
GERHANA mendorong bahu Kenzie saat cowok itu membantunya untuk bangun dari tidurnya. Penolakan yang dilakukan Gerhana terhadap Kenzie membuat Liona, Bima dan Mona tertegun. Liona meremas kuat roknya, ia menatap Gerhana dengan mata yang berkaca-kaca. Cewek itu menggeleng cepat, sebisa mungkin ia menepis Pikiran buruk yang terjadi Pada Gerhana.
Liona menyentuh kembali Punggung tangan Gerhana. " Gerhana, ini aku L-Liona. K-kamu marah banget, ya sama aku ? Sampe kamu nggak mau aku sentuh sedikitpun ?" Liona menatap Gerhana yang juga turut menatapnya dengan tatapan yang terbaca.
" Gerhana ?"
" Aku minta maaf. Semua salah aku. Kalau aku aja aku Percaya sama kamu, semuanya nggak bakal terjadi Maafin aku Gerhana Tapi aku mohon sama kamu, jangan kayak gini." Liona menatap Gerhana dengan sendu.
Bima memalingkan wajahnya saat melihat interaksi Liona ke Gerhana yang tak digubris sedikitpun. ia tahu apa yang terjadi. Namun, ia memilih bungkam sebelum dokter yang menjelaskan semuanya Bima mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.
Gerhana menjambak rambutnya sendiri saat merasakan kepalanya kembali berdenyut. ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ketika mencoba mengingat semuanya, ia gagal. ia tahu siapa orang-orang yang berada di samping ini. Gerhana mendongak menatap Liona cukup lama, kemudian menatap Bima, Kenzie dan Mona secara bergiliran.
" Kalian semua ini siapa gue ? Gue kenapa bisa ada di sini ? Apa yang habis terjadi sama diri gue,"
Melihat itu Kenzie mundur beberapa langkah dan mendudukkan dirinya Pada salah satu kursi dekat dinding. ia menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangannya, Bahu Kenzie bergetar, cowok itu menangis.
" Lo nggak mungkin hilang ingatan total, kan, Gerhana ? lirih Kenzie.
Liona menatap Gerhana tak Percaya. Hatinya berdesir Perih. ia menunjuk dirinya dengan tangan yang sedikit bergetar. " ini aku. Aku Liona, Gerhana. Aku mohon, jangan kayak gini Bilang kalau kamu itu cuma Pura-pura, Gerhana. Bilang kalau kamu cuma Pura-pura lupa sama aku," Liona tersenyum menahan Perih. Cewek itu menggenggam telapak tangan Gerhana dengan erat.
Gerhana kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit. Cowok itu menjambak kuat rambutnya sendiri. ia berteriak tertahan, membuat Liona mundur beberapa langkah.
Bima tak tega melihat Gerhana. ia ingin sekali mendekat dan membantu Gerhana. Tapi, ia urungkan niatnya saat mengingat Penolakan yang dilakukan Gerhana kepada Kenzie.
Nggak mungkin, kan, Gerhana ? Lo lupain semuanya ? Termasuk gue sama Kenzie yang sejak kecil ada di samping lo ?" batin Bima
Bima tak bisa menahan air matanya lagi. " Lo kenapa harus gini ? Gue sebagai sahabat lo, sakit liat lo kayak gini."
__ADS_1
Suara derap langkah yang terdengar begitu jelas, membuat antensi mereka teralihkan. Dokter Haris baru saja datang bersama Farah dan Naura yang berjalan di belakangnya.
Mona yang berada di samping Liona Pun menarik Pundak Liona untuk sedikit menjauh dari brankar Gerhana. ia menatap Liona dengan tatapan iba.
" Liona, lo harus terima semua yang terjadi sama Gerhana. Yang Penting raga dia kembali. seenggaknya kembalinya dia buat semua orang lega," Mona melirik Gerhana yang tengah diperiksa Dokter Haris.
" Tapi Gue belum siap kehilangan sosoknya. Sakit liat Gerhana nggak ingat gue siapa. " ucap Liona dengan nada yang terdengar sangat Parau.
Mona mengusap-usap Punggung Liona dengan lembut. " Semuanya bakal kembali dengan seutuhnya seiring berjalannya waktu," bisik Mona.
Kenzie melangkah saat melihat Dokter Haris selesai memeriksa keadaan Gerhana. Dokter Haris menatap mereka semua dengan tatapan sendu. ia tahu apa yang ada di dalam Pikiran mereka.
