
Alunan merdu suara bintang dunia Chen EXO dengan judul lagu Your Moonlight menemaniku di sore hari, aku menyenandungkan kata demi kata mengikuti suara indahnya yang keluar dari audio handphone.
Lantunan lagunya menghanyutkanku, dari sebuah keadaan yang begitu sepi, aku berada di ujung sore di hari Sabtu, aku sendirian, aku kesepian. Lagu terus berlanjut sesuai dengan daftar putar yang telah aku atur, seharian ini aku tidak ada kegiatan, aku hanya merebahkan diri di tempat tidur di dalam kamarku.
Handphone-ku tidak pernah lepas dari pandangan mata, sebisa mungkin aku selalu memeriksa notifikasi yang masuk, sesekali aku memasuki ruang obrolan milik Joseph. Hingga ujung minggu ini Joseph masih belum ada kabar juga, sudah beberapa kali juga aku mengetikkan pesan di ruang obrolannya, tetapi tak kunjung aku kirim pesan-pesan itu.
Hari ini kedua orangtuaku sedang ada di rumah saudaraku, adikku sedang pergi untuk praktik renang dari sekolahnya hingga sore hari ini dia belum pulang, mungkin dilanjutkan main sepertinya. Jadilah aku sendirian di rumah, dari pagi kegiatanku hanya berdiam diri, ketika mulai pegal aku akhirnya jalan-jalan di ruang keluarga lalu menonton televisi.
Tiba-tiba lagu yang diputar di handphone berhenti, berganti dengan suara khas panggilan telepon masuk. Aku ambil handphone yang sudah aku lempar tadi dengan lesu, betapa terkejutnya melihat display nama orang yang meneleponku.
Nama yang selama ini aku tunggu kabarnya, nama yang selama ini hilang secara misterius, nama yang biasanya selalu ada untukku. Meskipun tidak menyangka dia ada kabar, aku tetap menerima panggilan telepon itu.
“Kok, lama banget diangkatnya?” tanyanya di ujung sana, tetapi aku merasa ada yang mengganjal. “Hey, kok lu nggak ada suaranya?” tanyanya kembali setelah aku tidak kunjung menjawabnya.
Aku sebenarnya antusias melihat nama si penelpon ini, tetapi ketika mendengar suaranya, ada rasa kesal yang langsung menyeruak di dadaku, ada marah ketika aku mendengar suaranya yang jernih ini. Aku merasa tidak perlu menjawab ucapannya, entah kenapa aku sedikit menyesal menerima panggilan teleponnya.
“Lu marah?” tanyanya lagi, aku mendengar tarikan napas di ujung sana. “Lu keluar, deh,” pintanya, aku tidak mengerti. “Lu ada di rumah, ‘kan? keluar dulu coba. Gua ada di depan rumah lu, gua nunggu dari tadi, tapi rumah lu kayak rumah kosong, mau masuk takut nggak ada siapa-siapa,” jelasnya.
Aku masih tidak bergeming tapi dengan setia mendengarkan suaranya, dia ada di depan rumah, aku tidak mungkin salah dengar, bukan? Aku bangkit dari tempat tidurku, berdiam diri sebentar untuk meyakinkan diri, dan menyiapkan diri untuk bertemu dengannya lagi.
“Gua di sini, keluar dulu, please. Kalo lu di rumah keluar dulu, sebentar aja. Lu nggak kangen sama gua, eh nggak deh gua yang kangen sama lu, jadi keluar dulu ya. Kalo nggak mau, seenggaknya buka jendela biar gua bisa liat, gua kangen banget,” pintanya lagi, terdengar putus asa.
Aku memutuskan untuk keluar dari kamar, menemuinya, biar bagaimanapun aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku bukan rindu, hanya saja penasaran dengan apa yang akan dia lakukan setelah melihatku.
Aku sekarang berdiri di teras rumah, dia tersenyum dengan sumringah melihatku, tapi seketika senyum manisnya menekuk lagi, mungkin karena melihatku yang cemberut dan diam seribu bahasa.
“Kok cemberut, sih?” tanyanya. “Lu masih marah sama gua?” tanya dia lagi, terdengar merengek. “Kenapa nggak ngomong?” lagi-lagi pertanyaan terlontar darinya.
“Ya lu pikir aja, Joseph Salim!” jeritku.
“Wih, manggilnya pake nama lengkap, ini mah bukan marah lagi, udah marah besar. Lu cantik dah kalo marah,” ujarnya.
Dia tersenyum lagi, dia juga masih sempat untuk menggodaku, padahal aku sudah memasang tampang yang sangat marah padanya. Dia melihat handphone-nya sekilas, memutuskan panggilan teleponnya denganku, lalu ia memasukkan handphone-nya di saku belakang celananya.
“Ikut gua,” ajaknya.
“Ke mana?” tanyaku.
__ADS_1
“Pokoknya ikut aja, cepet kunci pintunya, nggak ada orang ‘kan di rumah?” katanya.
“Gua ganti baju dulu,” kataku.
“Nggak perlu, pake itu aja, lu udah cantik kok,” godanya.
“Gua ambil jaket dulu,” pungkasku.
Aku kembali ke dalam rumah, aku ambil jaket dan sandal yang biasa aku pakai, aku kembali lagi berhadapan dengan Joseph. Mengunci pintu dari luar, dan membawa kuncinya bersamaku, aku juga kirim pesan untuk orangtuaku bahwa aku pergi dengan Joseph.
“Udah siap?” tanya Joseph, aku hanya menganggukkan kepala tanpa membalas ucapannya. “Ya udah, ayo,” ajaknya lagi.
Joseph tiba-tiba menggenggam tanganku dengan erat. “Ngapain pegangan tangan sih?” protesku.
