
Mata laki-laki di depanku sangat jelalatan, terus melihat aku yang tengah makan. Sungguh, aku sangat tak suka dengan tatapannya. Bahkan, aku segera menyelesaikan makanan agar cepat pergi dari sini.
"Aku udah selesai," kataku sambil menaruh garpu kasar sehingga menimbulkan suara nyaring.
Semua orang menatap padaku. Diantara mereka, hanya aku yang sudah selesai makan sebab aku tak ingin berlama-lama di tempat yang tak nyaman ini.
"Ayah mau bicara apa?"
Ayah menatapku tajam, "Kami masih belum selesai, Agatha. Ayah akan bicara kalau semuanya sudah selesai,"
Aku berdiri dari tempat dan mendorong kursi ke belakang.
"Oke. Kalau gitu, aku nggak mau denger apa yang mau ayah bicarakan," kataku tak kalah menentang.
Gigi ayah bergemelatuk kesal dengan tingkahku.
"Agatha!" ayah menekan suaranya yang tak tahan untuk marah.
Namun, elusan dari tangan Kiana membuat emosi ayah redup.
"Sudah, Mas. Nggak apa-apa kalau Agatha mau membicarakannya sekarang,"
"Tapi-"
"Mas... Mungkin Agatha ada kesibukan di dalam kamarnya, makanya dia pengen kamu bicara sekarang juga. Ngga apa-apa, yaa?"
Ayah mengembuskan nafasnya, ia kembali menatapku, tapi tatapan kali ini tidak bercampur emosi.
"Duduk lah," kata ayah.
Aku menurut dan kembali duduk di tempat yang sama.
"Ayah mau memberitahu kamu tentang keluarga baru kita,"
"Bukan kita, tapi hanya ayah," aku membenarkan ucapan ayah. Aku tak akan pernah menganggap Kiana sebagai keluargaku.
Meski ayah terlihat ingin sekali meneriaku dan marah padaku, tapi ia berhasil meredupkan lagi amarahnya. Menghadapi diriku pasti akan selalu menjadi emosi untuk ayah.
"Di samping ayah, wanita yang baru saja resmi menjadi istri ayah-"
__ADS_1
"Iya. Aku tau, dan ayah nggak perlu kenalin dia sama aku. Karena dia, orang yang berhasil membuat ayah berubah," aku menyela ucapan ayah sambil menatap tajam pada Kiana. Lagi-lagi ayah hanya mengembuskan nafas kasarnya.
"Baiklah. Lalu yang di samping Kiana adalah putra satu-satunya. Namanya Andra. Mulai sekarang, kamu panggil dia kakak,"
Apa? Kakak? Aku tidak pernah punya kakak, jadi kenapa juga harus kupanggil dia kakak?
"Kakak? Ayah tau kan, aku nggak punya kakak? Jadi ayah nggak perlu repot-repot memerintahku untuk memanggil pria itu kakak. Bukan begitu, Andra?" mataku beralih pada Andra dan menekan namanya.
Andra hanya diam membalas tatapanku. Namun, matanya seperti menyiratkan bahwa aku harus berhati-hati dilain waktu.
"Agatha!"
Mendengar suaranya, pasti ayah akan kembali memarahiku. Sebelum itu terjadi, aku akan menyela lagi. Aku tak mau terus dipaksa apa yang tidak aku inginkan. Biarkan saja aku disebut pembangkang, karena ayah juga tak pernah bertanya apa yang aku mau dan tidak, apa yang aku suka dan tidak. Ini hanya pembelaan untuk diriku sendiri.
"Ayah, aku nggak pernah menganggap mereka keluargaku. Jadi, aku mohon agar ayah nggak memaksa aku untuk menerima sesuatu yang nggak ingin aku terima. Aku rasa, ayah cukup tau dengan permohonanku kali ini,"
Setelah mengucapkan itu, aku berdiri untuk meninggalkan mereka. Sudah cukup pembicaraan yang tak berguna ini. Aku harus menyudahi.
"Udah selesai. Aku mau ke kamar." kataku yang kemudian meninggalkan mereka semua.
📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖
Malam-malam begini, pasti enaknya menyantap mie instan. Baiklah, aku akan membuat satu bungkus mie yang sangat pedas dengan satu telur ceplok.
