yang modern di sana hanyalah kaca di samping pintu. Sempat aku berpikir ini adalah desa yang sedang aku cari, tapi ternyata desa ini berbeda dengan desa yang ada dalam mimpiku. Tak ada aliran listrik di sini. Dan rumah berbentuk tabung itu tak kutemukan.
__ADS_1