
Katanya Sendi dan Kiana akan pulang larut, tapi ternyata mereka pulang setelah 45 menit Agatha sampai ke kostannya. Andra bahkan sampai terkejut mendapati mereka pulang sore hari.
“Papa sama mama udah pulang? Bukannya kalian mau pulang larut malam ya?”
“Acara pertemuannya diundur besok,” jawab Kiana.
“Agatha masih belum keluar dari kamar?” tanya Sendi pada Andra sambil melonggarkana dasi di ruang tamu.
Andra sedikit merasa tak nyaman mendengar nama Agatha disebut, dia juga takut ketahuan akan melakukan sesuatu pada agatha.
“Tadi sore dia tiba-tiba aja pergi sama seorang laki-laki. Aku takut dia diguna-guna sama laki-laki itu, karena Agatha bilang nggak akan mau lagi balik ke rumah ini.” bohong Andre.
Sementara itu, rahang Sendi mengetat. Dalam pikirnya bahwa sang putri memilih pilihan bodoh dan mau saja dibodohi oleh seorang laki-laki bejat. Padahal, yang bejat di sini adalah Andra.
Sendi langsung bangun dari duduknya dan menuju ke kamar, dan Andra malah menyunggingkan senyumnya.
Sendi mondar-mandir menghubungi sang putri agar kembali ke rumah, tapi sayangnya itu hanya menjadi sia-sia, karena agatha enggan mengangkat telepon ayahnya.
***
Hujan sudah berhenti mengguyur. Aku turun dari mobil, karena jalan yang akan mengantarkanku pada kostan sangat kecil, hanya sepeda motor yang bisa masuk.
“Kostannya emang di dalem, jadi mobil nggak bisa masuk. Nggak apa-apa kan?” tanya Arsen, mungkin dia tak enak hati.
“Nggak apa-apa. Lagian aku bisa sambil olahraga,” jawabku sambil melompat ke tempat yang lebih tinggi dari genangan bekas air hujan.
“Nggak jauh, sebentar lagi juga sampai.” Kata Arsen.
Aku dan Arsen berdiri di depan pagar besi pendek. Aku bisa melihat sebuah bangunan berwarna biru dan berpintu banyak dengan nomor masing-masing. Aku tebak, pasti di situlah aku akan tinggal. Eumm, tempat ini sepertinya lebih baik karena dari luar terlihat bersih dan rapi.
“Ini kostannya?” tanyaku sambil menoleh pada Arsen.
Arsen mengangguk lalu kembali melihat bangunan itu, “Iya. Sesuai yang aku katakan, kalau tempat ini kecil,”
“Iya, aku tau. Tempat ini bersih kok, jadi aku pasti bakal nyaman di sini,”
“Semoga. Oh iya, kamu nggak usah khawatir sendirian, karena untuk sementara waktu kamu sekamar sama rekan kerja aku. Namanya Diana, kalau kamu mau pisah kamar juga bisa, tapi jangan hari ini ya. Kamu masih terlalu lelah,”
Hatiku sangat tersentuh dengan kebaikan dan perhatian Arsen. Tuhan... Kenapa Engkau berikan seseorang yang teramat baik untuk direpotkan olehku?
“Arsen... Terima kasih banyak,” ucapku dengan tulus. Entah berapa kali aku mengucapkan terima kasih untunya, yang jelas aku benar-benar berteima kasih padanya.
“Iyaa Agatha. Aku udah bosen banget denger kamu bilang ‘Arsen, terima kasih banyak, makasih, makasih banyak’,”
Ya gimana ya, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berterima kasih. Bahkan ya, terima kasih saja tak cukup untuk membalas rasa sakit akibat tonojokan Andra.
__ADS_1
“Yaaahh, masa bosen sih!” kataku sambil cemberut.
“Udah ah, kita masuk ke dalam dan kamu buruan ganti pakaian biar nggak masuk angin.”
Arsen membukakan pintu pagar untukku, dia juga yang menyeret koper milikku. Dia membawaku ke pintu yang bernomor 3 dan mengetuk pintunya.
Seseorang dari dalam kamar langsung membuka pintu. Dia wanita yang sepertinya seumuran denganku. Rambutnya pendek seperti dora dan memakai kacamata bulat.
