KUHARAP ADA BAHAGIA

KUHARAP ADA BAHAGIA
CHAPTER 25


__ADS_3

Pak Chandra menatapku, terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, dia juga memainkan gelas minumannya. Tiba-tiba saja, Pak Chandra menegakkan posisi duduknya, semakin membuat nyaliku ciut. “Hm … saya benar ‘kan, kamu sudah lama kerja di sini?” tanyanya.


Jujur saja, pikiranku sangat kacau, aku sempat tergagap mendengar pertanyaan Pak Chandra, apa yang sebenarnya Pak Chandra inginkan dariku? Kursi yang kududuki, semakin terasa tidak nyaman, dan terasa begitu panas. “Be-belum, Pak. Saya baru tujuh bulan kerja di sini,” jawabku.


Pak Chandra tersenyum, tapi aku melihatnya sedikit ketakutan, aku terlalu banyak memikirkan hal buruk, sehingga senyumnya saja bisa mengintimidasiku. “Kamu tidak perlu takut dengan saya, santai saja,” ujarnya, matanya turun, melihat tanganku yang mulai meremas bagian bawah kemeja yang kupakai.


“I-iya, Pak, mohon maaf,” kataku, masih gelagapan.


Bagaimana aku bisa tenang, jika belum tuntas semuanya, bagi orang lain mungkin mudah saja semuanya dibawa dengan santai, tapi bagiku, itu sungguh mustahil. Satu-satunya yang aku inginkan sekarang adalah mendengar semua yang ingin disampaikan oleh Pak Chandra dan keluar dari ruangan ini yang mulai membuatku sesak.


“Saya pikir kamu sudah terlalu lama kerja di sini,” katanya, membuatku tertegun. “Sudah saatnya berhenti jadi staf khusus,” lanjutnya, santai.


Aku terkejut, panik, dan berusaha menggali semua yang sudah kulakukan di perusahaan ini, takut-takut pernah melakukan kesalahan fatal. Tapi, rasa-rasanya, aku tidak pernah melakukan kesalahan, dan kerjaku sudah dilakukan sebagaimana mestinya, jadi apa maksud dari semua ini?


“Eh, m-maksudnya bagaimana, Pak?” tanyaku.


“Kamu tidak perlu berpura-pura tidak tau,” jawabnya, semakin membuatku bingung.


“S-saya tidak mengerti …,” lirihku.


“Saya sudah lihat cara kerja kamu, kamu juga rajin, dan tidak pernah ada komplain dari *client* tentang cara kerja kamu, bahkan pertemuan di Surabaya pun, kamu berhasil meyakinkan *client* yang terkenal rewel,” jelasnya. “Jadi, saya sudah pertimbangkan, saya harus angkat kamu jadi manajer di perusahaan saya, kamu tidak mungkin keberatan tentang ini, bukan?” lanjutnya.


Aku termenung, sejujurnya tidak ada satu kata pun yang berhasil aku cerna dari penjelasan Pak Chandra. Aku terlalu kaget dengan kalimat pembuka tadi, jadi aku tidak begitu mendengar kalimat setelahnya.


“Bagaimana, Rinda, mau?” tanyanya lagi.


Setelah sedikit tersadar, aku kemudian berpikir, bagaimana mungkin aku menjadi manajer, bagaimana tanggapan karyawan lain, belum lagi aku masih terhitung karyawan baru. “Apa tidak salah, Bapak meminta saya menjadi manajer, saya masih baru, Pak,” kataku. Aku tidak menolak, siapa yang tidak mau naik jabatan, hanya saja aku bingung dan takut.


“Tidak, tidak, itu sudah keputusan saya, saya juga tidak asal memilih, saya suka cara kerja kamu, saya tau bagaimana kamu disiplin selama ini, jadi apa salahnya kamu saya angkat jadi manajer,” jelasnya.


Aku tidak lega sama sekali mendengar alasan Pak Chandra, karena aku memikirkan banyak hal. “Pekerjaan saya yang sekarang bagaimana, Pak?” tanyaku, aku tidak ingin ada penyesalan nantinya, aku juga tidak ingin meninggalkan beban pekerjaan seperti itu.


“Tenang saja, akan ada yang menggantikan kamu, kamu tidak perlu khawatir, saya sudah rencanakan ini dengan matang. Kamu juga masih bisa membantu mereka, sebelum orang yang menggantikan kamu bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Jadi kamu bisa selesaikan tugas-tugas kamu dahulu, setelah itu baru saya akan panggil kembali, jangan dijadikan beban, Rinda, kamu aman bekerja di perusahaan saya,” jelasnya.


