
Dua hari berada di kota orang, membuatku berubah banyak. Pagi ini aku harus melanjutkan pekerjaanku kembali, tidak ada kata bersantai, tidak ada kompensasi. Aku terus dituntut untuk bekerja dengan sempurna, meskipun masih dalam keadaan lelah. Inilah nasib kehidupan karyawan yang jarang orang ketahui.
Setelah lama terjebak di perjalanan menuju perusahaan, karena macet tak juga bisa teratasi di kota besar ini, tapi untunglah aku tidak telat datang. Dengan sedikit berlari, aku tiba di perusahaan, tepatnya sedang menunggu lift terbuka.
Hari ini aku sedikit merasa aneh, aku ingin menggunakan lift, padahal banyak orang yang sedang menunggu. Biasanya aku akan langsung lari menggunakan tangga darurat ketika melihat banyak orang yang mengantri. Tapi hari ini aku memilih menggunakan lift, sepertinya aku terlalu kelelahan, sehingga rela berdesakan dengan banyak orang.
“Nda!” seru Dita, aku kenal dengan suara itu, aku menoleh. “Lu udah beres, gua kangen,” lanjut Dita, memelukku dengan ketat.
Aku tersenyum, dan menyambut pelukan Dita. “Gua baru balik kemaren, nggak dapet libur gua,” aduku.
“Kejam ya, nggak papa, gua ada temen lagi,” katanya. “Gimana Surabaya? Dapet gebetan orang sana, nggak? Orang sana pada tajir-tajir, Nda, lu musti dapet satu lah,” ujar Dita.
“Aduh, gua nggak kepikiran, sibuk kerja gua, nggak ada waktu,” ucapku, padahal dalam hati dongkol sekali mendengar nama kota itu disebut.
“Ah, sayang banget, tapi gua udah bisa duga sih, lu pasti milih kerjaan ketimbang kelayapan, nggak papa, pertahanin, Nda,” ujar Dita, aku hanya membalasnya dengan senyuman saja.
Lift terbuka, aku dan Dita berebut dengan yang lain, mau tidak mau aku harus merasakan berdesakan di dalam lift. Di dalam sudah penuh, lift mulai tertutup dan bergerak menuju ke lantai tujuan kami, tapi ada yang aneh dengan orang-orang ini.
Aku merasa diperhatikan, aku menangkap mata mereka, tatapannya sangat sinis. Ini hari pertamaku masuk kerja lagi, aku belum tau apa yang terjadi di perusahaan. Sepertinya, ada kabar buruk dari perusahaan ini, tapi kenapa mereka tak menundukkan pandangannya dariku, ada apa ini? Ah, sudahlah, aku tidak peduli.
“Gimana rasanya kerja di luar kota, Nda?” tanya Dita, membuyarkan fokusku.
“Sama aja kayak di sini, nggak ada beda,” jawabku, apa adanya, dan pandangan orang-orang semakin membuatku tidak nyaman.
“Wah, lu emang pekerja sejati,” ujar Dita, aku tidak mengerti arah pembicaraan Dita, tapi yang pasti, ucapan Dita semakin mengundang banyak orang untuk curi-curi pandang padaku.
__ADS_1
Sementara itu, perempuan yang berada di sampingku tiba-tiba terdengar saling berbisik, meskipun begitu aku masih bisa menangkap pembicaraan mereka, sepertinya mereka sengaja mengencangkan bisikan mereka agar aku dapat mendengarnya.
“Dia nggak tau malu, ya?” bisik mereka, kemudian mereka memandang ke tempatku berdiri.
“Pasti udah dapet banyak di sana,” jawab rekannya.
“Gua nggak bakalan kaget kalo dia tiba-tiba bunting,” katanya, sembari tertawa.
“Liat aja nanti, tapi kalo jadi, sama laki yang mana, ya?” jawab rekannya lagi. “Bejibun banget masalahnya, najis banget cewek kayak gitu, jauh-jauhin deh cewek kayak dia dari laki kita,” tambahnya.
Meskipun aku tidak tau mereka membicarakan siapa, aku tidak nyaman, berdiriku tidak tenang. Aku tidak takut dengan penghakiman orang-orang terhadapku, apalagi hanya menghadapi fitnah orang-orang. Tapi masalahnya, aku tidak siap dengan getaran di tubuhku atas reaksi dari keadaanku ini, ah, rasanya sesak sekali.
Untunglah, lift sudah sampai di lantai tujuan kami, mereka langsung keluar, begitupun aku dan Dita. Atas pandangan aneh orang-orang padaku, aku jadi tidak sadar mengabaikan Dita dan mendahuluinya.
