
Perut sudah kenyang, badan juga sudah terisi tenaga. Hari semakin gelap, dan sebentar lagi akan magrib. Aku dan Diana bergegas pulang ke kostan.
Aku tengah tengkurap di atas kasur sambil mengirimkan pesan untuk arsen.
[Makasih buahnya, ya:)]
Tiga menit kemudian, dia membalas pesanku.
[Sama-sama.]
Ponselku dipeluk erat olehku. Bibirku terus tersenyum. Entahlah, aku sangat bahagia sekali.
“Nih anak, mulai lagi deh senyum-senyumnya,” kata Diana dengan tiba-tiba. Heran deh, aku selalu terciduk olehnya.
“Beda sih, kalau orang yang lagi jatuh cinta,”
“Wahai kaum jomblowati, harap bersabar. Ini ujian,”
Aku tertawa mendengar ocehan Diana. Dia seperti tengah iri padaku karena tidak ada laki-laki yang mendekatinya. Selama ini, aku tak pernah tahu siapa yang disukai oleh Diana, karena dia tak pernah menceritakan apapun dan aku tak pernah menguliknya.
“Sabar, Na. Haha,”
Dia menghempaskan tubuhnya dan berbaring di sampingku. Matanya menatap ke langit-langit kamar. Dari raut wajahnya, dia seperti tengah bersedih.
“Ada apa, Na?” tanyaku sambil mengubah posisi jadi berbaring.
“Nggak, aku cuma sedikit lelah aja,”
Aku tak tahu, apakah yang dikatakan oleh Diana benar atau tidak. Namun, jika dilihat dari raut wajahnya, dia memang terlihat sangat lelah.
“Kira-kira, kalau sedih di atas bahagianya seseorang. Itu, sebuah kejahatan bukan?”
Aku menoleh pada Diana sebab pertanyaanya yang tiba-tiba saja.
Kejahatan bukan, ya? Sebenarnya aku pun terkadang merasa sedih di atas bahagianya seseorang. Seperti kemarin, ayah yang bahagia dengan pernikahannya, tetapi aku malah bersedih.
Jika ditanya kejatahan bukan, maka aku tak tahu harus menjawab apa. Mungkin saja, bagi sisi dirinya hal itu sebagai emosi untuk menyatakan bahwa dirinya terluka. Namun, mungkin saja menurut orang tersebut, hal itu sebuah kejahatan tak berpedang.
Artinya, jawaban dari kedua belah pihak semuanya benar. Kita tak pernah tahu bagaimana isi hati seseorang, bukan?
“Nggak jahat, tapi jahat juga,”
__ADS_1
Jawabanku membuat Diana mengernyit. Aku terkekeh dan mencoba menjelaskan maksudku padanya.
“Nggak jahat bagi kamu, karena itu adalah emosi untuk menyatakan bahwa hati kamu terluka. Namun, jahat bagi seseorang tersebut. Dia mengira, kalau kamu nggak bisa menerima keputusannya,”
“Gitu, ya? Berarti aku nggak salah dong?”
Aku tersenyum, “Nggak lah, karena itu jawaban atas dirimu sendiri.”
Dia kembali mentap langit-langit, lalu memejamkan matanya. Suara hembusan nafas terdengar begitu berat. Apa dia punya masalah? Aku tak akan bertanya sekarang, karena Diana butuh menenangkan hati dan pikirannya.
***
Malam ini, seperti biasa aku akan melanjutkan menulis bab-bab novel yang masih belum menemukan titik akhir.
Namun, kepalaku terasa sangat pusing dan berat sekali. Dadaku terasa seperti dihimpit benda keras. Mungkin, keluar kamar sebentar akan sedikit membuat dadaku kembali lega.
“Kak!” teriak anak kecil tanpa ekspresi di depan pagar kostan.
Pikirku bertanya, mengapa dia keluyuran di malam hari dan hanya seorang diri? Sontak saja, aku berjalan menghampirinya.
“Hei... Kamu kenapa sendirian di hari yang udah gelap ini?” tanyaku sambil berjongkok di depannya.
Dia hanya menatapku datar. Sebenarnya apa yang dia mau dan cari?
Lagi. Dia tak menjawab lagi. Ah, lama-lama aku bisa naik darah kalau menghadapi anak kecil modelan dia.
