Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Perlakuan Yang Berbeda


__ADS_3

Arsen sudah pulang setelah aku obati tadi. Dia berpesan padaku untuk tidak perlu memikirkan apa-apa.


Aku kembali masuk untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, perutku terasa sangat lapar. Ingin makan tapi aku tak mungkin keluar di waktu yang sebentar lagi akan magrib.


Kruyuk... Kruyuk...


“Kamu lapar, Tha?”


Haish! Kenapa suara kerncongan dari perutku sampai terdengar sih, oleh Diana? Aku kan jadi malu.


“Ee-eumm... Iya nih,”


“Aku boleh pinjam handphone kamu, buat pesen makanan?” tanyaku meski kalau pesan makanan pasti setidaknya aku harus menunggu setengah jam.


Diana duduk di kursi kerjanya, “Nggak perlu. Sebelum kalian ke sini, bang Arsen udah bawain makanan. Katanya buat nanti kalau kamu dateng, dia juga sekalian ngasih buat aku,”


Hah? Aku melongo. Kenapa Arsen tak pernah berhenti menolongku? Kalau begini, aku akan merasa punya banyak hutang.


“Arsen bawain makanan juga?” tanyaku masih terkejut.


Diana berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan ke ruangan kecil samping kamar mandi, sepertinya itu dapur kamar ini.


Benar saja. Dia membawa dua kantong kresek yang tidak kuketahui apa isinya.


“Nih, buktinya. Di kantong ini ada chiken sama cah kangkung. Satunya lagi jatah buat aku,” katanya sambil tertawa pelan saat mengatakan kalimat terakhir.


“Nasinya ada di mejikom, biar tetep anget. Makan yang anget-anget pas hujan kan enak banget tuh, eh sekarang udah berhenti sih, hujannya,”


Aku menggeleng lucu mendengar ocehan Diana, apalagi dibantu dengan suaranya yang terdengar menggemaskan seperti masih anak-anak.


“Ya udah, buruan ambil nasinya. Kita makan bareng ya,”


Aku manggut-manggut dan ikut berjalan ke dapur. Di dapur ini benar-benar sangat kecil, hanya muat untuk menaruh piring dan masak. Jadi, kami tak bisa makan di sana.


Kami kembali ke kamar setelah mengambil nasi. Tak ada tempat paling layak untuk dijadikan tempat makan, selain ruang kamar ini. kostan ini hanya ada ruang kamar, kamar mandi, dan dapur kecil. Makanya kalau mau melakukan kerjaan, menulis, ataupun makan pastinya di ruang kamar.


“Sempit banget ya? Memang begini lah keadaan kostan. Kamar tidur dijadiin tempat buat makan,”


“Jangankan di sini. Di rumah juga, biasanya aku makan di dalam kamar,” balasku saat teringat rumah.

__ADS_1


“Ngomongin rumah, aku jadi kangen rumah nih. Aku tuh anak rantau, jauh dari rumah dan keluarga. Meski kangeeen banget, tapi ya harus aku tahan. Karena kalau nggak gitu, aku nggak bisa dong punya uang,”


Ah... Senangnya menjadi Diana, yang bisa merasakan rindu rumah dan kaluarga. Dia sangat berbanding terbalik denganku, yang keadaan di rumah malah membuatku ingin pergi jauh. Mungkin kalau bunda masih ada, rumah akan menjadi tempat satu-satunya yang akan aku tuju di bumi ini.


“Berat ya? Aku sering banget denger kalau jadi anak rantau tuh berat. Apalagi dibagian rindu. Kalau kata Dilan, rindu itu berat, kamu nggak akan kuat,”


Tanpa sadar aku tertawa lepas dengan candaanku yang mungkin krik bagi Diana. Namun, Diana malah ikut tertawa dengan candaan garingku.


“Hahaha... Ya gimana ya? Berat iya, enak juga iya. Beratnya kalau rindu dengan orang terkasih, pasti akan sulit. Kalau lagi tanggal tua pasti harus bisa bener-bener ngirit. Tapi enaknya aku bisa ke sana kemari sesuka hati. Enaknya bisa kumpul puas sama temen-temen kerja,” jelas Diana.


