Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Lika-liku Penulis


__ADS_3

Bismillahirrahmaniirahiim..


Ini adalah cerita pertama yang Afda buat di noveltoon.. Afda harap, pembaca merasa nyaman dan suka dengan cerita yang Afda buat.


Happy reading🌹


πŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒπŸ“ƒ


"Besok ke cafe Babeh Rey, ada yang mau aku bicarakan!"


Bola mataku memutar malas membaca pesan masuk dari Arsen, editor naskah yang sedang aku garap untuk dijadikan sebuah novel.


Aku sudah tahu apa yang akan dia bicarakan. Sudah pasti tentang naskahku yang tak sebaik saat aku menulis di platform online.


Ya, aku sudah lama berkecimpung di dunia menulis fiksi. Berawal dari ajakan teman masa SMA yang merekomendasikanku platform baca secara online. Awalnya aku hanya menjadi pembaca di kisah-kisah novel keren, karya penulis hebat. Namun, lambat laun aku penasaran ingin merasakan menjadi author, hingga akhirnya aku mencoba menulis dengan tulisan yang masih sangat berantakan.


Dengan ide seadanya dan penulisan yang tak sesuai, membuatku terus menulis tanpa mau berhenti. Hingga suatu ketika aku merasa iri melihat karya temanku yang sudah memiliki banyak pembaca dan penggemar.


Dari rasa iri itulah aku mengubah dengan cara memperbanyak membaca novel dan memperbaiki penulisannya, hingga aku tak sadar sudah berada dititik merasa telah menjadi seorang penulis yang cukup handal.


Selama ini aku salah, bahwa bukan sifat iri yang aku tanam agar mencapai kesuksesan. Namun, keseriusan dan kerja keras lah yang harus aku tanam. Maka, saat ini aku mengubah rasa iri menjadi rasa ingin terus belajar.


Pembaca novelku semakin hari, semakin meningkat. Pengikutku pun menjadi semakin bertambah. Bahkan komentar positif membanjiri kalimat-kalimat yang kurangkai dalam setiap babnya.


Namun, hal itu tak selalu membuatku bahagia. Terkadang banyak juga yang memberi komentar tak baik. Aku memakluminya dan menganggap itu adalah saran-saran dari pembaca yang sangat menggemariku.


Aku membenarkan posisi tubuhku yang tengah tengkurap di atas sofa rumah yang berwarna abu tua. Kini, aku sudah duduk santai sambil menyandarkan punggung pada sofa empuk. Aku sampai lupa membalas pesan dari Arsen.


"Jam berapa? Jangan terlalu pagi lah. Kamu tahu sendiri kan, kalau pagi sampai siang hari waktunya aku untuk tidur."


Aku adalah tipe penulis yang mengeluarkan idenya disaat hari sudah gelap. Entah mengapa, saat gelapnya dunia hadir, membuatku fokus dan lancar untuk menulis. Maka dari itu, saat malam hari aku merangkap menjadi seorang kelalawar, dan akan tidur di siang hari.


Tak lama kemudian Arsen membalas pesanku.


"Jam empat sore."

__ADS_1


Aku menggerakkan bibir ke kanan dan ke kiri. Boleh juga. Lagian kalau sore biasanya aku sudah bangun dan akan mencari udara sore, lalu melanjutkan dengan menulis.


"Oke!"


Sepertinya ini adalah pesan terakhir kami. Arsen hanya membaca pesanku, tanpa ada niat untuk membalas lagi. Ah, lagian tak ada yang perlu dia bicarakan, karena besok akan ia keluarkan semuanya.


Tangan kananku yang bebas dari handphone meraba-raba meja kaca di depanku, mencari kacang gurih yang biasa kujadikan sebagai camilan. Untung saja aku tak memiliki keluhan kulit berjerawat, hingga aku tak perlu hawatir memakan kacang sepuasnya.


Tangan kiri-ku mensecrool layar, membaca komentar-komentar dari para pembaca karyaku.


Aku tersenyum kala mendapatkan notif yang sangat memuaskan.


'Kyaaa! Gila sih, gue ampe baper, kek tiba-tiba jadi si Anggi yang dibucinin parah sama si Babang Aldo!'


Bibirku tak ingin berhenti menarik kedua sudutnya ke atas. Komentar para pembaca adalah kebahagiaan yang tak perlu mahal-mahal untuk kudapatkan.


