Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Jawaban Atas Pertanyaan


__ADS_3

Sorot matanya tajam. Menatap dalam ke kedua bola mataku yang sama-sama berwarna biru cemerlang seperti miliknya. Bentuk wajahnya tetap tak terlihat. Gelap. Begitu kontras dengan kedua mata yang tampak menyala.


Aku dengar Ibu berteriak memanggilku. Memintaku kembali.


Aku sempat melirik mereka. Ian berada di depan pintu kantor, menghalangi gerak ibuku yang ingin mendekat. Aku tahu Ian juga mengkhawatirkanku tapi sepertinya dia menahannya. Membiarkan ini semua menjadi urusanku.


Aku berbalik ke hadapan sang hitam. Makhluk itu mengulurkan lengannya padaku. Lengan kering berselimut kain hitam compang-camping. Dia menganggukkan kepalanya seakan memintaku untuk ikut pergi bersamanya.


Aku merasakan kehangatan dari makhluk ini.


Kehangatan yang menenangkan jiwaku.


Kehangatan yang baik.


Bukanlah kehangatan jahat dari sesosok iblis.


Dengan sadar aku meraih lengannya yang panjang itu.


Aku menyentuhnya.


Aku genggam erat lengannya.


Sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.


Tapi, kehangatan ini begitu mendamaikan. Seolah inilah kehidupanku dan dialah keluargaku yang sesungguhnya.


Duar!!!


Bagai sebuah bom yang meledak dan menghancurkan jantungku. Saat aku menggenggam erat lengannya, diriku seperti tersengat listrik ribuan volt. Seluruh tubuhku bergoncang hebat. Sengatan itu menjalar dari jari tanganku sampai ke setiap ujung tubuhku.


Ketika sengatan itu mencapai kepala, mendadak saja muncul sebuah memori lain dalam otakku. Memori yang belum pernah aku alami. Sesaat tapi pasti, aku melihat wajah seorang wanita. Dengan mata abu-abu dan rambut pirang sebahu.


Tak lebih dari satu detik kejadian itu berlangsung. Tapi rasanya seolah begitu lama.


Mataku berkunang-kunang.


Kepalaku pening.


Pandanganku kabur.


Aku roboh.


Setengah sadar, aku dapat mendengar suara mereka.


Ibu ...


Ayah ...


Ian ...


saudara-saudaraku ....


Suara mereka menggema pelan seiring dengan tubuhku yang melayang menjauhi mereka.


Ada yang membawaku.


Dia menculikku.


Kenapa kau menggangguku?


Kenapa kau menculikku?


Aku bukanlah anak-anak ....


Entah berada di mana aku. Yang jelas aku sedang berdiri di tengah-tengah hutan belantara. Pepohonan membentang luas sejauh mata memandang dan terlihat jelas cahaya senja menerobos masuk melalui celah-celah pohon pinus yang menjulang tinggi.


Banyak abu hitam di sini. Menutupi setiap dedaunan pepohonan dan membuatnya hitam kelam.


De Javu!


Aku yakin bahwa ini adalah mimpi. Mimpiku ini terulang kembali.


Seorang gadis memelukku dari belakang. Dia menangis. Aku belum pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi, sepertinya dia mengenal baik diriku. Aku melepaskan kedua lengannya yang melingkar di perutku dan aku pun berbalik untuk melihat wajahnya lebih jelas.


Dia bukanlah gadis berambut merah yang selalu datang dalam setiap mimpiku. Yang aku lihat di hadapanku ini adalah sosok wanita dewasa. Bermata abu-abu, rambut pirang sebahu, dan wajah Eropa.


Dia mengenakan kaus putih berlapis sweater biru muda dengan rok panjang putih berbordir bunga tulip.


Aku bertanya-tanya siapakah dia?


Dia tersenyum padaku tapi tampak sedih.


"Nak, aku ibumu ...," ucapnya lirih.


Aku terheran-heran.


Siapa dia sebenarnya?


Kenapa dia mengaku bahwa dia adalah ibuku?


Aku perhatikan baik-baik wajah wanita itu. Setelah cukup lama aku menatapnya, aku menyadari sesuatu. Wajahnya mirip denganku! Atau, bisa jadi aku sendiri yang mirip dengannya!


Mungkinkah dia?


Pemikiran itu langsung muncul di kepalaku. Mungkin kecurigaanku selama ini benar.


"Ibu ... apa benar kau adalah ibu kandungku?" tanyaku memastikan.


"Iya, Nak. Aku adalah ibumu. Ibu yang melahirkanmu," katanya.


Dia memeluk erat tubuhku. Aku tak peduli jika ini mimpi atau sekadar imajinasi. Tapi hatiku meyakini bahwa semua ini benar adanya.