Aku mengangguk paham, tapi aku sungguh tak paham bagaimana rasanya itu semua bisa aku alami. Mendengar dari ceritanya saja sudah membuatku seperti menjadi manusia normal, apalagi jika aku mengalaminya langsung.


“Tau nggak sih? Kalau aku sakit, rasanya pengeeen banget nangis. Aku di sini sendirian dan nggak ada sosok ibu yang akan merawat. Mandiri itu berat, kamu harus kuat,” katanya diakhiri oleh tawa.


“Enak ya,”


Dia mengernyit, “Enak gimana?”


“Yaa... Enak bisa jadi orang normal,”


Diana tak mengerti dengan ucapanku, “Maksudnya?”


Tanganku terangkat dan dikibaskan, “Ah, nggak apa-apa. Buruan di makan,”


Kami memang masih belum menyuapkan ke dalam mulu, karena menunggu nasi tidak terlalu panas.


Sambil membuka kantong plastik, Diana kembali bersuara.


“Bang Arsen baik banget, ya? Nggak di kantor, nggak di manapun. Tapi kayaknya dia memperlakukan kamu begitu spesial deh,”


Blush


Pipiku tiba-tiba saja terasa panas. Apa benar yang dikatakan Diana, kalau Arsen memperlakukan aku dengan spesial?


“Masa sih? Mungkin perasaan kamu aja,” kataku.


Namun, Diana mengeleng dan tetap yakin pada ucapannya.


“Ih, beneran deh. Di kantor dia nggak akan begitu detail sama seseorang. Cuma kamu doang yang diperhatikan secara detail. Mulai dia cari kostan dan nitipin ke aku, terus dia juga bawain makanan buat kamu, dan dia juga yang anterin kamu,”

__ADS_1


Aku tertawa sambil mengkibas-kibaskan tangan kiri yang terbebas dari sendok.


“Mungkin karena aku yang sering banyak maunya, jadi dia udah persiapin matang-matang,”


“Nggak. Bahkan dari matanya juga bisa terbaca,”


Aku mengerutkan dahi, “Terbaca gimana?”


“Kalau dia punya perasaan sama kamu,”


Uhuk! Uhuk!


Sial. Aku tersedak air minum gara-gara Diana mengatakan hal yang tak akan mungkin terjadi pada Arsen.


Aku tahu sendiri, kalau aku dan Arsen hanya sekedar teman biasa. Diantara kami tak ada yang menyimpan perasaan.


“Nggak akan mungkin, lah...”


Diana memutar bola matanya dan menghela nafas jengah.


“Ya ampun, Tha. Semua bisa terjadi. Baik itu kemauan manusia itu sendiri, atau ada campur tangan dari sang pencipta.”


“Perasaan orang siapa sih yang bisa tebak?”


Tertohok sekali hati ini, mendengarnya. Memang benar sih, apapun akan terjadi. Dari kerikil kecil yang tak berguna pun bisa menjadi gedung pencakar langit. Apalgi... Perasaan.


“I-iya, sih... T-tapi-”


“Ah. Udah deh, abisin makannya. Gara-gara ngomong terus, ini nasi punya aku nggak abis-abis,” ucap Diana dengan wajahnya yang cemberut.


“Hehe, maaf.”


Aku dan Diana melanjutkan makan. Diana makan dengan begitu lahap, tapi aku yang tadinya sangat lapar menjadi kurang semangat mengunyah makanan ini.


Pikiranku kembali terngiang dengan apa yang baru saja Diana katakan. Tentang Arsen yang menyukaiku.


Kalau benar dia menyukaiku, maka aku harus seperti apa? Membalas perasaannya karena dia selalu membantuku? Atau menjaga jarak darinya agar dia tidak semakin menyukai orang yang suka menyusahkannya? Atau juga, aku menolaknya mentah-mentah dan berkata ‘Kamu terlalu baik untuk seseorang sepertiku’.


Ah, alasan yang sangat klise. Aku tak tahu harus seperti apa. Sejujurnya, perasaanku masih kosong melompong dan Arsen tak pernah sedikitpun mengganggu ruang hatiku. Aku terlalu disibukkan oleh ayah dan juga cerita-cerita novelku.

__ADS_1


__ADS_2