“Dek, kamu mau ke mana dan dari mana? Kedua orang tua kamu ada di mana?” tanyaku masih menahan sabar.
Tanpa kuduga, dia malah menarik tanganku. Aku membiarkannya dan akan menemani anak kecil itu menemui orang tuanya.
Dia membawaku ke sebuah taman yang baru kulihat yang ternyata jaraknya dekat dengan kostanku.
“Itu...” tunjuk anak kecil itu ke depan.
Aku mengikuti arah telunjukknya. Dia menunjuk sebuah pohon beringin yang sangat besar. Jujur saja, sebenarnya aku merasa merinding. Siapa yang tak pernah mendengar mitos pohon beringin yang katanya ditinggali oleh makhluk tak kasat mata?
Bulu kudukku merinding. Aku menoleh lagi pada anak kecil itu.
“Maksud kamu apa, dek?”
“Di sana ada sesuatu untuk kakak,” jawabnya.
__ADS_1
Hah? Sesuatu? Sesuatu apa? Bulu kudukku semakin berdiri. Pikiranku melayang, apakah anak kecil yang sedang bersamaku itu anak dari mbak Kun? Hiihh, ngeri sekali kalau benar.
“Sesuatu apa, dek? Di sana nggak ada apa-apa, hanya ada pohon beringin besar,”
Dia menggeleng, tangannya kembali menunjuk ke arah pohon itu.
“Nggak, kak. Coba kakak lihat sendiri,” katanya yang mau tak mau, aku harus kembali melihat objek menyeramkan di depan sana.
Mataku mengerjap tak percaya. Benarkah di depan sana ada cahaya yang begitu bersinar? Dan yang membuatku semakin tak percaya adalah ada sebuah pintu di pohon itu yang sebelumnnya aku tak melihat apapun selain pohon beringin besar.
“Ke-kenapa, bisa jadi seperti ini?” tanyaku pada anak kecil itu.
“Masuk,” katanya yang terdengar perintah.
Aku menggeleng. Melihat penampakan di depanku yang misteri, membuatku tak berani mendekati pohon itu.
“Kita pulang aja, yuk. Kamu bisa tidur di kostan kakak. Besok baru kakak antar ke pak RT, ya?”
Namun, dia menggeleng dan tangannya tetap menunjuk ke arah pohon itu.
“Kakak harus masuk ke sana,”
“Nggak dek, kita kembali aja. Di sana nggak ada apa-apa, kok,” kataku berbohong. Kalau aku berkata melihat sesuatu, dia pasti akan semakin mendesakku untuk masuk ke sana.
Tanpa kuduga, dia mendorong tubuhku. Siapa sangka, hanya sekali dorongan berhasil membuatku masuk ke pintu aneh itu.
Aku membalik badan dan akan keluar dari sini. Ini bukanlah tempat yang nyata dan aku tak boleh terjebak dalam halusinasiku.
Namun, kenapa saat kakiku melangkah untuk keluar dari pintu pohon ini, malah aku semakin masuk ke dalamnya.
“Dek, tolongin kakak, dek!” teriakku ketakutan.
Dia bukannya menolongku, malah berbalik badan dan meninggalkanku. Tentu saja aku panik. Mulutku berteriak dan tanganku terulur meminta bantuan pada anak kecil itu. Sayangnya, tubuhku seperti ada yang menarik dan pintu aneh itu tertutup.
Badanku seperti telah dijatuhkan dari ketinggian. Tolong... Siapapun itu, bantu aku keluar dari jebakan aneh ini.
Dalam sekejap, aku tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap dan aku tak tahu sedang di mana. Apakah aku berada di alam kematian, atau bahkan aku tersesat dalam kegelapan halusinasiku.
Yang aku rasakan saat ini adalah ketakutan. Aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, karena aku merasa hanya seorang diri di sini.
Tuhan... Apakah ini karma untukku? Aku ingin kembali, setidaknya untuk memperbaiki kesalahanku, bukan dengan menghilang ke tempat yang sulit dijangkau oleh siapapun.
__ADS_1
Aku takut sendiri di tempat aneh ini.
Arsen... Kemana dirimu? Bisakah kamu membawaku kembali?