Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Pernikahan Ayah Yang Kedua


__ADS_3

Hari ini, tepat hari di mana ayah melaksanakan pernikahnnya dengan Kiana. Meski acaranya sederhana, tapi semua orang ramai memberi selamat pada ayah, terkecuali aku.


Aku hanya terus diam di dalam kamar dan enggan keluar. Sedari semalam aku terus menangis karena tak terima ayah akan melangsungkan pernikahan kedua kalinya.


Aku sudah menceritakan semuanya pada Arsen tentang hari di mana aku menangis sepulang dari acara talkshow Bella.


Ponsel dekat laptopku berbunyi, di layar handphoneku tertulis nama Arsen. Aku langsung mengangkat panggilannya.


Saat panggilan sudah terhubung, baik aku maupun Arsen sama-sama membisu. Aku tak mau memulai pembicaraan sebelum diawali oleh Arsen. Aku sedang sangat malas berbicara.


"Kamu... Kamu nggak apa-apa?"


Bagaimana ya... Arsen pasti sudah tahu, kalau aku sedang merasakan apa-apa. Aku jelas sedang tidak baik-baik saja.


"Menurut kamu?" tanyaku balik.


Di sana sepertinya Arsen menghela nafas merasa bersalah.


"Sorry..."


"Nggak apa-apa. Aku masih bisa bernafas kok, hari ini. Hari biasanya aku akan merasa tertekan, tapi hari ini aku lebih tertekan,"


"Apa aku perlu ke rumah kamu?"


Aku tertawa miris, "Haha, mau ngucapin selamat sama ayah aku?"


"Nggak lah. Aku mau jemput kamu dan ajak kamu ke tempat mana pun yang kamu mau,"


Hmmm... Tawaran yang tak buruk, tapi sepertinya aku ingin menyendiri saja daripada harus keluar dari rumah dan mendapati banyak orang-orang tersenyum di atas penderitaanku.


"Nggak usah, Sen. Aku mau sendirian aja di kamar,"


"Bener nih?"


"Huum. Mau lanjut tidur aja,"


"Tapi udah ngisi perut kan?"


"Udah kok, tadi aku dianterin nasi kuning sama bibi,"


"Syukur deh..."


Aku terdiam sambil berjalan ke arah jendela. Di sana ada banyak orang-orang berpakaian rapi khas untuk kondangan.


Semuanya tersenyum bahagia, tapi aku tidak. Bagiku, mereka semua sangat jahat.


"Tha? Kamu tidur?" suara Arsen membuat aku tersenyum miris.


"Sen... Boleh aku tanya?"


"Tanya apa?"


Sebelum aku bertanya, aku ingin menarik nafas lama.


"Selama ini, aku belum pernah tau cerita tentang keluarga kamu. Boleh aku denger sedikit aja?" tanyaku sambil mengubah posisi menjadi bersandar di samping jendela kamar.

__ADS_1


"Cerita tentang keluarga aku, ya?"


"Heem,"


"Keluarga aku sangat harmonis. Mereka saling melemparkan kasih sayang satu sama lain, sampai aku tak pernah kehilangan kasih sayang mereka,"


Jawaban Arsen membuatku merasa sangat iri. Andai saja, aku masih bisa merasakan itu.


"Tapi..."


Alisku mengernyit kala Arsen melanjutkan ceritanya dengan kata tapi.


"Tapi itu dulu. Sejak aku mulai masuk SMP, mereka pergi karena panggilan Tuhan,"


Deg


Tiba-tiba saja aku merasakan sangat sakit mendengarnya.


"Sebenarnya kita sama, Tha. Mungkin yang membedakannya adalah aku bisa menerima dengan ikhlas, tapi kamu masih belum menerima sebab kehadiran orang lain,"


Benar. Arsen memang benar. Aku dan Arsen sama, sama-sama terluka ditinggalkan oleh orang yang sangat berharga dalam hidup. Namun, yang membedakannya, aku selalu dihantui oleh kehadiran wanita itu. Aku tak terima dengan orang lain yang ingin merebut posisi bunda.


"Tapi, mungkin kamu lebih merasa sakit daripada aku. Kamu lebih kuat daripada aku,"


Tidak. Aku bukan orang yang kuat. Aku selalu mengeluh dan terus menebar kebencian.


"Memang sangat berat menerima kehadiran orang lain,"


Mendengar begitu saja, air mataku lolos dengan lancar.