“Bang Arsen kok baru dateng? Aku kira nggak jadi dateng soalnya udah nungguin lama,” kata gadis itu sebagai sambutan untuk kedatangan kami.
Arsen tersenyum sopan,”Duh, maaf banget yang udah bikin kamu nunggu lama. Soalnya tadi ada sedikit masalah,”
“Nggak apa-apa, kok, Bang. Oh iya, ini gadis yang kamu mau titipin?” tanyanya sambil menatapku.
Arsen mengangguk, “Iya. Aku titip dia ya, nanti kalau udah waktunya mungkin dia bakal ambil kamar sendiri,”
Gadis itu tertawa sungkan, “Ah, nggak masalah, Bang. Kenalin, aku Diana,” dia mengulurkan tangannya.
Dia sepertinya gadis yang ceria dan blak-blakan. Bertemu dengannya tentu saja membuatku dengan senang hati menyambut uluran tangannya.
“Aku Agatha.”
“Maaf ya, udah bikin tempat kamu jadi sempit karena aku,”
“Masuk, Tha. Kamu langsung pake kamar mandi dan ganti pakaian ya. Tuh baju kamu basah kuyup,” kata Arsen mengalihkan fokusku.
“Iya, kamu cepetan masuk deh,” sambung Diana.
Aku mengangguk, tapi menahan Arsen agar tidak langsung pergi dari sini.
“Kamu jangan pulang dulu ya.”
Arsen mengangguk patuh dan dia mengambil duduk di atas kursi yang tersedia di depan pintu kamar kost ini.
Sementara itu, aku berjalan mengekori Diana. Aku tak langsung berganti pakaian, tetapi meminta tolong Diana untuk memberikan aku kotak P3K.
“Diana...” panggilku.
“Iya, ada apa? Kamu butuh sesuatu?”
Ya. Aku memang sangat butuh sesuatu.
“Punya P3K?” tanyaku berharap dia memiliknya.
“Punya, kok,”
__ADS_1
Senyumku langsung mengembang. Syukurlah, Diana punya kotak P3K.
“Boleh aku gunain?”
Diana terkekeh, “Ya boleh, lah. Bentar ya, aku ambil dulu,”
Dia berjalan ke tempat meja kerjanya. Kotak P3k ada di atas meja sana. Setelah itu, dia memberikannya padaku.
“Ini. Obatin Bang Arsen dengan hati-hati ya, karena ini untuk pertama kalinya aku liat dia babak belur,” pesan Diana.
Jadi, ini untuk kali pertamanya Arsen terluka? Dan parahnya lagi dia terluka karenaku. Aku sungguh merasa sangat bersalah padanya.
Kepalaku mengangguk dan memberikan senyum pada Diana.
“Kamu tenang aja.”
***
Aku menyibakkan gorden. Di luar sana, Arsen tengah mengusap sudut bibirnya yang berdarah sambil meringis.
“Katanya nggak sakit, tapi kok aku liat seseorang meringis, ya?” suaraku mengejutkan Arsen.
“Emang nggak sakit, cuma tadi nggak sengaja keteken,” alibinya.
Aku terkekeh, tapi berpura-pura percaya sepertinya tidak buruk.
“Aku obatin bentar,” kataku sambil menaruh kotak P3K di atas meja samping Arsen.
Aku mengambil kapas dan obat untuk luka Arsen. Sesekali dia meringis mendapati obat yang mengenai lukanya.
“Maaf ya,”
“Huh! Udah berapa kali kamu bilang maaf dan terima kasih? Ini bukan salah kamu,” kata Arsen yang sudah jengah dengan kata maaf dan terima kasih dariku.
“Kata Diana, ini untuk pertama kalinya dia liat kamu babak belur. Berarti ini juga untuk pertama kalinya kamu terluka karena aku. Aku merasa sangat bersalah, makanya aku minta maaf sama kamu,”
Arsen terdiam kaku, kemudian dia mengalihkan wajahnya ke samping. Aku baru ingin mengeluarkan suara, tapi suara dering teleponku membuatku tak jadi bersuara.
Aku mengembuskan nafas yang terasa berat.
“Siapa?” tanya Arsen.
“Ayah.”
Aku mengabaikan panggilan dari ayah, sampai ayah tak bosan menghubungiku. Aku sedang tak ingin diganggu olehnya, oleh karena itu aku mematikan handphone.
__ADS_1