
Gadis itu terus mengejarku.
Berusaha meraihku.
Berpeluh keringat.
Bersimbah Darah.
Dia tidak memedulikan hal itu.
Yang dia inginkan hanya aku.
Ingin memelukku dan melepaskan jeratan makhluk hitam terkutuk itu dari tubuhku.
Siapa dia?
Aku tidak bisa melihat wajahnya. Seolah ada yang sengaja memburamkan dari ingatanku.
Pakaiannya sedikit rumit untuk digambarkan tapi rok mini berenda yang dipakainya berkobar-kobar di gelapnya malam yang mulai merangkak melahap langit senja.
Dia terjatuh ke dalam jurang.
Semuanya kembali gelap.
Mimpi yang sama.
"Danny ... bangun, Danny," suara seorang pria mengusik tidurku.
Kubuka mataku pelan-pelan. Kulihat sosok bak malaikat. Wajahnya berseri, kulitnya putih kecoklatan. Putih yang pas untuk orang Indo, rambutnya bergaya Spiky, dan dia tidak pernah sekalipun tidak tersenyum saat menatapku sedekat ini. Endycian memang tampan. Tapi tak menghilangkan wajah khas Indo-nya. Aku heran kenapa sampai detik ini tidak ada satu gadis pun yang menarik perhatiannya.
Aku juga tampan aku akui itu. Tapi, di negara ini aku merasa seperti mayat yang terlapisi krim pemutih tebal.
"Mau sekolah, tidak? Kita berangkat sekarang!"
"Ya ... Ya ...," jawabku masih terkantuk.
Aku melirik jam dinding. Pukul 04.00.
"Ini kan masih terlalu pagi. Dan ... tak biasanya kau menjemputku sepagi ini?" heranku sembari meregangkan badan.
"Kita akan pergi ke suatu tempat dulu," katanya. "Sekarang cepat pergi mandi dan pakai seragammu! Aku tunggu kau di bawah."
Aku manggut-manggut dengan mata yang kembali terpejam. Dengan sedikit malas kulucuti pakaianku. Membiarkan siraman air hangat membasuh sekujur tubuhku pagi ini.
Saat aku melihat ke cermin, ada sesuatu yang berubah lagi pada wajahku. Alisku kini coklat seperti rambutku. Dan mataku terlihat aneh. Aku lihat itu bukan seperti mataku. Mata itu seperti bukan mata manusia. Aku tak berani memandangnya lebih lama. Segera aku pakai seragam dan tas sekolahku.
Rambutku sampai lupa aku sisir karena terburu-buru ingin segera keluar dari kamar. Aku benar-benar takut jika makhluk itu sampai muncul. Karena tak hati-hati, aku terjatuh saat menuruni tangga. Untung saja Ian berada di bawah tangga sehingga berhasil menahan tubuhku yang berat dengan kedua lengan berototnya.
"Trims."
"Makanya hati-hati, Dane."
Aku dengar suara ibu di dapur sedang sedang mengiris sesuatu. Mempersiapkan sarapan untukku.
"Ada apa, Dane?" tanya Ian khawatir melihatku aneh. "Kau mimpi makhluk itu lagi?"
"Bukan hanya itu," jawabku. "Lihatlah mataku!"
Ian memandang mata biruku lekat-lekat.
Lebih dekat.
Lebih dekat lagi.
Lalu dia terkesiap mundur.
"Ada apa dengan pupilmu, Dane? Pupilmu membesar dan mengecil pipih seperti mata kucing," katanya.
"Itulah masalahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku? Semua perubahan fisik yang mendadak pada wajahku ini terjadi semenjak hari ulang tahunku. Aku takut, bagaimana seandainya bila seluruh tubuhku ini berubah? Berubah menjadi sesuatu yang lain yang tidak aku kenal."
"Kau memang harus menemuinya," ucap Ian pasti.
"Menemui siapa?"
