KISAH UNTUK GERHANA

KISAH UNTUK GERHANA
Bab 60 Lintas kenangan


__ADS_3

Angkasa Pun tak kuasa menahan tangannya. Air mata yang mengumpul di Pelupuk matanya, sudah tak bisa lagi ditahan . Tetesan bulir air matanya turun membasahi wajah Gerhana yang terpejam tenang.


Kamu hebat, Gerhana. Kemarin kamu buat Papa ketawa, sekarang kamu buat Papa dan seluruh dunia menangis karena keadaan kamu sekarang. batinnya


Langkah kaki keluarga Gerhana serta sahabat Gerhana terus mengikuti tenaga medis yang membawa Gerhana hingga sampai ke ruang UGD. Papa mendekap erat tubuh istrinya saat wanita itu hendak ikut masuk ke dalam ruang UGD.


" Gerhana ...... " lirih Mama di dalam Pelukan suaminya


" Papa Gerhana nggak apa-apa, Gerhana nggak ninggalin kita secepat ini," ujar Papa menenangkan istrinya. ia mengusap-usap Punggung istrinya lantaran wanita itu menangis dengan sesenggukan.


Dua cowok yang duduk di kursi Panjang depan UGD itu, tak kalah terpukulnya. Bima dan Kenzie langsung merasa ada yang hilang di antara mereka. Bima mengusap wajahnya dengan frustasi, Kenzie sama halnya.


" Kenapa harus lo, sih, Gerhana Kenapa, ?" Kata" Bima lirih. ia mendongak, menghalangi air matanya yang siap terjun. " Lo orang Paling jahat kalau sampe ninggalin gue." Bima kembali menelungkupkan wajahnya Pada lipatan tangannya


Kenzie menatap seragam Bima yang berada di tangannya jemarinya bergetar menatap darah yang menempel di seragam tersebut. ia masih teringat jelas saat Gerhana mengeluarkan kalimat amanah untuknya.


" G-gue t-titip Liona ke k-kalian."


Saat itu juga, segala Pikiran buruk langsung menyerang dirinya. Ucapan Gerhana tadi seolah-olah cowok itu akan Pergi untuk selama-lamanya.


Sudah berjam-jam berlalu. Mereka masih menunggu sang dokter yang tak kunjung keluar dari ruangannya. semuanya berpikir kalut Hanya satu kabar dari dua kemungkinan yang akan mereka dengar yaitu kabar baik atau kabar buruk yang menimpa Gerhana.


Beberapa menit kemudian, dokter yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Melihat itu, mereka lantas bergegas menghampiri sang dokter.


" Dokter gimana dengan anak saya, Dok ?!" tanya Mama


" Saat ini Pasien Gerhana Rigel Buwana mengalami Pendarahan di kepalanya Melihat kondisi Pasien saat ini, kemungkinan besar Pasien Gerhana mengalami koma," jelas Dokter Haris mampu membuat mereka mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Tangisan Mama bertambah Pecah. Sebenarnya. ini kabar baik karena beruntung Gerhana tak meninggalkannya. Tapi kenapa kabar baiknya justru membuat seluruh dunia menangis ?"


Bima dan Kenzie tak kuasa menahan air matanya. Kenzie meninju dinding luar ruang UGD di mana Gerhana terbaring di dalam sana. Cowok itu menundukkan kepalanya dengan lemah.


" Kenapa harus gini ?"lirih Kenzie.


" Anda semua boleh masuk. Dengan ketentuan jangan terlalu berbisik," ucap Dokter Haris memberi izin. Mereka semua refleks mengangguk mendengar Perizinan dari sang dokter

__ADS_1


Tanpa sepatah kata, mereka memasuki ruangan. Melihat wajah Gerhana yang begitu Pucat dan tenang, membuat mereka tak kuasa menahan tangisnya.


Papa mendekati brankar Gerhana. ia mengusap-usap kepala Putranya dengan sayang. Air matanya kembali turun saat melihat mata Gerhana terpejam tenang. begitu juga deru napasnya yang teratur.


" Gerhana, ini Papa Sayang Kamu nggak mau buka mata kamu Gerhana Nggak mau liat Papa ? Nggak mau liat Mama ? Liat Gerhana. Banyak orang yang nangisin kamu di sini. " lirih Pria itu tepat di samping telinga Gerhana. Papa mencium kening Gerhana cukup lama. seperti api yang diguyur dengan air. semuanya berubah drastis. Hero yang selalu membuat orang-orang tertawa, kini berubah membuat orang-orang menangis.


Papa terisak Pelan, isakkan yang ia Pendam akhirnya keluar Membuktikan betapa hancur hatinya saat Melihat sang Putra kesayangannya seperti ini.


