KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 23


__ADS_3

Ini hari keduaku liburan di pantai bersama Joseph, senyumku terlukis melihat sebuah istana pasir teronggok di hamparan pantai, dengan suara mengayun ombak tenang di lautan. Aku lihat sekitar, benar-benar sepi, cocok sekali untuk bersantai dan mengisi energi setelah berjibaku dengan kerasnya kehidupan di kantor.


“Rin, sini makan dulu, lu nggak bosen-bosen dari tadi mainin pasir mulu apa?” tegur Joseph.


Joseph sibuk menyiapkan makanan untuk makan kami. Joseph tidak memberiku ijin untuk memasak, dikarenakan aku tidak punya keterampilan yang menunjang untuk kegiatan merepotkan itu.


“Bentar, gua masih belum puas ngasih makan *inner* *child* gua,” jawabku tanpa menoleh pada Joseph, aku masih ingin memuaskan diriku sendiri.


“Ada-ada aja, emangnya pas masih kecil lu nggak pernah main pasir apa?” ujarnya.


“Bukan nggak pernah main pasir, gua nggak suka aja masa kecil gua dulu, yang takut sama segala macem, yang akibatnya gua nggak bisa leluasa main di pantai gara-gara takut sama manusia, padahal mereka juga punya urusan masing-masing, nggak bakalan gangguin gua,” jelasku.


“Ah, lu kenapa harus bahas ini lagi, *sih*? Gua ‘kan jadi sedih, tapi untung ya gua bawa lu ke pantai, jadi lu bisa bebas main sampe lu puas, sambil guling-guling kalo mau,” kata Joseph.


“Nggak usah *lebay*, gua juga belum bisa terima masa kecil gua yang serba salah itu, kayak hidup segan mati pun tak mau. Eh, lu selalu ngeluh sama kisah masa lalu gua, emang *inner* *child* lu baik-baik aja?” tanyaku.


“Lu pikir hidup gua lurus-lurus aja, gitu?” jawabnya.


“Ya, apa? Cerita dong, gua juga pengen tau,” pintaku.


Joseph melihatku sekilas, kemudian dia melanjutkan kembali kegiatannya, dia sekarang sedang merakit meja yang sengaja ia beli khusus untuk hari ini. Aku yang penasaran dengan kisah Joseph segera bangkit dan menghampirinya, tanpa banyak bicara lagi aku duduk di salah satu kursi lipat yang dibawa Joseph.


“*Inner* *child* gua pengen dianggap orang biasa,” ucapnya.


“Maksud lu, selama ini ada yang anggap lu Spiderman, gitu?” sahutku, sedikit bercanda.


“Bukan gitu, maksudnya gua nggak suka dianggap superior, gua mau sekali aja, orang-orang liat gua kayak anak-anak pada umumnya, manusia normal, tanpa embel-embel anak orang kaya. Gua nggak suka mereka memperlakukan gua kayak raja, terlalu mengelu-elukan gua. Gua nggak bermaksud buat kufur nikmat, enggak, gua cuman mau mereka biasa aja sama gua, paham nggak?” jelas Joseph.


“Paham gua, tapi ya, gimana orang-orang bisa anggep lu orang biasa, pada saat lu dateng ke sekolah pake jam tangan Rolex. Mana bisa orang-orang mikir lu orang biasa, Joseph,” kataku.


“Elah, itu bukan punya gua, dan lagi gua nggak bisa lepasin jam itu, rasanya aneh kalo nggak ada apa-apa di tangan gua,” jawabnya.


“Ah, lu gimana *sih*, lu pake barang *branded* ke sekolah yang kebanyakan anak-anak di sana nggak semua kayak elu, pasti lah lu jadi sasaran empuk kakak kelas, gua nggak akan kaget lagi, semua yang lu pake dan bawa, *can’t relate* sama temen-temen lu,” kataku.

__ADS_1


“Ya! Lu aja dari rumah berlian, Rin, tapi mereka nggak kayak gitu sama lu, kok ke gua beda perlakuannya?” balas Joseph.


“Mereka nggak semerdeka elu, jadi pasti lu dapet perlakuan beda, tapi ya udah lah, sekarang ‘kan udah enggak kayak gitu lagi,” jawabku.


“Ya iya sih, udah ah, buru cuci tangan, makan dulu,” perintahnya.


Aku yang sedang duduk pun langsung berlari pada Joseph yang sedang menenteng air untuk cuci tangan. Setelah tangan sudah bersih aku kembali duduk, kali ini di depan meja yang sudah tertata makanan. Joseph menyiapkan daging panggang, mi instan yang sudah diseduh, dan salad siap saji.


Kami makan saling berebut, kadang Joseph yang menjahiliku dengan menghabiskan daging panggang yang sudah matang, hingga aku harus menunggu dengan wajah cemberut. Aku juga tidak mau kalah, aku sengaja menumpahkan kuah mi instan ke sepatu mahalnya, tapi tidak seru, Joseph hanya tertawa dengan kelakuanku.


Tak terasa matahari sudah berada di ujung lautan, siap untuk berpamitan dengan kami yang sedang menikmati keindahannya. Kami semakin maju ke depan, demi melihat lebih jelas kegagahan warna jingganya, begitu indah dan hangat.


Joseph mulai memetik gitarnya, mengalunkan melodi untuk mengantar sang Surya kembali ke haribaannya. Aku puas hari ini, mataku disuguhkan dengan pemandangan alam yang tiada putusnya, makanan enak yang berhasil membuat semangatku bangkit lagi, dan terakhir petikan gitar dari jemari Joseph yang membuatku seakan melayang, dan menyentuh langit.