“Nda, buru-buru amat,” tegur Dita.
Aku langsung masuk ke ruanganku, aku tidak berbohong perihal laporan itu, tapi aku juga tidak mengelak jika aku memang sedang melarikan diri. Tiba di cubicle-ku, aku buru-buru mendudukkan diri, menenangkan hatiku yang terasa sesak. Tapi …
“Widih, si paling rajin udah pulang!” seru Dara yang baru saja masuk. “Kayaknya makin pinter aja nih ngejilat atasan, udah berapa atasan yang kena tipu tingkah polos lu itu?” cibirnya.
Aku memandangnya dengan tatapan biasa. “Selamat pagi senior Dara, apa kabar? Udah sarapan belum, kalo belum kebetulan gua bawa permen rasa kaos kaki, mau?” Aku tidak perlu menjawab pertanyaan anehnya itu, aku akan melawan padanya, itu lebih seru.
“Kurang ajar! Gua liat-liat, makin gila aja lu. Ah, gua tau, lu kayak gini pasti mau nutupin sesuatu, ‘kan? Selama di sana gua yakin, lu pasti ngamar sama banyak laki,” tuduhnya.
“Jaga omongan lu, ya! Gua kerja di sana, jangan asal sebar rumor, dasar gila lu,” seruku, tak terima.
__ADS_1
“Ululu, kesel, ya? Kalo nggak bener, kenapa musti kesel gitu, atau jangan-jangan lu beneran ngamar, ya? Wah, wah, Rinda, nggak nyangka gua, kasihan orang-orang yang masih anggep lu polos,” katanya, semakin berani menuduhku.
Hari ini benar-benar penuh tantangan sekali, membuat kepalaku pening mendengar tuduhannya. “Kalo nggak tau apa-apa, mending tutup mulut lu itu, sebelum gua sumpel pake kaos kaki,” balasku.
“Oh, takut,” ucapnya, tertawa puas, setelah membuatku kesal dengan tuduhan tidak mendasarnya itu. “Udah ah, gua mending kerja, permisi Rinda, gua numpang lewat, ya? Eh, kalo dapet persenan, bagi-bagi dong, nggak papa lah lu traktir pake uang haram juga,” lanjutnya, sembari meledekku, sungguh kekanak-kanakan sekali.
Aku tidak membalas ucapan kosongnya itu, aku hanya menatap Dara dengan tajam, hingga Dara terduduk aku tetap menatapnya. Aku ingin tau, sampai di mana dia berani bertindak, agar aku bisa membalasnya dengan tepat.
Aku terus memperhatikannya, dan menunggu dia membuka mulut, tapi nihil dia tetap diam, dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Untuk kali ini, aku terpaksa harus mendiamkan dia dulu, bukan apa-apa, Miss labil sudah datang, aku tidak ingin membuat keributan besar dan merugikan banyak pihak.
“Rinda, hari Selasa nanti, kamu tolong menghadap ke ruangan Pak Chandra, ada yang harus dibahas sepertinya,” ucap Miss labil, begitu melintas di belakang kursiku.
Aku tertegun, pernyataan Miss labil membuatku mempertanyakan banyak hal, dan itu sudah pasti membuatku banyak berpikir. “Ba-baik, Bu,” jawabku, masih terkejut.
“Oh, laporan yang saya minta sudah siap?” tanyanya.
“Tinggal saya periksa ulang, Bu,” jawabku.
“Tolong segera bereskan, saya tunggu lima menit lagi,” katanya, sambil lalu, aku pun tak sempat menjawab.
“Mampus! Skandal lu pasti udah kesebar,” celetuk Dara. “Rin, Rin, baru kerja bentar aja langsung kena skandal, berani banget lu,” katanya lagi.
“Diem lu, nggak usah sok tau segalanya,” sambarku.
“Yah, tinggal liat aja nanti, lu pasti nggak bakalan lama lagi kerja di sini,” katanya.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, sejujurnya aku juga merasa heran dengan kabar dari Miss labil ini. Apa yang ingin didiskusikan bos besar padaku, apa benar yang dikatakan oleh Dara? Apa ini memang saatnya aku berhenti kerja dari perusahaan ini? Ah, ini membuatku pusing, untung saja Joseph mengajakku untuk liburan, dengan begitu aku bisa mempersiapkan diri.
Apa pun hasilnya nanti, aku tidak akan banyak berkomentar, tapi jika memang itu hal yang tidak aku lakukan, aku pasti akan melawan. Kejahatan tidak seharusnya didiamkan, aku akan melawan atas semua tuduhan yang tidak benar terhadapku.