
Aku sudah berdiri di depan ruang penyimpanan arsip, bayangan debu yang membumbung tinggi menghantuiku. Aku memasukkan anak kunci, sebelum membuka pintu aku menghirup napas beberapa kali, memejamkan mata.
Sekali lagi meyakinkan diri bahwa tidak akan ada apa pun yang akan membuat aku berteriak di dalam sana. Selain debu, aku juga tidak suka dengan sarang laba-laba yang biasa terbentuk dengan bebas di sela-sela ruangan, selain itu aku juga tidak pernah biasa dalam ruangan yang sempit dan gelap.
Aku selalu menghindari tempat seperti itu, aku bahkan tidak pernah mematikan lampu di kamarku. Aku memegang kenop pintu, lalu membukanya aku mengedarkan penglihatanku ke segala penjuru ruangan, tidak seperti yang aku bayangkan ternyata ruang arsip tidak seburuk itu.
Aku masuk ke dalam, di sana aku disuguhkan dengan rak-rak besi tinggi, yang terisi beribu-ribu map dokumen besar dengan berbagai informasi di bagian depannya, untunglah ruangan ini dilengkapi lampu yang menerangi setiap penjuru ruangan ini.
Semua tertata dengan rapi, disesuaikan dengan waktu proyek-proyek itu berlangsung. Perusahaan ini sudah lama berdiri, data yang tersimpan pun sudah pasti banyak sekali, aku bisa saja mencarinya melalui data yang sudah dimuat di komputer, tetapi sayangnya data yang ada kurang lengkap.
Setelah lama mengitari rak-rak besi itu, aku menemukan tangga, juga ada meja yang sangat memudahkanku untuk menulis.
Aku mulai mencari data yang dibutuhkan, dari mulai yang umum sampai mencari informasi yang khusus dari setiap data yang aku butuhkan, semua informasi tidak ada yang aku lewatkan. Aku berusaha mencari sampai ke detail-detail yang kecil sekalipun.
Mataku sudah kering, sepertinya aku sudah terlalu lama mencari data. Tidak terhitung lagi berapa lembar kertas yang sudah aku baca dan berapa banyak map dokumen yang aku bawa, karena tumpukan yang sudah aku teliti dan baca terlihat sangat tinggi.
Aku bahkan melewatkan jam istirahat, karena teringat belum makan, aku mendudukkan diri di lantai, menunduk dan memejamkan mata untuk menemukan konsentrasiku kembali. Setelah beberapa saat seperti itu aku melanjutkan kembali.
Aku sudah lelah, pandanganku pun sempat kabur, ditambah lagi aku lapar karena tak sempat untuk istirahat. Aku melihat jam di dinding ruang penyimpanan arsip, sudah terlalu lama ternyata aku di ruangan ini.
Pada saat menyusun data ke rak besi, aku tidak sengaja menjatuhkan map dokumen, berantakan lah semuanya, aku menjatuhkan diri di lantai. “Astaga …,” gumamku.
Lengkap sudah hari ini, rasanya ingin sekali menangis, menjerit pada semesta yang tidak bisa bekerja sama denganku, di saat seperti ini wajar jika aku meminta belas kasihan pada semesta.
Aku melihat handphone, banyak notifikasi pesan masuk dari Dita dan Joseph. Pesan-pesan itu datang tanpa aku perdulikan sebelumnya, bahkan suara notifikasinya saja aku tidak dengar.
Dita: Nda, lu di mana? Udah makan belum lu?
Dita: Gua tadi ke ruangan lu,
Dita: tapi cuman ada si nenek lampir yang lagi ganjen sama Rangga.
Dita: Lu di mana? Ini udah mau pulang.
Dita: Gua, nggak nemuin lu di mana pun.
Dita: Sorry, gua pulang duluan ya.
Dita: Kalo masih di kantor, lu cepet pulang.
Pesan-pesan Dita, tak sengaja aku abaikan, aku sudah tidak punya energi lagi, aku sudah benar-benar lelah. Dita sudah tau tentang pertengkaran aku dengan Dara, dia juga sudah tau aku menyebutnya dengan sebutan “nenek lampir”, dan dia pun mengikuti aku dengan memanggilnya dengan sebutan yang sama. Pesan dari Joseph pun tidak aku balas, pasti dia sudah berada di bawah, menungguku.
Joseph: Lu masih di kantor, ‘kan?
__ADS_1
Joseph: Kok, lu belum keluar? Yang lain udah pada turun.
Joseph: Lu di mana?
Joseph: Rinda, pulang!
Joseph: Lu nggak papa kan?
Joseph: Rin.
Joseph: Kalo lu nggak keluar-keluar, gua masuk.
Joseph: Bodo amat, gua masuk, Rin.
Joseph: Lu bales dong.
Joseph: Gua khawatir, elah.
Aku tidak buru-buru membalas pesan-pesan itu, karena aku harus mengamankan dulu ruangan ini. Akibat dari keteledoranku, aku harus membereskan ruangan ini dua kali, aku mulai merapikan kembali kekacauan yang sudah aku buat.
Keringatku bercucuran, karena aku tidak nyaman berada di ruangan berantakan seperti itu. Aku mulai kesulitan bernapas, tanganku tak henti bergetar, dadaku berdebar hebat, sepertinya karena aku lemah dengan hal ini, juga karena aku belum sempat makan apa pun.
