
Ini adalah langkah awal untuk dapat memusnahkan mereka. Kami harus segera berlatih dengan senjata-senjata ini secepatnya. Peti dengan panjang 1,2 m x 0,5 m dan berat hampir 100 kg itu diangkut ke desa Nekala menggunakan motor Ian.
"Jadi, di mana kita akan berlatih?" tanya Ian saat kami sampai di rumah Shanty.
"Kita akan melawan makhluk itu di hutan hitam. Sebaiknya kita latihan di sana," usul Shanty.
"Ya, itu bagus," balas Ian. "Tapi kapan kita mulai latihan?"
"Hari minggu saja. Setiap seminggu sekali selama setahun ini kita akan rutin latihan. Kita harus berlatih keras. Aku tak ingin ada yang mati saat kita melawan mereka," kataku.
"Baiklah."
"Dan Shan, bisa tidak nenekmu membimbing kita latihan?" pintaku.
"Tentu saja."
"Kau sudah memilih senjata?" tanyaku pada Ian.
Ian menggeleng. Segera dia melihat-lihat isi peti itu. Dia memilih dua pedang yang menyatu. ANSO, nama yang terukir di pedangnya.
"Shanty, sebaiknya kita pisahkan senjata milik kita," usulku.
Dia mengangguk.
Aku melihat jam tanganku. Pukul 17.00.
"Sebaiknya kita pulang. Kita harus segera memberitahu yang lainnya," kataku. "Shanty apa kau keberatan aku membawa buku ini?"
"Tidak. Bawa saja. Kau lebih membutuhkannya."
***
"Besok siang datanglah ke rumahku. Kita akan merundingkan hal ini," kataku saat kami tiba di depan rumah.
"Ya ... Dane aku pulang dulu!" sahut Ian meninggalkanku dan jalan yang gelap di malam itu.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian tidur, aku langsung duduk di kasur. Membaca isi buku itu lagi.
Ada 50 gambar dan nama pedang di buku itu. Tapi, yang aku kenal cuma 14.
Clairvoyance Sword (CLAS)
Edge Of Evils (EDOE)
Ancient Souls (ANSO)
Sharp Golden Gun (SHAG)
Metal Genie (MEG)
Bend Boom Alloy (BENA)
Long Kie Katana (LOKA)
Sharp Sashiganes (SASHI)
__ADS_1
Cresent Moon Knife (CREMK)
Claws Evil Glove (CLEG)
Delta Spira (DESPI)
Sun Star Spear (SANTAS)
Serta dua senjata milik ibu dan nenek Shanty-Evilis Naifu dan Linggis Stick.
Setiap senjata mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing kecuali sebuah senjata bernama Chisoku Sun & Moonlight Sword yang panjangnya 1,5 m dan tidak ada dalam tumpukan senjata yang kami bawa.
Kemudian aku membaca sejarah tentang pedang yang akan aku gunakan itu.
Clairvoyance Sword. Pedang dengan panjang 1 m x 5 cm ini adalah pedang yang dibuat oleh seseorang berkebangsaan Jepang pada tahun 696 M. Sulit atau tidaknya menggunakan pedang ini tergantung dengan siapa yang memakainya. Kau harus memiliki tekad dan semangat yang kuat agar mudah mengendalikan pedang ini dan mudah mengeluarkan Kinzoku Light dari dalam logamnya.
***
Selagi melihat satu per satu gambar senjata-senjata itu, Ronny berdiri di ambang pintu.
"Apa itu?" tanyanya.
"Kemarilah," panggilku.
"Ada apa, Dane?"
"Waktunya sudah tiba. Kita harus mulai berlatih."
"Berlatih?"
Dia tak memperpanjang pertanyaannya. Mungkin dia memang lebih cepat mengerti daripada yang kukira.
"Ya, baiklah. Aku janji tak akan telat pulang. Jangan mulai rapat tanpa aku, ya!" pintanya seraya meninggalkan kamarku.
Liburan akhir musim panas ini seharusnya menyenangkan dan tidak membuat otakku dipenuhi beban-beban berat yang harus aku tanggung.
Jumat pagi.
Tak berlama-lama aku langsung mengangkat telepon dan segera menghubungi rumah Siman serta yang lainnya untuk datang ke rumahku. Aku takut mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Selepas siang, mereka akhirnya berkumpul di halaman belakang.
Ronny dan Teny ikut hadir untuk mendengarkanku.
"Dane, kita mulai saja," sahut Ian.
Aku mengangguk.
