
Selama 15 menit aku duduk ditemani kebosanan, kini Arsen telah keluar. Sebentar, ada yang aneh dari wajah dia. Wajah Arsen terlihat lesu, sepertinya dia punya kerjaan yang cukup menguras waktunya.
Aku berdiri untuk menghampirinya dan kemudian menarik tangan Arsen untuk duduk di tempat yang tadi aku duduki.
"Ada apa, Sen?"
Sebelum menjawab pertanyaanku, dia terlebih dahulu menyandarkan punggungnya pada dinding. Hembusan nafas berulang kali terdengar gusar.
"Maaf,"
Maaf? Kenapa harus minta maaf? Aku kan hanya bertanya, sesuatu apa yang telah terjadi, kenapa juga harus meminta maaf.
"Aku nggak bisa nepatin janji buat temenin kamu jalan-jalan ke tempat yang kamu mau,"
Aku menghela nafas, ikut bersandar pada dinding yang sama. Pantas saja dia meminta maaf, ternyata hari ini aku tak bisa berjalan-jalan sepuas hati dengan Arsen.
"Emangnya ada apa? Ada kerjaan mendadak?"
Benar. Arsen langsung mengangguk, ia menoleh padaku.
"Hari ini tiba-tiba aja bu Lidia minta aku buat ikut dampingi mbak Bella diacara talkshow karyanya yang lagi diminati oleh kaum remaja, sekalian mau ngomongin kapan launching bukunya,"
Bella? Sepertinya aku sedikit familiar dengan nama itu. Kalau tidak salah, dia penulis yang sedang naik daun tahun ini dengan karyanya yang mengangkat kisah 4 orang bersahabat yang masing-masing tokohnya mempunyai problematika dalam keluarganya. Ada kisah cinta yang unik juga di sana, di mana cinta hadir dengan saling bersilangan. Aku sendiri sangat suka dengan karya Bella, dia mampu menuliskan bagaimana perasaan yang tak mudah untuk diungkapkan oleh seorang remaja.
"Bella? Woah, aku inget sama nama itu. Diam-diam juga aku selalu membaca kisahnya melalui platform online. Gila sih, ceritanya bagus banget. Meskipun kisah itu di latar belakangi oleh remaja, tapi aku yang nggak dikatakan remaja lagi juga ikut merasakan,"
Alis kiri Arsen terangkat, dia cukup terkejut mendengar aku yang ikut antusias dengan acara talkshow dan launching bukunya Bella. Dia kemudian menegakkan tubuhnya.
"Kalau gitu, kamu mau ikut sama aku ke sana? Kan kamu juga salah satu fans karyanya,"
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangguk. Lumayan lah, aku sangat jarang pergi ke acara talkshow karena sibuk dengan menulis.
"Ayo!"
Arsen berdiri dan menarik tanganku. Sambil berjalan, kami membicarakan tentang talkshow yang akan dibuka saat jam 10 pagi.
"Oh iya. Katanya di sana juga ada bazar kaos, diskon 15 persen kamu bisa dapet satu box kue dan satu cup es pelangi rindu seperti di dalam ceritanya. Bisa sekalian minta tanda tangan juga,"
Keren! Aku tak sia-sia ikut dengan Arsen kerja. Kaos yang di nanti-nanti bisa aku beli dengan mendapatkan potongan harga, terus juga dapet bonus box kue dan es pelangi rindu. Es pelangi rindu adalah es yang menjadi favorit keempat sahabat itu, es yang berada dalam cerita 'Sahabat, jangan ada cinta diantara kita'. Aku sangat penasaran dengan rasa es itu.
"Woah. Gila, gila, gila. Aku nggak akan nyesel diajak kamu kerja kalau dapet benefit yang plus plus. Kyaaa, bang Arsen makasih banyak," ucapku dengan riang sambil menarik-narik tangan Arsen.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan ganggu aku di sana ya,"
Aku mengangkat tangan membentuk hormat, "Siap!"
ππππππππππππππππππ
Acara talkshow diadakan di taman Elok, Bella sengaja menggelar acara di sana. Karena sasaran Bella adalah remaja, maka ia pintar sekali mengambil strategi promosi yang bagus. Acara talkshow gratis dengan bazar kaos diskon pasti akan segera diserbu oleh kaum remaja.
Aku bisa melihat betapa banyaknya orang-orang menghadiri talkshow gratis. Bukan hanya remaja, tapi juga ada banyak orang tua yang menghadiri.
"Keren banget, Sen. Aku iri banget sama Bella, belum bisa setenar dia," kataku tanpa berhenti menatap panggung sana.
