
Seminggu setelah pertengkaranku dengan Dara, aku bekerja seperti biasanya tanpa memperdulikan ancaman yang diberikan Dara padaku. Kalaupun ada yang berbeda itu adalah tatapan dari orang-orang ketika melihatku, cara mereka menatapku seakan melihat manusia tanpa kepala yang sedang berjalan.
Setiap aku keluar mencari data, atau pergi ke kafe untuk istirahat, mereka menatapku dengan tatapan aneh dan sesekali berbisik dengan rekannya. Entah gosip apa yang sudah menyebar di perusahaan ini, tapi aku sekalipun tidak peduli dengan semua itu.
Aku datang pagi sekali, kebetulan hari ini ada rapat, aku sengaja datang lebih pagi karena harus menyiapkan laporan tentang proyek pembangunan kantor di salah satu kota di negeri ini.
“Gila ini meja lu rapi amat, ini meja kerja apa meja pajangan buat jualan di Ikea, dah?” tanya seorang laki-laki, yang datang secara tiba-tiba, membuatku terkejut saja.
Aku menoleh, melihat siapa yang datang, aku memandangnya sebentar. Ternyata pria lapangan yang jarang ada di kantor datang mengunjungi perusahaan, pria ini adalah Rangga. Dia seniorku di divisi dua selain Dara.
Aku biasa berkomunikasi dengan Rangga apabila ada kerjaan yang diharuskan untuk menghubungi dia, seperti perkembangan proyek di lapangan ataupun menanyakan tentang kelengkapan bahan yang sudah dikirim ke proyek tempat dia biasa kerja.
Untuk persiapan rapat, biasanya atasanku meminta kami untuk datang lebih awal, tetapi untuk ukuran Rangga ini terlalu pagi.
“Ngagetin aja, sumpah. Datang-datang langsung komentarin meja gua,” omelku, aku memukul lengannya gemas.
Perlu aku informasikan untuk masalah meja dan barang lainnya yang sudah menjadi hak milik, aku memang selalu menatanya dengan rapi, mejaku selalu bersih. Aku selalu menyusun apa pun yang perlu aku rapikan, seperti map-map dokumen yang selalu aku susun berdasarkan warna. File untuk memuat data disusun sesuai nama kota, dan buku-buku tentang proyek, material, dan berbagai jenis sample aku susun berdasarkan abjad. Tak lupa bolpoin, pensil dan peralatan tulis lainnya aku susun juga sesuai warna.
Aku juga tidak pernah membiarkan debu istirahat di atas mejaku, post it yang menempel dengan terpaksa pun aku usahakan agar tertempel dengan rapi. Biasanya post it aku tempel untuk membantuku menyusun jadwal kerjaku, yang aku atur sesuai nama hari. Singkatnya aku tidak suka melihat sesuatu yang berantakan.
“Kenapa kangen, ya? Emang gua ngangenin sih, udah lama gua nggak nyapa lu,” katanya.
“Apaan? Kangen lu dari mananya coba,” kataku.
Dia mengacak rambutku yang sudah susah payah aku rapikan. “Ututu, sayang … kalo kangen bilang aja, susah sih ya kalo jadi orang ganteng selalu dikangenin,” ujarnya, sungguh menggelikan.
“Najis! Diam lu, rambut gua baru selesai ditata! Jangan pegang-pegang gua, hush … hush … pergi sana,” tolakku. Aku kemudian melepaskan tangannya dari rambutku.
“Apa kabar kantor, Rin?” tanya Rangga setelah tangannya turun dari rambutku.
“Menyesakkan!” jawabku, singkat, padat, dan pedas.
“Kenapa? Eh, gua tadi denger gosip tentang lu. Lu katanya ribut sama si itu?” tanya Rangga, jari telunjuknya menunjuk meja cubicle yang biasanya Dara tempati, kebetulan orangnya belum datang.
“Gila udah nyebar aja, perasaan pas ribut nggak ada orang,” kataku, mengernyitkan dahi. “Lu tau dari mana? Siapa yang nyebarin? Aneh banget, apa ada yang sengaja buka CCTV, ya?” tanyaku.
“Pasti dia sendirilah yang nyebarin, kayak kagak tau sifat manusia aja lu, udah pasti playing victim dia,” jawab Rangga.
