
Seharusnya di hari Minggu yang cerah ini aku pergi ke pantai. Menikmati keindahan matahari terbenam di ujung lautan. Seperti Flo, Nora, dan keluarganya yang tengah liburan ke pantai White Sand Pier (WHISPER) di Clayraira utara. Tapi, aku tak punya waktu untuk menikmati hari libur sekarang. Aku harus segera mencari apa yang ingin kuketahui dan mendapatkan jawaban dari mimpi-mimpi maupun penampakan yang semakin mengusik kehidupanku saat ini.
Aku menengok ke jendela. Terlihat sebuah motor terparkir di halaman. Terdengar pula riuh rendah suara ibu yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang di lantai bawah.
Setelah memakai jaket hitam dan celana jins aku pun langsung turun.
Ian sudah datang menjemput dan duduk di ruang tamu.
"Kita pergi sekarang?"
"Kau belum sarapan?" tanyanya. "Sarapan dulu sana, biar aku tunggu kau di sini, Dane."
"Hm ... baiklah."
"Ini masih pagi. Jangan terburu-buru! Aku tunggu, oke!" balasnya.
Aku pergi menuju dapur.
Ronny sedang menyeduh kopi saat aku mengambil sekotak sereal di atas rak.
Aku tuangkan sereal ke dalam mangkuk dan aku siram dengan susu dingin dari kulkas.
"Mau ke mana, Dane?" tanyanya setelah beberapa lama dalam keheningan yang canggung.
"Aku mau jalan-jalan dengan Ian," jawabku ketika menaruh serealku di meja makan.
Aku lihat wajahnya tidak seperti biasanya. Seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ragu-ragu.
"Ibu dan Ayah mana?" tanyaku basa basi sembari melahap serealku.
"Ayah pergi bersama temannya main golf. Sedangkan Ibu ada di halaman belakang."
Tak ada hal yang bisa kami bicarakan. Sudah berbulan-bulan rasanya kami tidak pernah berada sedekat ini. Bahkan sudah setahun sejak dia kerja di Vereyon dan kami tidak pernah melakukan aktivitas bersama lagi.
Lama kelamaan, aku dan Ronny tidak seperti layaknya kakak adik. Lagi pula tak ada hal yang ingin aku tanyakan lagi. Kami merasa canggung satu sama lain.
Aku tahu Ronny ingin mengatakan sesuatu. Sesekali dia melirikku tapi langsung mengalihkan pandangan dan menyeruput kembali kopinya begitu aku menatapnya balik.
Kuhabiskan sarapanku secepatnya dan hendak beranjak.
"Danny."
"Ya?"
Wajahnya ragu. "Semoga acara jalan-jalanmu menyenangkan. Maaf, aku tidak bisa mengajakmu jalan-jalan seperti dulu."
Aku hanya tersenyum heran sambil mengangguk. Tak biasanya Ronny bicara begitu.
"Sudah siap?" tanya Ian padaku.
"Tentu."
Kami pun segera menuju ke Vereyon.
"Di mana letak desa Nekala yang pertama?" tanya Ian.
Aku buka buku catatanku. Informasi yang kubutuhkan telah kucatat semuanya.
"Di daerah Serengeti. Vereyon barat."
Ian melajukan motornya menembus jalan bebatuan yang menanjak.
Setelah perjalanan beberapa jam akhirnya kami tiba.
Bisa dibilang, desa itu sudah lumayan modern sebab terdapat beberapa rumah yang terbuat dari beton. Keadaan desa itu tidak sama seperti dalam mimpiku. Dalam mimpiku, semua rumahnya masihlah terbuat dari bambu, kayu, dan tambahan kaca. Tapi meski begitu, aliran listrik sudah mencapai desa. Dan ada satu rumah yang unik di desa dalam mimpiku. Rumah itu berbentuk tabung dengan satu jendela di dekat pintunya.
Meskipun aku ragu desa itu adalah desa yang kucari, tapi, aku ingin memastikannya terlebih dahulu. Aku datangi rumah salah satu ketua RT. Bertanya segala hal tentang desa dalam mimpiku itu.
Aku bertanya tentang gadis berambut merah, rumah tabung, dan Sandekala. Tapi menurut Pak RT, tidak ada seorang gadis berambut merah dan rumah berbentuk tabung di desa itu. Dia menegaskan memang makhluk yang bernama Sandekala selalu datang ke desa saat musim panas terakhir. Maka dari itu sejak insiden hilangnya belasan anak beberapa tahun yang lalu, semua remaja, anak-anak, dan pengantin baru tidak tinggal di desa tersebut. Mereka semua tinggal di pinggiran kota yang lebih aman.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Nekala selanjutnya, aku dan Ian memutuskan untuk melihat keadaan desa tersebut. Terdapat sebuah sungai yang melenggang tenang dan rumpunan pohon bambu di sekitarnya. Berharap mendapat sebuah petunjuk tapi tak ada apa-apa yang bisa kutemukan.
