
"Hai, calon anaknya tante." sapa wanita itu. Telingaku tak sudi mendengar dia menyebutku calon anak.
"Sekali lagi kamu mengucapkan hal itu, akan kuterkam kau!" ucapku sambil menatapnya dengan sengit.
Ayah menatapku tajam. Bola matanya memerah, tak terima dengan ucapanku yang dilontarkan pada wanita itu.
"Jaga ucapanmu!" bentak Ayah.
Aku tersenyum menyeringai. Hatiku mencelos mendengar bentakan Ayah yang sering aku dapatkan. Dulu, saat Bunda masih ada, Ayah tak pernah sedikit pun membentak putrinya. Namun, kini Ayah berubah 180 derajat. Aku sudah tak penting lagi baginya, dan aku dianggap hanya seorang anak yang tak berperilaku baik.
"Oke, maafkan aku yang telah berkata kasar pada wanita kesayanganmu." sindirku sambil menekan wanita kesayangan Ayah.
Gigi Ayah bergemelatuk, kedua tangannya mengepal. Miris sekali, aku kini benar-benar bukan sepertinya anaknya lagi.
"Semakin besar ternyata sikapmu semakin kurang ajar!"
Aku berdecak dan membuang muka ke sembarang arah. Lagi-lagi aku yang disalahkan.
"Ayah mau aku yang seperti apa? Mau aku jadi anak yang lemah lembut, yang menuruti semua keinginan Ayah?" tanyaku kembali menatap Ayah.
"Ayah pernah nggak, mengerti perasaan aku? Ayah sadar nggak, kalau yang Ayah lakukan ini sangat menyakitiku?" lanjutku menahan mati-matian air mata yang mendesak keluar.
Ayah terdiam. Aku tak bisa membaca raut wajah Ayah. Aku terlalu sakit mengatakan ini.
"Jawabannya nggak! Ayah nggak pernah tahu bagaimana perasaanku yang kehilangan sosok Bunda, dan kehilangan kasih sayang seorang Ayah. Duniaku kini sangat berbeda, aku kehilangan banyak hal." teriakku di depan wajah Ayah.
"Dan Ayah tahu? Ayah lah laki-laki yang berhasil mematahkan hatiku!"
Setelah mengucapkan itu, aku pergi meninggalkan Ayah dan wanita itu begitu saja.
Dadaku terasa sesak sekali. Bahkan aku berjalan sambil menangis. Tanganku mengusap air mata yang seharusnya tak perlu keluar.
Terkadang, ada kalanya aku sangat ingin berteriak, menyalahkan takdir. Mengapa takdir dengan teganya mengubah kehidupanku yang dulu sangat baik-baik saja menjadi sangat buruk.
Takdir seakan memberiku banyak beban seiring umurku yang bertambah. Kedewasaanku diuji dengan banyaknya orang yang memperlakukan buruk. Aku kehilangan banyak hal, kehilangan keluarga, kehilangan kasih sayang, dan kehilangan cinta.
Aku seperti berteman dengan sepi, berbicara pada sunyi dan memeluk kegelapan.
Berjalan dikeramain tak berhasil menyingkirkan sepi. Aku sudah terlalu nyaman dengan sunyi.
...📃📃📃...
Sesampainya di kamar, aku menangis sejadi-jadinya. Kali ini aku tak bisa menahan air mata.
__ADS_1
Isak tangisku mulai berkurang. Cukup sudah aku menangisi hal bodoh.
Aku mengusap pelan bekas air mata. Setelah itu, aku membuka handphone. Di sana ada pesan masuk dari Arsen.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arsen seperti tahu apa yang tengah terjadi padaku.
Aku menarik nafas lama, menghadang rasa sesak yang akan menyergap lagi, lalu dihembuskan.
"Aku selalu baik-baik saja." balasku.
"Kalau ada apa-apa bicarakan padaku. Aku nggak mau naskah kamu berantakan."
Sial. Ternyata Arsen mengkhawatirkan naskahku ketimbang diriku. Kurang asem sekali dia.
"Y." balasku singkat. Setelah itu tak ada lagi percakapan melalui aplikasi berbalas pesan.
