Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Ditraktir Arsen


__ADS_3

Aku dan Arsen telah usai membicarakan naskah. Kami keluar dari Cafe Babeh Rey pada jam 7 malam.


Awalnya aku akan memesan ojek online, tetapi Arsen memintaku untuk pulang bersama menaiki mobilnya.


Aku bukanlah gadis yang berbasa-basi ketika ditawari oleh orang yang telah kukenal. Tanpa banyak pikir, aku mengangguk setuju untuk diantar olehnya.


"Kamu mau beli sesuatu dulu nggak?" tanya Arsen yang tengah menghentikan mobilnya di depan alfamart.


Aku berpikir sejenak. Lalu aku teringat dengan kacang kesukaanku yang tinggal sedikit. Mumpung berhenti di alfa, aku ingin sekalian membeli kacang untuk stok di kamar.


"Mau deh, aku mau beli kacang favorit." jawabku.


Arsen mengangguk dan membuka pintu mobil. Jangan harap aku akan diperlakukan yang manis olehnya. Aku membuka pintu sendiri, karena aku bukan tuan putrinya Arsen.


Kami berjalan beriringan. Namun, Arsen tak banyak berbicara.


Akhirnya langkah kami telah memasuki alfamart. Tanpa berlama-lama lagi, aku menuju rak yang berisi makanan ringan.


Niat hati hanya ingin membeli kacang gurih, tetapi saat melihat banyak ciki berjejer rapi, membuat mataku jelalatan dan ingin membawa mereka semua pulang ke rumah.


Pada akhirnya aku memasukkan banyak ciki, tak lupa juga aku membeli kopi.


"Keluarin lagi kopinya!" sontak saja aku terkejut saat Arsen mengintrupsiku untuk mengembalikan kopi ke tempatnya.


"Ih apaan sih. Ini biar aku nggak ngantuk pas lagi nulis." jawabku ketus.


Arsen menggeleng dan mengambil alih kopi yang tengah kupegang, lalu disimpan olehnya.


"Arsen! Apaan sih!" kesalku berusaha mengambil kembali kopi tadi.


Arsen tak bersuara, tanpa kutahu, dia telah mengambil susu dan menaruh ke trolli.


"Ini lebih baik." katanya.


Aku cemberut kesal, "AKU maunya kopi, Sen!"


"Jangan bandel deh! Kamu punya maag, jangan memperparah penyakit kamu. Susu lebih baik buat pencernaan kmu. Apalagi malem-malem ngopi, nanti kamu Insomnia!" omelnya panjang lebar. Bawa-bawa penyakitku lagi.


"Jadilah penulis yang profesional. Kamu juga harus memperhatikan kesehatan, jangan mentang-mentang garap naskah, jadi lupa kesehatan." lanjutnya masih memberiku ceramah.


Aku mengkomat-kamit mulut, meledek Arsen. Namun, dia tak marah mendapati kelakuanku yang kurang ajar ini.


"Semuanya aku bayarin, asal jangan masukkin kopi!"


Nah, kalau ini aku langsung sumringah. Siapa sih yang nggak mau gratisan? Lumayan lah, aku tak perlu mengeluarkan uang untuk membawa jajanan ini ke rumah.


"Bener?" tanyaku memastikan.


Arsen mengangguk yakin, "Iya!"


Aku tersenyum ngembang. Mumpung Arsen mentraktirku, aku tak tanggung-tanggung mengambil ciki yang lain untuk dimasukkan ke dalam trolli.

__ADS_1


Mata Arsen melotot, tat kala melihat aku yang memasukkan banyak ciki.


"Heh! Kamu mau meras aku ya? Masukin ciki banyak banget!" ngegas mulu deh, heran.


"Lumayan, kan kamu yang bayar. Jadi, aku beli banyak biar stoknya awet." jawabku terkikik, tak tahu malu memang.


Arsen mendengus kesal, "Oke deh, tapi jangan terlalu banyak konsumsi ciki-ciki, nggak baik buat kesehatan. Sana, kamu pergi ke tempat buah-buahan, biar sehat." tulah Arsen. Aku menggeleng.


Melihat aku yang menolak, dia langsung menarik tanganku ke tempat buah-buahan segar. Tak tanggung-tanggung, dia mengambil banyak buah segar untukku.


"Arsen, itu kebanyakan. Sayang, nanti busuk." ucapku.


"Kan bisa masukin kulkas. Atau, sehari kamu habiskan juga nggak masalah." jawab Arsen enteng.


"Ih nggak mau!" tolakku.


