
...Sebelum baca, Afda mau sapa readers dulu ahπ...
...Hai readers setiakuπ How are you? Semoga baik ya. ...
...Aku mau ngucapin terima kasih banyak udah mampir ke cerita pertama aku. Semoga kalian suka dan isi Ceritanya bisa memberi manfaat baik. Namun, pastinya ada aja kekurangan dalam cerita ini, karena bagaimana pun juga Afda cuma penulis yang masih dalam tahap belajar, jadi semoga kekurangan dan kesalahan yang Afda buat bisa diperbaiki. Oleh karena itu, Yuk komen dan beri krisar yang membangun.π€...
...Afda minta bantuan vomentnya, biar bisa bikin semangat buat terus update cepat. Semoga nggak keberatan yaπ€...
...Okedeh, langsung aja baca eps terbarunyaaaaπ...
Ta-daaaa!
Happy readingπ»
πππππππππππππππππππ
"Jika hari ini kamu berada di posisi yang sangat hancur, dan ada seseorang yang mampu dengan segenap jiwa membantumu dengan cinta. Apa yang akan kamu balas?"
"Untuk tantangannya, kamu sebut nama seseorang itu dan katakan perasaan padanya. Kalau ada orangnya di sini, maka kamu harus memanggilnya ke atas panggung ini."
Apa yang akan aku balas saat ada seseorang yang membantuku dengan cinta? Aku tak yakin akan membalas apa, karena pembalasanku akan mengalir dengan sendirinya tanpa mengumbar janji pada diri sendiri.
Lalu, kepada siapa aku mengungkapkan perasaan? Ini pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu.
Namun, aku harus menjawabnya. Aku harus tahu apa jawaban yang mungkin selama ini tidak kusadari.
"Bagaimana, mbak Agatha?" desak Bella membuat aku tersadar.
Aku mengerjapkan mata. Kepalaku menoleh pada kediaman Arsen di sana. Aku menatap Arsen dengan sangat dalam dan dibalas senyum olehnya.
Hatiku sedikit lebih lega setelah mendapat senyum dari Arsen. Mungkin, jawaban yang akan aku berikan merupakan hal yang selama ini terkurung padaku.
Aku mendekatkan mikrofon. Sekali lagi, aku menoleh pada Arsen.
"Baik. Saya akan menjawab."
"Saya tidak tahu apa yang akan saya balas pada seseorang yang telah membantu saya tanpa pamrih. Saya bukan tak ingin membalas kebaikannya, hanya saja saya tidak mau berjanji pada diri sendiri. Tapi saya akan membalasnya sesuai dengan rencana yang mengalir begitu saja, tanpa sepengetahuan sebelumnya. Yang terpenting, saya akan melakukan hal terbaik untuk orang tersebut, meski mungkin hal itu belum menjadi yang terbaik buatnya."
Bella, orang yang pertama kali memberi tepuk tangan atas jawabanku.
"Woah! Saya sangat suka dengan jawaban kamu. Saya juga sependapat dengan apa yang kamu jelaskan. Bagi saya, memberikan janji pada diri sendiri adalah kebodohan yang saya tanam. Awal mula mengingkari janji kepada orang lain, bisa berawal dengan janji pada diri sendiri yang tidak ditepati."
__ADS_1
"Mungkin tidak semua sependapat dengan saya dan mbak Agatha. Seperti yang kalian tahu, setiap orang mempunyai jawaban dan alasan sendiri." lanjut Bella tak henti tersenyum dan itu berhasil membuat penggemarnya menerima dengan senang hati jawabannya.
"Selanjutnya, silakan mbak Agatha melakukan tantangan yang saya berikan tadi."
Aku menarik nafas dalam serta memejamkan kedua mata.
"Sebelum saya menyebut namanya, izinkan saya mengungkapkan terlebih dahulu." ucapku masih memejamkan mata.
"Ada terima kasih yang amat banyak dan sulit saya katakan satu persatu. Ada banyak kebaikan yang masih belum saya balas. Problematika kehidupan saya sama dengan para tokoh dalam cerita mbak Bella, yang tak mudah untuk dilalui. Namun, berkat seseorang itu, saya lebih berani dan kuat menghadapinya."
Aku kembali menoleh pada Arsen, dan tersenyum tulus padanya. Tanpa kusangka, Bella dan semua orang yang menyaksikan ikut menoleh ke arah Arsen.
"Terima kasih banyak, Arsen. Tanpa kehadiran kamu dalam hidupku, aku bukanlah apa-apa."
