KISAH UNTUK GERHANA

KISAH UNTUK GERHANA
Bab 66 Terasa sangat berbeda


__ADS_3

Suara derap langkah kaki yang baru saja menginjak lantai koridor. mengalihkan beberapa atensi siswa-siswi. Mereka semua menatap cowok yang berjalan dengan Pandangan mata yang lurus ke depan Pakaian cowok itu terlihat sangat rapi.


Kedatangan Gerhana mengundang siswa-siswi yang mula-mula diam di kelas, berhamburan keluar. Mereka terheran-heran. Kenapa seperti ada Perubahan Pada diri Gerhana ?


" Gerhana lo udah sembuh ? i-itu ." Salah satu siswa menunjuk dahi Gerhana. " Dahi lo nggak kenapa-kenapa kan,"


Gerhana menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap siswa tersebut tanpa ekspresi. Gerhana hanya mengangguk sebagai jawaban lalu ia kembali berjalan.


" Nggak biasanya," ucap salah satu siswa menatap Punggung Gerhana yang menjauh


Langkah kaki Gerhana berhenti tepat di depan kelas 12 IPS 2, ia sempat membaca Plang yang tergantung di atas Pintu. " 12 IPS 2 " ejanya. Cowok itu memasuki kelas tersebut. Siswa-siswi kelas itu Pun yang mula-mula berisik tiba-tiba menjadi hening. Menatap Gerhana yang berdiri di depan dengan tatapan aneh


Dion yang sedang bermain kartu Poker Pun mendekat. Cowok itu memutari tubuh Gerhana.


" ini teh si Gerhana Rigel Buwana Pangeran kodok ?" Dion meneliti tubuh Gerhana, Kemudian menepuk-nepuk bahu Gerhana. Gerhana hanya diam dan menatap bahunya yang barusan ditepuk," Gerhana Rigel Buwana Akhirnya lo Comeback juga ! Apa kabar, Gerhana Lama banget lo sekarat By the way, enak nggak kepala lo kejedot mobil Plus aspal," ejek Dion menaik-turunkan alisnya


Gerhana menunduk, melirik name tag di bajunya. Gerhana Rigel Buwana


Sebuah gumpalan kertas terlempar ke arah Dion, Bima mengode lirikan matanya, Pertanda menyuruh cowok untuk duduk kembali di tempatnya. Bima dan Kenzie belum sempat memberi tahu soal keadaan Gerhana yang amnesia. Entahlah, mereka hanya tidak tega memberi tahu kabar duka tersebut. Biarlah semuanya tahu sendiri ketika melihat Gerhana di sekolah.


" Lo kenapa sih, Bima Sahabat lo itu baru sembuh, nih. seharusnya di sambut dong ! Ya, nggak, Gerhana ?" kata Dion


" Lo tau Nggak Gerhana ? Kelas ini nggak ada lo berasa kayak mati Bahkan guru-guru pun heran, Kenapa kelas ini jadi kelas Pendiem," ujar Kris


Gerhana tak merespons, ia menatap siswa-siswi kelas ini dengan raut wajah tak diartikan.


" Apalagi Mak Jum. Nggak ada lo nggak ada yang ngutang lagi, Gerhana standa es dogernya Mbak jingga juga. Gue seneng liat lo akhirnya balik lagi," ujar Maya.


" iya ! Satu sekolahan menanti kedatangan lo. Dan, gue bersyukur lo udah sembuh. " ujar Dion.


Kris maju ke depan dan mendudukkan dirinya di salah satu meja.


" Yang gue lebih senengin lagi. Akhirnya lo kembali Pada waktu yang sangat tepat. Kita bentar lagi ujian kelulusan dan artinya kita bisa rayain hari kelulusan bareng," ujar Kris. " Cuma ya ..... Lo ujian susulan di mata Pelajaran yang ketinggalan," lanjutnya


Gerhana menatap siswa-siswi kelas 12 IPS 2 tanpa minat. Terutama ke arah Kris yang nampak Paling antusias sendiri.


" Sorry, nama lo siapa ?" tanya Gerhana mampu membuat mereka semua tertegun.


Dion refleks melepaskan rangkulannya dan menatap Gerhana dengan tatapan tak Percaya. ia menggeleng kuat, menepis Pikiran buruk tentang Gerhana. Cowok itu tertawa Pelan.