***
Suara pria yang sudah tak asing lagi di telingaku membuat aku menoleh padanya, aku yakin penampilanku sangat berantakan. Mau bagaimana lagi, aku juga bukan suka menjadi seperti ini, semua yang aku lakukan hanya sebatas memenuhi perintah yang tidak mungkin aku tolak.
“Ya Tuhan, Rin. Lu pucet banget, udah makan belum lu?” tanya Rangga, melihatku prihatin.
Aku menggelengkan kepala, tak sempat menjawab, aku tidak bisa mengatakan apa pun, aku sudah terlalu lelah.
“Udah besok aja lagi, Rin. Sekarang pulang, Rin. Gua pikir lu udah pulang dari tadi, tapi gua liat tas lu masih ada di kursi, gua tadi ke kantor bentar, ternyata bener lu masih di sini,” katanya.
“Tapi ini belum selesai, masih banyak,” kataku lirih.
“Siapa yang bakalan bisa nyelsein ini sehari, Rinda. Data ini banyak, udah besok lagi aja,” katanya lagi.
“Besok libur,” kataku.
“Astaga, bandel banget lu, udah nanti lagi aja. Sekarang pulang, terus makan, cepet, Rin!” tegasnya.
Karena paksaan Rangga, aku menyimpan kembali data yang akan aku teliti selanjutnya, Rangga membantuku membereskan sisa data yang tercecer, dia gemas karena melihat aku masih dengan teliti membereskan data satu per satu.
Aku membereskan barang-barang yang aku bawa tadi dari ruanganku, data yang sudah aku teliti telah tersusun rapi di buku agendaku. Aku keluar bersama Rangga dan mengunci kembali pintu ruang penyimpanan arsip. Aku kembali ke ruanganku setelah seharian aku tinggal, lalu memasukkan buku agenda dan handphone-ku ke tas, kemudian keluar.
__ADS_1
Aku turun ke lobi menggunakan lift karena bila memaksakan turun melewati tangga darurat aku tidak sanggup, ternyata keadaan di luar sudah sepi. Rangga menemaniku di dalam lift, dia juga turun untuk pulang.
Aku bungkam, Rangga juga tidak mengajakku untuk bicara, sepertinya dia juga paham, aku sedang kelelahan dan kelaparan. Aku meraih handphone-ku, teringat pesan Dita belum sempat aku balas, lalu membalasnya.
Lift sudah sampai di lobi, kami berdua keluar bersama untuk pulang, di luar lobi Joseph sudah menungguku, hari ini jadwalnya Joseph menjemputku. Dia membawa minuman kesukaanku, dan beberapa cemilan coklat yang ada di genggamannya.
Sepertinya dia mampir terlebih dahulu ke supermarket ketika aku tidak kunjung keluar. Aku mendekati Joseph, dia pasti sudah lama menungguku.
“Rin, gua duluan ya,” pamit Rangga.
“Iya, thanks ya,” balasku.
Aku melambaikan tangan pada Rangga, yang sudah berjalan ke parkiran kantor di bawah sana. Aku alihkan lagi perhatianku pada Joseph.
“Kita cari tempat duduk dulu, lu pucet,” ajak Joseph, tapi nada suaranya terdengar berbeda.
Aku mengikutinya. “Lu udah lama ya, nunggu gua? Sorry ya?” sesalku.
Joseph menoleh padaku. “Iya, lama,” balasnya. Wajah Joseph terlihat muram, membuat suasana semakin mencekam, hatiku semakin tersayat melihat dia diam saja, apakah dia marah?
Kami tiba di tempat duduk yang ada di depan supermarket, aku duduk di salah satu kursinya, segera aku menelungkupkan kepalaku ke meja. Aku mendengar Joseph juga mendudukkan diri di kursi, meletakkan barang bawaannya di meja.
“Lu dari tadi liat HP nggak, sih? Dihubungin nggak jawab-jawab, lu ke mana aja dari tadi?” tanyanya.
“Nggak sempet pegang HP gua,” lirihku.
“Karena berduaan sama dia,” katanya, ketus.
“Hah?!” Aku langsung terperanjat, menatap matanya, tak percaya dengan pertanyaan Joseph.
“Yang tadi siapa?” tanyanya lagi, tidak menggubrisku sama sekali.
“Hah, siapa yang mana?” tanyaku, tak mengerti.
“Yang tadi turun bareng,” jawabnya.
“Oh, Rangga.” Jawabku singkat.
“Dia siapanya elu?” tanyanya, sinis, aku kembali melihat matanya.
“Siapa, Rangga? Dia temen satu divisi gua, tapi dia tugasnya banyak di lapangan. Hari ini ada meeting, jadi dia dateng dari pagi,” jelasku.
“Oh,” jawabnya. Dia menyodorkan minuman yang sudah ia buka padaku. “Jangan terlalu deket sama dia,” katanya lagi. “Dia cowok,” tambahnya. “Jangan deket sama cowok lain, selain gua,” lanjutnya. “Denger, nggak!” Suaranya meninggi.
__ADS_1
Oh Tuhan, cobaan apalagi ini? Ada apa dengan sikap Joseph? Kenapa tidak ada yang bisa mengerti keadaanku? Kenapa dia tidak diam saja? Apalagi ini? Aku benar-benar lelah. Bagaimana aku menyikapinya? Sungguh hari ini benar-benar melelahkan.