Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Titipan Spesial Dari Arsen


__ADS_3

Sudah ada satu bulan, aku tinggal di kostan. Selama itu juga aku sudah bernegoisasi dengan Diana untuk satu kamar. Selain aku yang tak ingin jenuh sendirian di kamar, maka Diana juga sangat senang karena biaya perbulannya bisa berkurang.


Selama ini, Arsen jarang menemuiku. Kami juga jarang berkomunikasi. Aku fokus dengan tulisan-tulisanku, dan Arsen juga sibuk dengan pekerjaannya.


Detik-detik karyaku selesai, aku malah sering merasa pusing. Mungkin karena tidurku tidak teratur, mataku yang bekerja setengah hari untuk mengejar target, dan makanku yang tidak teratur.


Namun, setiap minggu sekali, aku merefresh diri dengan bersantai di cafe Babeh Rey atau shopping dan tentu saja seharian itu aku tak dipusingkan dengan menulis.


Menulis itu pekerjaan, membahagiakan diri juga keharusan. Begitulah prinsipku. Kalau aku memaksakan kerja full dalam seminggu, maka aku tak memberikan kesempatan tubuhku untuk beristirahat.


Aku berdiri di depan cermin cukup besar yang sengaja ditempel pada dinding. Aku meringis saat melihat tampilanku yang begitu menyedihkan. Kantung mata hitam, rambut acak-acak, dan badan yang sedikit kurus.


Huft! Ternyata sebulan ini aku benar-benar disibukkan oleh menulis, sampai tubuhku sendiri tak terurus. Meski tiap minggu sekali aku merefresh otak dan tubuh, tapi tetap saja aku tidak bisa merawat tubuh dengan baik.


Suara pintu terbuka membuatku menoleh. Sore gini memang biasanya Diana pulang.


“Ya ampun, Tha... Kok kayaknya kamu sekarang keliatan miris banget ya. Ini pasti karena selama 12 jam kamu gila menulis!” omel Diana sambil berjalan dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Aku mendengus. Aku seperti ini juga karena terinspirasi oleh Bella yang bisa mengadakan acara talkshow dan ditambah dengan Arsen yang suka mengomel karena aku sempat bermalas-malasan menulis.


Aku duduk di pinggiran kasur dan mengarah pada Diana.


“Ya gimana ya... Aku kepengen jadi kayak si Bella, atau seenggaknya aku bisa konsisten. Kalau aku rajin kan, nanti karyaku cepat terselesaikan,”


“Hooh, aku tau. Tapi kayaknya tubuh kamu nggak kuat diajak seharian pantengin laptop sambil duduk terus,”


Iya sih. Aku merasakan punggung yang pegal, meski seringkali aku mengganti posisi duduk sambil bersandar. Meski begitu, tetap saja terasa pegal.


“Mumpung lagi dapet ilham. Biasanya aku nulis malem mulai jam 11, tapi itu juga kebanyakan mikir. Jadi deh, kalau nulis cuma dapet dikit.”


“Nah, sekarang mumpung lagi lancar jaya ide dan semangatnya. Jadi, aku harus mengorbankan mata dan punggung,”


Diana menghela nafas panjangnya, “Tau ah. Susah ngomongin orang yang kepalanya sekeras beton!”


Tanganku melempar bantal mengenai Diana, “Enak aja!”


Ya. Selama satu bulan ini juga aku akrab sekali dengan Diana. Aku tak pernah ingin pulang ke rumah meski ayah seringkali meneleponku. Seminggu yang lalu, aku mengganti nomor telepon agar ayah berhenti menghubungiku.


Bukannya aku tak rindu ayah, tapi rasanya percuma saja kalau kembali ke rumah itu. Ayah tak akan pernah peduli dan aku akan mendapat perlakuan kurang ajar dari Andra.


“Oh iya!”

__ADS_1


Sontak saja aku mengelus dada, karena terkejut dengan suara Diana yang mengagetkan.


“Bentar,” katanya sambil duduk.


“Ini, titipan dari bang Arsen,” tangannya menyodorkan satu kantong plastik.


Aku mengernyit, “Apa ini?” namun, Diana mengendikkan bahu, tanda dia tak tahu.


“Hmm. Makasih ya,”


“Udah nggak aneh. Palingan sebentar lagi.” ucapnya yang terdengar samar, karena sambil berlalu ke kamar mandi.