Dia adalah ibu kandungku.


Aku balas memeluknya erat.


"Kenapa Ibu pergi? Kenapa Ibu meninggalkanku?"

__ADS_1


Air mataku membasahi bahunya.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu ... terpaksa."


"Kenapa, Bu?"


Dia tidak menjawab.


Isakan tangis yang tadi terdengar kini sunyi.


Aku melepaskan pelukanku dan kulihat baik-baik wajahnya. Perlahan wajahnya mulai memudar. Tubuhnya mulai samar sampai pada akhirnya sosok itu menghilang seperti abu yang tertiup angin.


Latar hutan hitam dalam mimpi ini berubah semakin pekat.


Sebuah lampu pijar tergantung menyala di atas kepalaku.


Menyinari tubuhku.


Semakin lama sinarnya terasa semakin membakar kepalaku.


Mendidihkan otak dalam kepalaku.


Sengatan listrik itu datang kembali.


Menjalar dari otakku.


Menuju ujung rambut.


Jari tangan.


Jari kaki.


Dan berakhir di kedua bola mataku.


Dengan sekejap ruangan menjadi putih, silau, dan muncullah layar lebar di hadapanku seperti saluran televisi yang terkena gangguan.


Gambar video di layar itu samar. Tampak dua pasang kaki berjalan mendaki gunung. Yang satu kaki wanita dan seorang lagi adalah pria.


Video itu bergerak memperlihatkan bagian belakang mereka. Ransel besar tergantung di punggung si pria. Sementara yang wanita menggendong seorang bayi. Bayi dengan mata abu-abu.


Kamera itu bergerak mengitari tubuh mereka. Merekam setiap langkah mereka yang berjalan menyusuri sungai. Lalu mengekspos wajah mereka berdua.


Wanita itu adalah orang yang mengaku sebagai ibuku dan aku tak mengenali wajah si pria. Pria itu seperti orang Jepang, mata sipit cokelat terang. Sama dengan warna rambutnya.


Mereka berdua terus berjalan sampai akhirnya tiba di sebuah gua-hulu dari sungai yang mereka susuri.


Si pria mengeluarkan isi ranselnya. Mengeluarkan bermacam-macam benda aneh


Batu giok lima warna.


Guci-guci sebesar genggaman tangan.


Botol-botol silinder berisi aneka cairan warna.


Keris.


Kemenyan.


Sesajen.


Rupa-rupa pernak pernik persembahan.


Pria itu menggambar sebuah simbol. Bintang hitam dalam matahari merah yang berkobar di atas kain putih seluas satu meter persegi.


Lima batu giok ditaruh di kelima sudut bintang.


Bayi yang wanita itu bawa diletakkan di tengah-tengahnya.


Si pria melantunkan semacam mantra. Itu bukanlah bahasa manusia. Aku belum pernah mendengarnya.


Seraya berucap, pria itu menaburkan bubuk aneh dalam guci pada tubuh si bayi yang sedari tadi tertidur lelap kini terbangun dan menangis. Bukannya menenangkan bayi itu, mereka malah pergi meninggalkannya. Meninggalkan bayi itu sendirian dalam gua yang tersinari cahaya obor.


Tangisan si bayi menggema di dalam gua. Mengundang makhluk-makhluk lain datang mendekatinya.


Setelah sepasang manusia itu keluar dari gua, sosok lain muncul tepat di hadapan si bayi.


Dia merangkulnya.


Mendekapnya dalam pangkuan.


Menatap wajah bayi itu lekat-lekat.


Tangisan si bayi lenyap saat Sandekala itu mengembuskan sesuatu dari balik tudungnya seperti asap putih kebiruan yang menyala. Lalu, mata bayi yang awalnya abu-abu berubah jadi biru cemerlang.


Aku bertanya-tanya ada apa ini?


Apa maksud semua ini?


Apa yang ingin disampaikan makhluk itu padaku?


Kenapa dia memperlihatkan semua ini padaku?


Rekaman video itu mulai tampak samar sebelum akhirnya mati.


"Kau adalah milikku ...," suara itu berembus di telingaku.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


Meskipun aku tidak melihat siapa-siapa di ruangan ini tapi aku tahu siapa yang berbicara.


"Orangtuamu telah memberikan jiwamu padaku!" jawabnya.


"Apa?! Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan!"


"Mereka berdua adalah orangtua kandungmu!"


Tak bisa aku mungkiri bahwa wajahku ini mirip dengan mereka berdua. Hidungku, bibirku, rambutku mirip dengan pria Jepang itu. Sedangkan bentuk muka dan warna kulitku mirip dengan wanita itu. Hanya mataku yang tidak mirip dengan keduanya.