"Oke, desa pertama sudah kita datangi. Dan itu bukanlah desa dalam mimpimu. Selanjutnya, di mana letak desa Nekala yang kedua?" tanya Ian di perjalanan.
"Berada sepuluh kilo meter sebelah utara desa Nekala ini. Di kaki pegunungan Alfian."
Satu jam kemudian kami baru sampai di sana sebab jalanan begitu terjal. Dan seharusnya tak mungkin bisa dilewati kendaraan bermotor.
Hal yang sama kami tanyakan pada ketua desa setempat dan hasilnya sama. Tak ada gadis berambut merah dan rumah berbentuk tabung. Tapi kami masih ingin memastikan kembali tentang gadis itu.
Desa kecil itu hanya memiliki lima orang gadis remaja. Dan semuanya tak ada yang seperti dalam mimpiku. Mereka semua gadis yang biasa saja.
Pencarian kami hari ini gagal.
Kami memutuskan pulang ke Den Lag sebab hari sudah semakin sore. Lembayung senja terlihat di ufuk Barat saat kami menelusuri jalan batu yang curam.
Beberapa desa lain yang berada di sekitar desa Nekala itu kami lewati. Terlihat jelas bagaimana perubahan nyata dari desa-desa tersebut.
Semuanya hening.
Seperti mati saat senja kala tiba.
__ADS_1
Semua orang menyembunyikan diri mereka di rumah masing-masing hingga senja hari itu berakhir.
"Ian, aku ...," sangat berat mengatakannya. Tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Entah kenapa aku benar-benar sangat takut.
Aku merasakan aura yang membuat nyaliku menciut. Bayangan hitam itu selalu dan semakin muncul dalam otakku. Aku bahkan sempat menganggap seprei hitam yang digantung di tali jemuran adalah Sandekala.
***
Matahari belum juga tenggelam. Dan kami belum juga menemukan jalan raya. Setidaknya jalan raya masih satu kilo meter lagi. Kami pun belum bisa keluar dari hutan yang menyeramkan di samping kiri dan kanan kami.
Aku memeluk tubuh Ian cukup erat. Kupejamkan mata dan kusembunyikan wajahku di balik lekukan punggungnya.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil melaju dari kiri dan kanan. Aku buka mataku. Ternyata kami sudah berada di jalan raya.
"Danny, kau tidak apa-apa?" tanyanya merasakan gerakanku.
"Ya, aku baik-baik saja."
Ini sudah malam. Saat aku lihat jam tanganku waktu menunjukan pukul 21.00.
"Hah? Apa aku tertidur?" heranku.
"Iya, Dane. Aku heran kau tidur seperti orang mati. Tak bergerak sama sekali."
Semilir angin malam menembus kulitku. Udara dingin semakin membuat kulitku seputih salju.
"Hei, kau lapar?" tanya Ian. Perutnya terasa bergetar di tanganku.
"Ya."
"Akan kutunjukkan tempat makan enak padamu di saat malam begini," katanya.
Ian memarkirkan motornya halaman parkir restoran. Restoran mungil yang suasananya begitu romantis. Mungkin ... terlalu romantis untuk dua pemuda seperti kami yang sekadar ingin mengisi perut yang keroncongan.
Kami duduk di meja dekat jendela yang menghadap trotoar. Aku lihat meja di depan, belakang dan samping kami telah diisi oleh sepasang muda-mudi. Lampu kelap-kelip di langit-langit dan cahaya lilin di tengah meja yang mengeluarkan harum Lavender memang nyaman untuk tempat makan sepasang kekasih. Tapi, bagiku ini ... sedikit menggelikan. Mereka semua melirik kami dengan tatapan bertanya-tanya. Mungkin mereka pikir kami adalah sepasang gay yang sedang kencan.
Aku tak enak hati pada Ian bila aku mengatakan ingin keluar dari restoran ini. Selama ini Ian selalu membantuku. Tak ada salahnya bila aku menuruti apa katanya. Lagi pula dia tidak terusik oleh bisikan-bisikan pelanggan sebelah meja kami.
"Ini menunya. Silakan," kata seorang pelayan.
"Danny, kau ingin apa?" tanya Ian.
"Terserah kau saja," kataku malu.
Dia pasti sadar akan hal itu. Tiba-tiba dia berdiri dan membuatku terkejut.
"Hei, kalian! Dia adikku. Jangan berpikir yang macam-macam!" teriaknya ke seluruh ruangan.
Ian duduk kembali dan membaca daftar menu. "Baiklah. Kalau begitu kami pesan dua steak ayam dan french fries. Untuk minumnya kami pesan dua lemon tea saja," kata Ian pada pelayan itu.
Setelah mencatat pesanan, dia kembali ke dapur.
"Ian, apa kau pernah ke sini?" tanyaku.
"Belum," jawabnya polos.
"Apa? Bagaimana kau tahu kalau makanan di sini enak?"