"Oh iya, kamu nggak penasaran aku tinggal sama siapa?" tanya Arsen mengalihkan pembicaraan yang menyakitkan.


"Sejak kepergian mereka, aku tinggal bersama paman, kakak dari mamaku. Aku masih jauh lebih beruntung, karena mereka menerima aku dengan sangat baik layaknya putranya sendiri, sebab mereka masih belum dikaruniai seorang anak,"


Pantas saja, Arsen terlihat sangat terurus dan disiplin.


"Tha... Terus bertahan, sampai kamu sampai pada kemenangan," kata Arsen memberiku semangat.


Aku mengangguk sambil tersenyum yakin.


"Iya."


📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖


Aku terbangun saat hari sudah sangat gelap. Tidurku benar-benar sangat lama berkat bantuan obat tidur. Sengaja aku meminumnya agar bisa tidur lama dan tak mendengar keramaian di luar.


Suara keramaian sudah tak terdengar lagi, sepertinya para tamu undangan sudah pulang sebab acara pernikahan ayah telah berakhir.


Ketukan pintu membuatku langsung menoleh pada pintu.


"Siapa?" tanyaku.


"Ini ayah, bisa kamu keluar sebentar?"


Aku berdecak sambil memutar bola mata malas. Baru bangun tidur aku sudah dibuat bad mood.

__ADS_1


Meski enggan menghampirinya, aku tetap saja berjalan untuk membuka pintu kamar.


"Ada apa?" tanyaku datar.


"Kita makan bersama yuk, sekalian ayah mau memperkenalkan keluarga baru kita,"


Hah! Keluarga baru kita, ya? Aku rasa aku tidak masuk dalam kata kita yang ayah sebut.


"Itu keluarga baru ayah!" bantahku.


Tangan ayah terkepal kuat, tapi setelahnya ayah kembali menunjukkan sikap kepala dinginnya.


"Ayah mohon... Sekali ini saja," kata ayah dengan wajah teduhnya.


Sejenak aku diam sambil menatap wajah ayah dengan lekat. Inikah ayahku, seseorang yang dulu aku banggakan? Aku tidak percaya karena ayah berhasil melukaiku, padahal dulu ia tak akan pernah berani membuat aku menangis.


"Oke, tapi hanya sekali ini aja,"


Wajah ayah terlihat sangat bahagia. Jujur, untuk pertama kalinya setelah bunda pergi, aku bisa melihat ayah tersenyum bahagia. Aku... Aku sedikit tersentuh dengan senyumnya yang aku rindu.


"Aku mandi dulu," kataku sebelum ikut bergabung dengan Kiana.


Namun, ayah langsung mencegah dan menarik tanganku.


"Nggak usah. Kamu nggak perlu mandi, atau kamu bisa mandi nanti,"


"Hmm, baiklah."


Tiba-tiba saja tanganku digenggam hangat oleh ayah. Ini... Ini untuk pertama kalinya lagi aku merasa hangatnya tangan kekar ayah setelah semuanya berubah.


Ayah... Aku sangat ingin menangis detik ini juga. Aku menemukan sedikit dirimu saat dulu.


Rasa tersentuhku akibat perlakuan ayah langsung hilang begitu saja saat telah sampai di dapur.


Aku melihat Kiana dan seorang laki-laki yang sepertinya dia lebih tua dariku beberapa tahun.


Kiana berdiri dari tempatnya dan menarik tanganku, tapi aku langsung menepisnya dengan kasar.


"Nggak usah sentuh aku!" kataku dengan tajam.


Kiana tertawa sungkan, "Ah, baiklah. Silakan duduk dan bergabung dengan kami,"


Aku mengambil duduk di depan Kiana, dan di samping Kiana adalah laki-laki itu.


"Baiklah, sebelum kita mulai makan, ada yang ingin ayah sampaikan,"


Aku langsung menoleh pada ayah dan mengelak.


"Aku lapar. Mending makan dulu, setelah itu ayah baru boleh menyampaikan sesuatu itu,"


Ayah membalas tatapanku. Ia menatapku dengan marah. Namun, elusan tangan Kiana berhasil membuat ayah melunak.


"Nggak apa-apa, mas. Mungkin Agatha benar-benar merasa lapar, kasian kalau kita membuat dia semakin merasa lapar,"


"Nah tuh, bener!" kataku, setuju.

__ADS_1


Ayah menghela nafasnya, kemudian mengangguk.


"Baiklah, kita makan dulu."


__ADS_2