" Bangun, ya, Nak. Buktikan ke seluruh dunia kalau Gerhana yang ceria Gerhana yang selalu buat orang ketawa, dan Gerhana yang ngga Pernah ngeluh ini mampu lewati semuanya," ujar Papa mencoba kuat. " Anak Papa ini capek, ya ? Tidurnya jangan lama-lama ya, Nak. Papa kangen banget sama kamu."


Mama tak kuasa menahan tangisnya. Bima yang melihat itu Pun langsung memeluknya.


" Tante, Gerhana Pasti bangun. Tante jangan nangis. Gerhana di sana berjuang untuk kembali. "


" Gerhana, maafin Mama, Sayang," lirih Mama di sela-sela isakan tangisnya


Bima menggeleng, menolak Penuturan kata dari bibir Mama.


" Bukan salah Tante. ini sudah jalan takdir. Jangan Pernah salahin diri sendiri. Tan,"


" Anak Papa hebat, ya. Rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan satu nyawa. " Papa kembali berucap dengan sendu. Lintasan memori di mana Gerhana kecil begitu aktif menjahilinya Perlahan menusuknya. Meskipun ia sering dibuat kesal oleh Gerhana tapi rasa sayangnya kepada Gerhana tidak Pernah bisa dihitung oleh apa pun dunia ini. " Kenapa nggak Papa aja yang ada di Posisi kamu Gerhana ?"


Pria itu mengangguk. " iya, sebentar lagi saya Pulang ?" Selanjutnya ia memutuskan sambungannya dak kembali terfokus kepada Gerhana Tangannya begitu lembut mengusap-usap kepala Gerhana dssj beralih mengusap dahi Gerhana yang terbalut Perban. " Papa, Pulang dulu Gerhana. Kamu cepet-cepet bangun. Banyak orang yang di sekitar kamu nungguin kamu."


Pria itu menatap Kenzie dan Bima," Bima, Kenzie, Om minta tolong jagain Gerhana, ya, Om mau Pulang dulu,"


Bima dan Kenzie mengangguk bersama. " iya, Om. Om nggak usah khawatir. Bima sama Kenzie bakal jagain Gerhana di sini," ucap Bima.


Pria itu membalikkan badannya menarik lengan istrinya. " Ayo Pulang. Biar Bima dan Kenzie yang jagain Gerhana,"


Wanita itu mengusap jejak air matanya. Sebelum ia mengiyakan ajakan sang suami, wanita itu mendekatkan bibirnya di telinga Gerhana kemudian berbisik.


" Sayang. Mama Pulang dulu, ya, Kamu jangan lama-lama tidurnya. Gerhana nggak rindu Pelukan Mama ? Nggak rindu Pelukan Papa Dan nggak rindu Pelukan-Pelukan orang yang kamu sayangi ?" sejenak, wanita itu menatap sendu wajah Putranya yang sangat Pucat. " Cepet bangun super Heronya Mama ," Terakhir, wanita itu mencium kening Gerhana cukup lama. Usai itu, ia menyusul suaminya yang menunggu di luar ruangan UGD.


Setelah kepergian orangtua Gerhana, Bima dan Kenzie berjalan mendekat ke arah brankar Gerhana. sejenak mereka menatap wajah sahabatnya dengan tatapan sendu. Bima menarik salah satu kursi dan mendudukkan dirinya di sana.

__ADS_1


" Lo, tau Gerhana ? Hal yang Paling menyakitkan selain ditinggal orangtua dan ditinggal kekasih itu apa ?" tanya Bima. " jawabannya ditinggal sahabat yang berjuang bersama sejak kecil. Bangun, Gerhana. Lo nggak mau main sama gue lagi ? Lo nggak mau berjuang lagi ?" Bima menunduk. Cowok itu menarik napasnya dalam. " Lo emang nggak Pergi ninggalin gue sama Kenzie. Tapi, kenapa liat lo begini gue ngerasa kehilangan lo ?"


Kepingan-kepingan kenangan bersama Gerhana saat ini muncul begitu saja di memori otak Bima. Bersamaan dengan turunnya air mata cowok itu.


" Lo duluan ya mulai ! Salah siapa teriak-teriak di telinga gue Budek,"


" Setelah Gerhana Pikir, ternyata mengutang itu lebih menyenangkan."


" Kita itu sama-sama Pendosa. Cuma kita beda jalur,"


Bima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. ia menangis saat mengingat kebersamaannya dengan Gerhana.


Kenzie mendekat, ikut mendudukkan dirinya di samping Bima. ia mengusap-usap jemari Gerhana yang kaku. Sejenak ia menatap wajah sahabatnya itu dengan Perasaan iba.