“Takut ilang,” katanya.
“Gua nggak pernah ngilang, bukannya elu yang tiba-tiba nggak ada kabar,” sungutku. “Lu mau bawa gua ke mana sih?” tanyaku, kesal.
“Ntar juga lu tau,” jawabnya.
Joseph menarik tanganku, untuk mendekat padanya, dia menuntunku untuk naik motor besar ini. Dengan jantan dia membantuku, tangannya tak lepas memegang tanganku, memastikan aku mendarat di jok motor dengan aman dan nyaman.
“Udah siap? Aman nggak?” tanya Joseph. Aku tidak menjawabnya, aku memilih untuk menepuk pundaknya, memberitahukan jika aku sudah siap.
“Pegangan yang bener,” perintahnya. Aku memegang bajunya, aku masih kesal.
“Kok gitu megangnya, sini tangannya,” pintanya.
“Nyebelin, gini aja udah, diem lu!” ketusku.
“Sini!” Tangannya menarik tanganku ke depan tubuhnya, jadilah tanganku melingkar di tubuhnya, aku menurutinya saja dengan pasrah.
Motor besar itu pun melaju dengan gagah di tengah jalanan kota yang ramai ini, sore hari jalanan memang sedang ramai-ramainya, maklum ini hari Sabtu, banyak muda-mudi yang keluar rumah.
Tapi, aku yang duduk di boncengan belakang menghela napas gusar, di tengah keramaian aku selalu merasa takut, aku selalu merasa bahwa jiwaku akan pergi ketika keramaian datang menghampiriku.
Joseph tau akan kondisiku, ia memilih untuk melajukan motornya lebih kencang tetapi tidak kebut-kebutan, dia tau aku tidak akan nyaman. Jantungku berdebar kencang bukan karena motor Joseph yang melaju lebih kencang, tetapi karena suasana jalanan yang tidak membuatku damai.
__ADS_1
Kami sudah sampai, Joseph menepikan motornya, dia mematikan mesin motornya dan membalikkan badan melirik padaku, memastikan aku baik-baik saja. Dia membuka helmnya, aku masih memperhatikannya, dia letakkan helmnya di spion, kemudian Joseph mendekatkan tangannya di helm yang aku pakai, dia melepaskannya dengan hati-hati, situasi ini sungguh canggung, kami sudah lama tidak bertemu.
“Kenapa bawa gua ke sini?” tanyaku, tak tahan karena penasaran.
“Ikut dulu, yuk turun,” ajaknya, kami saling berpegangan tangan lagi.
Aku mengikutinya dari belakang dengan tangan kami yang saling bertaut, kami berjalan di tepian. Kami berhenti di tepi taman, dari sini siapa pun bisa melihat dengan jelas pemandangan langit dari bawah. Aku memutuskan untuk berdiri di sisinya setelah kami berhenti berjalan, dia tetap memegang tanganku erat.
“Maafin gua,” lirihnya, tiba-tiba. “Maaf, gua udah terlalu ikut campur,” katanya.
Dia menoleh padaku, mempertemukan mata kami yang saling mencari jawaban atas satu sama lain. “Gua nggak mau lu tiba-tiba jauh dari pandangan gua. Gua paham lu kerja dan pasti bakal ketemu orang banyak, termasuk ketemu laki-laki lain selain gua,” ungkapnya.
Joseph mengeratkan kembali tangannya pada tanganku, ibu jarinya mengelus-elus telapak tanganku dengan lembut. “Gua belum siap liat lu sama yang lain, makanya pas waktu itu lu keluar dari gedung bareng orang lain, gua uring-uringan sendiri, gua bahkan sampe lupa rasa capek elu. Sorry, tapi untuk saat ini gua mohon turutin gua dulu, jangan deket sama orang lain, please,” akunya.
Aku masih memandang dirinya, tepat ke arah mata Joseph, aku melihat semburat tulus di sana. Aku tidak risi dengan sikapnya yang posesif, jauh dari rasa itu aku nyaman sekali diperhatikan seperti ini. Waktu itu keadaanku sedang tidak stabil, itu sebabnya aku belum bisa mencerna kalimatnya dengan benar, setelah Joseph menjelaskan maksudnya, aku lega.
“Makasih,” ucapku, pelan. Aku bingung harus berkata apa lagi, hanya kata itu yang mampu aku ucapkan dari rangkaian kata-kata yang ingin aku ungkapkan padanya.
“Jangan tinggalin gua,” ucapnya, dia memelukku dengan erat seakan aku bisa terbang bila dibiarkan begitu saja.
“Nggak ada niat gua ninggalin lu, nggak usah lebay deh,” godaku. Aku membalas pelukannya, aku merasakan tangannya mengelus punggungku dengan lembut.
Dia melepaskan pelukannya padaku, tanpa diduga dia juga melepas jaket yang ia kenakan. Dia menggelar jaketnya di atas rerumputan hijau tepat di samping kami, aku bingung tapi tidak merasa khawatir.
“Mau ngapain sih?” tanyaku heran.
“Sini, duduk di sebelah gua,” pintanya.
Dia sudah duduk lebih dulu dengan beralaskan jaketnya, ada sedikit tempat yang tersisa yang dikhususkan untuk aku duduk di sebelahnya. Aku pun mengikuti permintaannya, aku duduk di sebelah Joseph.
“Sini nyender sama gua,” katanya, menepuk-nepuk bahunya.
“Modus lu mah,” sindirku
“Rin …,” ucap Joseph menggantung, tapi entah kenapa membuatku berdebar-debar.
Apa yang akan dia bicarakan? Kenapa hatiku tak karuan? Apakah seperti apa yang sudah aku duga? Ataukah hal lain yang justru akan membuatku lebih terluka?
__ADS_1