
...Hi! Maafkeun Afda Yg nggak konsisten nulisπ...
...Afda mau ngucapin makasih banyak yg udah bom Like. Pokoknya sarangeoooπππ...
...Okedeh happy reading yupsπ...
Ta-daπ
πππππππππππππππππππ
"Kenapa? Apa aku bukan laki-laki yang pantas buat kamu?"
Ah... Pertanyaan Arsen kok terdengar sangat serius, padahal aku hanya mengelak, sebab masih belum kutemukan seseorang yang bisa membuat jantungku berdebar.
"Bukan gitu... Cuma... Aku masih belum merasakan sesuatu yang berbeda," jawabku tak kalah serius.
Namun, kau tahu apa jawaban selanjutnya dari Arsen? Dia tertawa bahkan sampai wajahnya merah. Sial. Aku kira dia menanyakan itu dengan sungguh-sungguh, taunya hanya bercanda.
"Hahaha. Kenapa serius gitu sih, Tha?"
Aku yang kepalang kesal, langsung menyodorkan siomay yang tersisa setengah. Gara-gara Arsen, aku jadi tak nafsu melanjutkan makam siomaynya.
"Eh, kok nggak dihabisin?"
"Keburu gak nafsu!" jawabku kesal dengan tangan yang dilipat.
"Habisin, Tha. Mubadzir kalau dibuang, apalagi ini belinya pake uang dan kasian juga penjualnya yang udah cape bikin ini,"
Bodo lah. Aku membuang muka ke sembarang arah. Melihat Arsen membuat aku jadi kesal lagi.
"Tha..."
"Apa!" jawabku ketus.
"Dimakan lagi,"
"Nggak mau! Habisin aja sama kamu,"
"Jangan gitu lah, aku tau kamu pasti lapar apalagi tadi cukup kesulitan kan berdiri di panggung? Aku tau, Tha,"
Aku berdecak sebal. Arsen kenapa sangat suka sih, mengganggu suasana hatiku. Jujur, hari ini aku sedang mudah tersinggung.
"Nggak mau, Seeen. Kamu habisin deh,"
Helaan nafas Arsen terdengar cukup keras ditelingaku. Saat aku menoleh pada Arsen, dia benar-benar memakan siomay bekasku. Sementara, aku tengah menikmati es doger yang sangat segar.
"Abis ini mau kemana?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Pulang," jawabku masih ketus.
"Ya udah."
__ADS_1
ππππππππππππππππππ
Setelah Arsen menghabiskan siomay miliknya dan bekasku, kini kami berada dalam perjalanan pulang. Tentunya sebelum pergi, Arsen berpamitan dahulu dengan Bella.
Di dalam mobil suasana sangat hening. Moodku masih belum kembali baik. Sambil mengisi waktu yang sepi ini, aku membaca kembali novel karya Bella.
"Tha?" panggil Arsen.
"Hmm?"
"Nggak bosen baca buku itu, walaupun udah pernah baca sebelumnya?"
"Nggak."
Arsen tak mengeluarkan lagi suaranya, mungkin karena dia ikutan malas mendengar suara ketusku.
Setelah melewati waktu setengah jam, mobil Arsen kini sudah tiba di depan gerbang rumahku.
"Udah sampe nih. Kamu masih mau baca novel di sini?" ingat Arsen.
"Iya. Udah tau. Ini mau turun,"
Namun, aku tidak langsung turun. Aku kembali menyandarkan tubuh. Rasanya setiap kali sampai ke rumah, aku sangat ingin kembali ke tempat sebelumnya yang baru aku kunjungi. Aku tak suka berada di rumah sejak bunda pergi.
"Kenapa, Tha? Kamu pusing?"
Aku menggeleng lemah. Setelah menghirup udara cukup lama, akhirnya aku menegakkan tubuh dan bersiap keluar dari mobil Arsen.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat cerita sama aku. Aku harap, seperti katamu tadi di sana, kamu akan dengan senang hati menjadikan aku sebagai orang yang mau membantu kamu. Aku nggak keberatan,"
Sungguh sangat baik. Aku tidak berjanji, tapi aku juga pastinya akan selalu membutuhkan dia.
Aku mengangguk sambil tersenyum tipis, "Iya."
Setelah itu, dia melepaskan tanganku dan membiarkan aku turun dari mobilnya.
Seperti biasa, aku berdiri sambil menatap luar rumah. Sekarang rumah ini sudah berbeda setelah bunda pergi. Tak ada kehangatan lagi di dalamnya.
Aku melangkah masuk ke dalam. Sungguh luar biasa karena langsung saja disambut oleh wanita menyebalkan itu.
