Kisah Di Dalam Kisah

Kisah Di Dalam Kisah
Jogging Bersama Dira


__ADS_3

Hari ini aku bangun sangat pagi, yaitu waktu subuh. Sangat jarang sekali.


Karena bosan mau melakukan apa di rumah, aku putuskan untuk jogging sekalian menghirup udara segar di pagi buta.


Setelah mandi tadi, aku kini sudah siap mengenakan celana joger hitam dan kaos putih yang dibalut oleh jaket abu muda. Sementara itu, rambutku dikuncir kuda.


Saat aku keluar dari kamar, penampakan yang pertama kali aku lihat adalah papa yang tertidur di atas sofa. Pakaiannya sangat berantakan, bahkan sepatunya masih menempel. Aku yakin, semalam papa pasti habis mabuk-mabukan dengan wanita yang sangat aku benci itu.


Aku bodoh amat melihat papa yang tergeletak lusuh. Tak mau membuang waktu berhargaku dengan melihat kondisi papa, aku segera berjalan cepat untuk jogging.


πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–


Hah!


Udara pagi hari memang benar-benar menyejukkan. Kedua mataku terpejam menikmati hembusan angin sejuk. Hidungku menarik dalam-dalam udara dingin ini.


Ah. Aku menyesal sekali, karena telah menyia-nyiakan pagi hariku. Aku harus mengubah jadwal menulisku, agar bisa menikmati pagi hari.


Di depan sana, aku melihat Dira dan Kevin- abangnya Dira. Ada juga orang tua yang masih semangat berolahraga. Kalau anak kecil, aku tak menemukannya, mungkin karena mereka harus bersiap berangkat sekolah. Biasanya anak kecil akan melakukan olahraga pada hari minggu, sebab hari itu mereka libur sekolah.


"Hai, Kak Agatha!" sapa Dira dengan senyum manisnya.


Gadis itu memakai pakaian training biru dengan hijab segi empat yang warnanya senada dengan trainingnya.


Aku juga memberikan senyum kepada Dira, sambil membalas sapaannya.


"Hallo, Dira."


"Kamu berangkat siang atau libur?" tanyaku padanya.


"Aku ada jadwal siang, Kak. Oh iya, Kak Agatha mau jogging juga?"


Aku mengangguk semangat, "Iya, nih,"


Gadis itu terlihat ceria, "Woah! Kalau gitu, bareng aja yuk, sama aku,"


Hmmm. Penawaran yang menarik. Aku tak perlu merasa seperti orang hilang, karena berjalan sendirian. Jika bersama Dira, setidaknya aku mempunyai teman untuk mengobrol sekalian membeli sarapan di sana.


Aku mengangguk, menerima tawaran Dira.


"Dengan senang hati." jawabku.


Namun, pandanganku beralih pada Kevin yang sedari tadi hanya bersandar pada pagar rumah sambil memejamkan matanya.


Aku tahu apa alasannya laki-laki itu bersandar begitu menikmati, karena ia sembari mendengarkan musik. Itu terlihat dari airphonenya.


"Aku nggak ganggu kamu sama Kevin?" tanyaku, tak enak jika mengganggu kebersamaan mereka.

__ADS_1


Dira terkekeh, gadis itu ikut melihat ke arah Kevin.


"Nggak kok, Kak. Lagian aku kalau jalan sama Bang Kevin pasti bakal dikacangin, soalnya dia juga sibuk nyanyi. Padahal suaranya fales."


Aku ikut tertawa mendengar ucapan Dira. Namun, tiba-tiba saja Kevin menyentil dahi adiknya, sehingga membuat Dira memberengut kesal.


"Abang, ish!"


Kevin langsung menggerakkan kakinya, membentuk langkah lari kecil.


Sementara aku dan Dira mengikuti laki-laki itu dari belakang.


Kami akan berlari ke taman yang tak jauh jaraknya dengan rumah.


Sesampainya di taman, aku dapat melihat keramaian. Ternyata banyak orang yang akan berjogging, senam, olahraga ringan, atau hanya sekedar menghirup udara segar.


Selain itu, di sana ada beberapa tukang dagang, seperti penjual bubur, air mineral, dan sarapan lainnya.


"Kak, tau nggak? Aku kalau jogging bareng Bang Kevin, pasti dikiranya pacaran," kata Dira yang dengan tiba-tiba menceritakan hal itu padaku.