__ADS_1


"Kalau itu memang benar, kenapa orangtuaku sendiri meninggalkanku, mengorbankanku, dan memberikan jiwaku padamu?"


"Kau tak perlu tahu apa yang telah orangtuamu lakukan. Tapi yang jelas, mereka berutang budi padaku. Dan aku menginginkanmu!"


Aku roboh.


Terduduk di lantai.


Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan.


Ini semua begitu membingungkan.


Rasanya aku ingin melontarkan ribuan pertanyaan. Tapi tak ada pertanyaan lagi yang terekam untuk aku tanyakan.


Perasaanku bercampur aduk tak keruan.


Bingung.


Marah.


Kesal.


Benci.


Kecewa.


Sedih.


"Kenapa?" satu kata yang mewakili ribuan pertanyaanku. Berharap aku mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya darinya.


"Ini adalah takdirmu. Aku sudah menunggumu selama 16 tahun. Aku sudah memberikan tenggang waktu selama itu padamu. Harusnya aku mengambil jiwamu saat itu. Saat orangtuamu memberikanmu padaku. Tapi ... ibumu melanggar perjanjian yang telah kami sepakati. Sekarang aku menginginkanmu. Lagi pula ada sebagian milikku dalam tubuhmu itu. Dan aku memintanya kembali! Bersama dengan jiwamu!"


Aku tahu apa maksudnya.


Mataku bukanlah milikku! Ini adalah miliknya.


"Bagaimana jika aku tidak mau memberikan jiwaku padamu?!"


"Tak ada gunanya kau berkata seperti itu! Kau sudah berada dalam genggamanku! Tak akan ada yang menolongmu!"


Makhluk itu berdiri di belakangku. Memeluk erat tubuhku. Lengan kanannya mencengkeram daguku, menengadahkan kepalaku ke atas dan dia menghirup napasku. Lama kelamaan aku mulai sesak. Sesuatu perlahan keluar dari mulut dan hidungku. Seperti cahaya, transparan, putih kebiruan. Jiwaku akan diisap olehnya!


"Danny!" teriak seorang gadis.


Suaranya menggema.


Tempat gelap itu dalam sekejap berubah terang.


Sebilah benda tajam melesat di atas wajahku bak anak panah.


Evilis Naifu.


Benda itu menancap di kepala Sandekala yang menjeratku.


Dalam hitungan tak sampai satu detik, makhluk itu musnah menjadi abu. Aku tersungkur ke permukaan yang keras. Saat aku melihat sekeliling, aku berada di atas batu meja.


Aku lihat Shanty dan neneknya berada tak jauh dariku. Gelapnya hutan terterangi oleh ribuan bintang yang menghiasi malam ini.


"Danny! Di belakangmu!" teriak Shanty.


Sandekala lain mendekatiku. Bukan cuma satu atau lima atau sepuluh tapi ratusan. Mereka menyesaki hutan hitam.


Para Sandekala itu saling memanjat bukit batu. Berlomba-lomba mendapatkanku.


Tiba-tiba seberkas cahaya meluncur ke angkasa. Dan kali ini aku tahu dari mana asalnya. Tongkat itu. Tongkat berkepala emas milik nenek Shanty itu mengeluarkan cahaya saat dia mengangkatnya.


Cahaya itu meluncur ke angkasa seperti roket dan meledak. Memecah belah sinarnya menjadi bagian-bagian kecil. Butiran-butiran cahaya itu jatuh seperti meteor yang menghancurkan bumi. Cahaya itu menghujani para Sandekala. Ledakan demi ledakan terdengar ketika cahaya itu menyentuh wujud dari Sandekala bersamaan dengan hancurnya raga mereka.


Berkali-kali cahaya itu menerangi angkasa


Menerangi hutan hitam yang gelap.


Membikin para Sandekala hancur lebur.


Mereka menjerit.


Mereka melolong.


Mereka melengking.


Makin lama makin memekakan telinga.


Pekikan yang dipenuhi kesedihan dan penderitaan.


Di balik raungan kesengsaraan iblis itu, aku dapat mendengar suara lainnya.


Suara anak-anak ketakutan yang meminta tolong entah di mana.


"Kakak tolong kami!"


"Bebaskan kami!"


"Kami takut!"


Jerit tangis, duka lara, dan rasa sakit mereka terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tak tahu lagi apa itu berasal dari para Sandekala, atau anak-anak yang telah diculik mereka.


Sekuat tenaga aku tutup telinga.


Tak bisa.


Aku tak sanggup lagi.


Aku lemah.


Aku sakit.


Aku jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2