" Segini ajakah, Perjuangan lo Gerhana ? Lo nggak mau bangun dan Perjuangin cinta lo yang belum sempat lo gapai lagi ? Cepet bangun. Liona sekarang lagi nggak baik-baik aja ," Kata Kenzie menahan air matanya yang siap terjun. Rasa Penyesalan menyerah dalam diri Kenzie. ia menyesal kenapa ia tidak tahu kalau Gerhana sedang berada di lantai dua. Jika ia tahu semuanya, ia akan menyusul Gerhana dan menarik Gerhana dari sana.


" Waktu emang nggak bisa diputar ulang ya, Gerhana ? Andai saja gue tau, lo berjuang mempertaruhkan nyawa, gue bakal lari tarik lo, Kalaupun gagal, gue bakal ikut jatuh bareng lo, Gerhana. Biar gue juga ikut rasain apa yang lo rasain saat ini," ujar Kenzie dengan suara serak. ia menggertakan giginya saat isakannya hendak lolos dari bibirnya," Gue minta maaf Gerhana,"


" Cepet bangun Gerhana. Banyak orang yang rindu sama tingkat laku lo, Orangtua lo, keluarga lo, Sahabat lo. Mereka semua nungguin lo untuk bangun. Peluk mereka satu Persatu terutama ..... " Kenzie menggantungkan kalimatnya ia mengambil napas dalam lalu melanjutkan kalimatnya. " Liona. Lo tau ? Liona sekarang lagi nangisin lo. Bangun, Hapus air mata Liona dengan jari lo, Katanya lo nggak mau bikin Liona nangis ? Terus kenapa sekarang malah buat dunia Liona hancur ?"


Pintu UGD. terbuka lebar menampilkan tiga cewek yang berdiri di sana. Liona, Mona dan Farah. Mereka menatap lurus ke arah brankar Gerhana terbaring lemah. Mona dan Farah masih lengkap dengan seragam Putih abu-abunya. sedangkan, Liona sudah mengganti Seragamnya dengan Pakaian biasa karena darah Gerhana yang memenuhi seragamnya tadi.


Liona berjalan menghampiri Gerhana yang terbaring. Hanya ada suara mesin elektrokardiogram saja yang menghiasi ruangan ini. ia berdiri di samping brankar Gerhana. Cewek itu tak memedulikan Bima dan Kenzie yang terus memperhatikannya. Liona hanya fokus kepada Gerhana. Beberapa alat medis terpasang di bagian tubuh cowok itu. Bulir air matanya menetes tanpa Permisi, bibirnya bergetar tak mampu mengeluarkan suaranya. Tangan lentik cewek itu menyentuh Punggung tangan Gerhana yang sedikit dingin.


" G-Gerhana."


Seolah Paham dengan Liona yang membutuhkan ruang sendiri dengan Gerhana. Bima, Kenzie, Mona dan Farah memilih keluar meninggalkan Liona. Cewek itu mendudukkan dirinya, meraih telapak tangan Gerhana, dan menempelkannya Pada Pipinya. ia memejamkan matanya dengan rapat. Liona menangis dengan isakan yang terdengar sangat Pedih.


" Seharusnya aku yang ada di Posisi kamu. kenapa kamu lakuin ini semua Gerhana ?" lirih Liona dengan suara bergetar. " Aku Jahat banget ya, Gerhana ? Aku udah Paksa kamu untuk Pergi Padahal kita saling membutuhkan di sini," Liona merasakan dadanya yang terasa sangat sesak. " Andai aku bisa tau dari awal kalau semuanya ini ulah Celine, aku nggak bakal Percaya sama omong kosong Naura dan lebih Percaya sama kamu. Maafin aku Gerhana, " ucap Liona.


Liona mendongak sebentar. ketika air matanya mengalir sangat deras.


" Aku Jahat banget ya, Udah lukai tubuh kamu. " Tangannya mengusap sayang dahi Gerhana yang terbalut Perban sudut bibirnya terangkat seulas senyuman saat ia mengingat kepingan memori bahagia bersama Gerhana. " Kamu kapan bangun Gerhana ? Kamu nggak mau liat aku lagi ? Kamu nggak mau denger kalau aku udah Percaya sama kamu ? Aku kangen kamu, Gerhana," ujarnya diiringi senyuman tipis serta air matanya yang terus menetes.


" Aku nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Aku nggak mau kehilangan orang yang berhasil ambil hati aku. Buka mata kamu terserah kamu mau apa setelah kamu buka mata kamu. Kamu mau benci sama aku, kamu nggak mau liat aku lagi, atau bahkan kamu suruh aku Pergi. Yang terpenting sekarang kamu Harus buka mata kamu, ya, Ada banyak orang yang nungguin kamu bangun," ujarnya. Cewek itu menghirup Pasokan udara dengan dalam. Napas serta bibirnya bergetar.

__ADS_1


" Gerhana," Liona mengusap-usap Punggung tangan Gerhana. " Aku sayang sama kamu. " Terakhir. Cewek itu mengecup cukup lama Punggung tangan Gerhana


...•••••...


__ADS_2