Semburat jingga yang perlahan mulai pudar menemani kami yang diam seribu bahasa, aku menelan semua ingatan-ingatan masa laluku yang tak bisa menikmati waktu pertumbuhanku. Ternyata sesal itu hari ini mulai terasa, tapi kemudian aku perlahan mulai menyadari, mungkin selama ini itulah yang orangtuaku pikirkan. Berat dan sedih melihat anaknya hanya bisa bersembunyi di balik tubuh mereka.


“Malam ini kita tidur di mobil lagi?” tanyaku, memecah keheningan.


“Astaga, udah gua bilangin dari kemaren, kemaren, kemarennya lagi, itu namanya karavan, bukan mobil! Udah keren-keren gua bikin *tuh* karavan biar bikin orang iri, lu tetep aja bilang itu mobil, kesel gua ah!” geramnya.


“Beda! Ah, serahlah, ayo cepetan balik ke mobil!” Joseph menekan kata mobil di akhir kalimatnya. “Bikin api unggun, terus tidur,” lanjutnya.


Hari sudah malam, kami pun kembali ke mobil karavan, aku tidak terbiasa menyebut karavan, sepanjang liburan ini, aku terus menyebutnya mobil. Joseph membuat api unggun, yang ia tempatkan jauh dari karavan, dan kami duduk di antaranya. Joseph menghadap padaku, menyanyikan lagu *Thinking Out Loud* dari Ed Sheeran dengan gitarnya, aku tersenyum.


“Ye … ye … ye … la … la …, keren, tepuk tangan untuk Joseph Sheeran,” seruku, ketika Joseph menyelesaikan lagunya.


“Joseph Sheeran banget, Rin?” candanya.


“O iya jelas,” jawabku, tertawa.


Aku antusias memujinya, tapi tiba-tiba dia terdiam dan hanya menatapku, aku bingung, bahkan aku sempat memalingkan wajah ke arah lain.


“Rin?” panggilnya.

__ADS_1


“Hhm ….” Aku langsung menoleh padanya lagi.


“Rin, hati lu belum siap kebuka ya, Rin?” tanyanya.


“Kenapa nanya ini lagi?” tanyaku.


“Karena gua udah terlalu yakin kalo lu akhir dari penantian gua selama ini,” jawabnya.


aku menatap tajam ke arahnya. “Alasannya?” tanyaku, mengulik ketulusannya.


“Nggak ada alasan. Hey, bukannya nggak perlu ada alasan, ya? Gua ‘kan udah bilang sayang, tulus gua,” jawabnya.


“Jo, yang namanya hubungan dua orang itu, nggak bisa asal yakin aja, hanya karena lu udah nyimpan rasa, lu juga harus mulai cari alasan. Lu nggak bisa nerima gua dengan apa adanya, karena gua juga nggak nerima diri gua apa adanya,” jelasku.


“Tapi ‘kan itu kenyataannya, Rin,” belanya.


“Gua cewek, Jo, gua nggak hanya butuh kepastian, nggak cuman nerima ucapan cinta aja, gua juga butuh validasi, butuh waktu lu. Dengan gua terus terang kayak gini, apa lu sanggup turutin semua mau gua? Apa lu rela, waktu lu bakalan jadi seutuhnya milik gua, karena pada saat status lu berubah jadi pacar atau suami orang, udah beda ceritanya, Jo,” beberku.


“Kalo misalnya gua sanggup menuhin semua mau lu, gimana?” tanyanya, memegang tanganku.


“Hal itu juga nggak bisa seenaknya, ada akhir yang harus kita tempuh, entah itu berakhir ke arah yang lebih baik, atau berakhir di tengah jalan. Dan gua nggak mau ngejalanin hubungan tanpa tujuan yang jelas, jadi tolong sekali lagi, tunggu gua siap, tunggu gua bisa nerima diri sendiri dulu,” jawabku. “Lu sanggup ‘kan nunggu gua?” tanyaku kemudian.


“Rin, selama ini gua udah lama nunggu lu, masa gua nyerah hanya karena lu jelasin semua sudut pandang lu. Gua siap Rin, kalo lu minta alasan, gua akan jawab sejujur-jujurnya, gua siap jadi waktu lu, gua siap jadi kesibukan lu, gua siap jadi samsak hidup lu pas lu lagi butuh pelampiasan. Hidup gua yang monoton, bisa banyak variasi warna kayak gini juga karena lu masuk ke hidup gua, Rin,” ungkapnya, hatiku menghangat dan meleleh mendengar pengakuannya.


“Kalo gitu buktiin, perjuangan gua sekali lagi,” kataku.


Joseph mendekatkan wajahnya denganku, menatap mataku lamat-lamat, membelai wajahku dengan tangannya penuh kelembutan. “Gua udah jatuh sama lu, gua rela lakuin apa aja, pegang janji gua,” ucapnya dengan suara rendahnya yang menggetarkan hatiku.


Hembusan angin mengiringi reaksi tubuh kami atas pertemuan dua belah bibir yang tengah berpacu bersama ketulusan Joseph. Aku tidak bergeming, aku memang egois, belum bisa menerima perasaannya, tapi sudah menikmati surganya dunia yang Joseph berikan padaku.


Dua hari ini, luar biasa memabukkan untukku, perlakuan lembut dan jantan dari Joseph berhasil membuat energiku kembali pulih. Liburan kali ini aku nobatkan sebagai liburan paling mengesankan di hidupku. Aku tidak berhenti berteriak dalam hati, mengucapkan banyak rasa terima kasih pada Joseph.


“*I am happy*,” ucapku lemah.

__ADS_1


“Tidur!”


__ADS_2