"Kalian tentu sudah tahu tentang masalah yang kualami. Sebagian jiwaku terikat dengan iblis-iblis itu," kataku.
Aku mengamati wajah-wajah mereka. Ekspresi bingung terpancar jelas di antara kedua mata mereka. Mewski begitu, mereka berusaha memahami ini secepat yang mereka bisa.
"Aku ... adalah anak yang dibuang oleh orangtua kandungku sendiri. Mereka hampir memberikan jiwaku pada iblis itu. Aku tidak tahu apa alasannya dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa selamat 16 tahun silam. Tapi karena kejadian itu, mataku berubah menjadi biru," ujarku.
"Beberapa hari yang lalu aku menanyakan sesuatu pada nenek Shanty. Dia mengatakan padaku bahwa aku tak perlu memberikan jiwaku pada para Sandekala. Ada cara lain agar tubuhku kembali normal, mataku kembali seperti semula, dan hidupku tenang layaknya orang biasa ...."
__ADS_1
Aku mengembuskan napas berat.
"Aku harus melawan mereka semua. Memusnahkan mereka semua dari dunia ini. Dan aku tak akan mungkin bisa melawan mereka sendirian. Aku butuh bantuan kalian. Apa kalian mau membantuku?" tanyaku terdengar memelas.
"Tentu, Dane!" sahut Siman.
"Iya, Dane. Aku pun sudah pernah bilang akan membantumu," kata Iza.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanyaku pada Rhinna, Sudra, Khyun, Winny, dan Ricky. "Apa jawaban kalian? Nenek Shanty mengatakan padaku yang harus aku ajak adalah orang-orang terpilih dan pernah melihat makhluk itu secara langsung. Dan itu adalah kalian. Sebenarnya aku juga tidak ingin merepotkan kalian. Membuat nyawa kalian terancam. Tapi, aku sangat membutuhkan bantuan kalian. Aku tak punya cukup keberanian untuk melawan mereka sendirian."
"Dane, kami mau saja membantumu tapi apa yang bisa dilakukan oleh kami. Dengan apa kita melawan mereka?" tanya Winny.
"Dengan ini," kataku memperlihatkan gambar-gambar senjata itu pada mereka. "Ada 12 senjata yang bisa kita gunakan."
"Lalu, siapa 2 orang lagi?" tanya Teny.
"Apa?"
"Ada 12 orang, kan? Kalian haya bersepuluh. Siapa 2 orang lagi yang bergabung?"
"Shanty dan ... aku tidak tahu siapa seorang lagi," jawabku.
"Boleh aku ikut bergabung dengan kalian?" pinta Teny.
Aku mengangguk pelan padanya.
"Dan aku juga tidak akan memaksa kalian. Bila kalian tidak mau membantuku juga tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin membuat kalian terluka," kataku pada mereka.
"Dane, janganlah berpikir begitu. Kita adalah saudara," kata Rhinna.
"Mungkin bukan. Aku bukan bagian dari keluarga ini."
"Tapi, kita tetaplah saudara. Dan kami akan membantumu!" timpal Sudra.
"Terima kasih."
"Sekarang apa rencanamu, Dane?" tanya Ronny.
"Baiklah. Setiap minggu kita akan berlatih dengan senjata-senjata itu di desa Nekala. Kita mulai dari hari minggu besok agar musim panas tahun depan kita telah siap bertarung," ujarku menatap satu titik kosong dengan penuh keyakinan.
"Dane apa kau merasa baik?" tanya Ian. Aku tidak tahu apa maksudnya dia bertanya begitu. Tapi aku lihat wajahnya terlihat cemas saat menatapku.
"Aku tidak apa-apa."
"Aku harap begitu. Tenang saja, Dane. Kami tidak akan meninggalkanmu," ujarnya.
Dan dia pun bersiap untuk pulang seperti yang lainnya.
Ketika aku menuju kamarku, aku mendengar Ronny sedang bicara dengan istrinya di kamarnya.
"Sayang, apa kau yakin ingin ikut dengan kami?" tanya Ronny.
"Tenang saja. Jangan mengkhawatirkan keselamatanku. Aku ini lahir dan hidup di desa. Aku tahu bagaimana caranya menjaga diri," jawab Teny.
Aku mulai ragu akan hal ini. Apakah tindakanku ini benar? Berusaha memusnahkan mereka agar kutukan hilang dari tubuhku tapi dengan cara membahayakan nyawa saudara-saudaraku. Aku ... bukan orang yang egois, kan?
__ADS_1