" Pasien Gerhana saat ini mengalami hilang ingatan," jelas Dokter Haris sembari menatap Gerhana
Kenzie ingin marah. ia ingin meluapkan amarahnya Kepada Dokter Haris. Tapi, ia tahu semuanya tidak ada gunanya. Mau tidak mau dan ikhlas tidak ikhlas, Kenzie mencoba menerima takdir menyakitkan ini.
" Liona, Liona, dengerin gue. Gerhana nggak apa-apa. Gerhana bakal kembali lagi buat lo, Na," ucap Mona menenangkan.
Liona menangis. ia melihat Gerhana yang hanya diam saja, menatap orang-orang di sampingnya dengan bingung.
" Cepet sembuh, Gerhana." Bima menepuk-nepuk bahu Gerhana. " Gue tunggu lo sebut nama gue." Gerhana mendongak dan menatap Bima.
" Apa udah bisa dipastikan berapa lama waktu Gerhana amnesia, Dokter Haris," tanya Bima
Dokter Haris sempat mengembuskan napasnya dengan berat.
" Maaf saya belum bisa memastikannya."
__ADS_1
Pintu UGD terbuka lebar, menampilkan keluarga Gerhana di sana. Mama yang melihat sang Putra duduk dengan tenang di atas brankar Pun tersenyum bahagia. Semua doanya sudah terkabulkan. Wanita itu melangkah cepat menghampiri Gerhana. Tanpa Permisi, ia memeluk Gerhana dengan erat menumpahkan tangisnya yang sudah tak bisa ia tahan lagi.
" Gerhana, kamu udah sadar, Nak ? ini Mama lagi nggak mimpi, kan ? Heronya Mama sama Papa udah bangun," Wanita itu tersenyum dan mengusap Pipi Gerhana. " Kamu lama banget ninggalin Mama. Mama kangen sama kamu. Apa yang sakit ? Bilang sama Mama."
Papa menitikkan air matanya. " Papa selalu berdoa yang terbaik buat kamu. Dan Tuhan kabulkan semuanya. Papa bersyukur liat kamu kembali lagi. Cepat sembuh kesayangan Papa. orang-orang terdekat kamu nungguin kamu."
Liona, Bima, Kenzie, Naura, Farah dan Mona memilih diam Perihal Gerhana hilang ingatan sepenuhnya. Liona memalingkan wajahnya ia tidak kuat melihat senyum yang terbit di bibir orangtua Gerhana.
" Mam ? Papa ?" Gerhana menatap keluarganya dengan raut wajah bingung. " Kalian semua siapa ?"
Jantung Mama seperti dihantam sesuatu yang amat besar. Wanita itu menggeleng, tidak mungkin Gerhana melupakannya.
" Pak, Bu, Pasien Gerhana mengalami hilang ingatan. Apa yang terjadi pada dirinya dan orang-orang yang dia kenali, dia tidak tau. Terutama Bapak dan ibu sebagai orangtua Gerhana," jelas Dokter Haris. " Saya sudah memastikan keadaannya tadi."
" Nggak ! Nggak mungkin anak saya hilang ingatan, Dok !" Wanita itu menentang ucapan Dokter Haris. ia menatap Gerhana dengan sendu mengusap-usap Pipi Gerhana dengan lembut. " Gerhana ini Mama Kamu ingat, kan ? Kamu nggak boleh lupa sama Mama, Gerhana."
Papa yang mendengar ucapan sang dokter Pun mencengkeram kuat kerah baju Dokter Haris. " Bilang ! Bilang kalau Anda itu cuma bohong Perihal ini Nggak mungkin anak saya amnesia. Bilang ! Bilang kalau anak saya itu nggak kenapa-kenapa !" bentaknya
Dokter Haris tak berkutik, ia hanya diam membiarkan Pria itu berbuat lebih kepadanya.
" Nak, sudah ! Semuanya bukan salah Dokter Haris. semuanya sudah jalan yang Maha kuasa. Ayah juga nggak ikhlas liat cucu Ayah begini tapi kita berbuat apa ?" ujar kakeknya Gerhana.
" Gerhana, Kamu ingat sama Papa, kan ? Bilang kalau kamu ingat Papa ini Papa, orang yang udah didik kamu sejak kecil, orang yang udah rawat kamu dari kecil. ini Papa, Nak," ujar Papa berusaha mengingatkan Gerhana
" Pak, maaf saya lancang. lebih baik Pasien jangan terlalu dipaksa untuk mengingat semuanya. Biarkan Pasien Pulih dengan sendirinya kalau tidak Pasien ......" Dokter Haris menggantungkan kalimatnya. " Kondisinya akan lebih Parah dari ini,"
...•••••...
__ADS_1