Saking senangnya, aku sampai menendang-nendang kaki meja, mengabaikan luka yang mungkin akan segera mencetak karyanya.


Namun, aku berteriak saat bersamaan merasakan kaki yang menendang kaki meja dengan sangat keras.


Jika ada bahagia, maka ada duka. Jika ada baik, maka ada jahat. Ya, itulah yang kini sedang aku rasakan.


Jika ada pembaca yang berkomentar baik, maka ada juga pembaca yang berkomentar julid. Seperti yang ini.


'Apaan sih, si author! Bikin cerita pasaran banget. Plis deh, ini bukan tempat jual beli!'


Rasanya geram sekali membaca tulisan yang tak memiliki rem pengemudi. Aku sangat sadar bahwa tulisanku memang sangat mudah ditebak, tapi bisakah dia untuk memfilter kata-katanya yang memungkinkan untuk menjatuhkan mentalku?


Jika dia tak suka dengan ceritaku, mengapa terus membaca hingga bab yang menuju akhir? Aku tak mengerti dengan tipe pembaca yang seperti itu.


Aku menarik nafas cukup lama, menormalkan rasa kesalku pada penggemar beratku. Ingin sekali membalas kalimatnya yang menyayat hati, tapi aku tak ingin memiliki sifat yang sama dengannya.


Kakiku yang memar, kuusap pelan agar denyut sakit sedikit memudar. Karena dirasa mulai membaik, aku akan pergi ke kamar untuk melanjutkan menulis naskah.


Namun, suara pintu yang terbuka membuatku berhenti untuk melanjutkan langkah.

__ADS_1


Di ambang pintu, aku melihat Ayah yang tengah memeluk mesra wanita yang bibirnya seperti habis minum darah.


Sudut kiri bibirku menyungging ke atas. Lagi-lagi aku harus mengotori mata untuk melihat pria yang dulu sangat aku banggakan tengah merapatkan tubuhnya pada wanita itu.


"Hai, calon putri tante. Senang bertemu denganmu. Kamu pasti tak sabar ingin terus melihat wajahku, bukan? Maka bersabarlah, sebentar lagi aku akan menjadi Ibumu."


Cih!


Aku menghembuskan nafas kasar, membuang wajah ke arah kanan. Melihat wanita itu membuatku kehilangan mood.


"Jangan pernah berharap aku akan menganggapmu Ibu! Sampai kapanpun, Bunda tak akan pernah tergantikan, apalagi oleh wanita, yang-" mataku meneliti dari atas kepalanya hingga high heels merah tuanya.


"Jaga ucapanmu!" sarkas Ayah, menghentikan ucapanku yang belum rampung.


"Mas, jangan marahi dia. Bagaimanapun aku tahu perasaannya, dan aku tak akan pernah membencinya."


Rasanya aku ingin sekali memuntahkan kacang-kacang favoritku. Wanita itu memang sangat licik dan jago bersandiwara.


Ayah mengangguk sambil menatapku, "Berterima kasih lah, pada calon Ibumu!" titah Ayah.


Aku tak akan pernah sudi untuk mengatakan terima kasih dan maaf untuknya.


Tanpa menjawab ucapan Ayah, dan tak melaksanakan perintahnya untuk mengatakan terima kasih pada wanita itu, aku memutar badan dan meninggalkan mereka berdua.


Aku berjalan tanpa ingin menengok ke belakang. Setelah kepergian Bunda membuat hidupku kian berubah.


Dua tahun yang lalu, Bunda meninggalkan aku untuk selamanya karena penyakit kanker getah bening.


Saat itu, aku ingin memberikan kejutan untuk Bunda. Namun, bukan Bunda yang mendapat kejutan, tetapi aku.


Belum sempat aku memberi kejutan untuk Bunda, Bunda terlebih dahulu mengejutkanku dengan hembusan nafas terakhirnya.


Kepergian Bunda meninggalkan luka yang teramat berat untukku. Ayah yang seharusnya menjadi figur kekuatanku, malah menjadi sosok yang semakin membuatku terluka.


Sosok Ayah yang dulu hangat padaku, kian menjadi acuh dan kasar. Ayah juga sering berganti pasangan, hingga kini Ayah lebih mementingkan hidupnya sendiri daripada aku.

__ADS_1


__ADS_2