Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Akhir Tahun


__ADS_3

Sudah tiga bulan kami latihan. Strategi dirancang sedemikian rupa agar kami tidak melakukan kesalahan yang sama seperti generasi sebelumnya yang berjuang tapi malah berakhir dengan kematian.


Sindia adalah pahlawan masa lalu. Pahlawan yang kalah di medan perang. Sebagai orang yang melatih kami, dia tidak mau kalau kejadian yang pernah dialaminya dulu terulang pada kami. Saat kami semua mati, dan transaksi jadi satu-satunya pilihan terakhir kami untuk hidup kembali.


Dia pernah bercerita pada kami bahwa dihidupkan kembali oleh sosok yang telah membunuhnya tidaklah menyenangkan. Bak mendapat durian runtuh yang sengaja dilemparkan ke kepalanya.


Di hari minggu 27 Desember ini adalah tepat lima hari sebelum tahun baru tiba. Rencananya malam tahun baru nanti Ian akan mengajakku ke pantai WHISPER-salah satu pantai terindah di Claiyraira utara, kota bagian utara Vanjava.


Usai latihan kami hari ini, aku dan Ian berbincang-bincang dengan Shanty di rumahnya.


"Shanty, aku ingin bertanya padamu. Apa kau sekolah?" tanya Ian padanya.


"Ehm ... tidak. Selain tidak punya biaya, sekolah SMA sangat jauh dari sini," jawab Shanty.


"Bagaimana keseharianmu. Apa yang biasa kau lakukan?" tanyanya lagi.


"Aku kadang-kadang membantu pengurus desa membuat dokumen-dokumen. Aku juga sering belajar komputer dan internet di sana," jawab Shanty. "Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu?"


"Shanty, maukah kau ikut bersama kami? Ke kota?" tanya Ian.


Aku memandangnya heran.


"Maksud Kak Ian?"


"Maksudku, kau sudah tahu kan kalau kami hanya tinggal berdua."


"Ya, lalu?"


"Tahun depan bosku menggangkatku menjadi manajer di salah satu bagian perusahaan itu. Dan dia mengharuskanku bekerja sampai sore. Kalau kau mau tinggal bersama kami mungkin kau bisa membantu."


"Membantu apa?" tanya Shanty.


"Mengurus rumah dan ... menemani Danny," kata Ian. "Tapi aku tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau. Bagaimana, Shan?"


Shanty menatapku dengan pandangan aneh. Seperti tatapan menuduh bahwa aku yang menyuruh Ian berkata begitu.


"Ian, Aku tidak perlu ditemani. Lagi pula aku juga bisa mengurus rumah. Kau tak perlu meminta Shanty. Dia pasti sedang sibuk," kataku menyanggah. "Benar kan, Shanty?"


"Tidak! Sebenarnya aku mau saja ikut dengan kalian. Tapi nenekku sendirian. Tidak ada yang menemaninya," katanya.


"Sejak kapan kau peduli padaku. Bukankah setiap hari kau jarang di rumah. Lebih baik kau ikut saja dengan mereka!" sindir Sindia dengan nada mengusir.


"Yah, Nenek! Aku kan tidak begitu!" balas Shanty.


"Bagaimana Shan?" tanya Ian.


"Baiklah!" jawabnya setelah beberapa detik berpikir. "Kapan? Sekarang?"


"Tidak! Tidak! Minggu depan saja," jawab Ian.


"Oh! Oke!"


***


"Kak!" panggilku sedikit berteriak di tengah perjalanan pulang.


"Aku tahu apa yang akan kau tanyakan. Tak apa Dane, tak ada ruginya k dia tinggal dengan kita. Aku tahu kau menyukainya, kan?" godanya menyela perkataanku sambil tersenyum.


"Siapa? Aku? Oh tidak! Tidak! Aku menganggapnya sebagai teman biasa saja!"


Dia malah tertawa kecil mendengar perkataanku yang gelagapan dan melajukan motornya lebih cepat lagi.


Empat hari kemudian.


"Dane, mulai besok kau tidur sekamar denganku. Kamarmu akan jadi kamar Shanty. Kau oke?"


"Tentu."

__ADS_1


"Pindahkan semua pakaianmu ke lemariku!"


"Baik."


"Kak, kau mau ke mana? Memangnya tidak libur kerja?" tanyaku melihatnya memakai jaket dan helm.


"Aku mau bertemu seseorang dulu," jawabnya. "Oh ya nanti sore kau siap-siap ya, setelah aku pulang, kita langsung berangkat!" katanya.


Aku hanya mengangguk padanya.


Hari libur akhir semester ganjilku ini begitu membosankan. Memang tak ada yang bisa dikerjaan di rumah ini.


Aku tidak mempunyai kegiatan lain selain nonton tv dan main internet di komputer Ian di kamarnya.


Setelah membereskan pakaianku, aku membuka kembali kotak peninggalan Ibu.


Selembar kertas bertuliskan aneh itu aku perhatikan baik-baik. Tapi, aku tetap tak dapat menerjemahkan isi dari tulisannya.


Satu lagi misteri yang harus aku pecahkan.


Pukul 16.00.


Suara deruan motor Ian terdengar di luar rumah. Segera aku membuka pintu. Rupanya Ian membawa seseorang bersamanya.