__ADS_1
“Nggak peduli sih gua, selama nggak ngancem keluarga gua, gua masih bisa handle. Tapi ya, buat apa coba dia nyebarin aib dia sendiri?” kataku.
“Biasalah, cari dukungan, dia mah emang suka jadi ratu drama dari kapan hari. Tapi, serius dah, lu kenapa bisa ribut sama dia?” tanya Rangga, sepertinya ikut penasaran juga.
“Hal sepele sih, sebenernya, dia ngelarang gua lembur, terus nuduh gua ini itu, nggak jelas gitu deh,” kataku.
Aku kembali merapikan laporan yang sempat terhenti karena dikagetkan oleh kehadiran Rangga. Aku melihat ke arah Rangga lagi, dia menyeringai mendengar jawabanku, aku tidak mengerti.
“Wah, kece juga, dia berani ternyata, ya?” kata Rangga.
“Pasti berani lah, orang waktu itu jam pulang kantor, nggak ada siapa-siapa di sekeliling ruangan ini, makanya gua heran kenapa lu bisa tau,” jelasku, memang waktu kejadian keadaan sekitar sedang sepi.
“Pantesan, kalo ada gua atau orang lain di sini, mana berani dia. Eh, tapi lu nggak diapa-apain, ‘kan?” kata Rangga, terlihat jelas kekhawatirannya.
“Cie, lu khawatir ya sama gua?” godaku, tertawa.
“Ya, siapa tau aja dia gigit lu gitu,” jawabnya, menggaruk tengkuknya.
“Tenang aja, dia mana berani ngelakuin hal gila di kantor, dia cuman ngancem doang, gertakan anak SMA gitu dah, nggak perlu dipikirin, nggak peduli juga gua,” jelasku.
“Bagus dah kalo gitu, tapi ngancem apaan dia?” tanyanya lagi.
“Aneh banget, nggak masuk akal, emangnya dia yang gaji apa, ya? Lu udah bener, emang nggak perlu diladenin tuh orang, sebenarnya nih, malah yang caper itu dia nggak, sih?” ujarnya.
“Gua juga sempet mikir gitu sih, tapi bodo amatlah, gua nggak akan diem aja, dia ngajak ribut, ya gua ributin dia baliklah,” jawabku.
Aku bisa akrab dengan Rangga karena setiap pekerjaanku pasti melibatkan dia, itu alasannya aku bisa lebih santai dan terbuka dengannya. Dia juga tidak pernah membiarkanku canggung sendirian, dia yang selalu mengawali pembicaraan, memastikan aku nyaman bekerja di sana, tetapi sayangnya kesempatan kami untuk bertemu sangat sedikit sekali.
“Pokoknya jangan sampe dia berani main tangan aja, kalo dia udah berani nyentuh lu, bilang langsung sama gua,” pesannya.
“Cie, lu di pihak gua ceritanya?” ejekku.
“Lu udah gua sayang malah kaya gitu,” gerutunya.
“Udah banyak yang sayang sama gua, maaf, maaf aja nih ya,” ujarku.
“Gua akan selalu ada di pihak orang yang berani,” ucapnya.
__ADS_1
“Maksudnya?” tanyaku, entah kenapa perasaanku tidak enak mendengar perkataannya, aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rangga.
“Lu berani, Rin. Selama ini dia emang kayak gitu, dia udah kerja lama tapi sikapnya sama orang baru suka semena-mena, biasanya kalo ada anak baru dia menjadi seolah yang paling berkuasa, tapi lu beda, Rin, lu berani,” jelasnya.
“Tau dari mana lu? Kan lu selalu tugas di lapangan, kok tau-tauan aja?” tanyaku, mencoba menyelidiki apa yang pernah terjadi, karena aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum aku berkerja di perusahaan ini.
“Tau lah, orang sebelum lu masuk sini, temen gua yang kerja bareng dia, tapi temen gua nggak lama kerjanya, dia ambil resign, dia nggak kuat sama sikap tuh orang yang banyak bertingkah,” jelasnya lagi. “Dia bisa bikin orang ngerasa rendah diri, dia sering nindas orang, dia juga nggak segan bikin orang-orang jadi berbalik benci sama temen gua, jadi gua peringatin sekali lagi, hati-hati sama dia,” tambahnya.