" Bercanda lo nggak lucu Sumpah, Gerhana, Masa koma beberapa minggu langsung lupa siapa yang ada di kelas ini ? jangan bilang lo juga lupa sama dua sahabat lo dan ...... " Dion melirik cewek yang sibuk menulis, " Sama Liona,"


Merasa namanya disebut, Liona mendongak. ia kembali menunduk saat Pandangan matanya bertabrakan dengan mata Gerhana. Mata itu selalu membuat hatinya berdenyut ngilu setiap kali menatapnya.


" Gue nggak ngerti lo ngomong apa," ucap Gerhana. Setelah itu ia melihat-lihat meja sekitar, tak ada yang kosong. Kecuali satu di samping Bima


Seluruh siswa-siswi kelas 12 IPS 2 dibuat tercengang akan Penuturan Gerhana. Gerhana hilang ingatan ?

__ADS_1


" Lo duduk sini, Gerhana Sama gue," Bima menepuk-nepuk kursi yang ada di sampingnya


Gerhana menoleh. " Boleh, "


Lo emang duduk di sini . Lo selalu duduk sebangku sama gue dari kita SD, batin Bima


Kenzie yang berada di belakang meja Bima lantas mendongak ia belum bisa membuka suaranya untuk sekedar menyapa Gerhana. Meskipun selalu direspons baik oleh Gerhana, tapi Kenzie masih tidak kuat melihat sang sahabat melupakannya.


" Seenggaknya lo masih mau temenan sama gue dan Bima, itu udah cukup buat gue. Walaupun lo nggak inget apapun tentang kita, " gumam Kenzie


Gerhana yang sibuk mengeluarkan Peralatan ujiannya. refleks menoleh ke arah Liona yang duduk dengan kepala menunduk. Merasa diperhatikan, lantas menoleh dan menatap Gerhana yang juga menatapnya. Lalu, tak lama dari itu. Liona memutuskan Pandangannya.


Kenapa semuanya seperti tak asing bagi Gerhana ? Gerhana tak bisa memutuskan Pandangannya dan cewek itu. Seolah ada magnet di diri Liona, Gerhana terus-menerus menatap Liona dengan intens. Hatinya seperti ada yang janggal. Jantungnya selalu berdebar hebat saat menatap manik mata itu. Hatinya Pun menjadi lebih tenang saat tiap kali ia berdekatan dengannya.


" Liona, " Panggil Gerhana


Liona menoleh dengan sedikit kaget. ini kali Pertama Gerhana menyebut namanya setelah cowok itu sadar dari komanya. Tak hanya Liona saja, sebagain siswa-siswi yang mendengarnya pun turut menoleh.


" K-kenapa ?" tanya Liona balik.


Gerhana menatap Liona sejenak. sebelum akhirnya ia bertanya. " Lo bawa Pulpen dua ? Gue boleh Pinjem ?"


Liona mengedipkan matanya berkali-kali. Angan-angannya terlalu tinggi untuk Gerhana mengingat semuanya. Mulai saat ini ia harus membuang harapannya sejauh mungkin. Kini yang ada di Pikirannya adalah, bagaimana caranya ia berjuang untuk memulihkan ingatan dan mendapatkan Gerhana kembali.


" Nih," Liona menyerahkan sebuah Pulpen kepada Gerhana. " Ambil aja nggak usah ...... "


Liona tersenyum canggung. ia memilih menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Gerhana. Kenapa ini masih sangat menyakitkan baginya


Beberapa siswa-siswi saling berbisik lantaran Gerhana yang berubah seratus persen. Gerhana tak ingat siapa Liona tak ingat Posisi Gerhana saat ini sebagai siapanya.


" Sabar, ya, Na. Lo Pasti bisa Pulihin semuanya. Lo nggak berjuang sendirian. Ada gue, Bima, Kenzie dan anak-anak lainnya yang ada di belakang lo," ujar Mona.


Sebuah kertas yang terlipat dengan asal terlempar di atas meja Liona menoleh dan menatap Naura yang turut menatapnya, jemarinya membuat kertas tersebut, membaca kalimat yang di tulis dengan rapi di sana.



Liona menoleh dan memberikan senyuman tulus kepada Naura seolah memberitahukan bahwa ini semua bukan salahnya


...•••••...


Siswa-siswi SMA Garuda yang mula-mula di kelas berhamburan keluar lantaran mendengar bel yang terdengar keras.