"Sejak semalam aku kepikiran tentang ceritamu itu. Dan aku teringat seseorang yang mungkin bisa membantumu. Dia adalah penafsir mimpi, peramal, paranormal, atau semacamnya boleh dibilang begitu. Tujuanku datang sepagi ini ingin mengajakmu menemuinya."
Tak ada logika yang dapat memecahkan masalahku. Tapi aku ingin segera menuntaskan ini semua. Hal yang tak masuk akal sekalipun akan aku lakukan agar hidupku tenang.
"Benarkah dia bisa membantuku?"
Ian mengangguk. "Kuharap. Karena dia bisa melihat makhluk-makhluk gaib semacam itu."
Setelah kami sarapan nasi goreng buatan ibu, kami segera berangkat menuju rumahnya yang berada di Sintar, kota bagian utara dari Vanjava City.
"Kenapa harus pagi-pagi begini? Apa tidak bisa pulang sekolah saja?" tanyaku sepanjang perjalanan.
Motor yang dikendarainya melesat kencang menerobos udara dingin pagi yang memecut kulit.
"Kalau siang dia kuliah. Dia seorang mahasiswi," katanya.
"Hah?" heranku mengerutkan kening.
***
Setelah setengah jam perjalanan kami tiba di rumahnya.
Ian mengetuk pintu rumah itu.
Dari balik pintu, muncul seorang perempuan dengan rambut pirang dikepang. Dari fisiknya sepertinya dia seumuran dengan Rhinna.
"Nia, aku butuh bantuanmu," pinta Ian.
"Masuklah!"
Rumahnya terlihat biasa saja. Tidak seperti rumah paranormal yang aku kira. Alih-alih dipenuhi barang antik dan mistik, keadaan rumahnya menunjukkan bahwa dia adalah pribadi yang agamis dan keibuan. Terbukti dari beberapa ayat suci terukir indah dalam figura bergambarkan foto seorang bayi di setiap sudut dinding.
"Duduklah!" pintanya. "Bantuan apa?" tanyanya pada Ian. "Biasanya kau tidak pernah percaya padaku dan selalu mengejekku."
__ADS_1
"Iya, maaf karena dulu aku suka mengejekmu dan ceritamu," kata Ian tersenyum malu. "Sebenarnya bukan aku yang perlu dibantu tapi sepupuku ini."
Perempuan itu menatapku lekat-lekat. Tampak ragu untuk bertanya. Dia seperti kebanyakan orang yang mengira aku warga asing yang tidak bisa bicara Indo.
"Perkenalkan namaku Kurynia. Siapa namamu?" tanyanya beberapa detik kemudian sambil mengulurkan tangan.
"Danny Rhamdan," kataku.
Dia terus menatapku seperti mencari sesuatu dalam wajahku. Lalu dia terkejut.
Apa dia bisa melihat mataku yang aneh ini dari jarak satu meter itu?
"Aku melihat ada sesuatu dalam tubuhmu!" katanya. "Sesuatu yang lain. Terdapat jiwa lain dalam tubuhmu. Jiwa yang sangat jahat!"
"Apa maksudmu?" tanya Ian keheranan.
"Sebagian tubuhmu bukanlah milikmu!" sergahnya padaku.
Aku semakin tidak paham.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Jiwamu terikat dengan jiwa iblis."
Aku bingung. Semakin aku dengar omongannya semakin tidak masuk akal rasanya.
"Tolong jelaskan lebih rinci apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
"Sejak aku melihat raut wajahmu itu aku sudah mengetahui semuanya. Makhluk itu terus mendekatimu, benar, 'kan?" tanya Nia memastikan.
"Aku tidak mengerti kenapa makhluk itu terus menggangguku? Apa yang membuatnya tertarik padaku?"
"Makhluk itu ingin mengujimu," katanya. "Dia ingin kau melawannya. Melawan mereka!"
"Bukankah kita semua tidak bisa menyentuh makhluk-makhluk gaib," kataku ragu.
