
Aku terbangun saat alarm handphone berbunyi. Kedua tanganku direntangkan ke atas, hingga timbul bunyi dari tulang-tulang.
Semalam aku menyelesaikan tiga bab, dan tidur saat hari sudah pagi. Aku tidur pada jam 4 pagi lalu terbangun jam 11 untuk mengganjal perut yang berbunyi. Setelah mengisi perut, aku membersihkan diri dahulu dan dilanjutkan tidur lagi sampai jam 3 sore.
Aku memang tidak tahu waktu dan tidak bisa membagi waktu dengan baik. Asal naskah selesai, maka waktu terbaik bagiku adalah tidur.
Selimut yang membalut tubuh rampingku langsung disingkap. Aku ingat dengan pesan Arsen kemarin yang memintaku untuk ke Cafe Babeh Rey.
Aku mandi dengan kecepatan tinggi. Meski seorang wanita, aku sangat malas untuk melakukan perawatan khusus. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa aku adalah wanita cantik yang rajin merawat tubuh.
'Kulit kamu bersih banget, pasti perawatannya mahal!'
'Ih, aku pengen deh punya rambut panjang, bergelombanh, dan lembut kayak kamu.'
'Kalau aku jadi kamu, aku pastikan menjadi seorang model terkenal. Aduh, body kamu bikin aku menangis.'
'Kamu makan apa sih? Kok tubuhnya bisa sebagus itu?'
Itulah deretan kalimat yang seringkali aku temui. Padahal menurutku, badan yang aku miliki terlalu kurus. Namun, orang lain sangat mendambakan tubuh kurusku.
Tinggiku 160 cm, dengan berat badan 45 kilo. Kulitku kuning langsat. Rambut hitam legamku sepanjang pinggang. Mataku besar dengan bulu mata yang cukup lentik. Hidungku yang tidak begitu mancung ini peninggalan Bunda. Bibirku tipis, dengan warna merah alami.
Seusai mandi dan telah rapi mengenakan pakaian, aku menarik kursi, lalu duduk di depan meja rias.
Tanganku mengambil pelembab wajah dan dioles merata. Dilanjut dengan memakai bedak tipis dan tahap terakhir adalah lipstik berwarna peach.
Rambutku dibiarkan tergerai begitu saja tanpa bantuan tali rambut atau jepitan.
Aku meneliti kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana jean panjang. Setelah dirasa puas, aku tersenyum menatap pantulan diriku yang sangat natural.
Suara dering di handphoneku terus berbunyi. Aku hanya menatap layar yang menampilkan nama Arsen, tak ada minat untuk mengangkatnya.
Kuraih tas selempang warna hitam yang tergantung di tempat khusus untuk berbagai macam tas selempangku.
Suara dering yang terus berbunyi, membuatku kesal, dan pada akhirnya aku mematikan handphone lalu dimasukkan ke dalam tas selempang.
***
Saat menuruni tangga, aku sudah melihat pemandangan yang membuat perutku bergejolak ingin muntah.
Di sofa tempat menonton tv, wanita menyebalkan itu asik bersandar pada pundak Ayah.
Aku hanya melirik mereka sekilas, tanpa berkata apapun.
"Mau kemana?" tanya Ayah.
Aku mengabaikan pertanyaan Ayah, dan melanjutkan untuk melangkah sampai pintu depan. Namun, suara Ayah lagi-lagi terdengar. Mau tak mau, aku harus menjawabnya.
"Bukan urusan Ayah!" jawabku tanpa menengok ke belakang.
__ADS_1
***
Aku sudah sampai di halaman Cafe Babeh Rey. Cafe ini setiap harinya sangat ramai. Banyak para mahasiswa menongkrong, atau mengerjakan di Cafe Babeh Rey. Selain harganya yang murah, Cafe ini menyediakan fasilitas wifi gratis. Jadi, mahasiswa mana yang tak ingin ketinggalan gaya dengan budget murah? Dulu pun, saat aku masih menjadi mahasiswi, hampir setiap hari ke tempat ini hanya untuk menongkrong dengan teman-teman, atau untuk mengerjakan tugas.
Aku memberikan uang yang pas pada bapak ojek online yang telah mengantarkanku.
Helm yang diberikan bapak grab, langsung kuberikan kembali dan berjalan untuk menemui Arsen.
Dari luar pun, aku bisa melihat Arsen yang tengah duduk membelakangiku. Dia mengenakan kaos hitam, kaos yang selalu dikatakan para kaum wanita, bahwa semua laki-laki akan terlihat sangat tampan jika mengenakan kaos hitam. Entah benar atau tidak, tapi sepertinya aku belum bisa menyetujuinya.
Aku masih berdiri, enggan masuk ke dalam. Tanganku merogoh tas untuk mengambil handphone, lalu mengaktifkannya.
Baru saja handphoneku aktif, Arsen sudah menelepon berulang kali. Aku terkekeh melihat layar handphone yang menampilkan nama Arsen. Biar saja, aku ingin mengerjainya.
