Kie Light 1: Sandekala

Kie Light 1: Sandekala
Jejak Burung


__ADS_3

Hansel dan Gretel seharusnya dapat kembali pulang ke rumah mereka meskipun remah roti yang mereka sebar di sepanjang perjalanan telah tandas dilahap burung-burung. Karena sebenarnya, walaupun petunjuk itu telah hilang, terdapat petunjuk baru yang bisa dijadikan acuan arah pulang. Yaitu jejak burung itu sendiri. Jejak kaki-kaki kecil di tanah dan bulu burung yang berserakan di antara ranting dan belukar. Bila mereka menyadari hal itu, tentunya mereka pasti dapat pulang tanpa harus berhadapan dengan sang penyihir.


Aku harap, semoga ini adalah awal yang baik. Aku harap jejak burung ini terlihat jelas sehingga aku dapat menemukan apa yang kucari dan apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan kegelisahan hatiku akan mimpi-mimpi aneh dan penampakan yang kerap kutemui.


Aku dan Ian duduk di kamar. Membicarakan petunjuk-petunjuk yang mulai aku temukan.


"Jadi, apa yang akan kau bicarakan, Dane?" tanya Ian.


Aku mengambil buku tulis dalam tas dan kuperlihatkan alamat-alamat desa Nekala yang berhasil kucari.


"Kenapa kau yakin desa dalam mimpimu itu bernama Nekala?" tanyanya.


"Selain karena hatiku merasa demikian, di desa yang bernama Nekala inilah para Sandekala paling sering muncul."


"Para?" heran Ian.


"Dalam situs yang aku baca di internet, Sandekala itu bukan cuma satu tapi ada banyak bahkan sampai ribuan."


"Oke ... alamat desa Nekala ini cukup banyak. Jadi ... kita akan jelajahi satu per satu?" tanya Ian.


"Tentu," jawabku. "Di salah satu desa ini pasti ada gadis dalam mimpiku. Aku akan mencarinya," ucapku yakin. "Mau kan bantu aku menjelajahi satu per satu desa ini?"


"Tentu, Dane. Aku pasti akan membantumu."


Dia tersenyum begitu tulus.


Begitu manis.


Senyuman yang kerap membuatku canggung.


"Tapi, jangan bilang-bilang masalah ini pada yang lain dulu. Aku tidak ingin semuanya tahu."


Ian mengangguk. "Kapan kita mulai mendatangi desa-desa itu?"


"Minggu depan. Aku libur sekolah selama seminggu lebih. Jadi kita bisa mencarinya dengan leluasa."


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu ya, Dane. Sore ini aku janji mau memperbaiki motor Siman yang rusak."


Aku hanya mengangguk saat Ian pergi meninggalkan rumah.


***


Tak terasa hari demi hari silih berganti. Aku tidak menyangka penampakan itu berimbas pada yang lain. Selain Nora dan Flo, tujuh orang teman kelasku lainnya pernah melihatnya, termasuk Shen. Dia sampai terkencing-kencing di celana waktu melihat makhluk itu menggantung di langit-langit toilet.


Hari ini hari Sabtu. Kami tidak belajar. Kepala sekolah mengumpulkan kami di lapangan upacara dan mengumumkan liburan akhir musim panas telah tiba. Semua antusias mendengarnya. Seluruh siswa pun dibubarkan setelah pengumuman berakhir. Ini masih pagi dan Ian belum pulang kerja, tepaksa aku pulang naik bus lagi.


"Danny ...," seembus suara berbisik padaku bagai angin.


Kali ini aku tidak akan terkejut dan takut bila melihatnya di sini—di jalan lengang perumahan yang menuju rumahku. Aku ingat perkataan Teny, makhluk itu tak akan bisa melukaiku. Mereka makhluk halus, tak akan bisa melukai fisikku yang keras. Kuyakinkan itu berkali-kali dalam hati.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Tak ada apa pun.


Apa dia menyerah?


Atau mungkin sedang menunggu ketakutanku bangkit lagi?


"Bu, aku pulang!" sahutku saat membuka pintu.


Di rumah tak ada siapa-siapa. Aku sudah mencari Ibu ke mana-mana tapi tak ada. Aku heran kenapa pintunya tidak di kunci. Lalu kucoba cari ke halaman belakang.


"Danny! Kedua orangtuamu pergi ke rumah tunangan kakakmu. Katanya nanti malam baru pulang!" sahut Bu Angie dari balik pagar penghuni rumah sebelah yang sedang menjemur pakaian.

__ADS_1


Aku mengangguk. Tersenyum padanya. Kembali masuk ke dalam rumah.


Belum sempat mengganti pakaian, aku langsung menjatuhkan tubuhku di kasur dan tak sadar aku telah tertidur.


"Danny! Danny! Jangan tinggalkan aku! Kau tak perlu mengorbankan dirimu demi mereka! Pasti ada cara yang lain, Danny!" gadis itu terus mengejarku.


Sandekala terus memeluk erat tubuhku. Aku tak akan mungkin bisa lepas lagi darinya.


Gadis itu ... aku tak pernah melihat gadis yang seberani itu. Dia terus berusaha memusnahkan makhluk-makhluk yang mengerumuninya. Sekujur tubuhnya bersimbah darah.


Dia berusaha untuk mengejarku.


Meraihku.


Berusaha menyelamatkanku dari pelukan iblis itu.


Wajah si gadis mulai terlihat sedikit jelas. Tapi ... aku masih belum bisa mengkopi wajah yang samar-samar itu dalam otakku. Petunjuk dari gadis itu hanyalah rambut merah bobnya dan pakaian yang rumit untuk diingat dalam pikiranku.


