Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Perihal Hidup


__ADS_3

Aku benar-benar tak jauh dari Arsen. Kami duduk di kursi lipat yang disediakan khusus untuk Arsen dan juga aku. Bella sudah mulai mengisi acaranya.


Di depan panggung sana, Bella berdiri dengan senyum yang lebar, menyapa penggemarnya.


"Halo semuanya. Selamat pagi menjelang siang," ucap bela di depan mikrofon.


"Pagi juga..." teriak heboh penggemarnya Bella.


"Walaupun cuaca sangat cerah sampai terasa sekali hawa panasnya, saya harap kalian semua tetap semangat di sini,"


Tanpa disuruh tetap semangat pun, penggemarnya akan melakukan hal itu. Bagi seorang penggemar, jika sudah menyukai sesuatu, mereka tak peduli rasa lelah.


"Semangat doong..."


Nah kan, teriakan heboh dan semangat terdengar menggema oleh telingaku. Aku benar-benar kagum dengan Bella yang mempunyai banyak penggemar.


"Wah, saya sangat bersyukur karena kalian tetap semangat. Semoga adanya saya di sini dapat memberi sedikit kebaikan untuk kalian."


"Baiklah, saya tak akan membuang waktu berharga untuk kalian yang sudah menempatkan waktunya untuk saya. Oh iya, saya akan memberitahu di awal, kalau di akhir acara ini akan ada give away tiga buku, tiga kaos, lima tumbler, dan dua kupon diskon pembelian novel. Saya harap, kalian tetap di sini sampai akhir acara, karena siapa tau give away itu menjadi rezeki kalian. Eitss, tapi ada syaratnya. Mudah kok, kalian hanya menjawab pertanyaan dari saya saja."


Aku membolakan mata. Acara ini benar-benar menarik. Aku akan mencoba ikutan give away, siapa tau bisa mendapatkan novelnya.


"Kenapa liatnya serius banget? Kamu mau ikutan give away?" tanya Arsen yang ternyata tahu isi pikiranku.


"Tau aja. Aku mau ikutan, lumayan lah siapa tau aku dapet novel gratis atau tumbler juga boleh deh,"


Arsen memutar bola matanya malas, "Jangan deh, kamu kasih kesempatan buat adik-adik yang dengan semangatnya teriak. Kamu kan bisa beli sendiri,"


Bibirku dimanyunkan. Arsen kenapa suka sekali sih melarang aku, padahal mumpung gratis kan. Siapa sih yang nggak suka gratisan?


"Seeeen... Gratisan enak lho. Aku juga fansnya Bella, jadi aku juga boleh dong berusaha dapat give away dari dia,"

__ADS_1


"Iya sih, tapi apa kamu nggak kasihan sama adik-adik? Mereka mau beli satu novel aja harus ngumpulin uang sakunya,"


"Kamu pikir, aku beli novel juga nggak ngumpulin uang dari hasil nulis? Aku juga sama Sen, mau beli apa-apa harus ngumpulin uang sendiri walaupun sebenernya bisa minta sama ayah," jawabku dengan jengah. Lagian, dia kenapa sih selalu mempermasalahkan sesuatu yang membuatku bersemangat.


"Ya udah deh, terserah kamu aja." kata Arsen, menyerah berdebat denganku.


Jika kalian berpikir bahwa aku terlalu perhitungan, aku tidak mengapa dikatakan seperti itu. Hidup itu memang perhitungan. Semuanya didapatkan dengan usaha dan tidak mudah. Jadi, apa salahnya aku berusaha mendapatkan give away?


Mataku mendelik saat melihat Arsen berdiri dari sisiku. Apa dia marah karena hal ini? Masa begitu saja marah?


"Mau ke mana, Sen?" tanyaku ikut berdiri.


"Aku mau temui Mbak Tari, asistennya mbak Bella. Katanya kamu mau beli kaos diskon?"


Oh, ternyata mau menemui asistennya Bella. Aku kira dia benar-benar marah karena hal kecil.


"Oh, aku ikut ya?"


Arsen langsung menggeleng. Dia menghempaskan tubuhku di atas kursi yang tadi diduduki olehku.