Aku mencari-cari mie, tapi masih juga belum menemukannya. Apa stok mie sudah habis dan lupa membeli stok lagi? Ah... Sial. Kalau tak ada mie, maka aku harus menahan lapar sepanjang malam. Mau memesan makanan online, tapi sudah malam begini.
Namun, tiba-tiba saja satu bungkus mie ada di depan mataku. Sontak saja aku menoleh ke belakang, karena mie tersebut diangkat oleh tangan seseorang.
"Cari ini?"
Di depanku ada si laki-laki bermata jelalatan. Siapa lagi kalau bukan Andra?
Daripada aku menerima mie pemberiannya, lebih baik aku menahan lapar semalaman.
"Awas!" perintahku padanya karena telah menghalangi jalan untuk kulewati.
"Kamu mau ini kan? Kalau begitu, masak lah,"
"Nggak perlu. Kamu hanya perlu awas, karena aku mau kembali ke kamar,"
__ADS_1
Tiba-tiba saja, dia menarik tanganku dan tersenyum semirik. Hih, aku jadi bergidig melihatnya.
"Mau apa kamu!" ini bukan pertanyaan, tapi sebuah sentakan.
"Mau apa, ya? Eum, sepertinya aku kau berkenalan sama kamu. Gimana?"
Aku langsung mendorong tubuhnya dan menolak mentah-mentah. Dia bukan orang penting, jadi aku tak perlu repot-repot memperkenalkan diri padanya.
"Kamu bukan orang penting bagiku, jadi berkenalan dengan orang yang nggak penting hanya akan membuang waktu berhargaku,"
Dia menganggukkan kepalanya sambil berjalan mendekatiku. Aku... Aku sungguh takut, apalagi sorot matanya yang seperti itu.
"Agatha Gianina, putri dari seorang pria yang kini menjadi ayahku juga. Lalu, dia seorang penulis novel. Kira-kira apa yang terlewat?"
Sangat banyak. Dia tidak tahu kehidupanku, dia tidak tahu bagaimana perasaanku dalam keluarga yang berhasil dihancurkan oleh ibunya. Dia hanya tahu sebagian kecil tentangku saja.
"Boleh saya tau tentang kamu yang lainnya?"
"Aku bilang nggak! Kamu bukan orang penting untukku, jadi berhenti menggangguku!" teriakku, tak peduli jika nanti ayah terbangun karena mendengar teriakanku.
Andra tersenyum seram padaku, "Bukan orang penting ya? Bagaimana kalau aku semakin membuat kamu terganggu dan memberi sedikit ancaman agar aku bisa menjadi orang penting? Itu nggak buruk, bukan?"
Andra, laki-laki yang kurang ajar dan membuat ketakutanku sebagai kesempatan emas untuknya.
Dia pikir, aku perempuan yang lemah dan dengan mudah menunjukkan ketakutanku? Aku memang takut saat ini, tapi aku juga bisa membebaskan diri tanpa mengikuti kemauannya.
Dengan sekuat tenaga, aku mendorong Andra sangat keras. Dia terjatuh ke atas lantai dan meringis. Kesempatan itu aku pakai untuk kabur. Namun, sebelum kabur sepertinya mie yang tergeletak di atas kompor gas, aku bawa. Lumayan lah, masa usahaku melawannya hanya membiarkan aku kabur tanpa membawa makanan? Aku kan datang ke sini untuk mencari makanan.
Aku kabur sambil membawa mie instan itu. Bodo amat jika tadi aku berkata lebih baik menahan lapar daripada menerima mie instan dari Andra. Ternyata, menahan lapar semalaman juga bukan solusi baik setelah kabur darinya.
Sesampainya di kamar, aku mengunci rapat-rapat pintu kamar. Sialan, gara-gara Andra, aku sampai ngos-ngosan.
Aku mendudukkan diri di atas sofa kamar. Suara perutku semakin memberontak.
"Sabar ya. Aku cuma dapet ini, dan ini pun nggak dimasak dulu. Semoga kalian bisa berhenti demo meminta makan." kataku sambil berbicara pada perut.
Aku langsung saja meremukkan mie dan membuka bungkusnya, lalu memasukkan bumbu dan diaduk.
Tak mengapa tak ada telor dan belum di masak, yang penting aku nggak kelaparan malam ini.
__ADS_1