
Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan Kiana, wanita yang aku benci. Aku benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Dengan tak tahu malunya ia datang di pagi hari.
Aku masuk dan melewati mereka begitu saja. Namun, suara Kiana menghentikan langkahku.
"Selamat pagi, Agatha tersayang."
"Mau tante buatkan sarapan?" tanyanya dengan suara sok lembut. Boro-boro terlihat manis, aku malah ingin sekali memuntahkan bubur tadi.
Enggan menjawab pertanyaan tak penting dari wanita itu, aku langsung melanjutkan langkah, mengabaikannya.
Di dalam kamar, aku hanya bisa duduk sambil memainkan handphone. Rasanya bingung sekali tak bisa melakukan apa-apa di pagi ini.
Ah. Daripada aku merasa jenuh, lebih baik aku mengganggu Arsen dengan chat yang tak penting.
[Arseeeen]
[Aku bangun pagi hari ini. Tadi habis Jogging, tapi sekarang bingung mau ngapain]
Hanya dua garis centang abu. Masih tak ada jawaban dari Arsen.
Aku mengayunkan kaki sambil menunggu jawaban dari Arsen. Kesal sekali menunggu balasan darinya.
Ting
Aku langsung membuka handphone, dan di sana Arsen membalas pesanku tadi.
[Bagus tuh. Setiap hari kamu harus bangun pagi dan berolahraga, biar sehat]
[Daripada bingung ngapain, mending kamu lanjut nulis lagi.]
Aku mengerucut sebal membaca balasan dari Arsen. Nulis, nulis, dan nulis. Lagi-lagi ia menyuruhku untuk melanjutkan menulis. Aku juga ingin berhenti menulis sesaat dan mencari kebahagiaan sendiri.
Huh! Arsen menyebalkan!
[Nyuruh mulu nulis. Pegel tau nulis mulu. Masa dari semalam sampai sekarang nulis aja!]
Ting
Arsen kali ini cepat membalasnya, karena ia juga sedang online.
[Ya terus, kamu mau gimana?]
Aku mengetuk-ngetuk jari pada dagu. Berpikir ingin melakukan apa.
[Ajak aku jalan-jalan lah, Sen. Bosan sekali diriku ini]
Ya. Itu yang tersemat dalam pikiranku. Di rumah seharian, membuatku sumpek. Aku ingin merefresh otak, dan memberi kepuasan untuk diri sendiri.
[Jalan-jalan sendiri aja sih. Aku harus ngedit naskah yang lain juga]
Menyebalkan. Dia selalu sibuk dengan naskah penulis yang lain.
[Gitu amat si, Sen. Please... Temenin aku, yaaaa]
[Nggak bisa, Tha. Aku sibuk]
Kalau sudah begini, aku jadi malas membujuknya. Ya sudah deh, kalau memang dia tidak mau menemaniku. Aku akan menghabiskan seharian ini dengan tidur.
__ADS_1
[Ya udah deh. Sana aja pacaran sama naskah orang]
Setelah itu, aku mematikan data. Bodoh amat, dia akan membalas apa.
Kini, aku hanya duduk menyandar pada dinding. Rasanya krik sekali karena tak tahu harus melakukan apa.
Ternyata menyesal juga karena aku bangun pagi.
Tiba-tiba saja, tenggorokanku terasa kering. Aku menginginkan satu gelas jus mangga dingin.
Tanpa membersihkan badan dan berganti pakaian, aku langsung turun ke bawah untuk membuat jus segar.
Ternyata di dapur ada Kiana yang tengah membuat nasi goreng dan secangkir kopi untuk ayah.
Dia menyungginggkan senyum kepadaku. Cih, aku tak akan pernah mau membalas senyumnya. Lagian, apaan tuh! Dia dengan tak tahu malu, menguasai rumah orang.
"Mau nasi goreng?" tawarnya padaku.
Aku menggeleng dengan tatapan sebal, "Nggak. Dan nggak akan pernah mau mengotori lambungku dengan masakanmu!" ucapku dengan sarkas.
Tak tahu, kapan Ayah datang ke dapur. Tiba-tiba saja suara itu mengintrupsi aku untuk berhenti berbicara tak sopan pada wanita itu.
"Agatha! Ayah nggak pernah ngajarin kamu berbicara tak sopan seperti itu!"
Aku menoleh padanya dan menatap sinis ayah.