"Tentu saja. Tapi, itu bila mereka tidak keluar dari dunia mereka," jelasnya. "Kalau kau sadar, di ruangan ini makhluk itu sedang memata-matai kita. Tapi kalian tak dapat melihatnya secara langsung karena mereka tidak keluar dari dunia mereka—dari dimensi mereka. Adapun kau pernah melihat penampakannya, itu semata bayangan semu mereka.
"Dunia kita dan mereka layaknya dunia 3 dimensi. Mereka dapat menunjukkan wujudnya di dunia kita. Tapi kita dan mereka tidak bisa saling bersentuhan apalagi melukai."
"Lalu bagaimana caranya aku dapat melawan mereka bila aku tidak dapat menyentuh mereka?"
"Dunia ini seperti balon. Balon yang kita tiup dan kita ikat sekencang-kencangnya dan ditaruh di suatu tempat. Tapi lama kelamaan balon itu akan mengempis. Berarti terdapat sebuah lubang tak kasatmata di permukaannya. Sama halnya dengan dunia yang luas ini. Pasti terdapat suatu lubang kecil yang menghubungkan dimensi kita dengan dimensi mereka. Antara dunia manusia dan alam gaib."
"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Ceritakanlah mimpimu padaku!" pintanya.
Sudah bosan aku mengingat-ingat mimpi itu. Mimpi yang membingungkan. Mimpi terakhirku tentang diriku, gadis itu, dan Sandekala di sebuah desa di hutan hitam bersama dengan saudara-saudaraku. Aku jelaskan semua mimpiku padanya.
"Ya, sudah jelas kau harus menemukan desa dan gadis dalam mimpimu itu. Karena itu bisa mempertemukanmu dengan makhluk yang selama ini membayangimu," kata Nia yakin.
"Masalahnya, aku tidak tahu di mana desa itu berada. Setiap malam aku selalu berharap dapat memimpikan petunjuk-petunjuk tentang desa itu tapi tidak pernah terjadi," keluhku.
"Mungkin kau tak sadar. Sebenarnya petunjuk-petunjuk itu sudah memunculkan dirinya padamu. Kau harus lebih mencermati sekelilingmu. Mengingat kembali kejadian-kejadian yang tidak biasa dalam setiap langkah kehidupanmu. Karena selama ini petunjuk-petunjuk itu selalu berada dekat."
Aku mengembuskan napas sekencang yang aku bisa. Dia tidaklah membantuku. Hanya memberi nasihat tanpa jawaban yang kuharapkan. Aku sendiri pun tahu aku harus mencarinya tapi di mana?
Pernyataannya buat aku makin linglung.
Apa dia bisa membaca pikiranku?
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu. Raut mukamu menunjukkan dengan jelas apa yang sedang kau pikirkan," katanya menyungging senyum.
Tak lama kemudian aku dan Ian keluar dari rumahnya karena ucapannya tak memberiku informasi yang berarti. Hanya membuat pikiranku makin kacau dan pening.
***
"Danny, kenapa kemarin kau tidak sekolah?" tanya Flo.
"Iya, Dane. Saat kau tidak ada, Shen bertingkah seperti raja di kelas. Apalagi saat ulangan komputer kemarin. Dia dapat nilai paling besar. Makin besar saja kepalanya," ujar Nora geram.
"Kemarin aku sakit," kataku.
"Sakit? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Nora terlihat khawatir.
"Kalau aku apa-apa, aku tidak mungkin sekolah hari ini. Kemarin aku hanya kelelahan."
Pelajaran pertama kami adalah IPA. Pelajaran membosankan bagiku. Pak Erland terus menerus menjelaskan tentang alat kelamin manusia secara eksplisit. Tapi sepertinya pelajaran itu malah yang paling disukai yang lainnya.
Di jam ketiga, kami terkatung-katung tak jelas di ruang kelas karena guru bahasa Inggris kami tak datang dan tugas pun tak ada. Kami hanya menghabiskan waktu jam ketiga itu dengan melakukan kesibukan yang tak penting.