Namun, memang benar juga apa yang orang-orang kira. Kevin dan Dira terlihat seperti sepasang kekasih. Tak heran jika orang-orang berpikir seperti itu.


"Tapi emang bener juga, sih. Mungkin karena usia kalian yang kelihatan udah dewasa," jawabku.


Gadis itu mencebikkan mulutnya, "Tuh kan. Kak Agatha juga bilang seperti itu."


Aku tertawa mendengarnya. Tanganku tiba-tiba saja mengacak kepalanya yang tertutup hijab.


"Ya udah, yuk. Kita jogging lagi, habis itu kita duduk di kursi taman sana." ucapku yang diangguki oleh Dira.


Kami melanjutkan jogging, memutar taman untuk menuju kursi dekat penjual bubur ayam.


Kegiatan lariku, membuat keringat mengucur dan membasahi jaket tipisku. Namun, rasanya sangat menyegarkan untuk tubuhku yang jarang sekali diajak berolahraga.


Tak sadar, aku dan Dira berlari kecil hingga sampai di tempat duduk sana. Kami duduk sambil mengatur nafas, sambil mengayunkan kaki.


"Aku pesan air sama bubur dulu, ya," ucapku pada Dira.


Gadis itu langsung menoleh ke arahku. Ia bangun dari duduknya.


"Ayo, Kak! Aku ikut." kata dia sambil berjalan mendahuluiku.


Aku dan Dira sudah berdiri di depan gerobak bubur ayam.


"Pak, buburnya dua mangkuk ya," pesanku pada bapak penjual bubur.


Aku menolehΒ  pada Dira, "Oh iya, abang kamu mau sekalian dipesanin juga nggak?"

__ADS_1


Gadis itu menggeleng, "Nggak usah kak. Dia nggak suka bubur ayam. Biasanya juga dia belinya nasi kuning."


Aku mengangguk paham. Kemudian aku beralih pada penjual air mineral, untuk membeli dua botol air mineral.


"Nih," tanganku menyodorkan satu botol air mineral dan diterima oleh Dira.


"Makasih, kak." jawabnya yang diangguki olehku.


Setelah itu, kami kembali duduk di kursi tadi. Urusan bubur, nanti juga akan diantarkan.


Tak lama kemudian, bubur pesanan kami sudah datang. Aku dan Dira fokus menikmati satu mangkuk bubur di pagi ini.


"Oh iya, kak, total yang punya aku berapa?" tanya Dira setelah menghabiskan buburnya.


Aku menggeleng. Dira tak perlu membayarnya. Anggap saja ini adalah upahku kepadanya, karena gadis itu telah mau menemani pagiku.


"Nggak usah, Dira. Yang punya kamu, biar aku yang bayar,"


Namun, nampaknya gadis itu tak ingin dibayarkan olehku.


"Aku bayar sendiri aja ya, kak. Nggak enakan masa kak Agatha yang bayarin,"


"Nggak apa-apa kok. Anggap aja ini adalah upah buat kamu, karena udah mau nemenin pagiku. Biasanya setiap pagi, aku kan jarang keluar," balasku sambil tersenyum.


Gadis itu mengembuskan nafasnya dengan pasrah.


"Yah... Ya udah deh, makasih banyak ya, kak,"


"Huum. Sama-sama."


πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–πŸ“–


Aku dan Dira pulang pada saat matahari sudah tak malu lagi untuk bersinar. Kami sudah sampai di depan rumah Dira.


"Aku masuk duluan ya, kak," ucap Dira, tangannya sudah memegang daun pagar.


Aku mengangguk sambil tersenyum, "Iya Dira. Makasih banyak ya udah nemenin aku jogging,"


Dira mengangkat tangannya dan menyatukan ibu jari dengan jari telunjuk, membentuk huruf O.


"Oke, Kak. Makasih juga traktirannya!" yang kujawab dengan anggukan.


Aku kembali masuk ke rumah saat Dira sudah benar-benar masuk. Sementara itu, Kevin sudah lebih dahulu masuk dan tanpa mengatakan apapun untukku. Kevin memang laki-laki yang sangat cuek terhadap kaum perempuan.


...Sudahi sampai di sini😁...


...Semoga suka dengan ceritaku pertama di siniπŸ€—...

__ADS_1


...Berikan komentar, like, dan tentunya follow akun me 😚...


...Lain bab, Afda kasih bonus pict dehπŸ˜‰...


__ADS_2