
...Maaf, slow update. Tetap dukung author ya🤗...
...Happy reading semuanya🌻...
Aku dan Arsen sudah berada di dalam mobil. Aku masih tak tahu akan dibawa oleh dia ke mana, yang penting pagi hariku tidak sia-sia.
"Ngomong-ngomong, mau ke mana kita?" aku bertanya pada Arsen karena sangat penasaran akan dibawa ke mana.
"Ada deh. Pokoknya mau bawa ke suatu tempat." jawab Arsen tanpa menoleh padaku.
Baiklah. Dibawa ke mana pun, aku akan ikut daripada harus di rumah dan bertemu wanita menyebalkan itu.
Namun, ada hal lain lagi yang mengganjal. Pakaianku. Aku memakai kaos putih pendek yang dimasukkan ke dalam celana kulot lalu ditutupi oleh blezer warna kuning kunyit, lalu rambutku juga hanya di cepol menggunakan karet gelang yang biasanya untuk membungkus nasi kuning.
Pakaianku sangat santai. Semoga saja Arsen tidak membawaku ke suatu tempat yang resmi dan formal. Bisa saja kan, Arsen membawa aku ke pernikahan temannya? Ah, semoga tidak.
"Nih, sumpel mulut kamu pake ini. Aku tau, kamu pasti bosen kan?" dia mengulurkan satu bungkus cokelat silverqueen.
Arsen selalu tahu apa yang aku suka, salah satunya juga silverqueen. Aku tak mau si manis itu mubadzir, jadi aku langsung mengambilnya.
"Kyaaa... Abang Arsen emang terbaik deh," kataku sambil mengedipkan mata kanan.
Arsen bergidig melihat aku yang mengedipkan sebelah mata, membuat aku tertawa.
"Mata kamu kenapa? Kelilipan kotoran gajah?"
"Sembarangan. Mata aku kelilipan pancaran sinar kegantengan dari kamu tau,"
Uhuk!
Arsen tiba-tiba saja terbatuk. Telinganya memerah, tanda jika dia tengah merasa malu. Aku tergelak sambil memegang perut melihat dia yang salah tingkah.
"Cie salting, cieee..." ejekku, sambil menoel pinggangnya.
Tubuh Arsen bergerak tak nyaman, menghindar toelanku.
"Geli Tha. Nanti aku susah makan, tanggung jawab ya!"
Aku langsung menghentikan tangan imutku yang ternyata menggelitiki pinggangnya.
"Hehe, maaf Sen,"
"Udah nggak salting lagi nih?" tanyaku kembali mengejek Arsen.
Arsen menatapku datar, "Dari tadi juga nggak salting. Kamunya aja yang sotoy," bantah Arsen.
Aku menggigit bibir, menahan senyum. Arsen kelihatan sekali sedang berbohong.
"Masa sih, Sen? Kok tadi kuping kamu merah?"
"Itu tadi tiba-tiba aja telinga aku berdengung," elaknya lagi.
Baiklah aku berhenti membuatnya untuk jujur.
__ADS_1
"Iya deh, iya."
Aku mengernyit saat Arsen melajukan mobil dengan pelan dan menjadi berhenti. Mataku menyipit saat melihat bangunan yang sangat aku kenal.
Star Publishing? Itu kan tempat kerjanya Arsen. Aku hafal betul, sebab aku sudah langganan dalam mencetak karya di sana.
"Kamu bawa aku ke sini buat nemenin kamu kerja?" kataku sambil mengembungkan pipi.
Sebal sekali. Aku kira akan diajak ke pantai, atau setidaknya alun-alun deh. Dia malah membawaku ke tempat kerjanya.
"Aku mau ketemu dulu sama pimpinan redaksi. Tadi aku sempat di telepon buat ke kantor dulu, ada yang mau diomongin,"
"Oh begitu. Terus setelah ini kamu mau bawa aku ke mana?"
Arsen mengendikkan bahunya membuat aku mendengus kesal.
"Kok malah nggak tau sih? Kalo masih inget, aku pengen jalan-jalan lho, Sen," ingatku padanya.
Dia mengangguk cepat, "Iya, aku masih inget. Sekarang masuk dulu ya, habis ini aku bawa ke mana aja deh yang kamu mau. Janji,"
Baiklah. Daripada Arsen tidak jadi mengajakku jalan-jalan, mendingan aku ikut masuk dulu. Semoga saja dia tidak begitu lama membahas urusan dengan Bu Lidia sebagai pimpinan redaksi.
"Hmm... Ya udah deh."
Tanganku ditarik oleh Arsen. Aku mendadak jadi ekornya Arsen.
"Pagi, Arsen," sapa seorang perempuan yang bekerja di Star Publishing.