Aku membawa pemberian dari Arsen ke meja tempatku menulis yang baru dibeli dua minggu yang lalu.


Arsen memberiku satu wadah kotak berwarna biru laut. Di luarnya tertulis ‘Semangat, Agatha. Tetap jaga kesehatan ya.:)’.


Aku langsung membuka tutupnya. Ternyata isinya potongan buah segar yang beraneka ragam. Mulai dari mangga, melon, buah naga, apel, dan strawberry.


Bibirku sontak saja tersungging ke atas. Hatiku merasakan bahagia yang sulit dijelaskan. Mendapatkan perhatian kecil darinya sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari yang tak mudah.


“Ciee yang dapet sesuatu dari doi,” ejek Diana yang kedatangannya tak kusadari.


Aku memasang wajah datar, “Apa sih!”


“Sekalian jaga hati dong. Ahahaha,”


Sialan. Dia semakin liar meledekku.


“Berisik, Na!”


“Cie, yang senyum-senyum juga,”


Aku yang sudah kelewat kesal dan malu, langsung saja melempar tutup pulpen pada Diana. Namun, sayangnya tutup pulpen jatuh ke tempat yang tidak tepat dan membuat dia semakin keras tertawa sambil terus meledekku.


“Diana! Awas ya!” geramku dengan mata yang dibuat sipit.


“Bodo amat!”


***


Diana kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tadi, aku kira dia mau mandi, taunya hanya buat air saja.

__ADS_1


Potongan buah segar, maafkan aku karena telah mengabaikanmu beberapa saat sebab Diana yang menggangguku.


Aku langsung melahap buah segar itu, sampai benar-benar habis. Ah... Segarnya. Arsen memang sangat tahu apa yang aku butuhkan saat ini.


Suara pintu kamar mandi terbuka, pasti Diana sudah selesai mandi.


“Tha, bagi dong buahnya,” teriaknya masih berdiri di depan pintu untuk mengelap kakinya yang masih basah.


Aku menoleh ke belakang, “Yaah, telat banget mintanya. Udah habis nih,” jawabku.


“Tha... Tega banget nggak sisain buat aku,” katanya dengan wajah yang dibuat sedih.


“Nggak kepikiran, Na. Apalagi ini kan dikhususkan buat aku,” kataku sambil terkekeh.


“Ooooh, jadi sekarang udah ngerasa spesial, ya?” alisnya naik turun. Mulai deh, pastinya akan menggodaku lagi.


“Yaaa, nggak gitu juga. Pokoknya aku lagi kelaparan banget, jadi nggak inget sisain buat kamu,” alibiku.


“Halah. Ya udah deh, aku mau beli nasi goreng aja. Awas kalau minta!” katanya dengan melihatku sinis.


Aku langsung berdiri dan menarik tangan Diana, “Eh, ikut dong. Aku juga belum makan,”


“Lah, tadi bukannya udah makan?”


“Tadi mah baru cuci mulut, kalau makan belum. Makan buah doang nggak bikin kenyang, Na.”


“Udah ah, yok berangkat!”


Aku melepas tangan Diana dan meraih sweaterku, karena sedang musim hujan jadi hawanya terasa dingin bagiku.


Kami berjalan bersama untuk membeli nasi goreng yang letaknya hanya sepuluh langkah dari kostan.


“Makan di sini, apa di kostan, Tha?” tanya Diana saat kami sudah sampai di warung nasi goreng mang Dudung.


“Di sini kayaknya enak, deh. Lagian bosen kan, kalau makan di kamer mulu?”


Diana mengangguk setuju, “Bosen. Yaaa, itung-itung lagi ngafe aja, hahaha,”


“Mang, dua di sini aja ya. Yang satu pedes, yang satunya sedeng aja,” kata Diana yang sudah hapal nasi goreng sedang kesukaanku.


“Siap, neng. Duduk dulu aja ya,” jawab mang Dudung dengan ramah.

__ADS_1


“Woke, mang!” balas Diana sambil mengangkat jarinya dan dibentuk menjadi huruf ‘O’.


Kami mengambil tempat di meja paling depan, dekat gerobak mang Dudung. Sore-sore begini, apalagi cuacanya dingin, sudah pasti sangat enak jika makan yang hangat, seperti nasi goreng.


__ADS_2