Kiana berdiri dari tempatnya dan menghampiriku dengan wajah sok peduli.
"Ya ampun, kamu dari mana aja? Tante padahal tadi kepengen ngajak kamu ke butik buat beli gaun pesta saat acara nanti,"
Cuih. Aku tidak akan sudi pergi ke sana bersama Kiana. Namun, aku sedikit penasaran dengan kalimat terakhirnya.
"Nggak usah sok baik! Kamu bukan siapa-siapa aku!" sarkasku padanya.
"Siapa bilang dia nggak akan jadi siapa-siapa kamu?"
Hah! Lagi-lagi ayah datang bak pahlawan kesiangan untuk wanita itu. Ayah selalu membela Kiana.
__ADS_1
"Karena sebentar lagi, dia akan resmi menjadi ibu untuk kamu,"
Sontak saja aku menoleh dan menatap tajam pada ayah. Tahu, apa yang ayah lakukan selanjutnya? Dia memberikan satu kertas undangan pernikahan berwarna merah. Di sana tertulis nama ayah dan wanita itu. Ayah benar-benar sudah tidak peduli lagi denganku. Ternyata ini maksud kalimat yang Kiana ucapan diakhir.
Aku menepis undangan itu hingga jatuh ke lantai. Aku semakin benci dengan kedua orang dihadapanku ini.
"Aku benci ayah!"
Sudah tak ada lagi selera bersama ayah setelah dengan teganya ayah memberikan undangan pernikahan keduanya dengan Kiana, wanita yang amat aku benci. Seharusnya, ayah bicarakan terlebih dahulu dan meminta izin padaku. Bagaimanapun juga, aku adalah putrinya dan berhak untuk menolak menerima keluarga baru, terlebih untuk menggantikan posisi teratas.
Aku tak ingin berada di tengah-tengah mereka, dan memutuskan untuk pergi ke kamar.
"Agatha!" teriak ayah yang tak aku sahuti.
Ayah... Tahukah engkau, kalau putrimu sangat kecewa dengan tindakan sebelah pihak darimu? Aku sungguh benci ayah dan tidak akan menerima wanita itu.
Saat ini, aku menangis sambil berjalan cepat menaiki tangga. Ternyata ini adalah hasil dari hatiku yang menolak pulang. Kalau tahu akan seperti ini, aku lebih baik tidak akan pulang ke rumah dan menghabiskan waktu lama bersama Arsen.
Mungkin bagi kau, aku terlalu berlebihan. Namun, tahukah kau betapa sakitnya menerima orang baru untuk menggantikan posisi penting dalam hidupmu?
Kehilangan bunda bukan berarti aku mudah menerima ibu baru. Bunda tak akan pernah terganti oleh siapapun, dan aku tidak akan pernah memberikan ruang teratas untuk mereka yang mencoba mengganti posisi bunda.
Aku menghempaskan tubuh dengan kasar di atas kasur. Tanganku mencari ponsel dan akan segera menghubungi Arsen.
Aku... Aku butuh Arsen untuk mendengarkanku. Tak mengapa kan, aku memakai kesempatan untuk bercerita padanya karena Arsen juga menyetujuinya?
Panggilan dariku langsung diangkat olehnya.
"Ada apa, Tha?"
Isak tangisku lolos begitu saja, hingga terdengar oleh Arsen dan membuatnya bertanya dengan khawatir.
"Tha? Kamu nangis? Ada apa?"
"Arseeen... Hiks..."
Niat hati ingin menceritakan semuanya, tapi aku malah hanya menangis sambil memanggil namanya berkali-kali.
Tahukah kau, mengungkapkan perasaan tersulit yang dirasa, ternyata tidak juga mudah. Ia akan kalah cepat dengan air mata. Sepertinya, air mata yang lebih mampu menjelaskan betapa sakitnya kamu, daripada harus sulit menceritakan dengan suara.
"Nggak apa-apa. Kamu nangis sepuasnya, aku dengerin sampai kamu puas dan cape buat ngeluarin air mata lagi," kata Arsen yang sangat mengerti aku.
Dia menepati ucapannya yang mendengarkan aku terus menangis sampai aku lelah.
"Sekarang tidur ya. Udah siang dan juga bagus buat tubuh kamu diistirahatkan,"
Aku masih sesenggukkan, "I-iya, hiks..."
"Ya udah, tutup gih sama kamu."
Tanpa menjawab ucapan Arsen, aku menutup panggilan dan langsung menarik selimut. Masa bodoh dengan keadaanku yang sangat berantakan ditambah pakaian tadi belum diganti.
__ADS_1