KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 18


__ADS_3

“Begini Pak Galih, saya sebenarnya, mau minta waktu lebih, dari yang sudah dibahas kemarin, sama ini masalah harga, kenapa jadi lebih murah dari yang disetujui, saya mau adu harga saja, ini belum bisa jika RAB-nya lebih rendah dibandingkan harga yang diminta, saya meminta kenaikan harga dan anggarannya secara utuh,” jelas Rangga, setelah kami selesai makan.


“Itu hanya perkiraan saja, Rangga, tidak perlu dilebih-lebihkan, nanti saya transfer sejumlah dengan kesepakatan,” jawab Pak Galih.


“Tidak bisa, Pak, kami harus atur sekarang, karena ini akan membuat hambatan nantinya, kami meminta kesepakatan yang baik, jika seperti ini, kami tidak punya catatan nantinya, jadi, sebisa mungkin, tolong Bapak pertimbangkan saran dari kami ini,” jelasku, membantu Rangga.


“Itu gampanglah, Dek Rinda, yang mana yang harus dibenarkan? Saya siap mendengarkan penjelasan dari Dek Rinda. Rangga memang pintar mencari *partner*, saya puas sekali, Nak Rangga,” ujarnya.


“Bisa saja Pak Galih ini, dia memang kompeten sekali, Pak, dia terbaik di perusahaan kami, makannya saya ajak saja dia,” jawab Rangga, bangga, aku tidak.


“Saya sudah mengira jika Dek Rinda ini pasti sangat pintar, lain kali kalo bisa ajaklah dia lagi, Nak Rangga,” katanya.


“Oh, pasti, Pak Galih, dengan senang hati, Rinda juga pasti akan senang jika diajak ke sini lagi,” jawab Rangga, sembari melihat padaku, aku hanya tersenyum, dan menahan umpatan di dalam hati.


“Pindah kerja dengan saya saja, Dek Rinda, biar gampang ketemunya, bagaimana?” ujar Pak Galih, memegang tanganku yang berada di atas meja, aku mengeratkan tanganku, sungguh aku tidak suka disentuh seperti ini.


Rangga menatap padaku, aku juga balas menatapnya, kemudian Rangga melihat ke arah tanganku, sepertinya dia menyadari jika aku sudah tidak nyaman. Rangga menatapku lagi, terlihat menyesal.


“Bagaimana saran dari kami, Pak? Kami tidak bisa lebih lama lagi, masih ada pertemuan lain yang harus kami datangi, Pak. Saya harap, Bapak menyetujui saran dari kami, karena ini menguntungkan banyak pihak, Pak,” ujar Rangga, mengalihkan fokus Pak Galih yang semula menatapku dengan tatapan yang membuatku muak.


“Aduh, kenapa cepat sekali? Saya masih betah padahal, Nak Rangga. Begini saja, saya akan infokan kelanjutannya melalui email atau pesan singkat, saya boleh meminta kontak Dek Rinda?” katanya, sungguh banyak siasat.


“Pak Galih, bisa langsung telepon saya, Pak Galih punya, bukan?” jawab Rangga, membuatku sedikit bernapas.


“Benar, saya lupa, nanti saya infokan jika begitu, tapi saya sudah menyetujui saran dari kalian, saya akan kirimkan ulang RAB-nya sesuai dengan apa yang kalian sarankan. Saya setuju seratus persen, tidak ragu sama sekali,” katanya.


Rangga lantas senang dengan saran yang disetujui itu, aku hanya tersenyum tipis, karena sungguh aku ingin pulang, tidak nyaman sama sekali. Melihat mata Pak Galih yang menjelajah ke arah tubuhku, dengan memainkan kumis tipisnya, membuatku ingin melarikan diri.


“Terima kasih, Pak, sudah membantu kami, akan saya kabari secepatnya, Pak, saya berjanji, ini akan menjadi proyek dengan keuntungan yang paling besar,” ujar Rangga. “Kami tidak bisa lebih lama lagi, Pak, kami harus pamit sekarang, terima kasih atas jamuan makannya, nikmat sekali,” tambah Rangga, sekaligus pamit.


Aku segera membereskan semua berkas-berkas yang sudah ditandatangani, dan dengan begitu kerja sama perusahaan kami dengan perusahaan Pak Galih, sudah resmi dimulai secara sah di atas hukum.


Aku tergesa-gesa, hingga mendahului mereka berdiri, jika boleh berteriak, aku ingin sekali berteriak di depan wajah Pak Galih, karena tangan dan matanya tak henti menyentuhku yang sudah jelas-jelas menolaknya. Tapi itu tidak mungkin kulakukan, biar bagaimanapun, tetap saja nantinya perempuan yang disalahkan, tidak adil, bukan?

__ADS_1


“Dek Rinda ini buru-buru sekali, padahal saya mau ajak jalan-jalan dulu,” ujar Pak Galih, yang kujawab dengan senyuman tak terima.


“Mohon maaf, Pak, saya harus menolak,” jawabku, jujur.


“Terima kasih, Pak, kami pamit, bila waktu memungkinkan pasti kita akan bertemu kembali,” kata Rangga, mengalihkan perhatian Pak Galih yang tidak melepaskan tangannya yang bersalaman denganku.


*Ogah! Lu aja yang ketemu ama ni tukang flirting*, batinku.


Rangga dan aku berpamitan dengan sopan, setelah itu kami membiarkan Pak Galih meninggalkan kafe terlebih dahulu. Aku memperhatikan dengan seksama langkah kakinya, benar, sepanjang Pak Galih melangkah, matanya tidak berhenti melihat banyak perempuan yang berada di hotel.


