
Sudah satu minggu ini aku hidup bersama dengan Kiana dan Andra. Aku merasa tak nyaman, karena tingkah Andra kian hari semakin kurang ajar.
Aku sudah bicarakan tentang ini pada Arsen dan meminta bantuan padanya. Arsen bilang, kalau nanti Andra semakin kurang ajar, maka Arsen akan membantuku pindah.
Sore ini, ayah dan Kiana akan pulang malam karena harus bertemu dengan kolega bisnis ayah.
Sore ini juga, aku dan Andra hanya berdua. Hal ini yang sangat membuatku takut.
Aku menelepon Arsen untuk meminta bantuannya.
"Arsen..."
"Ada apa, Tha?"
"Sore ini ayah sama si Kiana akan pulang malam, dan aku di rumah sendirian. Sebentar lagi Andra pulang dari kerjanya. Aku... Aku mau minta tolong kamu,"
"Iya, Tha. Bilang aja, kamu mau aku gimana?"
Aku menggigit jari telunjuk sambil menatap langit-langit kamar, karena posisiku sedang tiduran.
"Kamu bisa ke sini? Kamu hanya perlu tunggu di mobil. Nanti kalau Andra melakukan hal kurang ajar, aku bisa mudah minta tolong kamu. Kalau pun hal itu nggak akan terjadi, setelah ayah pulang, aku mau pergi dari rumah. Aku mau ngekost aja,"
"Apa!" teriak Arsen di sana, mungkin dia terkejut dengan apa yang aku katakan.
"Aku mohon, Seeen. Kehadiran Andra di sini semakin membuat aku nggak nyaman. Satu-satunya cara biar aku merasa aman, maka aku harus pergi dari rumah ini," jelasku.
Tak ada gunanya menunggu hari di mana Andra semakin kurang ajar, agar aku bisa dibawa pergi oleh absen. Lebih baik aku pergi dari sekarang saja.
"Kamu serius?" tanya Arsen memastikan aku.
Aku mengangguk yakin. Tak ada yang perlu aku ragukan untuk meninggalkan rumah ini, karena ayah juga sudah tidak peduli lagi denganku.
"Aku serius, Sen. Kamu cepetan ke sini ya, aku udah siapin tas buat kabur,"
Helaan nafas di sana membuatku sedikit berat. Arsen sepertinya keberatan dengan ideku.
"Ya udah, kalau kamu nggak bisa, aku bisa pergi sendiri," kataku pasrah. Biarkan saja kalau Arsen keberatan, aku masih punya dua tangan dan dua kaki untuk kugunakan dengan baik pergi dari sini.
"Jangan! Aku mau bantu, kamu tunggu di sana dan kalau ada apa-apa aku langsung ke sana. Jangan matikan teleponnya ya?"
Senyumnya terulas lega. Syukurlah, Arsen mau mendengar keinginanku. Kalau bukan Arsen yang kumintai pertolongan, maka harus pada siapa lagi? Hanya dia satu-satunya orang yang tak pernah lelah membantuku.
"Makasih, Arseeeen,"
"Hmmm."
Setelah itu, Arsen tau lagi bersuara, mungkin dia tengah bersiap-siap untuk sampai ke sini.
Aku berdiri dan melihat ke bawah. Senyumku kembali terulas. Sebelum Andra melakukan hal yang aneh-aneh, aku sudah terlebih dahulu mengabari Arsen untuk menungguku di tempat yang tak jauh dari rumah.
__ADS_1
Mumpung Andra belum pulang, aku harus membawa beberapa tas ke bawah dan di taruh di tempat sepi, biar saat nanti aku kabur, tinggal langsung masukkan koper ke mobil Arsen.
Aku sudah menaruh dua koper di semak-semak samping rumah.
"Lagi apa kamu?"
Deg
Suara Andra mengagetkanku. Semoga saja dia tidak melihat kegiatan aku yang tadi tengah menaruh koper.
Aku membalikkan tubuh. Di sana Andra berdiri masih dengan pakaian kerjanya.
"O-oh... Ini, aku lagi nyari kucing yang kemarin nggak sengaja ketemu di sini,"
Andra mengangguk tanpa curiga. Syukurlah, aku bisa bernafas lega.