"Tapi, Sen-"


"Udah deh, nggak usah ngebantah. Bentaran doang kok. Kamu dengerin aja yang diucapkan Bella, siapa tau diantaranya ada pertanyaan buat give away, kan katanya kamu mau ikutan,"


Hmm, benar juga. Aku tidak kepikiran sampai di sana. Sayang sekali kan, kalau aku ketinggalan informasi yang bisa saja menjadi pertanyaan di akhir acara nanti.


"Ya udah deh, aku di sini aja. Pokoknya kaos jangan ada yang lecet sedikit pun. Es-nya jangan kamu sedot, terus box kuenya jangan kamu curi!" kataku dengan panjang lebar memperingati Arsen.


Dia langsung menyentil dahiku, "Bawel banget sih, jadi orang. Lagian aku nggak bakal ambil makanan punya kamu. Tapi kalau kaos ada lecet, ya aku nggak tau, kan aku bukan tukang distronya,"


Aku mencebikkan bibir. Mulutku sudah terbuka dan akan bersuara lagi, tapi Arsen lebih dahulu menyela.

__ADS_1


"Nggak usah ngomong lagi, aku mau buru-buru ke sana,"


Tanganku dikibaskan dan mengusir Arsen dengan sebal.


"Ya udah. Sana gih, jauh-jauh dari aku. Kalau bisa nggak usah kembali lagi. Ngeselin banget sih,"


"Oh, jadi beneran nih, aku nggak usah balik lagi? Kalau gitu aku nggak usah cape-cape samperin Mbak Tari buat ambil kaos diskonan,"


Argh. Sial. Aku terjebak dengan omonganku sendiri. Kalau benar Arsen tak kembali, maka aku akan kehilangan kesempatan dapat kaos diskon. Kalau aku ikut ngantri kaos itu, aku bisa ketinggalan informasi yang akan Bella share. Benar-benar menyebalkan.


"Iiihh. Nggak mau, pokoknya harus dapet kaos!"


Melihat aku yang merengek, Arsen malah terkekeh menertawakan kebodohanku. Sialan banget emang. Absen nyebelin!


"Ngapain ketawa?"


"Lucu. Berasa bawa anak TK,"


"Arseeeen..."


Tiba-tiba saja tangan Arsen ditaruh di atas kepalaku.


"Ya udah, ini aku mau ke sana." setelah mengatakan itu, dia benar-benar pergi meninggalkan aku yang terdiam dengan perlakuannya.


📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖


Arsen sudah pergi dariku, kini aku tengah fokus mendengar Bella yang sedang membedah novelnya.


"Seperti yang kalian tahu, di novel saya yang judulnya 'Sahabat, Jangan Ada Cinta Diantara Kita' tersebut berisi tentang perasaan remaja SMA. Mereka sedang diposisi mencari jati diri, tetapi sedang asik-asiknya mengumpulkan kenangan untuk di hari tua."


"Perihal problematika anak seusia kalian yang berbeda jenisnya sangat sulit untuk diutarakan. Ada masalah kenakalan remaja yang disebabkan keluarga brokenhome seperti Satria, ada masalah kondisi ekonomi seperti Sintia yang harus ikut banting tulang untuk keluarganya. Namun, ada juga kehidupan normal dan penuh kasih sayang seperti Nindia. Eh, tapi Nindia juga mempunyai problematika tersendiri, yaitu kurangnya percaya diri dan sulit mengekspresikan dirinya. Dan si Wisnu, remaja yang gemar mencairkan suasana padahal hatinya kesepian sebab harus berpisah dengan kedua orangtuanya yang sudah meninggal saat masih bayi."

__ADS_1


"Apakah ada yang termudah diantara problematika mereka? Jawabannya tidak. Mungkin bagi Wisnu, menjadi Satria akan terasa sangat enak dan nyaman. Namun, siapa sangka? Hal itu sulit bagi Satria. Jawabannya adalah tidak semua masalah sama dan pastinya mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda dengan orang lain. Mereka akan dengan gampangnya menilai kehidupan orang lain lebih baik daripada dirinya tanpa tahu letak kesulitan orang tersebut."


"Adik-adik yang baik hati, kalian pasti merasakan salah satu diantara keempat sahabat itu, bukan? Mencari jati diri di tengah kesulitan hidup. Meski sulit, percayalah akan ada sesuatu yang istimewa dan membuat kalian menikmati kehidupan. Hidup itu memang bukan wadahnya kebahagiaan. Hidup tidak akan seru kalau tidak ada penderitaan."


__ADS_2