Aku tidak tau lagi umpatan apa yang harus aku keluarkan, aku muak, aku marah, dan yang pasti, aku ingin berteriak pada laki-laki seperti Pak Galih, bahwa perempuan itu bukanlah objek yang bisa sebebas itu dilihat dengan tatapan merendahkan seperti itu. Itu pelecehan, itu pelanggaran dan itu sangat mengecewakan bagi kami kaum perempuan.


Setelah Pak Galih tidak terlihat lagi, aku mendudukkan diri, aku tidak sanggup lagi menopang kesal, hatiku sakit. Aku berlebihan, aku tau, tapi biarkan aku mendamaikan diri dengan perlakuan tidak mengenakkan ini.


Jika memungkinkan, kalian harus segera melarikan diri jika bertemu dengan laki-laki macam Pak Galih, tidak ada tempat aman di dunia ini sekarang, apalagi menyangkut perempuan. Teruslah berlindung, dan berlatih bela diri, agar kita sedikitnya bisa meminimalisir menjamurnya laki-laki seperti Pak Galih ini.


“Lu nggak papa?” tanya Rangga, melihatku khawatir.


“Mata lu, nggak papa, gua pengen pulang sumpah, bisa skip dulu nggak buat yang besok?” jawabku kesal.


“Oke, nggak papa biar sekalian aja, gua masih bisa nahan,” jawabku.


“Sekali lagi, sorry, Rin,” katanya, penuh sesal.


“Nggak usah banyak ngomong lu, gua kesel. Lu tau nggak, gua pengen banget nampol tu orang, sumpah ya, emang gua cewek apaan, pake minta main segala,” omelku.


“Aturan mah, lu gampar aja pake laptop, Rin, udah nggak sehat kalo kayak gitu,” ujar Rangga.


“Bisa, bisa banget bikin miliaran dollar terbang gitu aja, thanks banget loh sarannya,” kataku kesal.


Rangga tertawa. “Lu ternyata prioritasin dollar juga,” kata Rangga di tengah tawanya.


“Gua nggak munafik, gua butuh kerjaan,” jawabku. “Awas aja, kalo yang nanti malem kayak tuh orang, gua kabur sekarang juga,” ancamku.

__ADS_1


“Nggak, gua jamin, yang nanti malem nggak kayak tadi, janji gua,” katanya.


***


Hari ini ditutup dengan pertemuan yang melelahkan, aku sudah menunaikan kewajibanku sebagai seorang staff khusus. Semuanya lancar, meskipun aku sempat diperlakukan semena-mena.


Aku masuk ke dalam kamarku, dengan keadaan energi yang sudah terkuras, aku lelah. Hati dan pikiranku sempat tak bisa dibantah, untunglah semuanya sudah selesai sebelum diriku pasrah dan menyerah.


Aku lemah, letih, lesu, lunglai, hatiku juga tak kalah tertekan. Mataku tak kalah berat, menahan setiap rasa kesal, juga marah, tapi dalam waktu yang bersamaan aku juga dituntut untuk profesional.


Kamar hotel yang hangat, tak lantas membuat hatiku menghangat, malah semakin sesak karena teringat kejadian sore tadi. Aku melangkah lunglai, dan langsung merebahkan diri di kasur, kemudian menangis histeris dengan hati yang sakit tiada dua.


Aku sudah tidak bisa lagi menahan semuanya sendirian, aku memang sudah berhasil bertemu orang baru di lingkungan yang baru. Tapi aku tidak bisa menutup kendaliku yang nyaris ambruk tak kala tangan tak tau diri meremas tubuhku. Jadi, aku tak bisa lagi untuk tidak menangis, ini adalah bentuk pertahanan diriku yang terakhir.


Handphone-ku berdering, membuatku terkejut, seharian ini aku nyaris tidak menyentuh handphone-ku. Dalam keadaan wajah yang penuh dengan air mata, aku paksakan diri untuk menerima panggilan itu.


“Gua pengen pulang,” ucapku, begitu menerima panggilan telepon.


“Lu kenapa?” tanya panik di seberang sana. “Eli, gua perlu ke sana? Gua pesen tiket sekarang juga,” tambahnya.


“Nggak perlu, gua pengen … cepet … cepet … pulang …,” lirihku tersendat-sendat, masih menangis.


“Kenapa?” tanyanya lembut.


“Gua nggak suka, gua nggak suka di sini, gua pengen pulang,” kataku.


“Udah makan? Kalo belum, makan dulu, terus tidur, besok masih ada kerjaan, ‘kan? Gua temenin lewat telepon, lu nggak bakalan sendiri,” katanya.


“Gua besok pagi pulang,” tuturku.


“Ya udah kalo gitu, sekarang lu istirahat dulu, gua nggak bakalan tutup telepon, gua temenin sampe lu tidur, sekarang bersih-bersih dulu, lu pasti seharian ada di luar.” Aku terdiam. “Eli, masih denger gua, ‘kan?” tanyanya dengan lembut.


“Hhm,” jawabku.

__ADS_1


Dia tidak berbohong, dia menemaniku menangis, dia terus memberiku ketenangan, dia tidak menyuruhku berhenti menangis, dia tau aku butuh waktu. Aku menangis semakin menjadi, ini sebagai wujud kekecewaanku karena tidak bisa melawan ketika direndahkan seperti tadi sore.


Pria di seberang sana, menjadi pengingat untukku, bahwa tidak semua pria harus dipukul rata, karena nyatanya masih ada pria yang selalu menghargaiku sebagai perempuan. Aku percaya masih banyak pria yang perangainya jauh lebih baik lagi dari kebanyakan yang tidak terpuji. Salah satunya adalah Joseph, yang dengan telaten menuntunku untuk terus bergerak agar tidak terlalu larut dalam kekecewaan.


__ADS_2