"Ayah emang nggak pernah ngajarin aku seperti ini, tapi aku bisa belajar sendiri dari luar sana,"
Mataku tertuju pada kepalan tangan ayah di samping pahanya. Aku semakin menyeringai sinis. Ayah memang tak akan bisa menjadi ayah yang dulu.
Satu umpatan pagi ini aku dapatkan dari ayah. Aku menggerakkan lidah menyentuh pipi dalam, sambil kepalaku dianggukan ringan.
"Mas... Udah, nggak usah marah-marah sama dia."
Bak pahlawan kesiangan, wanita itu datang mendekati ayah, tangannya mengusap bahu ayah.
Pemandangan yang menjijikan.
Amarah ayah menjadi padam hanya dengan perlakuan wanita itu. Hah! Aku akui, wanita itu mampu menghipnotis ayah, yang aku sendiri tak bisa melakukannya.
"Mas, duduk saja ya. Biar aku siapkan nasi goreng. Ah iya, ini kopi kesukaan kamu."
Ayah menurut, ia langsung duduk anteng sambil meminum kopinya. Sementara itu, Kiana sibuk memindahkan nasi goreng ke dalam piring.
Aku tak mau terlalu lama melihat keduanya. Aku langsung saja mengambil mangga dan susu cair. Kemudian aku iris dan masukkan ke dalam blender.
Padahal menunggu jus menjadi lembut tak butuh waktu lama, tapi aku ingin sekali pergi dari dapur. Malas mendengarkan obrolan ayah dan wanita itu.
Aku bisa bernafas lega, karena jus manggaku sudah lembut. Setelah dituangkan ke dalam gelas, aku langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Sesampainya di kamar, aku kembali duduk menyandar sambil meminum jus segar.
Handphone di sampingku bergetar dan membunyikan suara. Aku sudah hafal betul, kalau bunyi ini adalah adanya panggilan telepon.
'Arsen'
__ADS_1
Melihat nama di layar handphoneku, aku segera mengangkatnya.
"Ada apa?" tanyaku cuek.
"Cepetan keluar!"
Jawabnya di seberang sana. Sontak saja aku tersedak jus yang sedang aku teguk.
"Keluar ke mana?"
Dia berdecak.
"Keluar rumah lah!"
Hah! Aku menganga lebar. Ngapain dia menyuruhku keluar rumah?
"Mau apa, Sen?"
Dia berdecak lagi. Sepertinya kesal sekali mendengar jawabanku yang malah memberi banyak pertanyaan.
"Katanya tadi pengen jalan-jalan. Gimana sih?"
Aku melongo mendengar ucapan Arsen. Jadi, maksudnya dia ada di depan untuk menjemputku? Yang benar saja! Dia kan tadi menolak, dan tiba-tiba ada di depan rumah.
"Kamu kan tadi nolak. Gimana sih, kok tiba-tiba ada di depan rumah? Kamu nggak kabarin aku sebelumnya," jawabku kesal.
"Coba cek whatsappnya. Kamu sendiri yang nggak aktif,"
"Ck! Ya udah. Bentar, aku mau keluar!"
Tuut
Aku memutuskan sambungan sebelah pihak.
Aku menyimpan gelas sembarang, sampai menimbulkan bunyi yang nyaring. Langsung saja aku berlari menuruni tangga.
Dan benar saja, Arsen sudah menunggu di dalam mobilnya.
Dia menatapku datar, "Buruan naik!" perintahnya.
"Aku belum mandi. Habis Jogging tadi, aku belum mandi lagi,"
Laki-laki itu berdecak kesal, lalu menyandarkan tubuhnya dengan pasrah.
"Malas banget sih! Harusnya kalau mau ngajak jalan-jalan, kamu harus persiapkan diri dulu. Mandi, misalnya," omel Arsen.
Aku memutar bola mata malas. Lagian suruh siapa dia mengambil langkah sendiri.
"Dadakan banget sih! Kamunya aja yang tiba-tiba berangkat, sebelum ada balasan dari aku!" aku balik mengomelinya.
"Udah, buruan mandi sana. Jangan lama-lama!"
Aku mengangguk dan berbalik badan, tanpa menawarkan Arsen masuk ke rumah. Kemudian aku berlari untuk membersihkan badan.
Seperti kata Arsen, aku mandi dengan sangat cepat. Setelah itu, aku mengoles sunscreen, bedak dan lipstik tipis.
"Ayo!"
__ADS_1