Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Give Away Pertama


__ADS_3

Aku sangat tersentuh dengan yang Bella katakan. Perihal hidup menjadi pembicaraan yang sering kita alami dan dengar. Tiada kemudahan, dan tidak sulit juga menemukan kebahagiaan. Itulah hidup.


"Nah, tentang cintanya sendiri sangat unik." Bella terkekeh saat mengatakan itu.


"Saya pernah berada di posisi kalian. Cinta anak remaja bisa dibilang cinta monyet. Tak banyak juga yang memilih menyimpan erat-erat perasaannya seperti Sintia yang menyukai Satria dengan rapat. Namun, Satria sendiri blak-blakan mengungkapkan perasaannya pada Nindia. Lucu bukan? Cinta bertepuk sebelah tangan."


"Lalu, Wisnu yang mencintai Sintia dengan caranya yang sangat senang mengusili Sintia sampai membuat gadis itu ngamuk. Sementara itu, jangan lupakan ada Nindia yang menceritakan first lovenya adalah Wisnu pada Sintia. Cinta mereka saling bersilangan, gregetan tapi memang sangat lucu."


Aku hafal bagian itu. Aku ikut baper, gregetan, dan kesal sekaligus. Cinta anak remaja juga tak kalah rumit dengan cinta orang dewasa. Ah, meski aku tidak begitu paham dengan itu, tapi melihat dari isi novelnya jadi ikut merasakan hal yang sama. Aku seperti dibuat jatuh cinta dengan penggambaran yang Bella tuliskan.


Satu tepukan di bahuku membuat aku tersentak kaget. Aku langsung menoleh ke samping. Di sana Arsen berdiri sambil mengangkat kaos dan ***** bengeknya.


"Serius amat sih," kata Arsen yang kemudian mengambil tempat duduk di sebelahku.


"Nih, aku udah minta sama mbak Tari buat ngecek kaos terbaik buat kamu. Ini box kue sama es pelanginya. Aku nggak nyolong sedikit pun ya," jelas Arsen panjang lebar.


Aku tertawa pelan. Arsen begitu menuruti ucapanku. Dia sampai menyuruh asisten Bella untuk mengecek kaos.


"Ya ampun, kamu beneran ngelakuin hal itu? Ih, baik banget sih,"


"Iya lah. Kalau nggak gitu, nanti aku takut kena pukulan keras dari kamu,"


"Hahaha, aku nggak kayak gitu ah,"


"Oh iya, gimana pembawaan mbak Bella? Bagus nggak?"


Aku mengangguk. Bella membawakannya dengan sangat sempurna. Aku acungi sepuluh jempol kalau bisa.


"Bagus banget. Dia detail banget membedah karyanya. Aku nggak sabaran buat dapet novel fisiknya,"


"Nggak heran kalau karya dia best seller. Aku belum pernah baca sih, cuma kedengeran apa yang dia omongin tuh keren abis,"


"Buruan diminum es-nya, nanti keburu nggak dingin. Asal kamu tau, aku ngantri buat dapet es ini sampe harus ketemu beberapa gadis rempong yang minta foto bareng aku,"


Aku memutar bola mata malas. Arsen kepedean sekali, seolah-olah dia sangat tampan.


"Dih, kamunya aja yang ganjen,"


"Ganjen apanya coba? Orang aku nggak kayak oppa-oppa korea,"

__ADS_1


Bodo lah. Aku mengendikkan bahu sambil kembali fokus pada Bella.


"Lain kali pake masker, biar nggak usah tebar pesona,"


"Tebar pesona apanya sih, Tha? Oh, Jangan-jangan aku emang sangat mempesona, dan kamu juga terpesona sama aku?"


Aku menyengir tak terima mendengarnya. Ogah sekali terpesona oleh Arsen. Bagiku, Arsen tak sebanding gantengnya dengan Mark Prin.


"Mulai deh, kepedean," jawabku malas.


"Bukan kepedean, orang tadi kamu sendiri yang bilang gitu,"


"Kamu salah tangkap. Udah ah, aku mau fokus denger Bella ngomong. Kalau sampai aku nggak dapet give away, aku bakal marah sama kamu, dan minta ganti rugi!" ancamku dengan mata melotot tajam pada Arsen.


Aku melihat Arsen menghela nafas sambil membuka topinya dan dikipaskan di samping lehernya.


"Hadeuh, nasib jadi Arsen. Siapa yang salah, aku yang kena." keluhnya yang tanpa sadar membuat aku menahan tawa.


📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖📖


Setelah istirahat 15 menit, kini Bella masuk lagi ke atas panggung. Sekarang sudah masuk bagian give away. Aku sudah sangat menunggu bagian itu.


"Baik. Seperti janji saya di awal acara ini, sekarang saya akan menepati janji. Silakan persiapkan diri, saya akan memberikan waktu 5 menit untuk kalian merefreshkan otak. Saya tau, meski nggak disuruh mikir, tapi saat saya mengajukan pertanyaan tidak banyak diantara kalian yang malu untuk mengangkat tangan,"


Bak menguasai perasaan anak remaja, Bella tahu betul salah satu masalah mereka. Di usiaku saat remaja, aku tak jarang juga merasa grogi untuk mengangkat tangan saat diberi kesempatan untuk bertanya atau menjawab. Aku jadi tersenyum mengingat saat itu.


"Give away pertama kali tumbler ya. Nanti dilanjutkan dengan kaos, voucher diskon dan terakhir novel,"


"Gimana? Sudah siap? Kalau sudah siap, katakan I'm ready, yaaa,"


Semua penggemar Bella langsung berteriak sesuai instrupsinya.


"I'm ready!!!"


Mendengar suara gemuruh penggemarnya membuat Bella tersenyum lebar. Dia bahkan sampai bertepuk tangan ikut terbakar semangatnya.


"Wah... Kalian memang sangat semangat, membuat saya malu karena seringkali merasa putus asa. Ah, saya jadi membongkar aib," ucap Bella yang menimbulkan gelak tawa dari penggemarnya.


"Oke oke. Sekarang saya akan mulai,"

__ADS_1


"Ada 5 pertanyaan untuk kalian yang berhasil menjawab akan mendapatkan tumbler cantik. Siapa yang pertama kali cepat mengangkat tangan, dia yang berhak untuk menjawab pertanyaan saya. Kalau ada yang menjawab sebelum saya beri waktu, maka akan gugur. Untuk memantau kalian, saya akan meminta tolong pada asisten saya,"


"Ready?"


"Ready!!!"


Aku ikut menegakkan tubuh. Lumayan lah kalau aku berhasil menjawab, bisa dapet tumbler buat temani aku saat menulis.


"Kalem aja Tha, nggak usah tegang. Nanti malahan nggak dapet," ucap Arsen tiba-tiba.


Aku mendelik tak suka pada Arsen yang tengah memakan rujak buah segar. Mataku nakal sekali karena menginginkan rujak buah dalam tangan Arsen.


"Jangan ngomong sembarangan sih. Ucapan tuh do'a, nanti bisa aja jadi nyata," jawabku sebal.


"Aku nggak ngomong sembarangan lho. Aku cuma kasih saran aja sih, biar kamu nggak tegang,"


"Tau ah! Jangan ganggu telinga aku, nanti aku kalah cepat sama anak remaja,"


"Terserah aja deh."


Aku kembali fokus melihat Bella. Bella sudah mendekatkan mikrofonnya, pasti dia akan mulai memberikan pertanyaan.


"Untuk mempersingkat waktu, pertanyaan ini sifatnya pendapat ya. Jadi, saya yakin setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda. Tapi kalian harus ingat dengan intrupsi saya sebelumnya,"


"Baiklah. Pertanyaannya adalah..."


"Bagaimana kamu menyikapi permasalahan yang dialami oleh keempat sahabat itu? Tolong berikan pendapat disetiap permasalahan yang berbeda."


Deg deg deg


Tuh kan. Gini saja aku degdegan bukan main. Pertanyaan yang cukup mudah. Aku memaksakan diri untuk mengangkat tangan. Namun, sayang sungguh sayang, aku kalah cepat dengan anak remaja. Sebal!


"Mbak Tari, tolong bantu saya pilih yang mengangkat tangan tercepat ya,"


Mbak Tari maju dan berdiri di samping Bella, ia menyebutkan ciri-ciri orang yang mengangkat tangannya dengan waktu cepat.


"Ini mikrofonnya, silakan panggil,"


"Baik. Yang pertama, itu yang duduk paling depan di pojok dekat pohon mangga. Kemudian di tengah yang memakai baju kuning. Selanjutnya yang memakai topi polos warna hitam. Lalu di belakang sana sambil menenteng sebungkus cilok. Dan terakhir yang ada di barisan ke, eum sebentar,"

__ADS_1


"Satu, dua, empat. Yang barisan keempat anak laki-laki yang pakai kemeja kotak warna abu. Silakan yang tadi saya panggil untuk maju ke depan."


__ADS_2