Arsen mengangguk-angguk, "Oh, nggak mau ya? Kalau gitu aku nggak jadi traktir kamu."


Sial. Dia selalu saja punya cara agar aku menurut. Dengan terpaksa aku mengangguk. Sayang juga kalau aku menolak rezeki darinya.


"Ya udah iya. Dasar pemaksa!"


"Kamu beli apa?" tanyaku padanya.


Dia mengangkat tangan kanannya, menunjukkan barang yang ia akan beli.


"Nih." jawabnya sambil memamerkan satu dus bahan untuk membuat bolu secara instan.


Aku melongo. Dia hanya membeli itu? Sementara aku membeli banyak macam makanan, dan dia pula yang membayarnya.


Dia mengangguk, "Iya."


Sumpah, aku ingin menangis karena berasa jadi perempuan yang suka memeras uang pria.


"Tapi aku beli banyak banget, kamu juga yang bayarnya." kataku, kali ini nada suaraku sedikit bergetar.


Arsen mengangkat alis kanannya, "Terus?"


"Aku jadi ngerasa perempuan yang suka meras uang cowok."


"Emang pada kenyataannya, kamu peras uang aku."


Kampret bener nih orang. Aku kan jadi semakin merasa bersalah.


Aku menundukkan kepala, malu melihat matanya. Namun, tak disangka, Arsen menepuk-nepuk kepalaku.


"Nggak apa-apa, canda doang. Lagian aku yang mau traktir kamu."


Aku mendongak menatapnya, "Bener?"


Dia mengangguk, "Huum."

__ADS_1


"Mau ambil apa lagi?"


"Udah, ini juga terlalu banyak buat stok."


"Ya udah, yuk kita bayar." tangannya menggenggam tanganku. Aku hanya bisa melihat pagutan tangan kami.


...***...


Setelah membayar belanjaan yang didominasi olehku, kini kami kembali melakukan perjalanan untuk sampai ke rumah Ayah.


"Udah sampai, kamu mau di sini terus?" suara Arsen menyadarkanku yang tengah bergerutu karena melihat mobil Ayah.


"Sebenernya aku malas pulang."


"Kenapa?"


"Karena aku nggak menemukan kebahagiaan di rumah."


"Sepertinya aku mau cari kontrakan aja." lanjutku.


"Kontrakan?" tanya Arsen bingung. Aku memang belum menceritakan tentang hubunganku dengan Ayah dan wanita itu.


"Iya. Nanti carikan aku kontrakan yang harganya nggak terlalu mahal ya. Kecil juga nggak apa-apa, yang penting bisa tidur." jawabku.


"Tapi kenapa? Rumah Ayah kamu besar lho."


Aku mengembuskan nafas, lalu menoleh ke arahnya.


"Nanti aku ceritakan gimana hubungan aku dengan Ayah, asalkan kamu carikan kontrakan buat aku." kataku.


"Hmm. Baiklah."


"Sekarang cepatlah turun." usir Arsen, menyuruhku segera keluar.


Aku mendelik tajam pada Arsen, "Ngusir nih?"


"Iya! Udah gih, sana." tangannya mengibas-ngibas.


Aku mendengus kesal, "Ih, jahat banget sih!" ucapku sambil membuka pintu mobil.


"Makasih tumpangannya!" lanjutku ketus.


Setelah itu, aku tak lagi menengok ke belakang. Masa bodoh, kalau Arsen belum beranjak dari tempatnya.


Sebelum benar-benar memasuki rumah, aku menarik nafas terlebih dahulu. Pasti akan ada hal yang harus kulalui dengan kesabaran jika telah bertemu Ayah dan wanita itu.


Setelah dirasa mulai tenang, aku melanjutkan langkah masuk ke dalam. Namun, sebelum itu terjadi aku menengok ke belakang. Ternyata Arsen belum beranjak dari tempatnya. Dia terus memperhatikanku.


Aku kembali melangkah. Baru saja membuka pintu, di sana sudah ada Ayah dan wanita itu. Tak tahu malu sekali, wanita itu bersandar pada bahu Ayah. Aku benar-benar muak melihat mereka.


"Hai, calon anaknya tante." sapa wanita itu. Telingaku tak sudi mendengar dia menyebutku calon anak.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu mengucapkan hal itu, akan kuterkam kau!" ucapku sambil menatapnya dengan sengit.


...Kalian penasaran nggak sih, siapa wanita itu? Wanita yang tak pernah mau Agatha sebut namanya?...


__ADS_2