Tapi sepertinya aku tidak menyadari kedatangan Andra karena tak mendengar suara mobilnya.
"Mobilnya... Ke mana?" tanyaku heran.
"Oh, di bengkel,"
"Di rumah nggak ada siapa-siapa kan?"
Deg
Aku lagi-lagi sangat terkejut dan takut karena Andra bertahan seperti itu. Aku memundurkan langkah dan beralasan ingin pergi ke warung.
Namun, aku sangat terkejut saat Andra tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganku. Dia... Dia mau apa?
"Lepasin! Kamu nggak denger, aku mau ke warung!" teriakku.
Andra tak mendengarkan teriakanku, dia semakin keras mencekal pergelangan tangan dan menarik paksa aku untuk ke dalam.
Air mataku tiba-tiba saja lolos. Arsen, apakah kamu sudah datang? Aku... Aku sangat takut saat ini.
"Arsen... Bantu aku..." gumamku.
Saat aku tiba di dalam rumah, tiba-tiba saja tanganku yang satunya ditarik oleh seseorang. Sontak saja aku langsung menoleh. Ternyata Arsen.
Mataku berkaca-kaca mendapati Arsen yang kini tengah berusaha membantuku.
"Arsen?"
Andra yang sadar kalau ada orang yang juga menarik tanganku, dia langsung menoleh ke belakang.
"Siapa lo?" Andra berapi-api mendapati Arsen.
Arsen mengalihkan pertanyaan tak penting dari Andra, "Lepasain dia!" ucapnya dengan sengit.
__ADS_1
Andra tertawa hambar, "Lo siapanya dia, hah?! Nggak Usha ikut campur urusan orang lain!" balas Andra.
Satu tarikan. Arsen berhasil menarik aku hanya dalam satu tarikan. Aku bersembunyi di balik tubuhnya.
"Gue seseorang yang akan menjaga dia, dan gue nggak akan pernah membiarkan dia disentuh oleh orang semacam lo!"
"Sialan!" umpat Andra.
Tiba-tiba saja Andra memukul Arsen, sontak saja aku teriak, antara ketakutan dan terkejut dengan pukulan tiba-tiba itu.
Arsen tak diam saja. Dia membalas pukulan dari Andra.
Aku kembali berteriak meminta tolong pada orang-orang sekitar. Namun, sungguh sangat sial, karena tiba-tiba sana hujan mengguyur dengan deras dan membuat teriakanku hanya sia-sia.
"Berhenti! Andra, berhenti pukul Arsen!"
Andra menatapku tajam, dia terus memukul Arsen. Saat itu juga, aku menangis di bawah guyuran hujan. Aku sakit saat melihat Arsen dipukul bertubi-tubi.
Namun, tak kusangka kalau Arsen berhasil menumbangkan Andra. Andra jatuh tergeletak tak berdaya di atas tanah kotor itu.
Arsen menarik tanganku dan membawaku pergi dari sana.
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
Aku dan Arsen sudah berada di dalam mobil. Koperku juga sudah dimasukkan oleh Arsen tadi.
Aku meringis melihat Arsen yang babak belur karenaku.
"Arsen..."
Arsen menoleh padaku dan memberikan senyum menangkannya.
"Nggak apa-apa. Ini nggak sakit, kok,"
Bohong. Bagaimana bisa itu tidak sakit? Bahkan wajah Arsen penuh lebam dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Maafin aku, hiks..."
"Bukan salah kamu. Kamu benar, kalau lebih baik pergi sekarang daripada menunggu hari sialan itu tiba,"
"Te-terus, sekarang aku mau kamu bawa ke mana? Aku belum sempet nyari kosan, apalagi sekarang lagi hujan besar,"
Arsen mengelus kepalaku, dia tertawa pelan.
"Tenang aja, aku udah siapin. Sekarang kita langsung ke sana, dan kamu nggak perlu khawatir lagi. Tapi maaf, aku cuma bisa nyari kosan yang kecil, karena temenku kasih tau di sana,"
Aku tersenyum. Aku sangat bersyukur. Tempat kecil tak menjadi masalah untukku, daripada aku harus tinggal di tempat besar tapi tak memberikan aku kenyamanan.
"Nggak masalah. Terima kasih banyak,"
__ADS_1
"Nggak masalah."