"Bukankah setiap restoran mahal makanannya enak-enak?" jawabnya sambil nyengir.
Pelayan itu akhirnya datang sambil membawa pesanan kami. Aroma dada ayam berbalut saus lada hitam sudah tercium dari jarak satu meter.
Kami berdua menyantap steak ayam beserta french fries yang kami pesan.
Suasana di jalan raya begitu indah. Terlihat dari balik kaca itu lampu-lampu jalan menerangi jalanan yang mulai lengang.
"Sebaiknya kita segera pulang. Lagi pula besok kau harus pergi kerja, bukan?" usulku.
"Ya, kau benar. Ini sudah malam," katanya. "Pelayan!" sahut Ian memanggil pelayan yang sedari tadi membersihkan meja-meja yang telah kosong.
"Biar aku saja yang bayar. Kau kan sudah membantuku. Sekarang giliranku membalas kebaikanmu," kataku.
"Tidak, tidak, Danny. Aku saja yang bayar."
"Tapi kan-"
"Aku senang membantumu. Lagi pula aku yang mengajakmu makan di sini."
Setelah dia membayar makanan yang cukup mahal itu kami langsung pulang.
"Besok kau libur?" tanya Ian memastikan.
"Iya. Liburan akhir musim panas dua minggu."
"Kalau begitu menginap saja di rumahku. Ini sudah malam. Keluargamu pasti sudah tidur. Mau?" tanya Ian.
Aku hanya mengangguk padanya. "Tapi, nanti coba telepon ke rumah. Aku takut Ibu dan Ayah khawatir."
Akhirnya kami tiba di rumah Ian. Dia membawa kunci ganda rumahnya. Suasananya sepi. Keluarga Ian pasti sudah tidur. Rumahnya khas rumah Indo kebanyakan. Dengan lantai keramik dan dinding beton. Tidak bertingkat tapi jelas lebih luas dari rumahku.
"Itu kamar Siman. Kau tidur di kamarku saja," ajaknya. "Kalau kau mau telepon ke rumah, teleponnya ada di ruang keluarga. Aku mau mandi dulu."
__ADS_1
Aku pun mencoba menelepon ke rumah tapi tak ada yang mengangkatnya.
"Sudah telepon?" tanya Ian saat keluar dari kamar mandi.
Melihatku duduk di sofa.
Aku mengangguk. "Tak ada yang mengangkat. Mungkin mereka sudah tidur."
"Ian, punya boxer?" tanyaku. "Aku pinjam."
"Ya, ada. Kau mandi dulu sana."
Aku tahu sekarang dia sedang melihatku.
Mereka sedang memata-mataiku.
Tapi aku tak bisa melihatnya. Hanya waktu tertentu saja aku dapat melihatnya. Saat aku tidak memikirkannya atau saat aku sedang takut pasti makhluk itu muncul.
Aku yakin ini mimpi.
Aku ingin segera keluar dari mimpi ini.
Di sini gelap.
Tak ada apa pun
Tak ada siapa pun.
Aku berada dalam ruang pekat.
Sebuah lampu pijar mendadak menyala di atas kepalaku. Menerangi tubuhku saja.
Aku mulai takut.
Ini bukan mimpi yang kuharapkan.
Aku berteriak.
Berharap tersadar.
Berharap bangun dari dunia mimpi ini.
Tak bisa.
Cahaya muncul dari langit-langit ruangan.
Lampu pijar yang lainnya.
Satu, dua, tiga ....
Lampu-lampu mulai menyala menerangi segalanya.
Aku berada di tengah ruang kosong dan luas. Berlantaikan keramik.
Di sudut ruangan, dapat kulihat keran yang tak henti-hentinya meneteskan air.
Di sini basah.
Jauh di ujung ruangan, terdapat pengait, tali-temali, rantai, dan golok.
Ini... seperti tempat jagal hewan.
"Danny ...," suara itu berembus dari belakang.
Menggema pelan dalam ruangan.
Perlahan, aku berbalik menghadapinya.
Dia mencengkeram erat leherku. Semakin lama cengkeramannya semakin kuat. Membuatku tercekik.
Dia dekatkan kepalanya yang tertutupi tudung hitam itu ke wajahku. Awalnya gelap. Tapi kemudian dua buah bola mata berwarna biru itu menyala terang.
Aku terkesiap dan tak bisa bernapas. Aku meronta-ronta sekuat tenaga. Berusaha melepaskan cengkeraman tangannya yang semakin erat.
"Dane! Danny! Kau kenapa?!"
Aku bisa mendengar suara Ian tapi aku tidak terbangun dari mimpiku.
Aku memekik kesakitan.
Meronta-ronta tak terkendali agar aku dapat lepas dari jeratan makhluk itu dan terbangun.
"Danny! Bangun, Danny!" panggil Ian panik.
Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Aku berusaha mencengkeram leherku sendiri agar dia tahu apa yang aku alami.
Aku tercekik!
Aku tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Mungkinkah aku akan mati dalam mimpiku sendiri?