Pak Chandra memberikan solusi terbaik, dan meyakinkanku, meskipun aku yakin Pak Chandra tidak akan peduli dengan tanggapan orang-orang terhadapku nanti. Pikiran-pikiran itu masih tetap ada, haruskah aku menyetujui permintaan Pak Chandra, tapi bagaimana dengan yang lain? Pasti mereka tidak akan menerimanya. “Baiklah, Pak, saya setuju,” kataku. Masa bodoh dengan pemikiran orang-orang, ini adalah kisahku, jadi semua tergantung padaku.


Pak Chandra tersenyum lebar, mendengar persetujuanku, dan bertepuk tangan, membuatku bingung sesaat, apakah Pak Chandra memang senang dengan keputusanku, atau ada alasan lain, entahlah. “Bagus, saya suka dengan keputusan kamu, jangan banyak merenung, karena mulai sekarang, semua keputusan tentang perusahaan ini, ada di tanganmu. Terima kasih sudah menerima tawaran saya, saya senang sekali, kapan-kapan pergilah dengan saya, saya tertarik denganmu, Rinda,” katanya, antusias.


“Tidak, saya yang harus berterima kasih pada Bapak, terima kasih sudah memberi kepercayaan yang luar biasa kepada kinerja saya. Saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan Bapak, sekali lagi terima kasih banyak, Pak,” kataku, menunduk hormat.

__ADS_1


“Itu sudah semestinya, itu juga hadiah dari hasil kerja keras kamu, jangan sungkan,” katanya.


“Sekali lagi, terima kasih, Pak,” kataku.


\*\*\*


Sore ini lebih gelap dari biasanya, awan hitam menutupi langit jingga yang biasanya terlihat indah pada jam-jam pulang kerja. Angin dingin menusuk tubuhku, kebetulan pakaianku tipis hari ini, cuaca seperti ini selalu membuatku cemas, aku tidak tau kenapa. Seharian ini, setelah keluar dari ruangan Pak Chandra, pikiranku tetap tak menentu.


Aku melangkah keluar, Joseph sudah berada di luar, menungguku pulang. Begitu aku keluar dari gedung perusahaan, Joseph tersenyum sumringah, wajahnya tampak cerah, berbanding terbalik denganku.


“Lu sakit?” tanyanya, lembut.


“Hah? Nggak, kok, emang kenapa?” aku balik bertanya.


“Kenapa nggak semangat gitu, nggak kayak biasanya?” tanyanya, Joseph menghampiriku, melepas jaket yang ia kenakan, kemudian memakaikannya padaku. “Pertemuan tadi gimana, lancar?” tanyanya lagi, sembari membantuku menaikkan ritsleting jaket, dan mengusap tanganku menyalurkan rasa hangat di tubuhku.


“Lancar-lancar aja,” jawabku, masih dengan nada yang sama.


“Kenapa?” tanya Joseph. “Lu masuk mobil dulu *deh*, dingin banget ini, sebentar lagi juga ujan, ceritanya di dalam aja, gua udah beli makanan juga, buat ganjel,” katanya, membukakan pintu mobil untukku.


Tanpa menjawab perkataannya, aku menurutinya, dan masuk ke dalam mobil, dengan tangan Joseph yang menghalangi atap mobil dengan tangannya, memastikan aku tidak terbentur. Dia menatapku sekilas, dan memegang wajahku, hingga mengembungkan kedua pipiku, dan membuat bibirku membentuk lucu. “Ih, apaan *sih*!” protesku.


“Gemes,” jawabnya, terkekeh.


Joseph menatapku di depan kemudinya, Joseph menangkup pipiku dengan kedua tangannya, dan memposisikan wajahku agar berhadapan dengannya. “Mau cerita?” tanyanya, terdengar lembut dan menenangkan.


“Boleh sambil jalan, nggak?” pintaku.


“Boleh, apa yang nggak buat lu,” katanya, melepas tangannya dari wajahku, kemudian menyalakan mobil dan bergegas pergi. “Gua tutup jendelanya, ya? Anginnya kenceng, dingin banget,” katanya, aku tidak menjawab, tapi setelahnya semua jendela mobil ia rapatkan.


Di dalam mobil yang sedang melaju, pikiranku berkecamuk, seperti angin di sore ini, menerbangkan apa pun yang dilaluinya. Joseph tak bertanya lagi, ia mengemudi dengan tenang dengan satu tangan, sedang tangan yang satunya ia gunakan untuk memegang tanganku.


“Di belakang ada burger, bawa aja, isi dulu perut lu,” ucapnya.


“Nggak pengen, nggak laper juga,” jawabku.


“Ada apa?” tanyanya.


“Gua, gua diminta buat ….” Aku menggantungkan jawabanku, tiba-tiba rasanya sesak, membicarakan hal ini. “Gua … Pak Chandra, minta gua buat jadi manajer,” kataku, pada akhirnya.