"Dane, liburan akhir musim panas minggu depan kau akan ke mana?" tanya Nora.
"Aku tidak tahu. Mungkin di rumah saja. Aku tidak punya rencana."
Saat ini aku tidak mau memikirkan hal-hal semacam itu. Aku malah heran kenapa mereka tidak terkejut melihat perubahan pada wajahku.
"Hei! Ini sudah jam setengah sepuluh. Waktunya istirahat. Kita keluar, yuk!" ajak Flo.
Istirahat kali ini kami tidak pergi ke kantin. Shen sudah siaga di ujung gang. Siap mencelaku.
"Kita ke halaman belakang saja, Dane!" ajak Nora.
Kami bertiga duduk di bangku taman dekat sebuah pohon.
"Flo ... Nor ... ada yang ingin aku ceritakan pada kalian," ucapku meski sangsi.
Mereka langsung menyimakku dengan serius.
"Apa kalian tahu tentang mitos Sandekala, iblis yang selalu menculik anak-anak saat kala senja tiba di akhir musim panas?" tanyaku.
Mereka menggeleng.
"Ini memang tidak masuk akal tapi beberapa hari yang lalu aku melihat makhluk tersebut. Apa kau ingat Flo, Sabtu lalu aku pernah berkata aku melihat sesuatu? Aku melihat makhluk itu," ujarku.
Mereka tampak bingung. Raut muka yang kentara menandakan ketidakpercayaan. Tapi mereka berusaha untuk mendengarkan ceritaku dengan baik.
__ADS_1
"Tadi pagi aku bertemu dengan seorang paranormal. Teman sepupuku. Dia bilang bahwa makhluk itu ingin mengujiku."
Muka mereka tampak penasaran.
"Berkali-kali aku memimpikan makhluk itu. Berkali-kali dia menampakkan dirinya padaku. Itu adalah suatu pertanda bagiku. Aku harus mencarinya."
Ketika aku sedang berbicara serius pada mereka, mendadak sebuah mangga jatuh menimpa kepalaku. "Awh!"
"Hah! Mangga? Seingatku pohon ini bukan pohon mangga," heran Nora.
Kami berdiri dari bangku taman. Mengamati baik-baik pohon tersebut.
Dia ada di atas sana.
Menatap nyalang dengan mata birunya yang menyala.
Kali ini aku tidak takut.
Makhluk itu tidak bisa melukaiku.
Lagi pula hanya aku yang dapat melihatnya. Dan aku tidak sendiri. Nora dan Flo berada di sampingku.
"Danny!" teriak Nora.
Aku tak sadar Nora dan Flo sudah pergi jauh.
Mereka gemetaran di lorong kelas.
"Ayo pergi! Apa kau tidak lihat itu?!" sahut Flo menunjuk si peneror. Kemudian berlari tunggang langgang meninggalkanku.
"Jadi ... mereka ...?"
Aku lihat baik-baik wajah gelap itu untuk beberapa saat sebelum akhirnya kabur menyusul mereka.
Kami langsung menuju ke kantin. Ke keramaian.
"Apa kalian bisa melihatnya?" tanyaku dengan napas tersengal.
"Apa kau bercanda?! Makhluk setinggi itu siapa yang tidak lihat!" sergah Nora mengatur napas.
"Apa itu tadi?" tanya Flo.
"Itu makhluk yang aku ceritakan pada kalian!"
"Sudah-sudah, jangan bicarakan tentang makhluk itu lagi. Aku tak mau dia muncul di hadapanku," kata Nora menggelengkan telapak tangannya ke hadapanku dan Flo.
"Ayo kita ke kelas! Lima menit lagi masuk," ajakku.
"Yang lain belum pada masuk, bagaimana jika makhluk itu ada di sana?" tanya Nora khawatir.