Aku berdiri hendak mengambil handuk dan pakaian. Aku harus mengguyur air ke seluruh tubuh, agar otak dan tubuhku menjadi segar.
...📃📃📃...
Seusai mandi, aku langsung duduk di depan meja yang biasa aku lakukan untuk mengetik.
Tanganku membuka wadah kacamata blue ray, lalu memakainya. Aku tak mau mata cantikku terkena minus.
Aku terdiam cukup lama di depan laptop, memikirkan ide yang sulit tertuang. Meski aku sudah membuat outline, tetapi tak jarang aku kehilangan kata-kata untuk merangkainya menjadi sebuah kalimat.
Aku teringat kembali dengan ucapan Arsen tentang kepuasan dalam naskahku. Dia tak puas dengan naskahku dia menanyakan hal yang aku sendiri tak tahu jawabannya.
"Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan?"
Kalimat itu mengiang-ngiang di atas kepalaku. Aku tak tahu, hal apa yang sangat membuatku seperti ini.
Apa mungkin karena Ayah dan wanita itu, aku sampai seperti ini. Aku tak berhasil membuat Arsen puas dengan naskahku.
Argh!
Aku harus fokus dan tinggalkan pikiran yang menghambat aktivitasku. Aku harus profesional.
Jari lentikku mulai menari di atas keyboard berwarna putih. Mengetik kata-kata yang merangkai menjadi kalimat.
Aku mulai fokus menulis naskah. Aku harus bisa memperbaiki kekuranganku.
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Kini jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Mataku terasa sangat lelah, otakku juga sudah kesulitan mencari ide. Aku akan segera tidur.
__ADS_1
...📃📃📃...
Alarm berbunyi. Aku langsung mematikannya dan membuka mata. Sekarang sudah jam delapan pagi, aku harus mengganjal perut.
Aku masih merasa ngantuk, tapi perutku sudah meminta jatah makanan.
Sebelum mencari makanan, aku membuka tirai. Cahaya matahari mulai masuk membuat ruang kamarku menjadi terang.
Bunyi perut membuatku berdecak. Tak sabaran sekali sih!
Teringat kejadian semalam membuatku malas turun untuk membuat makanan.
Mataku tertuju pada kulkas mini di pojok kamar. Senyumku mengembang kala mengingat ada banyak buah segar yang kemarin telah aku beli dengan uang Arsen.
Aku langsung berjalan ke arah kulkas, membukanya dan mengambil satu wadah melon siap makan.
Ah, segar sekali makan melon pagi hari.
Setelah memakan melon, aku berdiri dan menghampiri jendela kamar. Melihat hal yang ada di luar dari sini.
Mataku tertuju pada sebuah keluarga yang teramat harmonis. Di sana ada seorang gadis memakai kerudung biru dongker yang tengah mencium punggung tangan Ibunya.
Setahuku, namanya Dira. Gadis itu tengah menempuh pendidikan di universitas yang dulu kujadikan sebagai tempat menamba ilmu. Tahun ini dia baru masuk kuliah.
Gadis itu berangkat bersama Abangnya yang sekarang sudah menjadi mahasiswa atas.
Pemandangan tersebut yang teramat indah bagiku. Aku tersenyum melihat keromantisan mereka.
Jujur saja, aku iri melihat keluarga mereka yang saling menyayangi. Sudah lama aku tak merasakan hal itu.
Aku terus memperhatikan Dira dan keluarganya. Mataku terus mengekori gadis itu sampai sudah tau terlihat lagi.
Ibu Rohimah tersenyum dan mekambaikan tangan pada mereka. Ah, membuatku teringat pada Bunda.
Mataku mulai berkaca, aku sungguh merindukan Bunda. Aku ingin memeluknya dan mengadu rasa sakitku karena kehilangannya.
Sudah lama aku tak melihat senyum menenangkan dari Bunda. Senyum yang berhasil membuatku bersemangat.
Aku menatap langit, berharap dapat melihat Bunda.
Bunda...
Aku merindukanmu...
__ADS_1
Tetesan air mata mengenai tanganku yang tengah bertumpu pada papan jendela. Sungguh, aku sangat merindukan Bunda.
...Nyesek nggak nih? Aku kalo nulis tentang seorang Ibu, Bapak, atau keluarga kayak bener-bener mendalami. ...