Aku tersenyum tak menjawab perkataannya, aku bingung, tidak tau harus bersikap seperti apa. Aku belum tau pasti dan belum sepenuhnya tau pula, Dara orang seperti apa, bisa saja waktu dia berdebat denganku minggu kemarin, dia sedang dalam keadaan yang kurang baik. Jadi aku belum bisa menyimpulkan dia seperti apa orangnya, apakah benar seperti yang dikatakan Rangga? Aku juga belum bisa memastikan.
Rangga sudah duduk di tempatnya, tak berapa lama Dara datang dengan menggunakan pakaian yang mengundang lelaki mana pun tersulut api, pakaiannya menonjolkan lekuk tubuhnya yang bisa membuat orang melongo melihatnya, belum lagi dandanannya yang terlalu berlebihan. Aku yang hanya memakai kemeja lengan panjang dan celana bahan dibuat menganga melihat penampilannya.
Karena tidak ingin gemas sendiri, aku melirik Rangga, dia juga menatapku dan hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
***
Rapat sedang berlangsung, aku dan Rangga duduk saling bersisian, sedangkan Dara berseberangan dengan kami, tepatnya di depan Rangga, atasan kami duduk di ujung meja, memimpin rapat pagi ini.
Kami diberikan kesempatan untuk mempresentasikan laporan pekerjaan kami selama satu minggu yang telah kami lalui. Rangga yang memulai sesi presentasi dengan menjabarkan perkembangan pembangunan di salah satu gedung untuk fasilitas kenegaraan, lalu dilanjutkan oleh Dara yang menjelaskan tentang data yang hampir lengkap tentang proyek yang diketuai oleh atasanku langsung, sedangkan aku, aku mempresentasikan tentang data dan keperluan-keperluan proyek di tempat Rangga bekerja.
“Proyek udah mulai jalan ya, saya mau laporan udah siap buat hari Senin,” ucap atasanku.
Kami sedang menyusun acara untuk proyek yang hampir berjalan setengahnya, semua bahan dan kebutuhan sehari-hari harus sudah terjadwal, itulah yang sedang kami diskusikan sekarang.
“Baik, Bu,” jawabku.
Ketika aku menjawab perkataan atasanku, Dara melirikku dengan tatapan sinis, aku buru-buru berpaling dari tatapannya. Aku sedang tidak ingin merusak akhir pekanku dengan meladeni sesuatu yang terlampau kekanak-kanakan.
“Saya butuh data dari lima tahun yang lalu, buat referensi bahan-bahan proyek dan contoh-contoh desain, ada yang bisa bantu saya?” kata Miss labil, tiba-tiba.
Belum sempat aku mencerna kata-kata Miss labil, seseorang langsung berseru. “Rinda aja Bu, dia ‘kan suka belajar, lumayan dia jadi bisa belajar dari data yang sudah lama, biar tambah ngerti lagi kerja di sini harus gimana,” saran Dara, membuatku memutar kepala.
Apa?! Hey lu nggak tau apa, gua juga banyak kerjaan kenapa nggak ngerjain berdua aja, orang gila dasar lu, uler … pengen gua makan aja rasanya, tentu saja aku hanya bisa berkata dalam hati. Biar bagaimanapun aku harus menghargai dia sebagai senior ketika berhadapan dengan atasanku, aku tidak ingin melibatkan diri terlalu jauh dengannya.
“Gimana, Rin? Saya tadinya mau minta tolong kalian berdua, karena nggak mungkin kalo saya minta tolong sama Rangga, dia aja jarang di kantor. Jadi gimana, Rin? Kamu bisa?” tanya atasanku.
“Wah Rinda pasti bakalan seneng Bu, apalagi menyangkut data, sekalian biar dia tau juga tempat arsip data,” sahut Dara.
__ADS_1
Aku tidak bisa menjawab semua sindiran Dara, aku juga tidak mungkin untuk menolak permintaan atasanku, jadi mau tidak mau, suka tidak suka, aku hanya bisa pasrah dan menyanggupinya, meskipun pekerjaanku pun tidak sedikit, nasib, memang nasib.