"Tidak akan. Dia tidak akan muncul untuk kedua kalinya bila pikiran kalian bekerja. Jangan melamun dan jangan merasa takut," kataku.
"Oke ... baiklah kalau begitu. Ayo, Flo!"
***
Pukul 10.00 bel masuk berbunyi.
Kami sudah berada di kelas. Pelajaran selanjutnya adalah KKPI. Tanpa basa basi Bu Ernie langsung menyuruh kami ke Lab Komputer. Guru itu memberikan selembar kertas penuh dengan soal esai pada kami.
"Kalian ketik soal-soal tersebut, jawab kemudian kirimkan ke alamat email Ibu. Harus selesai hari ini!" perintahnya.
Aku baru kepikiran sesuatu. Di zaman serba canggih dan modern ini mendapatkan informasi tentang sebuah desa sangatlah mudah. Ketika Bu Ernie sedang tidak memperhatikanku, aku langsung buka Google. Aku tulis "mitos Java Island" dalam kotak pencarinya. Kutemukan salah satu situs yang membahas tentang mitos-mitos Java Island. Aku buka situs tersebut. Setiap kota mempunyai mitos yang berbeda-beda. Vanjava City—Bahrose City—Lurid City—Javalava .... Aku pilih Vanjava City dalam kotak nama kota di Java Island.
Tak lama kemudian muncul beberapa pilihan mitos-mitos yang terdapat di Vanjava.
Boa jadi-jadian ...
Dedemit air ...
Ikan keramat ...
Khyatie Transfransisscho ...
Manusia muka dua ...
Sandekala ...
Aku klik kata Sandekala dan muncullah artikel mengenai iblis penculik anak-anak tersebut.
Sandekala adalah legenda Vereyon. Di setiap desa yang bernama Nekala, makhluk yang katanya selalu menculik anak-anak tersebut paling sering muncul saat akhir musim panas tiba. Desa Nekala ini tersembunyi di hutan datar yang sangat luas ... ini bukanlah sembarang mitos ... tiap akhir musim panas tiba adalah puncak makhluk itu menculik anak-anak ... seorang tetua desa mengatakan hutan itu selalu berwarna hitam bila senja tiba di akhir musim panas. Bukan karena gelap. Tapi karena para Sandekala dan setan-setan lainnya sedang berpesta pora di sana.
Anak-anak desa Nekala yang diculik mereka tidak pernah kembali. Tapi beberapa kasus di desa lain, anak-anak selalu ditemukan. Walau hanya dengan setengah jiwa saja. Mereka menjadi idiot ....
Di bagian bawah tulisan itu ada deretan nama desa-desa tempat munculnya Sandekala.
Desa dengan nama Nekala tidak hanya ada satu melainkan 12. Tersebar di seantero Vereyon.
Tanpa berlama-lama aku catat ke-12 alamat desa tersebut dalam buku tulis. Sebelum aku tutup situs itu, aku tertarik dengan sebuah judul di daftar mitos tersebut "anak-anak sungai penculik anak" tapi sebelum aku sempat membacanya, Bu Ernie sudah berdiri di belakangku.
"Ehem! Kau sudah selesai mengerjakan soal-soal itu, Danny?" tanyanya.
"Belum, Bu," jawabku polos sedikit tersenyum malu.
Aku segera melanjutkan tugasku sebelum dia marah besar.
Hari ini berakhir seperti biasa. Ian sudah menungguku di depan gerbang.
"Sampai besok, Danny!" sahut Nora.
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana sekolahmu?" tanya Ian.
"Tadi aku melihatnya lagi. Dan bukan hanya aku, tapi kedua temanku juga melihatnya," kataku. "Dan ... aku sudah punya petunjuk mengenai desa dalam mimpiku itu."
"Oh, ya?"
__ADS_1
"Siang ini kau ke rumahku, ya. Aku ingin membicarakan ini semua. Aku butuh bantuanmu!" pintaku.
"Tentu, Dane. Sekarang naik. Kita pulang!"