
"Mau pesan apa?" tanya Arsen setelah aku mengucapkan terima kasih.
"Cappuccino aja." jawabku sambil melipat kedua tangan.
Arsen mengangguk, lalu dia berjalan untuk memesan.
"Semalam aku nulis 3 bab." ucapku tiba-tiba. Siapa tahu, Arsen akan memujiku setelah marah-marah.
Namun, tahu apa respon Arsen? Dia hanya mangut-mangut sambil menekuk bibirnya ke bawah.
Melihat respon Arsen, membuatku mengerucutkan bibir. Dia memang sangat sulit untuk memujiku. Padahal biasanya aku hanya sanggup menulis 2 bab dalam satu malam.
"Udah, gitu doang respon kamu?" tanyaku kesal.
Kedua alis Arsen menyatu, "Ya terus, aku harus respon gimana? Guling-guling di bawah sambil bilang 'Wow, aku kagum banget sama kamu, Agatha Gianina.' begitu?"
Rasa kesalku bukan main lagi. Aku memberikan tatapan sinis padanya. Laki-laki di depanku ini memang terlampau datar.
"Ya nggak gitu juga konsepnya, Mas!"
"Seengganya kamu puji dong, seperti 'Wah, aku senang dengarnya.'."
"Wah, aku senang dengarnya."
Sialan! Dia malah meniru ucapan dan gayaku.
Gigiku bergemelatuk, geram sekali dengan sosok lelaki tak berperasaan sepertinya.
"Arsen!"
"Apa?" tanyanya dengan wajah sok polos.
Tanganku dilipat di depan dada. Membuang muka ke samping dengan kesal, "Tau ah, nyebelin!"
Tak lama kemudian, dua cup cappuccino dan satu piring siomay dibawa oleh pramusaji, dan diletakkan di atas meja yang telah kami pesan.
"Terima kasih." ucap Arsen dengan senyum yang dia berikan pada pramusaji yang cantik. Namun, tetap lebih cantik aku.
"Idih. Sok-sokan senyum ke cewek lain. Giliran sama aku aja, marah mulu!" kataku saat pramusaji tadi telah meninggalkan kami.
Arsen menarik alis kanannya ke atas, "Masalah buat kamu?"
"Ya masalah lah!"
"Masalahnya apa? Kamu cemburu sama aku?"
Aku melotot, tak terima dengan ucapan Arsen barusan. Tak pernah ada dalam kamus kehidupanku, bahwa aku cemburu pada sosok lelaki.
Selain Ayah, saat ini aku tak bisa merasakan cemburu pada lelaki lain. Ayah lah, lelaki yang selalu membuatku cemburu karena dia lebih mementingkan wanita itu daripada aku.
Aku menggeleng, menyalahkan praduga Arsen.
"Nggak cemburu sama sekali!"
__ADS_1
"Ya terus kenapa, kalau aku senyum ke cewek lain?"
"Ya cuma kesel. Aku yang udah capek-capek ngetik naskah, dan kamu marah-marah. Sementara dia, datang beri makanan ini, tapi kamu kasih senyum!"
Mau tahu, ekspresi apa yang Arsen beri? Dia terkekeh seperti sedang mengejekku.
"Kalau aku manjain kamu, pasti kamu nggak akan berpikir sendiri. Kalau aku sering puji kamu, yang ada nanti kamu jadi merasa besar kepala. Aku seperti ini juga demi kebaikan kamu." jawabnya, membuatku seperti merasakan hal lain.
Aku mengembuskan nafas kasar. Berdebat dengan Arsen, aku akan selalu kalah. Namun, jika masalah siapa yang paling jago bikin kesal, ya jawabannya aku.
"Ya udah iya. Terserah Mas-nya aja!"
"Minum dulu gih, dari tadi ngomong terus pastinya haus."
Tak mau menjawab ucapannya, aku langsung mengambil cappuccino tanpa perasaan. Kali ini, aku yang dibuat kesal olehnya. Lihat saja nanti, aku akan membuat rencana agar dia merasakan kekesalan yang melebihi ini.
Arsen kini tengah fokus dengan siomay yang saus kacangnya sangat lumer. Aku menatap dia dengan tatapan seperti sedang mengiler. Bisa-bisanya dia tak berbasa-basi untuk menawarkanku.