"Hei, Dane!" sapanya mendekatiku sambil menggendong tas ranselnya yang sangat besar.


Aku tak heran melihat Shanty tapi aku tak menyangka Ian akan membawanya kemari hari ini.


"Hei, Shan!" sapaku membalasnya.


"Liburan bertiga sepertinya akan lebih seru!" sahut Ian.


"Ayo masuk,"ajakku.


"Tentu. Jadi, di mana kamarku?" tanyanya.


"Kalau kalian sudah siap sebaiknya kita segera pergi!" sahut Ian pada kami.


"Tentu, kami sudah siap, Kak!" kata Shanty bersemangat.


Ian tersenyum memandangnya. "Kalau begitu ayo kita berangkat!"


Sore itu, kami berangkat ke pantai WHISPER. Satu-satunya pantai di Java Island yang paling indah. Dengan pasir putih sejauh 5 kilo meter, pohon kelapa yang berderet rapi di bibir pantai, dan tentu saja pohon buah Pier yang tumbuh subur di perbukitan tak jauh dari pantai itu.


Suasananya begitu ramai. Banyak orang-orang yang merayakan tahun baru di tempat ini.


Aku penasaran, Ian tidak memarkirkan motornya di tempat yang sama seperti yang lain. Dia malah terus melajukan motornya ke sudut yang cukup sepi dari orang-orang.


Kami bertiga duduk di pasir putih. Memandang matahari tenggelam yang begitu indah. Mungkin lain ceritanya bila hal ini terjadi di desa Nekala saat akhir musim panas tiba.


Ombak memecah keheningan senja.


Kami melihat beberapa orang yang sedang bermain jet ski. Bahkan di sudut yang ramai itu, kami lihat hampir semua orang berenang walaupun hari sudah mulai gelap.


"Dane, ayo kita berenang!" ajak Shanty.


"Ehm, kau saja duluan!" kataku.


"Ayolah Dane! Ini akan menyenangkan!" katanya meraih tanganku dan membawaku ke bibir pantai. Menikmati semburan ombak kecil yang menyentuh kaki kami.


"Katanya mau berenang?" tanya Ian mendekati kami.


"Tentu saja!" jawab Shanty membuka bajunya.


"Hei! Apa yang kau lakukan? Ini kan tempat umum!"


"Jangan kaget begitu! Tenang saja, aku memakai kaus dalam," kata Shanty.

__ADS_1


Dia mengenakan kaus tipis dan celana pendek yang sepertinya itu untuk laki-laki.


"Ayo Dane!" sahutnya langsung menceburkan dirinya ke laut.


"Dane?" kata Ian.


"Iya! Iya! Aku mengerti!"


Aku pun melepaskan pakaianku dan menitipkannya pada Ian.


Dengan mengenakan celana pendek, aku berenang menyusul Shanty yang berenang cukup jauh dari pantai.


"Dane! Kemarilah! Lihat ini!" sahut Shanty.


"Ada apa, Shan?"


"Kita menyelam!"


Dia langsung menarik lenganku.


Alangkah terkejutnya aku ketika kami menyelam ke dasar laut. Ada banyak hewan-hewan laut kecil yang mengeluarkan cahaya. Hewan-hewan itu mengerumuni kami. Menerangi kedalaman laut yang gelap.


Aku melihat wajah Shanty.


Dia tersenyum senang. Dia pun berbalik memandangku dan tersenyum manis padaku.


Dia mengarahkan telunjuknya ke atas. Menyuruhku untuk ke permukaan.


"Dane, indah sekali ya di dalam sana!" ucap Shanty. "Dane? Kenapa kau?"


Aku tidak mengerti ada apa denganku. Jantungku berdetak kencang saat memandang wajahnya.


Apa benar aku menyukainya?


"Dane! Dane! Kau tidak apa-apa?"


"Oh! Tidak! Tidak!" kataku jadi salah tingkah. "Shan, kita ke darat. Aku sudah kedinginan!"


Di bawah sinar rembulan yang terang, kami bertiga duduk di depan api unggun yang kami buat. Sambil membakar ikan, kami nikmati pemandangan pantai malam yang indah itu.


Pukul 00.00.01


Berbagai jenis kembang api meledak di angkasa. Menyebar membentuk bunga dan matahari berwarna-warni.


"Indah sekali ...."


"Dane, Shan, kemarilah! Duduk di sampingku!" perintah Ian.


Kami menuruti perkataannya duduk di samping kiri dan kanannya. Bersandar pada sebatang pohon kelapa.


"Ah ... aku mengantuk!" kata Shanty sambil menguap. Tanpa malu, dia membaringkan kepalanya di paha Ian. "Kak, makasih ya!" ucapnya pelan sebelum akhirnya tertidur.


"Ada yang sedang kau pikirkan, Dane?" tanya Ian saat melihatku memperhatikan Shanty tidur.


"Tidak ada!" jawabku reflek.


"Kau mengantuk, Dane?" tanyanya.


"Ehm ...."


Tanpa sadar aku pun tertidur di pangkuannya.


Aku dapat merasakannya. Kehangatan seorang kakak, saudara sekaligus sahabat.


Mereka jadi bagian keluargaku sekarang.


Aku, Shanty, dan Ian ....

__ADS_1


__ADS_2