__ADS_1


Joseph menoleh padaku, memberhentikan mobilnya secara mendadak, membuatku tersentak. “Lu apaan *sih*, ngapain berhenti di tengah jalan?” tegurku, mengernyitkan kening.


“Lu apa? Pak Chandra bilang apa?” serunya.


“Jalan!” bentakku.


Joseph tersadar, kemudian melajukan lagi mobilnya, aku terdiam lagi, hatiku kembali kacau dan juga kesal. Joseph terlihat buru-buru mengemudikan mobilnya, seperti orang yang sedang dikejar-kejar penjahat, aku heran dan berakhir dengan melihatnya dengan tatapan tak suka.


Joseph tiba-tiba berbelok arah, memasuki taman kota yang sedang ditutup karena ada perbaikan. “Ngapain ke sini? Astaga, kita bisa ditangkep, ini masih ditutup, lu jangan ngada-ngada *deh*, keluar!” seruku, tapi Joseph terus melajukan mobilnya. “Berhenti, atau gua turun di sini,” ancamku.


“Tanggung bentar lagi, tenang aja, nggak bakalan ada yang tau, gua kenal sama pengelolanya,” jawabnya, mengabaikan peringatanku.


Selama memasuki taman, aku terdiam, marah pada Joseph, aku melipat tanganku. Joseph akhirnya menghentikan mobilnya, tepat di depan danau yang sepi dan tenang.


Joseph memegang tanganku lagi. “Rin, kenapa?” tanyanya.


“Diem ah!” Aku menepis tangannya, aku sedang tidak ingin membuat masalah, dan sekarang aku dalam keadaan yang pasti akan menimbulkan masalah, jika kata-kataku keluar.


“Rin, gua tau lu lagi nggak baik, cerita sama gua, Pak Chandra bilang apa tadi? Rin, *please*, biarin gua tau,” rengeknya.


Aku menghembuskan napas kasar. “Gua takut … Pak Chandra angkat gua jadi manajer,” ucapku, pada akhirnya.


“Heh, bagus dong!” serunya, tiba-tiba saja dia menyembulkan kepalanya keluar jendela. “Rinda gua jadi manajer!” teriaknya. “Denger nggak lu pada?! Rinda gua jadi manajer, Rinda gua hebat!” teriaknya lagi.


Astaga, aku malu, apa yang sedang dilakukan Joseph, ada apa dengannya, aku menarik tubuhnya, memaksa dia untuk masuk kembali. “Apaan *sih*? Malu-maluin, nggak usah teriak-teriak!” omelku. “Cepetan masuk lagi,” pintaku, memohon.


Tanpa menjawab omelanku, Joseph membalikkan badannya dan memelukku erat, hingga membuatku sesak dibuatnya. “Gua seneng, Rinda gua hebat, lu keren, lu cantik, lu manis, lu lucu, lu manajer,” ucapnya, sembari mengecup seluruh wajahku dengan brutal.


“Lu *lebay*, *deh*, lepasin gua!” Aku menepuk-nepuk punggungnya. “Sesek Joseph!” seruku.


Setelah aku mendorong tubuhnya, akhirnya ia melepaskan diri juga dariku. Joseph menatap mataku, tatapannya hangat, sukses membuatku luluh. Joseph mendekatkan wajahnya padaku, dengan lembut dia mengecup bibirku, menyapukan bibirnya dengan ranum milikku yang terbungkam. “Lu hebat,” ucapnya bertubi-tubi.


“Gua takut …,” ucapku, lirih.


Joseph memainkan kedua pipiku. “Nggak perlu takut, *backingan* lu Pak Chandra, lu udah dipercaya sama dia, nggak usah mikirin yang lain, lu kerja aja seperti biasa. Buktiin sama mereka, lu bisa mengemban kepercayaan atasan lu, nggak perlu takut, oke?” katanya.


“Oke,” jawabku singkat.


“Bagus, cantiknya gua hebat, sini peluk dulu,” ucapnya, menarik tanganku, dipeluknya tubuhku dengan erat, ia usap juga rambutku, mendekap penuh rasa perhatian.

__ADS_1


Aku senang, dia tidak banyak bertanya setelah kuberi tahu, ia selalu paham dengan apa yang kukahawatirkan tanpa harus repot aku jelaskan. Kisah ini akan semakin panjang, aku yakin, memang belum resmi, tapi aku yakin, setelah ini perjalananku akan semakin rumit.


Aku sempat takut dengan yang namanya kehidupan, tapi jika ada Joseph di sana, aku tidak keberatan, walaupun jalan menuju apa yang kumau harus melalui banyak rintangan, karena aku percaya pasti ada kebahagiaan di depan sana.


__ADS_2