
Dari atas udara yang berselimut awan, aku melihat ke bawah, hari ini Surabaya sudah kutinggalkan, tanpa keliling kota, tanpa menikmati makanannya, tanpa kenangan indah. Padahal hanya satu hari berada di sana, tapi hatiku sudah tak menerima ketika nama kota itu disebutkan.
Perihal trauma, aku terkenal tak bisa dengan mudah merelakan setiap ingatan buruknya, begitupun dengan dua hari ini. Tolong maklumi, kendaliku tak sekuat itu untuk menahan setiap pemicu dari serangan ketakutanku sendiri.
Dari setiap perjalanan udara, pasti banyak orang yang tidak pernah bisa menahan ketakutan akan guncangan dari setiap turbulensinya. Tapi untukku, justru gerak tenangnya yang selalu menjadi hal paling mengerikan.
Atas semua yang pernah terjadi di hidupku, gerak turbulensi menjadi satu-satunya yang membuatku nyaman, setidaknya, aku masih punya pemikiran untuk terus bertahan hidup. Dalam keadaan yang paling berteriak pasrah, keadaan mengancamlah yang paling membuatku ingat akan sebuah kehidupan.
“Rinda, gua langsung pulang, lu juga nggak perlu ke kantor lagi, besok aja,” bisik keras Rangga dari kursi belakang.
“Gua nggak bisa libur aja?” tanyaku, penuh harap.
“Sayangnya nggak bisa, Rin, lu masih harus masuk besok, lu kayak nggak tau aja tuh perusahaan itu kayak gimana,” jawab Rangga.
“Yah, padahal gua pengen istirahat, cape gua,” kataku.
“Sabar, sabar aja, Rin,” ujarnya.
“Lu udah oke?” tanyanya, sepertinya Rangga masih merasa bersalah dengan kejadian di sana.
“Masih belum, tapi gua masih bisa tahan, jadi nggak masalah,” jawabku, tersenyum samar yang tidak akan terlihat oleh Rangga.
Atas pertanyaan Rangga, aku jadi mengingat kembali kejadian semalam, di mana Joseph benar-benar menepati janjinya untuk terus bersamaku, dan tetap menemaniku meskipun aku tidak banyak bicara.
Joseph bahkan memainkan sebuah melodi dan itu membantuku untuk kembali tenang. Tak kusangka ternyata kehadirannya sangatlah berharga, satu hari tanpa dia, membuatku jauh lebih terpuruk dari biasanya.
Pengumuman dari dalam pesawat membuyarkan lamunanku, pesawat sudah siap untuk mendarat, aku kembali mengeratkan pegangan. Tak menunggu lama, pesawat mendarat dengan indah, tanpa kekurangan suatu apa pun, terdengar ucap syukur dari para penumpang.
Aku akhirnya bisa membuka mata, dan bernapas dengan tenang kembali. Aku bersiap untuk turun, tak lupa membawa tas ranselku, kemudian langsung mengikuti penumpang yang lain.
***
“Rin, thanks ya, udah bantuan gua, jangan kapok gua ajak-ajak lagi,” ujar Rangga begitu kami tiba di luar bandara.
__ADS_1
“Nggak masalah, tapi gua bisa minta syarat nggak, buat nanti-nanti lagi?” balasku.
“Syarat apaan, udah kayak mau lamar kerjaan aja gua, musti menuhin syarat-syarat,” jawabnya.
“Gampang, syarat dari gua nggak kayak rincian kriteria HRD yang lagi cari karyawan baru, kok,” kataku.
“Bagus deh, bisa gila gua kalo liat kriteria lowongan kerja gitu, udah gaji seenaknya, minta karyawan yang multi talenta, gila kali perusahaan kayak gitu,” omelnya.
“Bener banget, tapi lu sadar nggak, kita lagi kerja di perusahaan kayak gitu,” kataku.
“Iya juga,” jawabnya, sedikit berpikir. “Alah, malah ke mana-mana, apaan syaratnya?” tanyanya.
“Gua nggak mau ketemu sendirian kalo client-nya cowok,” kataku.
“Itu mah gampil, janji gua, yang kemarin itu terakhir,” katanya.
“Ya udah kalo gitu, gua pegang janji lu,” jawabku.
“Perusahaan lu juga itu,” seruku. “Ya udah gih, udah lama perusahaan lu nggak dibelai,” tambahku.
“Oke deh, hati-hati, Rin,” pamitnya.
Rangga sudah masuk ke dalam mobil dan langsung meninggalkanku di depan bandara sendirian. Meskipun aku tersenyum, tapi hatiku tetap risau, entah apa yang akan terjadi nantinya padaku. Hari ini cerah, tapi justru itu yang membuatku curiga, bukan tidak bersyukur, tapi entahlah, hatiku selalu merasakan hal seperti itu.