Arsen membalasnya dengan tersenyum, "Pagi juga, mbak Wid,"
"Mbak langganan nyetak di sini kan? Karya mbak juga pernah Best Seller tahun kemarin. Mbak Ag- apa ya? Duh,"
Aku tertawa pelan. Ternyata perempuan itu seru juga. Tipe-tipe banyaj bicara, tetapi tidak bar-bar.
"Agatha, mbak," timpalku.
"Oh iya bener, mbak Agatha. Lama nggak ketemu, baru ketemu sekarang eh taunya digandeng sama Arsen. Sen, kamu kasih dia apaan, sampe bisa nyantol gitu?" selorohnya dengan menatap Arsen penuh selidik.
Arsen menatapku sinis, lalu ia menoleh lagi pada rekan kerjanya.
"Bukan aku yang ngintilin dia, tapi dianya. Dia seneng banget ganggu aku, mbak," jawab Arsen, sontak membuatku mencubit tangannya.
"Sembarangan!" ucapku dengan menatap sinis.
Rekan kerja Arsen tertawa melihat pertengkaran kecil aku dengan Arsen.
"Udah udah. Oh iya, kamu pasti mau ketemu bu Lidia ya?" Arsen langsung menganggukinya dengan cepat.
"Iya nih, mbak. Kok tau?"
"Tau lah. Orang sebelum telepon kamu, bu Lidia panggil aku duluan, nanyain kamu udah datang belum. Ya aku jawab belum, kan kamu emang free hari ini,"
Arsen mengangguk. Sementara itu aku hanya diam mendengarkan percakapan dua orang.
__ADS_1
"Terima kasih, mbak. Aku masuk dulu ya,"
"Sama-sama, Sen. Aku yakin, sepertinya ada project penting buat kamu," perempuan yang dipanggil Wid itu terkekeh.
Helaan Arsen terdengar olehku. Sepertinya, Arsen adalah orang yang cukup penting untuk pimpinannya itu.
"Iya, mbak. Sepertinya aku harus siap bertemu orang baru lagi nih."
"Haha, lumayan bisa dapet pengalaman, bisa dapet channel banyak juga nanti. Udah gih, masuk sana." kata perempuan itu sambil mengibaskan tangannya pada Arsen. Kemudian Arsen segera melanjutkan langkahnya.
Dia menarik lagi tanganku dan membawa ke ruangan bu Lidia.
"Sen, yang tadi siapa?" tanyaku penasaran pada perempuan tadi.
"Oh. Itu mbak Widia, aku biasa panggil mbak Wid,"
"Dia kerja bagian apa?" tanyaku lagi, karena penasaran.
"Dia bagian layout,"
"Dia umur berapa? Udah nikah belum? Udah punya anak belum?"
Mendengar aku yang banyak tanya, dia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku.
"Kepo deh,"
Hih. Aku kan penasaran. Habisnya, mbak Widia orang yang supel, ramah, banyak ngomong tapi nggak bar-bar.
"Nggak apa-apa lah. Siapa tau aku bisa berteman sama dia,"
"Mbak Wid nggak mau temenan sama kamu. Kamu orangnya rese si!"
Sial. Sembarangan mengataiku rese. Aku sebenarnya kalem dan dewasa, tapi kalau tidak bersama Arsen. Entahlah, rasanya jika bersama Arsen aku bisa sedikit menemukan sifat bunda dari dirinya.
"Dia lebih tua dari aku 2 tahun. Udah nikah beberapa bulan yang lalu. Terus sekarang denger-denger sih lagi ngisi. Udah puas?"
Senyumku mengembang. Meski tadi Arsen mengataiku, tapi akhirnya dia menjawab juga pertanyaanku.
"Nah gitu dong. Jelas, jadi nggak bikin rancu."
Dia tak mengeluarkan suara lagi, dia juga menarik tanganku lagi.
Sesampainya di depan pintu, Arsen memintaku menunggu di luar.
"Kamu duduk dulu ya di sana," katanya sambil menunjuk kursi yang disediakan.
"Jangan lama-lama." kataku sambil mencebikkan bibir.
"Iya, tapi nggak janji."
Arsen membuka gagang pintu bercat hitam itu. Dia langsung membawa badannya masuk ke dalam.
Sementara itu, aku duduk sambil melihat-lihat kantor ini. Warna kantornya berwarna putih susu dan warna cokelat gelap.
__ADS_1
Daripada bosan menunggu Arsen yang hanya berdiam diri, aku mengambil cokelat tadi yang Arsen berikan di mobil, masih tersisa banyak.
Sampai cokelat habis, Arsen masih belum juga keluar. Dia bohong, katanya hanya sebentar, taunya sudah 15 menit aku hanya diam sendirian.