"Danny!" teriak gadis itu melengking.


Menggema ke seantero hutan hitam saat dirinya terjatuh ke bawah jurang yang dalam.


Aku tersentak bangkit dari tidurku.


Tubuhku berpeluh keringat.


Kulucuti seragamku dan pergi mandi.


Wajahku masih sama seperti tadi pagi ketika melihat ke cermin.


Kususuri lekukan wajah dengan jemariku. Tak ada yang berubah lagi pada wajahku.


Dengan teliti kupandangi tubuhku yang telanjang. Aku merasa tubuhku semakin meninggi.


Dengan bertelanjang dada aku langsung melihat ada apa di dalam kulkas karena perutku sudah keroncongan.


Aku hanya menemukan spageti sisa makan malam kemarin. Segera aku hangatkan kembali bersama dua buah sosis ayam dalam microwave. Beberapa menit kemudian aku keluarkan makanan itu dan makan sambil menonton film tayang perdana yang aku tunggu-tunggu sejak seminggu lalu.


Final Fantasy Vii: Advent Children.


Aku simak baik-baik film animasi yang didasarkan pada game RPG terbaik menurutku. Seru. Suara benturan antara pedang dalam pertarungan tersebut membuatku terpukau.


Aku jadi teringat sesuatu. Sebilah pedang patah yang digenggam gadis itu cukup besar ukurannya. Tak jauh beda dengan yang digunakan Cloud saat melawan Sephiroth. Aku ingat jelas ukiran-ukiran yang memenuhi pegangan pedangnya. Satu mata iblis dengan 2 tanduk.


Jejak burung itu semakin jelas.


***


Tak lama kemudian terdengar deruan mobil dari depan rumah. Segera, aku buka pintu. Kedua orangtua bersama Ronny telah pulang.


Semilir angin malam dingin menembus kulit dadaku.


"Danny, kau sudah makan?" tanya Ibu.


"Sudah. Baru saja. Dari rumah Teny lagi?" tanyaku.


"Iya. Kami baru membicarakan pernikahan kakakmu minggu depan. Kami tidak mengajakmu karena kau sekolah tadi," ujar Ayah.


"Ya, tidak apa-apa."


"Hei, apa yang terjadi dengan tubuhmu?!" heran Ronny terkejut saat melintasiku.


Tinggi tubuhku kini sama dengannya. Untunglah dia langsung melengos sebelum aku mampu menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Aku tutup pintu kembali dan menuju mereka yang tengah berada di ruang keluarga.


"Bu, jadi, kapan hari pernikahanku?" tanya Ronny tampak gelisah.


"Kita tadi kan sudah membahasnya dengan keluarga Teny. Senin depan minggu kedua."


"Itu hari terakhir musim panas."


"Lalu kenapa?" tanya Ayah heran.


"Menurut adat istiadat warga desa, kita tidak boleh mengadakan perayaan di hari terakhir musim panas," ujar Ronny.


"Ron, tadi kau dengar sendiri bahwa keluarga Teny juga tidak keberatan mengadakan pernikahan di hari itu asal jangan sampai sore," kata Ibu.


"Tapi, aku tidak enak dengan warga desa sekitar! Majukan saja hari pernikahannya jadi hari Minggu."


"Itu tidak mungkin, Ron. Penghulunya cuma bisa datang hari senin. Lagi pula kita kan sudah memesan undangan ke percetakan," tutur Ayah. "Sudah Ayah bilang kita sebaiknya sewa gedung saja. Tapi kau tetap ingin mengadakan pernikahanmu di rumah keluarga Teny."


"Baik. Baik. Tapi Ayah dan Ibu harus pastikan semuanya sudah selesai tidak lebih dari jam satu siang."


"Tadi Ibu sudah telepon pihak percetakan agar mencantumkan waktu selesai di undangannya," kata Ibu.


"Ya sudah kalau begitu. Aku mau ke kamar dulu."


Kakakku beringsut pergi dengan raut muka cemberut.


"Danny, pakai bajumu! Nanti kau masuk angin!" perintah Ibu.


"Iya, Bu. Nanti saja kalau mau tidur."


Waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika film animasi itu selesai. Aku matikan TV dan pergi ke kamarku. Karena terlanjur mengantuk, aku langsung tidur di kasurku dengan posisi telungkup.


"Danny ... Danny ...."


Terdengar suara dari kamar mandi di samping kamar. Membuat tidurku tidak nyenyak. Kucoba menenggelamkan kepalaku ke dalam selimut dan bantal tapi suara itu masih tetap melayang-layang di telingaku.


Pintu kamar berkeriut membuka. Perlahan aku muncul dari balik selimut dan mendapati sosok itu sudah berdiri tegak di depan tempat tidur.


Hitam ...


Tinggi ...


Gaun compang-campingnya berkobar.


Wajahnya tertutup tudung.


Seperti malaikat pencabut nyawa yang datang menjemputku.


Aku tahu dia tidak bisa melukaiku.


Aku tahu itu.


Tapi ...


Dia membuatku merinding.


Membuatku takut setengah mati.


Kumasukkan kembali kepalaku ke dalam selimut dan kupejamkan mata.


Aku dengar dia terus memanggil namaku dengan pelan. Suaranya sangat dekat dengan wajahku.


"Pergilah! Pergilah! Apa yang kau inginkan dariku?"

__ADS_1


Dia tidak merespon. Saat kusibakkan selimutku, makhluk itu telah lenyap.


__ADS_2