Dia sadar telah kuperhatikan sejak tadi. Tangannya yang memegang garpu, memasukkan satu potong siomay.
"Kenapa? Mau?" tanya dia sambil menaik turunkan kedua alis.
Jujur saja, aku mau. Namun, gengsi dong jika aku langsung mengangguk.
"Nggak, tuh!" jawabku ketus.
"Oh."
Apa katanya? Hanya oh? Bisa-bisanya dia menjawab satu kata pendek, lalu kembali asik memakan siomay.
"Kamu kan tahu, kalau aku orangnya nggak suka berbasa-basi." jawabnya enteng.
Sepertinya, hari ini aku mengaku kalah, kalau aku adalah orang yang jago membuat orang lain kesal. Karena pada kenyataannya, sore ini Arsen lah yang sangat jago membuatku kesal.
Aku menarik piring siomay milik Arsen, dan menyuapkan langsung potongan siomay ke dalam mulut.
Arsen melongo, melihat aku yang tanpa sopan menarik makanannya.
"Tiba-tiba laper, jadi aku minta ya." ucapku sambil menyuapkan kembali potongan siomay.
Arsen menatapku datar. Jari telunjuknya mengarah padaku.
"Siniin, nggak!"
Aku menggeleng, "Nggak!"
"Agatha Gianina!"
"Arsen Danantya Lesmana!"
Mata kami bersitubruk. Arsen menatapku dengan kibaran bendera perang. Sementara aku menatapnya dengan senyum kemenangan.
"Yah, udah habis. Gimana dong?" kataku pura-pura terlihat melas.
__ADS_1
Ck!
Arsen berdecak. Sementara aku tertawa puas. Yeay! Akhirnya aku kembali memenangkan kategori orang yang sangat mengesalkan.
"Makanya, tadi pesan, jadi nggak usah ganggu aku!" kesalnya.
"Tadi aku nggak nafsu, tapi pas liat kamu makan, jadi tiba-tiba pengen." jawabku tersenyum mengejek.
Aku melihat Arsen yang mengembuskan nafasnya dengan kesal.
"Maaf." kataku hanya sebagai formalitas saja.
"Hmm." jawabnya tanpa minat.
***
Setelah merebutkan satu piring siomay milik Arsen, aku memesan dua porsi siomay. Satu untukku, dia satu lagi untuk Arsen.
Awalnya Arsen menolak karena terlampau kesal, tapi karena jurus paksaan dariku, akhirnya dia mau makan juga.
Kini kami sudah selesai menyelesaikan makan siomay. Arsen sudah duduk sangat tegap.
"Aku mau tanya." ucapnya dengan tatapan serius.
"Tanya aja." balasku.
"Seberapa puas, kamu menulis naskah yang sedang digarap saat ini?" tanyanya, terus menatapku dengan serius.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Pasti Arsen akan mengatakan bahwa naskahku tak berhasil membuatnya puas.
"90 persen. Aku yakin, pasti penggemarku akan suka dia penasaran dengan cerita baruku yang satu ini." jawabku cukup percaya diri.
"60 persen!" sanggahnya dengan tegas.
"Naskah kamu sudah hampir ditahap ending. Tapi aku belum menemukan sesuatu yang wow. Kamu tahu, aku rasa cerita kamu kali ini sangat jauh lebih buruk dari cerita sebelumnya."
Jleb
Perkataan Arsen sangat menohok hatiku. Kalau bukan dia yang mengatakan hal tadi, sudah kupastikan hati ini sangat terluka dan akan selalu membekas. Namun, karena Arsen yang berbicara, maka aku dengan senang hati menerimanya.
"Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan?" tanya Arsen gemas.
Aku menunduk. Tak tahu apa yang tengah aku pikirkan sampai Arsen benar-benar kecewa dengan ceritaku kali ini.
Sebelumnya, Arsen tak semarah dan sekecewa ini padaku. Namun, kali ini aku dapat melihat rasa kecewanya melalui kedua bola matanya.
"Maaf." hanya itu yang bisa kuucapkan.
Suara hembusan nafas Arsen terdengar oleh telingaku.
"Jangan minta maaf sama aku. Minta maaf lah sama diri kamu sendiri. Coba tanyakan hatimu, apa yang membuat dia resah dan sedih."
Aku seperti anak kucing, mengangguk patuh dengan ucapan Arsen.
__ADS_1
"Iya."