"Di mana?" pesan terakhir Arsen yang muncul di aplikasi berbalas pesan.
Aku mengcuhkan pertanyaannya. Sebelum melanjutkan untuk melangkah ke dalam, aku merapikan lagi pakaianku.
"Ekhm!" dehemku saat berdiri di samping Arsen.
Kepala Arsen bergerak seiring suaraku yang keluar untuk berdehem. Alis tebal milik Arsen berjajar seperti sedang menghakimiku.
Arsen, lelaki yang memiliki postur tubuh tinggi dan tegap. Rambutnya rapi dengan rambut depan yang menutupi keningnya. Kulitnya putih bersih, dengan mata yang tipis yang dipakaikan kacamata. Rahangnya tegas, setegas dirinya dalam menghadapi sikapku.
Banyak orang yang menyebutkan, bahwa Arsen adalah lelaki yang amat tampan, sekali menatap langsung kepincut. Meski Arsen, lelaki berkacamata, tapi tak memungkiri bahwa kharismatiknya mampu meluluhkan hati wanita. Namun, aku menyalahkan ucapan mereka. Buktinya aku tak pernah terpesona dengannya. Ya, memang dia tampan, tapi aku tak bisa memiliki perasaan lain hanya dengan melihat ketampanannya yang terlihat biasa saja di mataku.
Arsen mendelik tajam ke arahku. Wajahnya sangat kentara kesal telah menungguku. Aku menyengir, dan mengucapkan maaf padanya.
"Duduk!" titah Arsen. Aku mengangguk dan mendudukkan pantat di atas kursi yang berhadapan dengannya.
"Sudah jam berapa sekarang?" tanya Arsen, tapi lebih terdengar menyindirku.
"Empat lewat lima belas." jawabku malas.
"Kamu telat 15 menit!"
Aku mengerucutkan bibir. Hanya 15 menit pun, dia sudah sekesal ini.
"Baru 15 menit, belum 2 jam." sanggahku.
Namun, tatapan Arsen seperti ingin membunuhku. Mulutnya sudah tertangkap okeh indera penglihatanku, bahwa sebentar lagi dia akan memberikan banyak ceramah.
"Kamu tuh gimana sih? Harusnya disiplin waktu."
Aku menebak, pasti sesi pengocehan akan segera dimulai.
"Setelah wisuda tahun lalu, aku kira sifat kamu akan berubah. Namun, aku salah, kamu tetap tak ingin berubah!"
Benar saja. Arsen sudah mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang dia harapkan dapat menyadarkanku.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak punya keahlian di bidang menulis, aku tidak tahu, apakah ada perusahaan yang ingin merekrut karyawan sepertimu."
Kata-kata Arsen memang sangat nyelekit. Namun, aku sudah kebal dengan segala amukannya. Lagian, memang aku juga yang salah.
Setahun lalu, saat usiaku 21 tahun, aku telah dinyatakan menjadi seorang sarjana. Di saat semua temanku sibuk mencari pekerjaan atau melanjutkan ke jenjang S2, aku malah masih berdiam diri. Rasanya sudah tak ada semangat mencari pekerjaan. Lagian, aku sudah berpangku tangan pada pekerjaan menulisku.
Sejak semester awal, aku sudah mulai fokus pada menulis. Jurusan yang kuambil, tidaklah sesuai dengan cita-citaku yang ingin menjadi seorang penulis. Oleh karena itu, saat telah lulus menjadi mahasiswa, aku sudah fokus dengan naskah-naskah yang akan kugarap.
"Maaf." hanya itu yang keluar dari bibirku.
Arsen menghela nafasnya. Aku sangat tahu kekesalan dia yang selalu menerima sifatku. Dia lah, satu-satunya editor yang sangat setia menemani jalan terjal yang kulalui.
"Besok juga bakal diulangi lagi." balas Arsen malas.
Aku malah memamerkan gigi rapiku. Arsen adalah tipe lelaki yang terkadang jutej, terkadang manis, terkadang kalem, terkadang juga nyebelin.
"Jangah bosen-bosen ya, ya, ya?" mataku dikedip-kedipkan, agar Arsen setuju.
"Hmm." ucapnya, pasrah saja dengan kelakuanku.
"Terima kasih, Arsen!" ucapku girang.
ππππππππππππππππππ
...Hai haiπ...
...Afda mau ngasih visual nih, biar semakin enak halunyaπ...
...Cekπππ...
...πΈAgatha GianinaπΈ...
βοΈ Gadis cantik, baik, tapi keras kepala. Terkadang kekanakan.
βοΈ Usia 22 Tahun.
βοΈ Penulis.
βοΈ Pecinta camlilan kacang gurih.
...πΈArsen Danantya LesmanaπΈ...
βοΈ Laki-laki tegas, tetapi perhatian.
βοΈ Usia 28 Tahun.
βοΈ Editor.
__ADS_1