Gerhana melangkahkan kakinya keluar kelas seorang diri tanpa Bima dan Kenzie di sampingnya. Tadi Bima dan Kenzie sempat mengajaknya untuk ke kantin bersama. Tapi Gerhana menolaknya dan memilih Pergi sendiri.


" Gerhana !" Gerhana menghentikan langkahnya. Ketika ia menoleh ke belakang nampak Liona berlari ke arahnya. Cewek itu berhenti dengan napas yang tersengal-sengal. " Kamu dari tadi aku Panggilin nggak nyaut-nyaut !" ucap Liona kesal


" Ada apa ?" tanya Gerhana.

__ADS_1


" Kenapa Pesan aku semalam nggak kamu bales ?"


" Lo siapa sampe harus gue bales ?" tanya Gerhana refleks, yang mampu membuat hati Liona berdenyut ngilu. Namun, Liona berusaha tersenyum menutupi semuanya. ia menyerahkan satu kotak bekal dan botol air mineral kepada Gerhana


" Bukan siapa-siapa. Nih. buat kamu. Kamu belum sarapan makan, kan Aku sengaja bawa bekal ini buat kamu. Kamu, kan, kalau lagi ujian begini jarang banget sarapan di rumah," Kata Liona dengan senyuman yang sangat tulus


" Oh, gitu ya ?"


" Nih, Terima." Liona kembali menyerahkan bekal kepada Gerhana


Gerhana menatap bekal yang ada di tangan Liona. sebelum akhirnya cowok itu menerimanya membuat senyum Liona mengembang.


" Thanks,"


Liona mengangguk. " Lo mau ke mana ?"


" Perpustakaan,"


" Aku boleh ikut ?" Cewek itu hanya ingin membayar rasa rindunya dengan Gerhana. Walaupun hanya luka yang nanti ia terima, setidaknya ia sudah bertemu Gerhana meskipun Gerhana tak mengingat dirinya.


Gerhana tak menjawab. ia berjalan meninggalkan Liona. Liona yang melihat itu. berjalan cepat dan menyeimbangi langkah kaki Gerhana.


" Pelan-pelan Dong jalannya Gerhana !" ucapnya. " Kamu nggak mau nanyain kabar aku gimana gitu ? Aku nangis tiap malem tau !" ujar Liona dengan bibir ia Paksakan tersenyum. " Aku cengeng banget ya, Gerhana. Kamu waktu itu kan udah suruh aku buat nggak nangisin kamu. tapi aku tetap lakuin itu,"


Dengan langkah kaki terus berjalan. Liona tak henti-hentinya berbicara meskipun tak digubris oleh Gerhana.


" Kamu tau ? Ternyata dalang dari semuanya ini itu Celine. Kemarin Celine sempat minta maaf aku udah maafin dia. Cuma aku belum bisa nerima semua Perlakuan dia," Liona mendongak menatap Gerhana berbinar . " Gerhana Nanti Pulang sekolah kita ke gubuk itu ya .... " Liona berdeham dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa ia selalu lupa kalau Gerhana tak mengingat apapun tentangnya ?


Gerhana menatap Liona, menunggu ucapan cewek itu selanjutnya.


" Apa ? tanya Liona


" Bu-bukan apa-apa kok. Aku tadi kebablasan. " Liona tersenyum canggung. " Aku cuma inget sama orang yang selalu buat aku bahagia aja, Tapi sekarang dia udah jadi sosok yang nggak aku kenal," ujarnya


Gerhana memejamkan matanya sejenak. Ucapan Liona mengantarkannya terhadap sesuatu tapi ia tidak bisa mengingatnya


Liona memegang lengan Gerhana. " Ayo kita lanjut ke Perpustakaan,"


Cowok itu menyingkirkan tangan Liona dengan Perlahan. Hal itu membuat senyum Liona memudar.


" Lo bisa Pergi dari gue,"


Liona tertegun. Bisakah Gerhana mengulangi ucapannya ? Cowok itu mengusirnya.


" K-kenapa ?"


Gerhana tak menjawab. ia melangkahkan kakinya meninggalkan Liona yang berdiri di depan lorong kelas. Cewek itu menatap Punggung Gerhana dengan nanar.

__ADS_1


" Mau sampe kapan kamu kayak gini terus Gerhana ?" tanyanya lirih


__ADS_2