"Biarkan saya sedikit bercerita. Setahun lalu, saya pernah diposisi mbak Bella yang mampu menjadikan karyanya best seller, hanya saja saya belum sehebat mbak Bella yang mengadakan talk show,"
"Tapi bagi saya, tahun itu merupakan tahun terbaik bagi saya. Tentu saja semuanya berjalan karena bantuan Arsen sebagai editor naskah saya. Dia yang memberi saran serta bimbingan untuk saya mengevaluasi kekurangan serta ketidak sempurnaan saya."
Aku tidak berbohong. Berkat Arsen, aku berhasil pada tahap yang cukup tinggi untukku. Keberhasilanku dalam menulis, itu juga ada campur tangan Arsen.
Selin itu, Arsen sudah begitu sabar menghadapi sikapku yang membuat darahnya naik. Maka, tak ada alasan lain untuk menyebut nama orang lain, karena hanya Arsen satu-satunya orang yang menemaniku tanpa syarat.
Kau tahu bagaimana ekspresi Arsen saat ini? Dia terlihat sangat terkejut sampai menyemburkan kopi yang baru saja ia minum, apalagi semua tatapan tertuju padanya.
"Wow! Ternyata orangnya turut hadir di acara ini. Baiklah, untuk mas yang duduk di sana, tolong maju ke atas panggung ya," intrupsi Bella.
Arsen berdiri dan tersenyum kikuk. Tangannya menggaruk belakang leher yang sudah kupastikan tidak gatal.
Perlahan, Arsen berjalan ke atas panggung.
"Baiklah. Karena mas Arsen sudah ada di sini, silakan mbak Agatha beri bunga ini untuknya," kata Bella sambil memberikan setangkai bunga mawar merah.
Ah. Kenapa harus setangkai bunga mawar merah? Itu terkesan sebagai ungkapan rasa cinta, padahal ungkapan yang aku katakan tadi tidak mengarah pada cinta, hanya sekedar ungkapan terima kasih.
"Be-beri ini?" tanyaku ragu.
Namun, Bella malah mengangguk cepat dengan senyum mengembangnya.
"Iya. Anggap saja, ini sebagai hadiah terima kasih dari kamu,"
Begitu ya? Padahal aku juga akan memberi hadiah siomay dan es doger sebagai ungkapan terima kasih padanya. Kenapa Bella harus repot-repot menyediakan hadiah untuk kuberikan pada Arsen?
__ADS_1
Namun, sangat tidak beretika jika aku menolak bunga mawar itu. Oleh karenanya, aku menerima bunga dari Bella dan disodorkan pada Arsen.
"Nih!" kataku dengan sedikit ogah.
Bella tertawa melihat aku yang memberikan bunga dengan perasaan mau tak mau.
"Mas Arsen, silakan terima bunganya ya."
Arsen menurut. Dia mengulurkan tangannya dan menerima bunga dariku. Hal itu membuat suara teriakan 'Cie' terdengar gaduh ditelingaku.
"Cie... Resmi jadi pasangan nih!" celetuk anak remaja yang tidak aku tahu yang aman orangnya. Kalau saja aku tahu orangnya, maka akan aku sumpeli dia dengan siomay sebesar bola basket!
Aku menoleh pada Arsen dengan tatapan sinis, dan dibalas dengan ketidak pedulian Arsen.
***
Setelah tantangan give away yang mengakibatkan aku dishipper dengan Arsen, kini aku tengah duduk menikmati satu piring siomay dan satu wadah es doger besar.
"Seneng, dapet novel gratis?" tanya Arsen begitu saja.
Aku mengangguk, "Seneng banget, tapi nyebelin juga," jawabku.
"Nyebelin gimana?"
"Itu tuh, pake acara jodoh-jodohin aku sama kamu. Lagian kenapa harus itu si tantangannya?" tanyaku sebal.
Arsen yang tadinya sibuk memakan siomay, tiba-tiba saja dia menoleh dan menatapku penuh arti.
"Kenapa juga kamu mesti sebut nama aku? Padahal bisa kamu sebut bunda kamu, apalagi di sini posisinya aku cuma orang baru, dan pastinya bunda kamu lebih berharga buat kamu,"
Hmm. Iya sih, buna memang sangat berharga dan tidak ada tandingannya. Hanya saja, di sini posisinya Arsen orang pertama yang membangkitkan semangatku saat bunda telah pergi. Itulah alasanku mengapa menyebut namanya.
"Karena mau,"
"Berarti harus mau juga dicomblangin sama mereka," kata Arsen santai.
Sontak saja aku melotot padanya sambil menodongkan garpu.
"Heh! Ya nggak gitu juga lah," jawabku frustasi.
"Kenapa? Apa aku bukan laki-laki yang pantas buat kamu?"
__ADS_1
...Bersambung......