Aku mulai berjalan, aku harus pulang, setidaknya ada waktu lima belas jam untukku istirahat, sebelum melanjutkan aktivitas esok hari. Di antara penumpang yang turun tadi, hanya aku yang melenggang dengan bebas tanpa mendorong koper. Lagi, di tengah keramaian ini, lagi-lagi aku merasa kesepian, rasanya hatiku hampa.
“Rinda!” teriak seseorang.
Aku segera mencari sumber teriakan itu, menoleh ke sisi kiri dan sisi kanan, tapi tak kulihat orang yang kukenal. Apa aku salah mendengar? Atau mungkin ada Rinda yang lain di depan bandara ini?
Aku penasaran, aku melirik ke semua penjuru, masih juga tak ada yang kukenal di sana, hingga aku mendengar sebuah langkah cepat dari arah belakang. “Rin …,” ucapnya di samping telingaku dan tiba-tiba dia mendekapku dengan begitu cepat.
“Lu dateng dari mana?” tanyaku lemah.
__ADS_1
“Gua nunggu lu dari tadi, tapi lu ternyata keluar dari pintu yang lain, sorry gua telat,” jawabnya, dia menghadapkan tubuhku dengannya. “Lu nggak papa?” tanyanya, memegang bahuku.
Aku menggeleng, tak tau harus menjawab apa, aku tidak baik-baik saja, harusnya aku langsung menjawabnya. Tapi jika begitu, saat ini juga aku akan menangis di hadapannya, aku tidak mau seperti itu.
“Nggak papa yang penting lu udah di sini, udah selamat, gua tenang,” katanya.
Dia kemudian menatapku, membelai wajahku, lalu menarik tubuhku agar lebih mendekat padanya dan langsung dia peluk tubuhku yang mulai lemah ini. “Joseph?” panggilku.
“Hhm … kenapa?” tanyanya, mengusap rambutku dengan lembut.
“Gua pengen pulang,” jawabku dalam pelukannya.
Joseph mengusap punggungku, memeluknya lebih erat lagi. “Lu udah pulang, udah nggak apa-apa, lu udah aman, ada gua di sini, jangan khawatir, gua nggak bakal ke mana-mana,” jawabnya, selalu memberiku ketenangan.
Di depan bandara paling sibuk di kotaku ini, aku berpelukan hangat, mengabaikan ribuan pasang mata yang melihat kami penuh tanda tanya, sudah seperti pasangan yang lama berpisah. Rasa sepi yang sempat menyapaku tak tau diri, akhirnya perlahan mulai sirna karena pelukan hangat yang diberikan oleh Joseph. Aku mulai kembali merasakan suasana kota ini dan mudah-mudahan segera melupakan kenangan buruk dari kota sana.
Masing-masing dari kami tidak ada yang memulai percakapan, aku tidak ingin merusak suasana. Aku hanya ingin kenyamananku kembali, dan dengan adanya Joseph di sekitarku, akhirnya kenyamanan itu aku dapatkan kembali. Bersama dengan pemikiran ini, bukan hanya nyaman, aku juga merasa aman berada di sekitarnya.
Di tengah suasana syahdu ini, tiba-tiba perutku berbunyi, menginterupsi, hingga mengundang Joseph untuk tertawa, dan membuat pipiku menghangat menahan malu. “Lu belum makan?” tanyanya.
“Belum,” cicitku, menunduk tak berani menatap matanya.
Joseph tertawa lagi. “Ayo makan dulu,” ajaknya. “Lucu banget sih lu,” ujar Joseph, menjawil hidungku. “Emang di pesawat nggak dikasih makan?” tanyanya lagi.
“Nggak nafsu gua,” jawabku malu-malu, sembari memainkan jari-jari tanganku.
“Ya udah, tuh depan ada restoran, makan di sana aja, ayo,” ajaknya.
Aku memberanikan diri menatap matanya, dan pelan-pelan melepaskan pelukan dari tubuhnya. “Lu nggak sibuk?” tanyaku.
Joseph tersenyum. “Nggak, gua pasti ada waktu buat lu mah, ayo cepet makan dulu, pingsan di sini gua yang repot,” ujarnya, jahil. “Ayo cantik, kita makan,” tambahnya lagi, menarik tanganku dan membawaku untuk mengikutinya.
Setelah beberapa jam banyak awan yang menutupi, aku berharap dengannya aku tak lagi merasa sendiri, karena sadar atau tidak, kesedihanku perlahan pergi dengan keberadaannya. Jika aku berharap Joseph untuk selalu ada untukku, apakah itu termasuk perbuatan yang egois?
__ADS_1