Satu ketukan dari topu Arsen membuatku menoleh sebal padanya.
"Makanya kalau mau kayak dia, harus banyak belajar, cari referensi, perbanyak pengalaman, jangan suka tidur, dan paling penting selalu menjadikan nulis adalah prioritas kamu,"
Aku cemberut mendengar Arsen yang mengomel.
"Aku denger, katanya dia nggak main-main buat kisah itu. Beberapa hal dia lakukan, bahkan sampai mewawancarai remaja," lanjut Arsen. Sementara, aku hanya menatapnya kesal sambil melihat kedua tangan.
"Turun gih,"
"Bukain lah,"
Hih. Semakin sebal saja pada pria itu. Sebelum keluar, Arsen memakaikan topi yang tadi dia gunakan untuk menepuk kepalaku. Topi putih polos yang amat aku kenal, topi pemberianku tahun lalu sebagai hadiah ulang tahunnya.
Aku sudah keluar dari mobil, mengikuti Arsen yang berjalan ke tenda di balik panggung.
Seorang wanita seusai denganku tersenyum lebar pada Arsen, matanya tajam henti menatap Arsen dengan dalam.
"Mas Arsen ya?" tanya wanita itu dengan suaranya yang lembut sekali.
Arsen mengangguk sambil membalas senyum wanita itu. Huh! Aku dikacangi deh.
"Iya. Mbak Bella kan? Maaf ya saya datang terlambat,"
Oh. Jadi, dia yang namanya Bella? Aku baru tahu, karena di profilnya tak memakai fotonya.
Tubuhnya tinggi, lebih tinggi dariku. Rambutnya sebahu, kulitnya putih bening, matanya sipit dan bibirnya juga tipis. Cantik. Tapi sepertinya lebih cantik aku.
Bella mengibaskan tangannya, "Ah, nggak kok, Mas. Malahan aku harusnya minta maaf karena kamu yang gantiin teh Aini. Seharusnya teh Aini yang temenin aku, cuma karena dia habis melahirkan jadinya bu Lidia kasih saran buat diganti sama mas Arsen. Sekali lagi maaf ya, mas,"
__ADS_1
"Nggak apa-apa mbak. Saya juga senang,"
Hah? Senang? Tak salah tuh? Padahal tadi setelah keluar dari ruangan bu Lidia, wajahnya terlihat lesu, kecut, dan tak bersemangat. Namun, sekarang dia bilang senang? Ah, laki-laki memang bisa saja berucap manis pada wanita yang glow up.
"Ya udah mas. Duduk dulu di sini, sekitar 10 menit lagi acara dimulai."
Arsen mengangguk, ia menarik tanganku untuk ikut duduk dengannya.
Dua cappuccino segar sudah berada di atas meja mini yang disajikan untuk Arsen dan aku.
"Tha, kamu nanti jangan jauh dari aku ya. Nanti aku awasi mbak Bella dari bawah aja,"
Aku hanya mengangguk sambil meneguk minuman segar itu.
"Nggak usah ikut ngantri beli kaos, biar aku aja yang bilang langsung sama asistennya mbak Bella biar sisain satu buat kamu,"
Aku hanya mengangguk lagi, membuat Arsen jengah melihatku.
"Kamu kenapa diem aja? Sariawan? Atau nggak suka di sini? Tadi katanya pengen banget ikutan, nggak nyesel juga,"
Iya sih, aku tidak menyesal ke sini, hanya saja... Aku sedikit tak suka mendengar Arsen menyebut nama Bella dengan embel-embel mbak.
"Suka kok. Cuma aku risi aja denger kamu sebut namanya pake embel-embel mbak. Kan dia juga sepantaran sama aku,"
Wajah Arsen terikat heran mendengar aku berbicara seperti itu.
"Kamu mau aku panggil mbak juga?"
Aku langsung menoleh padanya sambil mengibaskan tangan.
"Ih, nggak mau. Orang aku aja lebih muda dari kamu,"
"Ya udah, kenapa harus risi gitu sih? Kan aku juga harus menghormati klien. Yaaa terkecuali kamu,"
Hadeuh. Baiklah. Aku memutar bola mata malas. Pagi yang mulai panas membuat aku semakin gerah karena berantem dengan Arsen.
"Yuk, ke sana. 3 menit lagi mau mulai." kata Arsen yang sudah berdiri.
Bersambung...
...Hallo semuanya!...
__ADS_1
...Afda mau rajin Update nih. Bantu semangatin Afda ya. Jangan lupa klik β€οΈ, komen dan juga shareπ€...
...Terima Kasihπ€...